
Seorang wanita muda berjalan menuju ke sofa di ruang tunggu. Wanita cantik berambut panjang itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Ia duduk di sofa yang bersebelahan dengan Audrey.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya, Mbak? Sepertinya wajah Mbak familiar," tanya wanita muda itu mengamati Audrey.
Wanita muda itu mengerutkan dahinya seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.
"Ow, saya ingat sekarang. Mbak pernah datang ke acara pernikahan saya. Mbak ini istrinya Tuan Reiner Bratawijaya, khan?"
"Iya, saya Audrey Bratawijaya," jawab Audrey tersenyum.
"Saya Diandra, istrinya Tristan Tirtawiguna. Saya senang bisa bertemu Mbak disini," ucap Diandra mencoba mengingatkan Audrey.
Audrey memang tidak mengenali wajah Diandra. Ketika ia menghadiri resepsi pernikahan Tristan, Diandra mengenakan makeup pengantin sehingga membuat raut wajahnya sedikit berbeda.
"Maaf Diandra, aku tidak mengenali kamu. Apa kamu ingin memeriksakan kehamilan?" tanya Audrey.
"Iya, Mbak. Saya agak khawatir karena kondisi kandungan saya sedikit lemah."
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Yang penting kamu cukup istirahat dan jangan melakukan pekerjaan yang berat."
"Iya, Mbak, terima kasih."
Audrey melihat Reiner datang terburu-buru untuk menghampirinya.
"Sayang, apa perawat belum memanggilmu?"
"Belum, Rein. Oh ya, perkenalkan ini Diandra, istrinya Tristan."
"Halo, Tuan Reiner. Senang bertemu dengan Anda lagi. Saya melihat wawancara Anda di televisi, sangat menyentuh hati saya," sapa Diandra dengan ramah.
"Terima kasih," ucap Reiner singkat.
Dari kejauhan, Reiner melihat Tristan sudah selesai melakukan pendaftaran. Ia berjalan cepat menuju ke arah mereka.
"Audrey, apa kabarmu? Kebetulan kita bertemu disini. Apa kamu hamil anak kedua?" tanya Tristan memperhatikan perut Audrey.
"Kabarku baik, Tristan. Selamat ya, istrimu juga sedang mengandung. Kamu akan jadi seorang ayah," jawab Audrey tulus.
Diandra memandang Tristan dan Audrey dengan wajah penuh tanda tanya.
"Tristan, kamu kenal dengan Mbak Audrey? Kalian seperti sudah akrab satu sama lain."
"Iya, aku dulu pernah bekerja di Oragon Group sebelum hamil anak pertama," ucap Audrey buru-buru menimpali.
Ia tidak ingin Diandra menjadi salah paham mengenai hubungan mereka di masa lalu.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku, Sayang?" tanya Diandra kepada Tristan.
"Itu hanya masa lalu," jawab Tristan singkat.
Reiner merasa lega ketika nama Audrey akhirnya dipanggil oleh perawat.
"Nyonya Audrey Bratawijaya, mari silahkan masuk."
"Ayo, Sayang, sudah giliran kita," ajak Reiner menggandeng tangan Audrey.
"Diandra, Tristan, aku duluan ya," ucap Audrey berpamitan.
"Iya, Mbak."
Dokter Liana menyapa Audrey dan Reiner dengan ramah.
"Pagi, Nyonya dan Tuan Bratawijaya. Silahkan duduk."
"Pagi, dokter," balas Reiner sembari menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kondisi Anda, Nyonya Audrey? Apa Anda merasa sehat atau ada keluhan mual dan muntah?"
"Tidak dokter, saya baik-baik saja. Nafsu makan saya juga normal."
"Bagus, kalau begitu silahkan berbaring, Nyonya. Saya akan melakukan pemeriksaan USG.
Perawat membantu Audrey berbaring di tempat tidur, lalu mengoleskan cairan khusus ke perut Audrey sebelum dilakukan USG. Sementara Reiner menunggu sambil harap-harap cemas di kursi konsultasi.
Dokter Liana menghampiri Audrey dan segera memulai pemeriksaan USG.
"Nyonya, mata dan hidung bayi Anda mulai terbentuk. Lihat, Nyonya, ini posisi bayi Anda. Usia kehamilan Anda sudah delapan minggu," kata dokter Liana sambil memperhatikan layar monitornya.
"Tuan Bratawijaya, silahkan kemari. Anda bisa melihat bayinya," panggil dokter Liana kepada Reiner.
Tanpa menunggu lama, Reiner berdiri di samping tempat tidur Audrey. Ia menatap ke layar monitor dengan wajah penuh kekaguman.
"Itu bayi saya, dokter? Dia masih kecil sekali," ucap Reiner terharu.
"Iya, Tuan. Di usia delapan minggu memang janin beratnya hanya sekitar 1 gram. Nanti berat badannya akan naik seiring bertambahnya usia kehamilan. Denyut jantung bayi Anda bagus, dan perkembangannya juga tidak ada masalah. Kalau begitu saya akan memberikan vitamin dan suplemen kalsium untuk Nyonya Audrey."
__ADS_1
Reiner dan Audrey kembali duduk di kursi konsultasi. Mereka menunggu dokter Liana selesai menuliskan resepnya.
"Dokter, ada yang mau saya tanyakan."
"Silahkan Tuan Bratawijaya."
"Apa aman bagi saya dan istri saya untuk berhubungan di usia kehamilannya sekarang?" tanya Reiner berterus terang.
Audrey melirik sekilas ke arah Reiner. Ia merasa malu atas pertanyaan suaminya itu.
"Tentu boleh, Tuan. Kondisi Nyonya Audrey sehat dan tidak ada masalah pada kehamilannya. Tapi Anda harus tetap berhati-hati saat melakukan hubungan suami istri. Usia kehamilan delapan minggu masih rentan."
"Kalau istri saya bepergian apa diperbolehkan, dokter?"
"Boleh, Tuan, tapi jangan bepergian terlalu jauh. Jalan-jalan saja di dalam kota. Yang penting Nyonya Audrey jangan sampai kelelahan, harus memperhatikan asupan makanan, dan cukup istirahat."
"Baik, dokter, terima kasih atas penjelasannya."
"Terima kasih kembali, Tuan Bratawijaya. Jangan lupa Nyonya Audrey harus minum vitaminnya secara teratur. Bulan depan kita bertemu lagi."
"Baik, dokter, terima kasih."
...****************...
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Audrey mencubit lengan Reiner.
"Rein, kenapa kamu menanyakan hal seperti itu kepada dokter Liana? Kamu membuatku malu."
"Aku hanya menanyakan isi hatiku, Sayang. Tapi aku akan menahan diriku untuk sementara waktu. Yang penting bagiku adalah menjaga kamu dan bayi kita. Dulu saat kamu mengandung Shane, aku tidak ada di sampingmu. Sekarang waktunya aku menebus kesalahanku."
"Itu bukan salahmu, Sayang. Aku bahagia karena sekarang kamu selalu ada bersamaku."
"Nyonya Audrey, hari ini saya adalah supir Anda. Anda mau pergi kemana? Saya siap menemani Anda kemanapun Anda mau," ucap Reiner berperan sebagai supir pribadi Audrey.
Audrey tersenyum melihat akting lucu Reiner.
"Hmm, saya tidak ingin kemana-mana. Saya cuma ingin berduaan dengan suami saya."
"Apa Anda yakin, Nyonya?"
"Hehem," jawab Audrey mengiyakan pertanyaan Reiner.
"Kalau begitu saya akan mengantarkan Anda ke apartemen Amarilla," jawab Reiner mengerlingkan matanya.
"Di rumah ada banyak orang yang bisa mengganggu, Nyonya. Lebih romantis jika Anda berdua dengan suami Anda tanpa adanya pengganggu."
"Baik, Pak, saya setuju dengan ide cemerlang Anda," jawab Audrey menggoda Reiner.
Reiner melajukan mobilnya dengan hati-hati, hingga mereka sampai di apartemen Amarilla. Selesai memarkirkan mobil, Reiner mengajak Audrey masuk ke apartemen mereka.
Audrey memandang ruangan demi ruangan serta barang-barang yang ada di apartemen itu. Semuanya masih sama seperti dulu.
Kenangan-kenangan lamanya bersama Reiner bermunculan satu per satu di benak Audrey. Apartemen itulah yang menjadi saksi perjalanan cintanya dengan Reiner. Berawal dari sebuah kebencian dan rasa ingin membalas dendam, yang akhirnya berubah menjadi cinta.
Audrey teringat kembali pada dirinya yang dulu ketakutan jika berada di dekat Reiner. Audrey juga membenci hampir seluruh sifat Reiner yang pemarah, kasar, dan arogan. Bahkan ia ingin kontrak pernikahan mereka berakhir secepatnya, agar ia terbebas dari ancaman pria itu.
Namun, kini semuanya berbanding terbalik. Mereka saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain. Reiner telah berubah menjadi suami yang penyayang, sehingga Audrey tidak ingin jauh-jauh darinya.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Reiner seolah mengetahui isi hati istrinya.
"Aku hanya teringat kenangan kita disini, Rein."
"Aku harap kamu hanya ingat masa-masa indah kita, Audrey. Tapi, aku yakin kamu juga masih mengingat semua kelakuan burukku padamu. Aku menyesal pernah melakukannya. Sekarang aku akan menghapus kenangan buruk itu."
"Duduklah, istriku. Hari ini aku akan menjadi pelayanmu," sambung Reiner membimbing Audrey ke sofa.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Audrey tidak mengerti.
"Aku pernah memperlakukanmu sebagai pembantu. Aku memaksamu untuk memasak dan memijat kakiku setiap malam. Nah, sekarang aku yang akan memasak untukmu. Nyonya Audrey, saya akan membuat masakan spesial untuk Anda."
"Rein, tapi tidak ada bahan makanan disini."
"Istriku Sayang, apa kamu lupa kalau suamimu ini penuh persiapan. Aku memang merencanakan kencan kita di apartemen hari ini. Jadi aku meminta Bi Mila menyiapkan bahan-bahan yang aku butuhkan. Lihat ini," ucap Reiner membuka isi kulkasnya.
Mata Audrey terbelalak melihat persiapan serius yang dilakukan Reiner.
"Wow, lengkap sekali, Sayang. Lalu apa yang akan kamu masak?"
"Aku akan membuat tenderloin steak dan jus strawberry kesukaanmu. Aku sudah mempelajari resepnya selama beberapa hari. Hasilnya tidak akan mengecewakan."
"Aku akan membantumu, Sayang," kata Audrey hendak berdiri dari sofa.
"Jangan, Nyonya. Bukankah saya sudah bilang hari ini saya akan melayani Anda. Anda duduk saja sambil menonton TV. Saya akan menyelesaikan masakannya untuk Anda."
"Apa kamu yakin, Rein?"
__ADS_1
"Tentu, Sayang."
Audrey akhirnya menuruti permintaan Reiner. Sesekali, ia menahan tawa menyaksikan tingkah laku Reiner di dapur. Namun, seperti biasa suaminya itu cukup ahli mengerjakan semua pekerjaannya. Walaupun ia seorang Tuan Muda sekaligus pemimpin perusahaan besar, tapi ia tidak canggung melakukan pekerjaan dapur. Dan Audrey tau bahwa Reiner bersedia berbuat apa saja untuk membuatnya bahagia.
"Ini dia, Sayang. Steak dan jus ala Chef Reiner," kata Reiner menunjukkan hasil masakannya.
"Sayang, cobalah. Aku sudah mencicipinya, rasanya lumayan enak. Aku juga menambahkan racun cinta di dalam masakanku, supaya kamu selalu tergila-gila padaku," sambung Reiner sambil memotongkan steik untuk Audrey.
Audrey tertawa geli mendengar ucapan suaminya itu. Audrey teringat kembali tingkah konyol Reiner di masa lalu, yang selalu khawatir akan diracuni oleh Audrey.
"Baik, Tuan Reiner, saya akan memakan habis racun cinta Anda," ucap Audrey seraya menelan steaknya.
"Bagaimana rasanya, Sayang?" tanya Reiner penasaran.
"Enak, kamu punya bakat memasak, Rein."
"Kalau begitu, habiskan makananmu, Sayang. Setelah itu aku akan memijat kakimu."
"Jangan, Sayang. Aku tidak mau kamu melakukannya."
"Tapi..."
Audrey meletakkan jarinya di bibir Reiner.
"Ssstt, sudah cukup. Aku tidak mau Tuan Mudaku yang tampan ini menjadi pelayan. Kamu menemaniku saja menonton film, Sayang. Lalu kita akan ke kamar untuk istirahat."
"Apa benar, Sayang, kamu mengajakku ke kamar?" tanya Reiner dengan mata berbinar.
"Iya, tapi kamu harus berjanji tidak ketiduran saat meno nton film. Kalau kamu tidur, aku tidak akan membangunkanmu," ancam Audrey.
"Aku janji akan menonton film bersamamu sampai selesai."
Audrey dan Reiner menghabiskan waktunya dengan menonton film berdua. Audrey menyandarkan kepalanya di bahu Reiner sambil menikmati film drama kesukaannya.
"Audrey, filmnya sudah selesai. Ayo kita ke kamar. Aku punya satu hadiah kejutan untukmu."
"Hadiah lagi? Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu nanti, Sayang," tanya Audrey pura-pura bingung.
"Kamu cukup membalasnya dengan selalu mencintaiku," ajak Reiner membimbing Audrey ke dalam kamar.
Reiner mengambil sebuah kotak persegi panjang berukuran besar dan menyerahkannya kepada Audrey.
"Apa ini lukisan, Rein? Kamu melukis lagi untukku?"
"Bukalah dulu, Sayang. Kamu akan tau nanti."
Dengan hati-hati, Audrey membuka kertas pembungkus kotak itu dan mengeluarkan isinya.
Ia melihat gambar dirinya, Reiner, dan Shane yang dilukis dengan indah di atas kanvas. Mata Audrey berkaca-kaca melihat keindahan lukisan itu. Ia sangat tersentuh mengamati lukisan yang dibuat khusus oleh Reiner untuknya.
"Sayang, kapan kamu melukisnya? Kenapa aku tidak tau?" tanya Audrey penasaran.
"Itu rahasia. Aku sengaja menyembunyikannya supaya bisa jadi kejutan. Apa kamu suka, Audrey?"
"Suka, sangat suka. Lukisanmu indah sekali, Rein."
"Aku akan membuat lukisan lagi setelah anak kedua kita lahir."
Audrey memeluk leher Reiner dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Sayang, terima kasih atas semuanya. Aku sangat mencintaimu, Rein."
"Aku juga sangat mencintaimu, Audrey," ucap Reiner mengecup bibir Audrey.
Mereka berdua baru memahami apa itu kekuatan cinta. Cinta yang bisa menghapus kebencian dan membuat hidup mereka kini terasa begitu lengkap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo My All Readers
Othor akhirnya bisa membuat extra part 2 ini.
Jangan lupa mampir ke Novel Baru Othor
"Terjebak Cinta Dua Kekasih"
Maaf ya ada penggantian judul dari novel sebelumnya (Andai Aku Boleh Mencintaimu), karena othor berharap judul baru lebih mencerminkan isi novelnya.
So, yang udah baca kemarin jangan bingung ya.
Ditunggu dukungan Like, Vote, dan Komennya.
Othor tunggu di Novel "Terjebak Cinta Dua Kekasih"
Lov u all
__ADS_1