Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
51 Awal yang Baru


__ADS_3

Sebelum pulang, Reiner mengajak Audrey berjalan-jalan ke perkebunan strawberry yang ada di sekitar pegunungan.


"Sayang, apa kamu senang makan strawberry? Disini strawberrynya manis," ucap Reiner memetikkan satu buah strawberry untuk Audrey.


"Iya, tapi aku lebih suka makan pie strawberry. Dulu aku sering membuatnya sendiri bersama Mama," jawab Audrey menatap pemandangan indah di depannya.


"Besok Sabtu aku akan membantumu membuat pie strawberry."


Perkataan Reiner membuat Audrey tertawa.


"Apa? Tuan CEO Reiner Bratawijaya akan membuat pie strawberry bersamaku?" tanya Audrey tidak percaya.


"Kenapa kamu tertawa? Apa kamu meragukan kemampuanku? Dulu aku kuliah di luar negri cukup lama. Aku bisa memasak makananku sendiri."


"Iya, aku percaya. Suamiku ini pintar dalam segala hal. Bisa menggambar, memasak, menjadi CEO atau berakting menjadi seorang aktor," ucap Audrey menggoda Reiner.


"Tentu saja, dan aku punya satu keahlian lagi yang belum kamu tau."


"Apa itu, Rein?" tanya Audrey penasaran.


Senyum nakal tersungging di bibir Reiner.


"Aku bisa membuat kamu melahirkan anak-anak kita yang manis."


Wajah Audrey memerah mendengar ucapan Reiner yang terus terang itu.


"Keahlian macam apa itu? Aku tidak membutuhkannya," jawab Audrey tersipu malu.


"Sayang, kenapa kamu malu? Aku memang ingin punya banyak anak. Kita berdua tau bagaimana sepinya menjadi seorang anak tunggal di rumah. Karena itu, rumah kita nanti harus ramai dengan tawa anak-anak. Jadi mulai sekarang kita berdua harus berusaha mewujudkan hal itu setiap hari."


"Stop Rein...Kenapa bicaramu jadi genit seperti itu? Nanti para pekerja di kebun ini bisa mendengarnya," ucap Audrey merasa malu.


Reiner hanya tertawa mendengar peringatan Audrey.


"Tidak masalah mereka mendengarnya. Toh aku bicara dengan istriku sendiri."


Reiner memegang kedua tangan Audrey sambil menatap matanya dengan penuh cinta.


"Sayang, kita akan pindah ke rumah baru. Mulai minggu depan kita tidak akan tinggal di apartemen lagi. Aku ingin memulai semuanya dari awal bersamamu."


"Pindah rumah? Apa kita akan pindah ke rumah yang dulu ditempati Sofia?" tanya Audrey terkejut.


"Rumah itu banyak menyimpan kenangan sedih di masa lalu. Kita tidak akan menempatinya. Aku akan menyiapkan rumah yang baru untuk keluarga kecil kita."


"Kamu akan membeli rumah lagi, Rein?" tanya Audrey keheranan.


"Iya, Sayang. Itu sebagai hadiah untukmu. Kamu pasti akan suka nanti," jawab Reiner bersemangat.


Dia seperti seorang raja yang bisa melakukan apa saja yang dia mau.


batin Audrey tidak habis pikir dengan suaminya sendiri.


"Ayo, bantu aku memilih strawberry, Sayang. Kita akan beli untuk Mama, Opa, dan Om Jonathan juga," ucap Reiner menggandeng tangan Audrey.


Audrey menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan bersama pria yang dicintainya. Audrey hanya berharap kebahagiaan yang dirasakannya ini akan tetap bertahan untuk selamanya.


...****************...


Karena lelah sekembalinya dari berbulan madu, Audrey langsung tertidur. Ia tidur sangat nyenyak hingga Reiner harus membangunkannya di pagi hari.


"Sayang, apa kamu tidak jadi berangkat ke kantor?" bisik Reiner dengan lembut.


Audrey membuka mata dan meraih ponselnya.

__ADS_1


"Ya ampun, sudah jam enam lewat tiga puluh," ucap Audrey terkejut.


Ia menatap Reiner yang sudah terlihat segar dengan mengenakan piyama mandinya.


"Rein, kamu sudah mandi?"


"Iya, aku akan mengantarmu ke kantor. Tapi kalau kamu masih lelah, lebih baik istirahat saja. Tidak usah masuk kerja hari ini. Atau kalau perlu, kamu resign dari kantor. Kamu bisa menungguku di rumah setiap hari, Sayang."


"Rein, aku tidak bisa berdiam diri saja di rumah."


"Kamu bisa bekerja di kantorku. Aku akan memberikan jabatan apa saja yang kamu mau. Atau kamu lebih suka menjadi asisten pribadiku?"


"Kalau aku jadi asistenmu, kamu tidak akan bekerja dengan benar di kantor. Sudah, aku mau mandi," ucap Audrey enggan menanggapi ucapan Reiner yang suka menggodanya.


Selesai sarapan berdua, Reiner turun lebih dulu untuk menyiapkan mobilnya.


"Sayang, aku tunggu di lobby bawah," ucap Reiner sambil menutup pintu apartemen.


Setelah Reiner pergi, Bi Mila memberanikan dirinya untuk berbicara dengan Audrey.


"Maaf, Nyonya, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting."


"Ada apa Bi Mila?" tanya Audrey merasa khawatir.


"Nyonya, dua hari yang lalu Tuan Tristan datang kesini. Dia ingin bertemu dengan Anda. Resepsionis yang memberitahukan kepada saya. Saya diminta turun ke lobby untuk menemui Tuan Tristan."


"Tristan datang kesini? Apa dia menanyakan sesuatu kepada Bibi?"


"Iya, Nyonya. Saya minta maaf. Saya sudah mengatakan kepadanya kalau Nyonya adalah istri Tuan Reiner. Maafkan saya, Nyonya. Menurut saya lebih baik dia tau yang sebenarnya."


Audrey terkejut mendengar apa yang diceritakan Bi Mila.


*T*ristan sekarang tau kalau aku sudah menikah. Aku rasa memang lebih baik begitu agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Tapi nanti kalau Tristan bertanya, apa aku harus menjelaskan kepadanya alasanku menyembunyikan pernikahanku dengan Reiner.


"Hati-hati, Nyonya."


...****************...


"Sayang, nanti sore aku ada meeting. Pak Beni yang akan menjemputmu sepulang kantor. Jangan lembur hari ini. Pulang jam lima tepat," ucap Reiner memperingatkan Audrey.


"Siap, Tuan Reiner. Saya tidak akan berani melawan perintah Anda. Saya akan ada di rumah sebelum Anda pulang," jawab Audrey sambil mencium pipi Reiner.


Audrey menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya ke arah Reiner.


Dengan hati yang bahagia, Audrey melangkahkan kakinya ke ruangan divisi finance. Rasanya dua hari tidak bekerja, membuatnya merindukan pekerjaannya itu.


"Mbak Audrey udah masuk," teriak Tasya dan Susan hampir bersamaan.


"Ssstt, jangan keras-keras. Nanti dimarahi Pak Rizal," ucap Audrey mengingatkan kedua anak buahnya.


"Pak Rizal belum datang, Mbak. Kayaknya Pak Rizal masih syok sama seperti kita semua," kata Tasya berapi-api.


"Syok? Memangnya ada apa dua hari ini?" tanya Audrey mencari tau.


"Kemarin tepatnya, Mbak. CEO Oragon Group yang baru sudah datang kesini. Mbak pasti gak akan percaya kalau melihat siapa CEO baru kita."


"Apa kamu terpesona dengan penampilannya?"


"Bukan, Mbak. CEO baru kita itu...Aduh, gimana ya ngomongnya, Susan? Aku speechless," tanya Tasya kepada Susan.


"Biar aku aja yang memberitahu Mbak Audrey," sambung Susan kesal.


"CEO baru kita ternyata Tristan, Mbak. Tristan yang selama ini bekerja bersama kita, makan siang bersama kita juga, dan bercanda dengan kita semua. Dia pewaris Oragon Group, putra keduanya Tuan Mario Tirtawiguna. Keren sekali dia, Mbak. Selama ini dia menyamar jadi staff biasa untuk mengetahui keadaan perusahaan. Susan kagum sekali dengannya. Tuan muda yang low profile," ucap Susan penuh kekaguman.

__ADS_1


Renita yang baru bergabung ikut-ikutan menyanjung Tristan.


"Pantes ya selama ini aku perhatikan dia itu terlalu ganteng buat jadi staff finance. Uh...apalagi kemarin Tristan, eh maksudnya Tuan Tristan ganteng sekali pakai setelan jas abu-abu tua. Gaya rambutnya juga berubah jadi lebih keren."


"Hush, jangan terlalu berlebihan memuji CEO kita, Nita. Nanti Mbak Audrey cemburu," ucap Tasya menggoda Audrey.


Audrey hanya terdiam mendengar celotehan staffnya yang bicara secara bersamaan itu.


Tristan CEO baru Oragon Group? Jadi selama ini dia sengaja menyamar. Bagaimana aku harus menghadapinya nanti? Dia sudah banyak menolongku, tapi aku malah berbohong padanya. Aku menyembunyikan statusku sebagai karyawati yang sudah menikah.


"Mbak, kenapa bengong begitu? Mbak terkejut ya?" tanya Tasya penasaran.


"I..iya. Aku tidak menyangka Tristan itu putra Tuan Mario."


"Aduh, harusnya Mbak happy banget. Pria yang naksir Mbak ternyata CEO. Apalagi kemarin waktu Mbak pingsan, Tristan langsung menggendong Mbak sampe ke lantai bawah. So sweet banget," sambung Susan.


Jadi Tristan yang menolongku pertama kali saat aku pingsan?


Pembicaraan mereka terhenti ketika Pak Rizal datang.


"Pagi semua," sapa Pak Rizal.


"Audrey, kamu sudah masuk?"


"Iya, Pak."


"Setelah briefing pagi, langsung ke ruangan saya ya."


"Baik, Pak."


Setelah mengikuti briefing selama lima belas menit, Audrey menuju ke ruangan Pak Rizal.


"Silahkan duduk, Audrey. Saya ingin menyampaikan sesuatu terkait dengan Tristan. Apa anak-anak sudah memberitahumu siapa Tristan sebenarnya?"


"Iya, Pak, saya sudah tau kalau dia adalah CEO baru kita."


"Audrey, saya juga tidak diberi tau sebelumnya mengenai penyamaran yang dilakukan CEO kita. Tapi kita tidak perlu mempermasalahkan hal ini lagi. Mengenai posisi staff piutang, Yudha akan kembali menempati posisi itu per hari ini."


"Iya, Pak, saya mengerti. Saya senang karena Yudha bisa kembali ke divisi finance."


"Sebentar, Audrey. Saya terima telpon dulu," ucap Pak Rizal mendengar telpon di ruangannya yang berdering.


"Selamat pagi, Pak," suara Pak Rizal terdengar penuh hormat.


"Iya...Audrey masuk hari ini. Baik, Pak, akan segera saya sampaikan," jawab Pak Rizal menutup panggilan telponnya.


"Audrey, tadi Tuan Ryan, asisten Tuan Tristan menelpon. Dia menyuruhmu datang ke ruangan CEO di lantai lima sekarang."


Wajah Audrey tampak kebingungan.


"Saya dipanggil ke ruangan CEO, Pak?"


"Iya, sebaiknya kamu pergi kesana sekarang."


"Baik, Pak."


Walaupun merasa ragu, Audrey tidak punya pilihan selain menuruti perintah dari Pak Rizal.


"Mbak, mau kemana? Dipanggil CEO ya?" tanya Tasya penasaran.


"Mbak, jangan lupain kita nanti kalau sudah jadi istri CEO," ucap Susan menimpali.


Kenapa Tristan memanggilku? Apa dia mau menanyakan soal pernikahanku dengan Reiner?

__ADS_1


batin Audrey cemas.


__ADS_2