Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
50 Patah Hati


__ADS_3

Bagaimana keadaan Audrey sekarang? Apa dia baik-baik saja? Semoga besok dia sudah masuk kerja.


pikir Tristan merasa cemas.


Sejak pagi, Tristan merasa tidak bersemangat tanpa kehadiran Audrey di ruangan divisi finance. Hari ini adalah hari terakhir baginya bekerja sebagai seorang staff. Besok dia akan datang sebagai CEO baru di Oragon Group. Tristan sangat berharap Audrey akan hadir di upacara penyambutannya. Saat itu, ia akan mengakui jati dirinya yang sebenarnya sekaligus perasaannya selama ini. Ia sendiri tidak mengerti mengapa pikirannya akhir-akhir ini selalu tertuju pada Audrey.


Sejak pertama bertemu dengan Audrey di lift, Tristan merasakan ada yang berbeda di hatinya. Dan semakin hari dekat dengan Audrey, ia merasa semakin ingin melindungi wanita itu. Kadang Tristan merasa Audrey sangat rapuh dan kesepian, sehingga membuatnya ingin selalu menghibur dan berada di sisinya. Entah mengapa saat melihat Audrey tersenyum, ia ikut bahagia. Namun setiap kali melihat Audrey cemas dan sedih, ia terdorong maju paling depan untuk menghibur dan membelanya.


Apa ini yang dinamakan cinta?


batin Tristan mencoba memahami perasaannya sendiri.


Dulu dia pernah berpacaran dengan sejumlah gadis, tapi ia tidak merasakan perasaan yang dalam seperti saat ini. Mungkin waktu itu ia belum terlalu dewasa untuk memahami apa arti cinta.


Ketika jam kantor telah usai, Tristan mencoba menelpon ke ponsel Audrey beberapa kali. Namun, panggilannya hanya tersambung ke kotak suara.


Kenapa ponselnya tidak aktif? Jangan-jangan dia sakit lagi? Atau terjadi sesuatu yang buruk padanya? Lebih baik aku pergi ke apartemen Audrey untuk memastikan keadaannya.


Tristan melajukan mobilnya menuju apartemen Amarilla. Hari ini tiba-tiba ada firasafat buruk yang dirasakannya tentang Audrey. Biasanya ia adalah pria yang acuh tak acuh dan menjalani kehidupan dengan santai. Tapi jika berkaitan dengan Audrey, ia tidak mampu bersikap seperti itu.


Setelah memarkirkan mobilnya, Tristan buru-buru menuju ke lobby. Seorang resepsionis wanita yang sedang bertugas malam itu menyapanya dengan ramah.


"Malam, Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Malam, Mbak. Saya ingin menanyakan di lantai berapa apartemen milik Nona Audrey Maureen?"


"Maaf, Tuan, Anda siapa? Dan ada keperluan apa?"


"Saya Tristan Manuel Tirtawiguna. Saya teman kantornya," ucap Tristan sembari menyerahkan kartu identitasnya.


"Baik, Tuan. Tunggu sebentar saya akan mencarikan di daftar nama penghuni apartemen."


Resepsionis itu membuka data penghuni apartemen di komputernya. Ia tampak mengerutkan dahi saat membaca nama-nama yang tertera di daftar itu.


"Maaf, Tuan, disini tidak ada nama Audrey Maureen. Yang ada nama Audrey Bratawijaya. Dia istri Tuan Reiner Hilario Bratawijaya. Mereka tinggal di lantai empat."


"Apa? Mbak tidak salah baca. Audrey Maureen itu belum menikah," ucap Tristan tidak percaya.


"Benar, Tuan, disini hanya ada nama Audrey Bratawijaya. Saya akan konfirmasi dulu kepada Nyonya Audrey tentang kedatangan Tuan."


Tristan menunggu beberapa menit sampai resepsionis itu selesai menelpon.


"Maaf, Tuan. Tuan Reiner maupun Nyonya Audrey tidak berada di tempat. Hanya ada pembantunya yang tinggal di apartemen. Dia akan turun untuk menemui Tuan."


Tristan duduk di sofa lobby dengan perasaan yang tidak menentu.


Reiner Bratawijaya...Bukankah dia CEO perusahaan Zeus, putra pengusaha Alexander Bratawijaya? Apa mungkin Audrey itu benar istrinya? Tidak mungkin! Audrey belum menikah. Pasti itu Audrey yang lain.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Tristan melihat seorang wanita setengah baya keluar dari lift. Ia masih ingat dengan jelas, bahwa wanita itu adalah pembantu Audrey yang kemarin menunggu di lobby.


"Tu..an Tristan?" tanya Bi Mila gugup.


"Iya Bi. Bibi masih ingat saya? Saya yang kemarin mengantar Audrey pulang," jawab Tristan merasa curiga melihat kegugupan Bi Mila.


"Tuan, ada keperluan apa kesini? Nyonya tidak ada."


"Dari kemarin Bibi memanggil Audrey sebagai Nyonya. Apa benar Audrey sudah menikah? Apa dia istri Reiner Bratawijaya?" tanya Tristan ingin mengetahui kebenaran.


Bi Mila tampak kebingungan mendengar pertanyaan Tristan. Dulu Nicko memberikan perintah kepadanya untuk merahasiakan pernikahan Reiner dan Audrey dari orang luar. Namun, jika ia tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Tristan, mungkin keadaan akan bertambah buruk. Tristan sepertinya suka pada Audrey. Padahal Bi Mila tau bahwa Reiner sekarang sudah mencintai istrinya. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk berterus terang.


"Bi, tolong katakan yang sebenarnya kepada saya," ucap Tristan tidak sabar.


"Ma...af, Tuan. Nyonya Audrey memang istri Tuan saya, Reiner Bratawijaya. Mereka tinggal berdua di apartemen ini."


Jawaban Bi Mila bagaikan sambaran petir di telinga Tristan. Ia tidak menduga kalau wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta ternyata istri dari pria lain. Kenyataan pahit ini membuat hatinya tercabik-cabik. Hancur sudah semua harapannya untuk menjadikan Audrey sebagai calon istrinya kelak.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Bi Mila khawatir melihat perubahan ekspresi wajah Tristan.


"Terima kasih, Bi. Saya harus pulang."


Tristan melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen itu. Tidak ada lagi yang ingin dia lakukan, kecuali meluapkan amarahnya saat ini. Tristan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berhenti di sebuah taman yang sepi.


Aaargh! Audrey!!! Kenapa kamu tega membohongi aku selama ini? Apa aku yang terlalu bodoh sehingga jatuh cinta padamu? Percuma saja besok aku menjadi CEO, semuanya sia-sia!


Aku akan menuntut pertanggung-jawabanmu, Audrey Bratawijaya. Kamu tidak akan lolos begitu saja dariku.


batin Tristan berjanji kepada dirinya sendiri.


...****************...


Audrey turun perlahan-lahan dari tempat tidur agar tidak membangunkan Reiner. Sebenarnya, ia masih mengantuk dan ingin tidur nyenyak di samping suaminya. Semalam, ia hanya tidur beberapa jam karena harus meladeni kemauan Reiner yang tidak ada habisnya. Tapi Audrey teringat kewajiban penting yang harus ia lakukan pagi ini. Dia harus menelpon ke kantor untuk mengabari Pak Rizal bahwa ia belum bisa masuk kerja.


Audrey berjalan menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Ia mencari Pak Martin yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur.


"Pagi, Pak," sapa Audrey.


"Oh, pagi, Nyonya. Anda sudah bangun?" tanya Pak Martin terkejut.


"Pak, apa telpon disini bisa dipakai untuk menelpon ke luar kota?"


"Tentu bisa, Nyonya. Silahkan Anda pakai saja telpon yang ada di ruang tengah."


Audrey menuju ke ruang tengah dan bergegas memutar nomor telpon kantornya. Ia merasa lega ketika operator berhasil menyambungkan telponnya ke nomor extension divisi finance.


"Selamat pagi, Pak Rizal, ini Audrey," sapa Audrey dengan suara pelan.

__ADS_1


"Pagi Audrey. Saya sudah menunggu kedatanganmu dari tadi. Apa kamu terlambat atau tidak masuk hari ini?"


"Maaf, Pak, saya belum bisa masuk kantor hari ini."


"Apa kamu masih sakit, Audrey? Kamu sakit apa?" tanya Pak Rizal penasaran.


"Saya sudah sehat, Pak. Saya sedang ada keperluan ke luar kota, jadi terpaksa belum bisa masuk. Mungkin besok saya sudah bisa masuk kerja lagi."


"Oke, Audrey. Sayang sekali...Padahal jam sembilan nanti, CEO baru kita akan datang dan mengunjungi setiap divisi. Seharusnya kamu bisa mendampingi saya untuk menyambutnya."


"Iya, Pak, maaf. Saya akan berusaha masuk besok. Terima kasih, Pak," ucap Audrey berpamitan.


"Sama-sama, Audrey. Saya tunggu kehadiranmu besok."


Selesai menelpon Pak Rizal, Audrey memutuskan kembali ke kamarnya untuk mandi. Ia mendekati Reiner yang masih tertidur sambil mengamati wajah tampannya.


Dia terlihat sangat polos kalau sedang tidur. Mungkin aku harus sedikit merayunya supaya aku diijinkan bekerja besok.


pikir Audrey tiba-tiba mendapatkan ide cemerlang.


Audrey terkejut ketika Reiner mendadak terbangun dan menatapnya.


"Apa kamu sedang terpesona dengan ketampananku?" tanya Reiner menggoda Audrey.


"Ti..idak, aku...hanya ingin membangunkanmu untuk sarapan," jawab Audrey mencari alasan.


Reiner menarik Audrey hingga terbaring di atas tempat tidur. Dengan gerakan cepat, ia berguling dan mengunci tubuh Audrey di bawahnya.


"Kamu yang sudah menggodaku di pagi hari. Jadi jangan salahkan aku," bisik Reiner di telinga Audrey.


"Baik, Tuan Reiner. Saya akan menuruti semua keinginan Anda. Tapi ada syaratnya," ucap Audrey sembari memeluk leher Reiner dengan kedua tangannya.


"Apa syaratnya Nyonya Bratawijaya?"


"Nanti sore kita pulang ke apartemen dan...besok ijinkan aku bekerja satu hari," kata Audrey berusaha merayu Reiner.


Wajah Reiner tiba-tiba berubah cemberut mendengar perkataan Audrey.


"Bekerja? Kamu masih memikirkan pekerjaan saat kita sedang berbulan madu?"


"Rein, kumohon jangan marah...Aku punya tanggung-jawab yang harus aku lakukan besok. Aku janji tidak akan dekat-dekat dengan pria manapun. Nanti saat weekend aku akan menemanimu kemanapun kamu mau."


Reiner tersenyum melihat istrinya yang sudah pandai merayu.


"Baiklah, Nyonya. Kali ini saya akan menurut kepada Anda."


Reiner mencium bibir Audrey dengan lembut. Audrey merasa sangat bahagia karena melihat Reiner sudah berubah menjadi suami yang penyayang dan sangat pengertian.

__ADS_1


__ADS_2