
Audrey menunggui Shane yang tertidur pulas sehabis menyusu.
Kenapa Reiner belum pulang? Semoga tidak terjadi hal yang buruk.
pikir Audrey mencemaskan suaminya.
Audrey melangkah keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Ia lega ketika melihat Reiner datang dan membuka pintu apartemen. Namun entah mengapa wajah Reiner terlihat letih dan muram, seolah sedang memikirkan suatu masalah yang sangat membebaninya.
"Rein, kamu sudah pulang dari kantor? Ada apa?" tanya Audrey memegang tangan Reiner.
"Sayang, ayo kita ke kamar. Ada yang ingin kukatakan padamu."
Reiner menggandeng tangan Audrey dan mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka.
"Apa kamu ada masalah di kantor, Rein? Ceritakan saja padaku. Kalau kamu berbagi denganku pasti kamu akan merasa lebih baik," ucap Audrey sembari mengajak Reiner duduk di tepi tempat tidur.
Tanpa banyak bicara, Reiner mendekap Audrey dengan erat. Ia membenamkan kepalanya di dada Audrey seperti anak kecil yang sedang membutuhkan perlindungan.
"Audrey, tolong peluk aku," kata Reiner mempererat dekapannya.
Audrey terkejut melihat Reiner yang mendadak tampak begitu rapuh di hadapannya.
"Iya, Sayang, aku akan memelukmu," jawab Audrey membelai lembut rambut Reiner.
Ikatan batin yang entah sejak kapan telah terbentuk antara mereka berdua, menyebabkan Audrey bisa merasakan kepedihan yang sedang dipendam oleh Reiner.
Suara Reiner terdengar parau ketika mengungkapkan isi hatinya.
"Audrey, aku tidak habis pikir kenapa mamaku melakukan ini pada kita. Aku baru mengetahui kalau Abram Darusman adalah orang suruhan Mama. Mamaku sendiri yang sudah membuat surat gugatan cerai itu dan sengaja menciptakan kesalahpahaman di antara kita."
Mama Valeria yang merencanakan kebohongan atas nama Reiner? Sebenci itukah dia padaku hingga membuat putranya sendiri terluka?
batin Audrey sedih mendengar pengakuan Reiner.
Reiner mengangkat kepalanya. Sorot matanya tampak pilu saat menatap wajah Audrey.
"Aku tidak mengerti, Audrey. Mama yang paling aku sayang sudah berubah menjadi orang yang tidak aku kenal. Dia tega membohongiku. Bahkan dia mencoba memisahkan cinta kita melalui cara yang licik. Aku sungguh tidak menyangka kalau Mamaku sendiri yang melakukan semua itu."
Audrey tidak mampu menahan air matanya ketika melihat penderitaan di mata pria yang sangat dicintainya itu. Hatinya ikut bergetar setiap kali Reiner mengucapkan kenyataan pahit tentang mamanya. Audrey sangat memahami besarnya kekecewaan Reiner, karena selama ini Reiner menganggap mamanya adalah orang yang paling penting dalam hidupnya. Di mata Reiner, Mama Valeria adalah sosok yang selalu menyayangi dan melindunginya sejak kecil hingga tumbuh dewasa.
Audrey menggenggam tangan Reiner dan memandangnya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, mungkin Mama Valeria melakukan itu karena memikirkan kebahagiaanmu. Dia hanya tidak ingin kamu menderita. Aku punya hubungan masa lalu yang buruk dengan Dave dan Tante Diana. Aku sadar tidak akan mudah bagi Mama Valeria untuk menerima masa laluku. Apalagi dia pernah terluka karena perbuatan Tante Diana," ucap Audrey berusaha menenangkan hati Reiner.
Dengar suara bergetar, Reiner kembali memeluk Audrey.
"Tapi kenapa orang-orang terdekatku yang aku sayangi justru mengkhianatiku? Dulu papaku, sekarang mamaku. Apa mereka tidak pernah menganggapku sebagai anak mereka? Mereka lebih memilih keegoisannya sendiri daripada memikirkan kebahagiaanku. Aku sangat terluka menerima kenyataan seperti ini," ucap Reiner penuh kepahitan.
"Rein, aku mengerti, Sayang. Aku memahami penderitaanmu. Menangislah jika kamu ingin menangis. Aku akan selalu disini menemanimu," jawab Audrey mengelus punggung Reiner.
"Sayang, terima kasih karena kamu tetap berada disisiku. Jangan pernah meninggalkan aku, Audrey. Apapun yang terjadi kita akan melaluinya bersama," ucap Reiner membenamkan wajahnya di rambut Audrey.
__ADS_1
"Iya, Rein, aku berjanji padamu. Sekarang tidurlah di pangkuanku. Aku akan memijat kepalamu supaya kamu rileks."
Reiner menuruti permintaan Audrey dan merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya itu.
"Pejamkan matamu, aku akan memijatmu sampai kamu tertidur."
Audrey menggerakkan jemarinya dan mulai memijat kepala Reiner dengan lembut. Ia ingin sekali mencoba untuk melakukan apa saja, agar bisa sedikit mengobati luka yang ada di dalam hati Reiner.
Sambil memandangi wajah Reiner yang sedang memejamkan matanya, Audrey meneruskan pijatannya ke bahu Reiner.
"Sayang, darimana kamu belajar keahlian baru ini? Pijatanmu sangat nyaman," ucap Reiner masih memejamkan kedua matanya.
"Aku dulu sering memijat Opa, Sayang. Aku tidak belajar dari siapapun. Aku melakukannya dengan rasa sayang. Tapi kalau pijatanku memang enak, kenapa kamu masih terjaga?" tanya Audrey menyangsikan pujian Reiner.
Reiner tersenyum mendengar perkataan Audrey.
"Aku sengaja tidak mau tertidur. Aku mau menghabiskan waktu berdua denganmu. Masih banyak yang harus kita lakukan, Sayang. Tapi tunggu...kamu tidak mempraktekkan pijatanmu ini kepada pria lain, khan?"
Audrey tidak dapat menahan tawanya mendengar pertanyaan Reiner yang masih saja mudah terbakar cemburu.
"Mana mungkin aku memijat orang lain. Seumur hidupku aku cuma memijat tiga orang, Opa, Mama, dan kamu, Sayang. Dan nanti bertambah satu lagi."
"Siapa dia?" tanya Reiner tidak suka.
"Sayang, tentu saja Shane, anak kita. Aku sedang belajar memijat Shane setiap hari."
Melihat perasaan suaminya mulai berangsur membaik, Audrey memutuskan inilah waktu yang tepat baginya untuk berbicara tentang Tristan. Audrey ingin mengatakan kepada Reiner bahwa Tristan tidak akan menjadi penghalang hubungan mereka lagi.
Reiner terkejut mendengar perkataan Audrey.
"Jadi kamu bertemu dengannya? Tristan juga sudah mengatakan hal yang sama padaku. Tadi aku menemuinya sebentar di Star Cafe. Maaf, Sayang, aku tidak mengatakan padamu sebelumnya. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir," ucap Reiner penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku lega karena semua salah paham yang pernah terjadi di antara kita sudah berakhir."
"Audrey, apa kita jadi pergi ke rumah orang tuamu?" tanya Reiner merasa enggan bangun dari pangkuan Audrey.
"Sayang, aku akan menelpon Mama dan Papa. Kita akan menemui mereka besok malam setelah kamu pulang dari kantor."
"Apa kamu yakin mereka tidak akan marah? Aku khawatir mereka semakin berpikiran buruk tentangku kalau aku batal menemui mereka hari ini," tanya Reiner cemas.
"Jangan khawatir sayang, orang tuaku sangat pengertian. Aku akan menjelaskan kepada mereka kalau kamu sedang butuh istirahat."
Senyuman manis tersungging di bibir Audrey. Ia menundukkan wajahnya, lalu berbisik di telinga Reiner yang masih berbaring di pangkuannya.
"Sayang, bukankah malam ini kamu ingin mengajakku berkencan? Apa kamu lupa? Aku sudah menyimpan persediaan ASI untuk Shane. Bi Mila akan menjaga Shane, jadi kita bisa pergi berdua dengan tenang."
"Tentu saja kita akan berkencan, Sayang. Karena itu aku tidak mau tertidur. Terima kasih karena kamu sudah mempersiapkan semuanya. Kamu manis sekali. Aku jadi tidak sabar menunggu nanti malam," kata Reiner mengecup bibir Audrey.
"Sekarang bangunlah dulu, Rein. Aku harus melakukan sesuatu."
"Apa itu? Aku mau kamu disini saja menemaniku," ucap Reiner merajuk.
__ADS_1
"Aku akan menyiapkan air mandi yang hangat untukmu. Berendam dengan air hangat bisa membuatmu merasa lebih baik."
Reiner bangun dari pangkuan Audrey dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
"Aku hanya mau berendam, kalau kamu menemaniku. Aku ingin dimandikan seperti Shane," goda Reiner dengan suara manjanya.
Wajah Audrey memerah mendengar permintaan kekanak-kanakan dari Reiner. Namun, ia memutuskan untuk memenuhi semua keinginan Reiner hari ini.
"Iya, Sayang, tunggu aku disini. Nanti aku akan memanggilmu," jawab Audrey sambil tersenyum.
...****************...
Audrey mengambil handuk dan mengeringkan rambut Reiner yang masih basah dengan hati-hati.
"Sayang, aku ingin dimanjakan terus seperti ini," bisik Reiner lirih.
"Hmmm, kalau begitu mulai sekarang aku punya dua orang bayi. Satu bayi kecil lucu bernama Shane, satu lagi bayi besarku yang tampan ini."
Reiner menarik Audrey ke dalam pelukannya.
"Sayang, aku senang kamu sekarang pintar menggodaku. Karena dirimu, aku bisa melupakan semua kesedihanku. Bersiap-siaplah, nanti malam aku yang akan menggodamu."
"Rein, lepaskan aku. Ayo pakai bajumu," kata Audrey menyodorkan kemeja yang sudah ia pilihkan untuk Reiner.
"Bantu aku berpakaian, Sayang," ucap Reiner sambil membuka piyama mandinya.
Audrey menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Reiner.
"Sayang, sikap manjamu itu melebihi Shane. Baiklah, aku akan memakaikan bajumu dan membuatmu terlihat tampan."
Setelah selesai membantu Reiner berpakaian, Audrey mendorong tubuh Reiner agar keluar dari kamarnya.
"Kenapa kamu memaksaku keluar, Sayang?" tanya Reiner enggan meninggalkan Audrey.
"Kalau kamu masih disini, aku tidak akan bisa berdandan. Aku ingin tampil cantik saat berkencan."
Reiner menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jadi kamu menganggapku sebagai pengganggu? Baiklah, aku akan pergi. Tapi pakailah gaun putih yang aku belikan untukmu."
Audrey membuka lemari bajunya dan melihat sebuah gaun putih bermodel sabrina yang tergantung rapi di dalam lemarinya.
"Yang ini?" tanya Audrey menunjukkan gaun itu kepada Reiner.
Reiner menganggukkan kepalanya.
"Iya. Sayang. Ingat, jangan lupa bawa jaketmu. Aku tidak ingin ada pria lain yang menatapmu nanti di sepanjang jalan. Hanya aku seorang yang boleh memandangmu."
"Aku akan melihat Shane dulu. Jangan membuatku menunggu terlalu lama, Sayang," sambung Reiner melangkah pergi.
Audrey tersenyum bahagia sembari memandang Reiner yang keluar dari kamarnya. Bagi Audrey, sikap posesif Reiner justru menjadi bukti betapa besar cinta suaminya itu kepada dirinya.
__ADS_1