
Dimana Audrey sekarang? Kenapa dia belum menghubungiku?
pikir Tristan mencemaskan Audrey.
Tristan baru saja hendak menghubungi Audrey ketika sebuah panggilan tak dikenal muncul di layar ponselnya.
"Hallo, maaf ini siapa?" tanya Tristan penasaran.
"Halo Tuan Tristan, ini saya Reiner Bratawijaya, bisa kita bicara?"
Reiner? Jadi dia sudah pulang. Apa maunya sebenarnya?
"Anda sudah pulang dari luar negri, Tuan Reiner. Kenapa belum menjenguk istri dan anak Anda?" tanya Tristan dengan nada suara sinis.
"Dengar, Tuan Tristan, Audrey dan Shane sudah bersama saya sekarang. Jadi Anda tidak perlu mencemaskan mereka lagi. Audrey dan Shane adalah tanggung jawab saya, bukan Anda. Saya menelpon Anda karena ingin mengajak Anda bicara besok. Jam berapa kita bisa bertemu?"
"Baik, Tuan Reiner, kita akan bertemu jam satu siang di Star Cafe."
"Sampai jumpa besok, Tuan Tristan."
Untuk apa Reiner ingin bertemu denganku? Apa dia mau mengatakan kalau aku harus menyingkir dari kehidupan Audrey?
Tristan meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega karena Audrey baik-baik saja. Namun di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri perasaan kecewa dalam hatinya karena Reiner telah kembali. Itu artinya, dia akan berpisah selamanya dari Audrey dan Shane.
Selama ini, dia berusaha keras menahan perasaannya demi menghormati pernikahan Audrey. Namun ternyata hatinya tetap terasa sakit, saat harus menerima kenyataan bahwa sebentar lagi ia harus pergi dari kehidupan Audrey. Tak bisa dipungkiri olehnya, jika terkadang muncul sebuah harapan bahwa dirinya-lah yang akan menggantikan posisi Reiner di hati Audrey.
Kenapa aku membiarkan diriku sendiri menderita karena cinta? Apa aku terlalu bodoh?
batin Tristan menyesali perasaannya.
Suara ketukan di pintu kamarnya, membuat Tristan tersadar dari lamunan.
"Kevin? Ada apa kamu datang ke apartemenku?" tanya Tristan melihat wajah kakaknya.
"Apa aku tidak boleh datang menjenguk adikku sendiri? Tristan, besok pulanglah ke rumah, Papa sudah mengatur acara makan malam untukmu," kata Kevin memberitahu adiknya.
"Acara makan malam...untuk apa?"
"Tristan, Tristan...kamu lupa dengan hari ulang tahunmu sendiri? Apa pekerjaanmu di kantor sangat berat sampai kamu jadi pelupa begitu?" tanya Kevin keheranan.
"Biasanya cuma Mama yang peduli dengan ulang tahunku. Setelah Mama tidak ada, aku tidak berminat merayakannya lagi," ucap Tristan enggan.
Tristan teringat kembali kenangan manisnya bersama sang mama. Mamanya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu ketika ia duduk di bangku SMU. Tapi, ia masih merindukannya sampai saat ini. Sejak mamanya pergi, Tristan memilih pindah sekolah ke luar negri hingga lulus kuliah. Pilihan itu sengaja dilakukannya untuk menghapuskan semua kesedihannya. Tristan selalu merasa hanya mamanya yang bisa memahami dirinya.
Sejak mamanya pergi, ia harus berjuang melawan rasa kehilangan yang dalam. Selama ini, ia menutup kesedihannya dengan tampil menjadi sosok yang ceria dan percaya diri di hadapan orang lain. Namun, sesungguhnya ia merasa kesepian. Ia baru merasakan kehangatan di hatinya setelah bertemu dengan Audrey. Bagi Tristan, Audrey memiliki banyak kesamaan dengan sosok mamanya yang lembut, penyayang dan keibuan.
"Tristan, Papa besok juga mengundang Tuan Ronald dan putrinya, Diandra. Papa ingin menjodohkanmu dengan Diandra. Sekarang memang sudah waktunya untukmu menikah. Diandra itu cantik dan menarik, aku pernah bertemu dengannya. Aku rasa dia termasuk tipemu, kamu pasti suka," kata Kevin menepuk bahu adiknya.
Tristan berpikir sejenak. Sebenarnya, ia malas dijodoh-jodohkan dengan seorang wanita. Tapi mungkin inilah jalan terbaik baginya untuk melupakan Audrey. Dia harus mencoba memulai hidup baru dengan membuka hatinya untuk wanita lain.
"Oke, aku akan datang besok."
"Bagus, datanglah sebelum jam tujuh. Jangan lupa pakai baju yang bagus, supaya Diandra jatuh cinta padamu," kata Kevin menyemangati adiknya.
"Ah, dia tetap akan terpesona padaku walaupun aku pakai baju seadanya," jawab Tristan penuh percaya diri.
"Ya terserah kamu. Aku pulang dulu."
Para wanita mudah terpesona padaku, kecuali Audrey.
guman Tristan.
...****************...
"Rein, kamu mau kemana? Ini hari Minggu tapi kamu bangun pagi-pagi sekali," tanya Audrey melihat Reiner yang sudah berpakaian rapi.
"Sayang, aku akan pergi ke kantor sebentar untuk menemui Nicko. Ada hal penting yang harus aku lakukan."
__ADS_1
"Rein, apa kamu bisa pergi bersamaku nanti sore? Mama dan papaku ingin bertemu denganmu," kata Audrey seraya menggendong Shane.
"Tentu, kita akan pergi menemui mereka, Sayang. Aku akan pulang sekitar jam tiga sore."
"Rein, bolehkah aku jalan-jalan sebentar dengan Shane? Shane butuh udara segar. Dia agak rewel."
Reiner memandang Shane yang terlihat gelisah.
"Iya, Sayang, ajak Pak Beni dan Bi Mila untuk menemanimu. Hati-hati, jangan pergi terlalu jauh. Sayang, papa pergi dulu," ucap Reiner mencium pipi Shane yang menggemaskan.
Audrey menggerakkan tangan mungil Shane.
"Bye, Papa."
Reiner mengecup dahi Audrey lalu bergegas pergi.
Apa yang akan dilakukan Reiner? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?
pikir Audrey curiga.
"Pak, kita ke minimarket sebentar," kata Audrey meminta Pak Beni memarkirkan mobilnya.
Audrey meletakkan Shane di keretanya dengan dibantu Bi Mila.
"Bi, jaga Shane sebentar, aku akan membeli susu ibu menyusui," kata Audrey menyerahkan kereta Shane kepada Bi Mila.
Audrey berjalan berkeliling di minimarket untuk menemukan barang yang dicarinya. Namun, ia terkejut melihat Tristan yang juga ada di minimarket itu.
"Tristan?"
"Audrey, kamu ada disini?" tanya Tristan sama terkejutnya.
"I..iya aku sedang berbelanja," jawab Audrey ragu-ragu.
"Sama, aku sedang membeli coklat. Dimana Shane?" tanya Tristan memperhatikan Audrey.
"Tidak masalah, aku tau kamu bersama Reiner."
Audrey merasa bingung mendengar jawaban Tristan.
"Darimana kamu tau kalau Reiner sudah pulang?"
"Reiner sendiri yang memberitahuku. Kemarin dia menelpon dan mengajakku bertemu hari ini. Apa dia tidak mengatakannya padamu?" tanya Tristan melihat ekspresi terkejut di wajah Audrey.
Untuk apa Reiner merahasiakan hal ini dariku? Apa yang mau dia katakan kepada Tristan?
pikir Audrey bertanya-tanya.
Tristan berjalan cepat menuju ke arah Shane yang ada di dalam kereta.
"Shane, ini Om Tristan. Lihat Om punya coklat," kata Tristan menunjukkan coklatnya kepada Shane.
Shane merespon dengan tertawa senang melihat wajah Tristan.
Kenapa Shane bisa tersenyum seperti itu saat bertemu Tristan? Kalau Reiner melihatnya, dia bisa cemburu.
pikir Audrey was-was.
"Tristan, jangan mendekatkan coklat ke Shane, nanti dia akan memasukkannya ke mulut."
"Lihat Shane, mamamu memarahi Om. Kamu tau, Audrey, aku hanya membeli coklat di hari ulang tahunku. Dulu mamaku yang selalu memberikan coklat untukku sebagai hadiah."
"Jadi hari ini hari ulang tahunmu? Kalau begitu selamat ulang tahun, Tristan," ucap Audrey tulus.
"Terima kasih. Audrey, boleh aku minta sesuatu darimu sebagai hadiah? Ini permintaan pertama dan terakhir dariku sebagai teman. Setelah itu aku tidak akan menemuimu lagi," ucap Tristan tiba-tiba.
"A..apa itu, Tristan?" tanya Audrey terkejut.
__ADS_1
"Aku ingin mengajakmu ke taman di dekat sini. Ada yang mau aku katakan," kata Tristan.
Audrey bingung harus menjawab apa. Dia khawatir Reiner akan salah paham. Namun mengingat banyaknya pertolongan yang diberikan Tristan selama ini, ia tidak tega menolak permintaan Tristan. Audrey berpikir sudah saatnya ia dan Tristan harus meluruskan segalanya di antara mereka untuk terakhir kalinya.
"I..iya, tapi sebentar saja."
Audrey berjalan mengikuti Tristan sampai di taman yang ada di seberang minimarket.
"Audrey, aku senang melihatmu kembali bahagia setelah bersatu lagi dengan Reiner. Aku berharap kamu, Reiner, dan Shane akan terus berbahagia seperti ini."
"Terima kasih, Tristan. Aku doakan kamu juga bahagia," jawab Audrey menatap mata Tristan.
"Aku ingin jujur padamu. Aku masih mencintaimu sampai sekarang. Aku juga sayang pada Shane. Tapi, aku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa bersama dengan kalian. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan. Karena itu, aku memutuskan untuk tidak akan menemuimu lagi. Aku akan coba melanjutkan hidupku sendiri," ucap Tristan sedih.
"Tristan, maafkan aku. Aku berharap kamu segera menemukan wanita yang tepat untukmu."
Tristan tidak menjawab perkataan Audrey, namun ia menarik Audrey ke dalam pelukannya. Tiba-tiba saja, Tristan mencium bibir Audrey dengan lembut.
"Tristan, apa yang kamu lakukan?" kata Audrey terkejut.
"Maafkan aku...Selamat tinggal, Audrey."
Tristan melepaskan Audrey dan berjalan pergi meninggalkan taman. Ia tidak menoleh ke belakang hingga menghilang dari pandangan Audrey.
Tristan, selamat tinggal. Berbahagialah selalu.
pikir Audrey menatap kepergian Tristan.
...****************...
"Nicko, apa orang itu ada di dalam?" tanya Reiner kepada Nicko yang berdiri di depan ruangannya bersama para bodyguard.
"Iya, Tuan. Saya memaksanya datang kesini."
"Aku akan segera bertanya padanya apa alasannya berani membohongi Audrey," ucap Reiner kesal.
Reiner membuka pintu ruangannya dan melihat seorang pria berkacamata sedang duduk membelakanginya. Pria itu tampak ketakutan ketika menatap Reiner yang datang menghampirinya.
"Jadi kamu yang bernama Abram Darusman?"
"I..iya, Tuan Reiner," jawab pengacara itu gemetar.
"Beraninya kamu membuat surat gugatan cerai palsu atas namaku. Kamu juga berani memaksa istriku untuk menandatanganinya. Siapa yang menyuruhmu?" tanya Reiner penuh kemarahan.
"Maaf, Tuan, saya tidak bisa mengatakannya," jawab Tuan Abram berusaha untuk tetap tutup mulut.
Reiner menarik kerah kemeja Tuan Abram dan mencodongkan wajahnya.
"Tuan Abram yang terhormat, aku masih menghormatimu karena profesimu. Tapi kalau kamu masih tidak mau mengaku, maka aku pastikan kamu akan kehilangan izin sebagai advokat. Aku akan membuatmu dipermalukan di muka publik. Dan sekaligus aku akan menuntutmu atas tuduhan pemalsuan dokumen," kata Reiner kehilangan kesabarannya.
Tangan Tuan Abram gemetar mendengar ancaman Reiner.
"Tu..an jangan lakukan itu. Saya mohon maafkan saya. Sa..ya hanya menjalankan perintah Mama Anda, Ny. Valeria."
"Mama? Apa kamu mencoba memfitnah mamaku sekarang?"
"Ti...dak Tuan Reiner. Saya mengatakan yang sebenarnya. Ini, Tuan bisa lihat sendiri buktinya di riwayat panggilan dan pesan masuk saya," ucap Tuan Abram sembari menyerahkan ponselnya.
Reiner menerima ponsel itu dan segera mencari riwayat telpon masuk. Matanya terbelalak saat membaca nama mamanya yang muncul beberapa kali di daftar panggilan.
"Tuan juga bisa membaca pesan dari Ny. Valeria. Ada bukti transfer dari Ny. Valeria untuk saya," sambung Tuan Abram.
Reiner membuka pesan masuk di ponsel Tuan Abram. Ia tidak percaya ketika melihat pesan sekaligus bukti transfer dari Mamanya.
Aaargh! Mama, kenapa Mama tega melakukan hal sajahat ini padaku?
batin Reiner menahan amarahnya.
__ADS_1