
"Nah, Sayang, kamu sudah segar sekarang. Ayo pakai baju," kata Audrey setelah selesai memandikan Shane.
"Nyonya, boleh saya masuk?" terdengar suara Bi Mila mengetuk pintu kamar Audrey.
"Iya, Bi, masuk saja."
"Nyonya, di luar ada Tuan Alexander mencari Anda."
Ada apa Papa Alexander pagi-pagi datang kesini?
pikir Audrey terkejut dengan kedatangan ayah mertuanya yang mendadak.
"Bi, tolong buatkan minum dulu untuk Papa. Aku akan segera keluar."
"Baik, Nyonya."
Audrey menggendong Shane dan mengajak bayinya itu berbicara.
"Sayang, ayo kita bertemu Opa Alex. Shane belum pernah melihat Opa khan?"
"Aiii...eeehh...eeehh," celoteh Shane menanggapi kata-kata mamanya.
Audrey berjalan cepat menuju ke ruang tamu. Ia tidak ingin ayah mertuanya menunggu terlalu lama.
"Papa, apa kabar? Kenapa Papa tidak masuk saja ke dalam?" tanya Audrey menyapa Tuan Alexander.
"Kabar Papa baik, Audrey. Papa menunggu disini saja karena Papa tidak bisa mampir terlalu lama. Setelah ini Papa ada meeting penting di kantor."
Tuan Alexander mengalihkan pandangannya kepada Shane yang ada di gendongan Audrey. Dengan ragu-ragu, Tuan Alexander mendekati cucunya itu.
"Jadi ini Shane, cucu Opa? Kamu sangat mirip dengan papamu, Reiner, waktu masih bayi. Maaf, Audrey, Papa baru bisa mengunjungi kalian sekarang. Selama setahun ini Papa harus bolak-balik ke luar negri untuk mengurus perusahaan sambil menemani Reiner berobat."
"Iya, Pa, Audrey mengerti. Apa Papa ingin menggendong Shane?"
"Papa sudah lama tidak menggendong bayi. Papa khawatir Shane akan merasa tidak nyaman," jawab Tuan Alexander ragu.
"Tidak apa-apa, Pa. Coba Audrey bantu. Shane pasti akan suka digendong oleh Opanya."
Audrey menyerahkan Shane dengan hati-hati ke tangan Tuan Alexander. Wajah Tuan Alexander tampak bahagia ketika akhirnya dia bisa menggendong cucu pertamanya itu.
"Cucu laki-laki Opa. Kamu akan menjadi kebanggaan Opa, Shane. Kamu adalah penerus keluarga Bratawijaya," ucap Tuan Alexander menatap cucunya dengan penuh rasa bangga.
"Audrey, seringlah datang berkunjung ke rumah bersama Shane. Papa ingin melihat Shane dan bermain dengannya."
__ADS_1
"Iya, Pa."
Tuan Alexander menyerahkan Shane kembali kepada Audrey, sebelum mengatakan maksud kedatangannya.
"Sebenarnya Papa datang kesini untuk membicarakan mengenai Mama Valeria."
"Ada apa dengan Mama, Pa?"
"Papa sudah mengetahui pertengkaran antara Valeria dan Reiner. Papa merasa prihatin karena sejak kecil Reiner tidak pernah marah kepada mamanya. Selama ini Reiner memang belum bisa memaafkan Papa, tapi dia sangat sayang pada mamanya."
"Maafkan Audrey, Pa. Pertengkaran Reiner dan Mama Valeria terjadi karena Audrey," ucap Audrey merasa bersalah.
"Tidak, ini bukan salahmu. Papa tau perbuatan mamanya Reiner sudah keterlaluan. Tidak seharusnya dia berusaha memisahkan kalian. Apalagi kalian sudah memiliki seorang anak. Valeria hanya butuh waktu untuk memahami hal ini. Mungkin dia masih menyimpan sakit hati akibat perbuatan Papa di masa lalu. Dan sekarang kamu yang menjadi sasaran kemarahannya, karena kebetulan kamu pernah menjadi pacar Dave."
"Maaf, Pa. Audrey tidak menyangka kalau masa lalu Audrey akan membuka luka lama di hati Mama."
"Lupakan saja itu, Audrey. Yang penting bagi Papa adalah kebahagiaan Reiner. Papa ingin menebus semua kesalahan Papa kepada Reiner. Papa melihat Reiner banyak berubah setelah menikah denganmu," ucap Tuan Alexander penuh penyesalan.
"Papa ingin minta tolong padamu, nanti bujuklah Reiner untuk datang ke rumah kami bersama denganmu. Valeria sedang sakit. Sejak kemarin dia tidak mau makan. Dia hanya berbaring saja di tempat tidur dan menolak untuk diperiksa dokter. Papa khawatir kondisinya akan memburuk. Hanya Reiner yang bisa membujuknya untuk makan."
Audrey terkejut mendengar perkataan Tuan Alexander. Ia tidak menduga bahwa ibu mertuanya ternyata begitu memikirkan pertengkarannya dengan Reiner, hingga mogok makan.
"Pasti Pa. Audrey dan Reiner memang berencana akan ke rumah nanti malam untuk mengunjungi Papa dan Mama."
Audrey merasa prihatin melihat ekspresi wajah Tuan Alexander. Di usianya saat ini, Tuan Alexander memang seharusnya lebih banyak beristirahat dan menghabiskan waktunya bersama keluarga.
"Pa, Audrey akan coba untuk membujuk Reiner supaya mau membantu Papa di perusahaan."
"Papa akan sangat berterima kasih jika kamu berhasil melakukannya, Audrey. Atau kalau Reiner belum bersedia, Papa akan memintamu saja yang membantu Papa. Papa dengar kamu dulu bekerja cukup lama sebagai supervisor di Oragon Group. Kamu pasti sudah punya pengalaman menjadi seorang pemimpin. Tidak akan butuh waktu lama bagi Papa untuk mengajarimu nanti, sampai kamu bisa menjadi CEO."
"Terima kasih, Pa. Tapi, Audrey sekarang ingin fokus mengurus Shane dulu. Audrey janji akan berusaha membujuk Reiner."
"Semoga Rein mau mendengarkanmu. Audrey, Papa pamit dulu. Sampai jumpa nanti di rumah."
Tuan Alexander mencium pipi cucunya.
"Shane, Opa tunggu nanti malam ya. Opa mau kerja dulu."
"Hati-hati, Pa," ucap Audrey mengantarkan ayah mertuanya hingga ke depan pintu.
...****************...
Audrey mengirimkan pesan kepada Reiner agar pulang lebih awal. Sepanjang siang, Audrey cemas memikirkan kondisi Ny. Valeria. Ia merasa ikut bersalah karena menjadi penyebab pertengkaran antara seorang ibu dan anaknya.
__ADS_1
Reiner memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Sayang, sebenarnya ada apa dengan Mama?" tanya Reiner mencari tau.
"Mama tidak mau makan sejak kemarin, Rein. Mama hanya berbaring saja, tidak keluar dari kamarnya. Tadi Papa Alex datang kesini dan memberitahuku agar kita segera menemui Mama. Papa takut kondisi Mama akan memburuk kalau seperti ini terus."
Pandangan mata Reiner menerawang seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa Mama menyiksa dirinya sendiri? Aku harap Mama tidak menggunakan cara ini untuk memaksa kita berdua berpisah."
"Sayang, jangan berpikir buruk tentang Mama Valeria. Aku yakin Mama juga sama menderitanya sepertimu. Mungkin Mama terlalu sedih karena bertengkar dengan putra satu-satunya. Ini saatnya kamu berbaikan dengan Mama, Rein. Sebaiknya kita juga membawa Shane. Aku yakin Mama akan terhibur jika melihat cucunya."
Reiner membelai rambut Audrey dengan jemarinya.
"Sayang, kamu baik sekali. Kamu selalu bisa menenangkan hatiku," ucap Reiner merasa beruntung dengan kehadiran Audrey.
"Rein, aku juga kasihan melihat Papa Alex. Papa kelihatan lelah. Di usianya sekarang, Papa harusnya istirahat dan tidak boleh bekerja keras. Apa kamu tidak berpikir untuk membantu menggantikan Papa di perusahaannya?"
"Audrey, aku tidak tertarik menjadi CEO di Bratawijaya Group. Aku lebih nyaman mengembangkan perusahaanku sendiri."
"Apa kamu tidak coba untuk membagi waktumu, Sayang. Di perusahaanmu ada Nicko yang sangat kompeten. Mungkin kamu bisa mengatur jadwalmu kapan harus ke Zeus dan kapan ke Bratawijaya Group."
Reiner berpikir sejenak sebelum menanggapi saran Audrey.
"Hmmm, bisa saja. Tapi itu sangat merepotkan. Aku mungkin tidak akan punya banyak waktu untuk bersamamu, Sayang. Aku harus memikirkannya baik-baik sebelum mengambil keputusan."
"Aku tidak keberatan. Asalkan kamu memberikan waktu Sabtu dan Minggu khusus untukku dan Shane. Sayang, tadi Papa sempat menawarkan sesuatu padaku."
"Menawarkan apa?" tanya Reiner penasaran.
"Kalau kamu masih menolak, Papa memintaku untuk membantunya di Bratawijaya Group. Mungkin dia akan mengangkatku sebagai CEO," goda Audrey.
Pikiran-pikiran buruk langsung memenuhi kepala Reiner. Ia teringat kembali pada Tristan yang hampir saja merebut Audrey dari tangannya. Jika Audrey sampai menjadi CEO Bratawijaya Group, pasti akan lebih banyak pria yang akan meliriknya. Bahkan mungkin salah satu CEO atau pebisnis muda yang menjadi kolega bisnis ayahnya, akan berusaha untuk merayu dan memikat hati Audrey.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menjadi CEO. Aku akan menerima tawaran Papa," jawab Reiner spontan.
"Aku senang akhirnya kamu setuju, Sayang. Sekarang mandilah dulu, kita harus segera menemui Mama."
"Iya, tapi kamu harus berjanji padaku untuk tidak menerima tawaran Papa."
Audrey tersenyum melihat reaksi Reiner yang terlihat cemburu.
"Iya, Sayang. Aku lebih suka di rumah untuk menunggumu dan bermain bersama Shane," ucap Audrey meyakinkan Reiner.
__ADS_1