Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
70 Kencan Romantis


__ADS_3

"Rein, kita akan kencan di mana?" tanya Audrey penasaran.


"Itu rahasia, Sayang. Aku akan memberikan kejutan untukmu. Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke cottage di dekat pantai. Tapi aku tidak ingin meninggalkan Shane terlalu lama. Kita akan ke sana kalau Shane sudah lebih besar."


"Iya, aku ingin sekali pergi ke pantai bersamamu. Dulu aku lihat di kamar Sofia ada foto kalian berdua sedang berlibur ke pantai. Tapi, kamu belum pernah mengajakku," kata Audrey pura-pura cemberut.


Reiner tersenyum melihat kecemburuan di mata Audrey.


"Sayang, aku suka melihatmu cemburu begitu. Aku janji akan mengajakmu kemana saja kamu mau. Kita akan mengambil foto berdua sebanyak mungkin."


"Bagaimana kalau Sabtu depan kamu yang mengajakku berkencan? Aku rela diajak kemana saja olehmu," sambung Reiner menggoda Audrey.


Audrey berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban.


"Boleh, ide yang bagus. Kalau begitu kita nonton film di bioskop berdua sambil makan popcorn. Dulu kita langsung menikah tanpa pernah berpacaran. Aku ingin kita pergi kencan seperti sepasang kekasih. Tapi, kira-kira kamu mau nonton film apa, Rein? Kamu khan cepat sekali bosan kalau nonton TV di rumah. Nanti kamu malah ketiduran disana."


"Sayang, justru aku senang karena kita langsung menikah. Seandainya kita berpacaran dulu, mungkin aku harus menahan diri untuk tidak terlalu dekat denganmu. Atau... aku akan tergoda untuk melakukan hal-hal yang di luar batas," bisik Reiner.


"Rein, jangan menggodaku terus. Coba jawab aku dengan serius."


"Iya, Sayang, jangan memarahiku. Hmmm...mungkin aku akan memilih nonton film horor."


"Apa kamu serius mau nonton film horor?" tanya Audrey keheranan.


"Tentu saja. Jadi kalau kamu takut, aku bisa memelukmu."


"Untung saja aku tidak berpacaran denganmu, Rein. Ternyata kamu suka mengambil keuntungan dariku," kata Audrey kesal.


Reiner tertawa senang melihat Audrey yang mudah sekali digoda.


"Nah, Sayang, kita sudah sampai," ucap Reiner mengarahkan mobilnya masuk ke sebuah hotel mewah.


Reiner menggandeng tangan Audrey menuju ke lobby hotel itu.


Seorang pria dengan setelan jas hitam menyambut kedatangan Reiner dan Audrey.


"Tuan Reiner, mari saya antarkan ke rooftop," sapa Manager hotel itu mempersilahkan Reiner dan Audrey masuk ke dalam lift.


"Sayang, kita akan naik ke lantai paling atas. Nanti saat pintu lift terbuka, tutup matamu. Aku akan membimbingmu sampai di tempat dinner kita," bisik Reiner di telinga Audrey.


Tak berapa lama, pintu lift pun terbuka. Reiner memeluk pinggang Audrey dengan erat dan membantunya berjalan keluar dari lift.


"Silahkan menikmati makan malamnya, Tuan dan Nyonya Bratawijaya," ucap Manager hotel itu sebelum meninggalkan Reiner dan Audrey.


"Nah, sekarang buka matamu, Sayang."


Perlahan-lahan, Audrey membuka matanya dan terpukau menyaksikan pemandangan di hadapannya. Sepanjang jalan yang akan dilaluinya, dihiasi oleh lilin-lilin kecil yang tertata rapi dihiasi serpihan bunga mawar merah. Di ujung jalan itu, ada sebuah meja yang sudah dipersiapkan khusus untuk dua orang. Dan di tengah-tengah meja, Audrey melihat ada lilin merah berbentuk hati yang sudah dinyalakan.


Dari sekeliling restoran yang berada di ketinggian itu, Audrey bisa menyaksikan pemandangan seluruh kota di malam hari. Kelap-kelip lampu kota menambah keindahan setiap mata yang memandangnya.


"Sayang, ini indah sekali," ucap Audrey kagum.


Seorang pelayan wanita datang menghampiri Reiner dan membawakan sebuah nampan berwarna putih. Reiner mengambil sekuntum bunga mawar merah yang ada di atas nampan itu.


"Sayang, ini untukmu. I love you," ucap Reiner menyerahkan bunga mawar itu kepada Audrey.


"Terima kasih, Sayang," jawab Audrey terharu.

__ADS_1


Reiner kembali memeluk pinggang Audrey.


"Ayo, ke meja kita."


Audrey berjalan sembari melihat ke sekeliling restoran rooftop yang nampak sepi. Hanya ada mereka, beberapa pelayan restoran, dan dua orang pemain biola disana.


"Sayang, kenapa tidak ada orang lain yang makan malam disini?"


"Tentu saja, aku sudah memesan seluruh restoran ini khusus untuk kita. Tidak ada orang lain yang berani datang kesini," jawab Reiner santai.


Mata Audrey terbelalak mendengar jawaban Reiner.


"Rein, kamu memesan tempat ini semuanya?Seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini, Sayang. Aku tidak keberatan kencan di tempat yang sederhana asalkan bisa bersamamu."


"Bagiku tidak ada yang berlebihan kalau menyangkut dirimu. Aku khan sudah bilang padamu, kalau aku tidak ingin ada pria lain yang memandangi kecantikanmu. Aku bahkan bisa menyewa seluruh isi hotel ini untukmu, Sayang. Sekarang kamu boleh membuka jaketmu, karena hanya ada kita berdua," ucap Reiner memegang tangan Audrey.


Dua orang pelayan wanita mulai menghidangkan makanan dan minuman di meja Reiner dan Audrey. Suara alunan biola yang lembut membuat suasana romantis semakin terasa. Setelah makanan utama dihidangkan, pelayan mengantarkan sebuah cake red velvet untuk Audrey.


"Sayang, kenapa red velvet ini hanya satu? Apa kamu tidak ingin makan juga?" tanya Audrey menatap Reiner.


"Cake ini aku pesan khusus untukmu. Potonglah," jawab Reiner memberi isyarat.


Audrey menggelengkan kepalanya melihat cake itu.


"Kamu ingin aku bertambah gemuk? Kamu terus menyuruhku makan makanan manis," jawab Audrey saraya mengambil pisau kecil untuk memotong kue itu.


Reiner memandang ekspresi wajah Audrey sambil tersenyum.


"Rein, kenapa kue ini susah sekali dipotong. Seperti ada benda keras didalamnya?"


"Mau aku bantu memotongnya?" tanya Reiner mendekatkan wajahnya.


Audrey mengambil sebuah kotak berwarna merah yang ada di dalam cake itu. Ia mengeluarkan kotak itu dengan hati-hati lalu mengamatinya.


"Rein, apa ini idemu?"


Reiner mengangkat bahunya.


"Coba buka dulu dan lihat apa isinya, Sayang."


Karena rasa penasaran, Audrey membuka kotak itu untuk mengetahui apa yang disembunyikan Reiner. Matanya Audrey terkesima melihat sebuah kalung cantik yang terletak di dalam kotak itu. Sebuah kalung berlian yang dihiasi liontin merah terang berbentuk hati.


"Apa kamu menyukainya, Audrey?" tanya Reiner dengan wajah penuh harap.


"Cantik sekali kalungnya, Rein. Terima kasih," puji Audrey terkagum-kagum.


Reiner berdiri dari kursinya lalu menghampiri Audrey.


"Berdirilah, Sayang. Aku akan membantumu memakai kalungnya."


Dengan lembut, Reiner menyibakkan rambut Audrey dan memakaikan kalung itu di leher istrinya. Reiner memutar tubuh Audrey, sehingga mereka saling bertatapan.


Reiner menatap langsung ke mata Audrey dalam-dalam. Sorot matanya dipenuhi oleh rasa cinta.


"Sayang, aku memberikan kalung ini sebagai lambang pengikat hati kita berdua. Kamu sudah banyak menderita selama ini. Dan sebagian besar penderitaanmu terjadi karena kesalahan yang aku perbuat. Aku ingin menghapus semua luka di hatimu itu. Mulai sekarang, aku akan selalu berada disampingmu. Aku berjanji akan menjaga dan melindungimu, Sayang. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Aku sangat mencintaimu."


Mata Audrey berkaca-kaca mendengar janji yang diucapkan Reiner.

__ADS_1


Audrey meletakkan jarinya di bibir Reiner.


"Sayang, jangan berkata begitu. Aku sangat bahagia bisa menikah denganmu, Rein. Karena keberadaanmu disisiku, aku bisa merasakan lagi apa itu cinta. Aku merasa hidup kembali setelah aku bertemu denganmu. Aku juga sangat mencintaimu," kata Audrey mengalungkan kedua tangannya di leher Reiner.


Reiner menggandeng tangan Audrey dan membimbingnya menuju ke balkon restoran.


"Aku masih punya satu kejutan untukmu."


"Kejutan lagi, apa itu?" tanya Audrey penasaran.


Reiner menjetikkan jarinya ke arah pelayan wanita yang sudah menunggu disitu. Tiba-tiba terdengar suara dentuman kembang api di angkasa. Audrey terkejut dan menutup telinganya.


"Apa kamu terkejut, Sayang? Coba lihat dulu," ucap Reiner memeluk bahu Audrey.


Audrey menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat kembang api berwarna keemasan yang menghiasi langit di depannya. Kembang api itu membentuk sebuah tulisan besar yang berkilauan. Siapapun yang menyaksikan pemandangan itu pasti akan dibuat berdecak kagum.


"I...love...You..." baca Audrey perlahan-lahan.


"I love you so much, Audrey, my lovely wife," ucap Reiner mengecup bibir Audrey dengan lembut.


"Terima kasih, Rein. Aku sangat bahagia. I love you too."


Kedua pasangan yang saling mencintai itu diliputi oleh kebahagiaan. Rasanya tidak ada apapun atau siapapun yang bisa memisahkan mereka lagi.


...****************...


Reiner mengajak Audrey turun ke lantai lima untuk masuk ke kamar mereka.


"Silahkan, Tuan dan Nyonya, semoga Anda nyaman beristirahat disini," ucap Manager hotel mengantarkan Reiner dan Audrey sampai di depan pintu.


Reiner tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Manager hotel yang ramah itu.


"Rein, aku belum pernah melihatmu tersenyum semanis itu pada orang lain. Biasanya kamu serius dan sedikit galak," goda Audrey terkesima menyaksikan perubahan yang terjadi pada diri Reiner.


"Aku berubah karena pengaruh cinta dan kelembutanmu, Sayang. Kamu punya hati yang sangat baik, sehingga bisa mengubah kepribadianku."


"Jangan memujiku terus, Rein. Aku jadi malu," jawab Audrey menundukkan kepalanya.


"Itu memang kenyataan. Ayo kita masuk ke kamar. Aku sudah tidak sabar," ucap Reiner menempelkan kartu untuk membuka pintu.


Ketika memasuki kamar itu, Audrey langsung mencium bau harum dari lilin aroma terapi yang sengaja diletakkan di dalam kamar.


Audrey kembali dibuat terkagum-kagum melihat betapa indahnya dekorasi kamar mereka. Selain dipenuhi lilin aroma terapi berwarna merah muda, di atas tempat tidur sudah diletakkan sepasang angsa putih yang membentuk lambang hati. Di depan sepasang angsa itu, dihiasi kelopak bunga mawar merah yang membentuk tulisan "I Love You". Sepanjang jalan menuju ke tempat tidur juga ditebarkan banyak kelopak mawar, sehingga membuat Audrey merasa sebagai seorang ratu dalam semalam.


"Aku memesan kamar bulan madu ini untuk kita. Apa kamu suka?" tanya Reiner memeluk Audrey.


"Aku suka semua yang kamu berikan hari ini. Aku tidak menyangka kamu akan memberiku hadiah kencan yang sangat romantis, Rein."


"Aku juga suka dekorasi kamar ini. Sayangnya, mawar-mawar dan angsa ini akan merepotkan kita."


"Merepotkan? Bukannya ini indah?" tanya Audrey heran.


Senyuman tersungging di bibir Reiner.


"Maksudku dekorasi ini akan menghalangiku untuk segera membawamu ke tempat tidur. Tapi aku tidak peduli, mungkin aku akan merusaknya."


"Rein..." ucap Audrey merasa malu.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Reiner menggendong Audrey dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Kita akan melalui malam yang panjang hari ini, Sayang," bisik Reiner di telinga Audrey.


__ADS_2