Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
65 Merindukan Dirimu


__ADS_3

"Audrey, aku tidak bisa menemukan Shane. Mungkin kita harus lapor ke polisi," ucap Tristan terlihat cemas.


"Tristan, kita tidak perlu lapor ke polisi. Aku harus pergi sekarang."


"Audrey, ada apa denganmu? Kamu mau pergi kemana?" ucap Tristan melihat wajah Audrey yang pucat.


Audrey tidak memberikan jawaban hingga taksi online yang dipesannya datang. Setengah berlari, Audrey terburu-buru menghampiri taksi itu, tapi Tristan berhasil mencegahnya.


Tristan menarik Audrey ke dalam pelukannya dan menahannya agar tidak pergi. Entah mengapa kali ini perasaannya mengatakan bahwa ia akan kehilangan Audrey untuk selamanya. Tristan tidak mampu lagi menahan perasaannya yang ingin selalu bersama dengan Audrey dan Shane.


"Audrey, kalau kamu ingin menangis, menangislah. Kumohon jangan pergi sendirian. Aku akan menemanimu mencari Shane."


"Tristan, aku harus pergi sendiri atau aku akan kehilangan Shane. Tolong lepaskan aku," ucap Audrey memohon.


Tristan menatap mata Audrey yang penuh keputus-asaan.


"Audrey, berhati-hatilah. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu," kata Tristan melepaskan Audrey.


Audrey bergegas masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Pak, kita ke apartemen Amarilla."


"Baik, Nyonya," jawab supir taksi itu dengan ramah.


Di dalam taksi, Audrey gelisah memikirkan bayinya. Ia takut Reiner akan memisahkannya dari Shane dan membawanya pergi jauh ke luar negri.


"Pak, tolong cepat sedikit. Kalau bisa ambil jalan pintas," ucap Audrey sembari melihat jam di ponselnya.


"Maaf, Nyonya, saya sudah berusaha cepat tapi jalanan memang macet di Sabtu sore seperti ini."


Tinggal tersisa dua puluh menit lagi. Aku harus bagaimana?


batin Audrey cemas.


Lebih baik aku menghubungi Reiner dan memohon padanya untuk menunggu sebentar lagi.


Audrey memutuskan untuk menghubungi nomer ponsel yang dipakai Reiner untuk menelponnya.


"Halo, Rein, ini aku. Aku mohon beri aku waktu sebentar lagi, aku masih di dalam taksi. Tolong jangan bawa Shane pergi, aku janji pasti datang menemuimu."


Reiner menjawab dengan nada suara rendah.


"Sayang, aku tau dimana posisimu berada sekarang. Aku bisa melacak lokasimu dari sini. Dengar, aku akan sabar menunggumu, walaupun selama ini kamu tidak sabar untuk menungguku. Kalau kamu sudah sampai, langsung masuk ke apartemen kita yang dulu. Ingat penuhi janjimu."


"I..iya Rein, terima kasih," jawab Audrey merasa lega.


Rein, kenapa kamu masih memanggilku dengan sebutan Sayang. Dan kenapa kamu memaksaku dengan menggunakan anak kita? Apa mungkin kamu masih mencintaiku? Tidak...kamu pasti membenciku. Mungkin sekarang ini statusku sudah bukan istrimu lagi.

__ADS_1


pikir Audrey sedih.


Setelah berhasil menembus kemacetan, Audrey akhirnya tiba di apartemen Amarilla.


"Deg..." jantung Audrey tiba-tiba berdegup kencang.


Perasaan rindu bercampur takut memenuhi pikiran Audrey. Kakinya mendadak gemetar karena rasa gugup. Sesungguhnya setelah mereka berdua berpisah cukup lama, Audrey sangat merindukan Reiner. Ia ingin memeluk Reiner dan mengatakan betapa dia sangat mencintainya. Namun, Audrey berusaha keras menepis keinginannya itu. Ia sadar bahwa Reiner bukan menjadi miliknya lagi. Dan entah apa yang akan dilakukan Reiner kepadanya nanti. Apakah Reiner akan marah, menyakitinya atau menahannya.


Aku harus berani mengambil resiko demi Shane.


batin Audrey membulatkan tekadnya.


Audrey melangkahkan kakinya ke dalam lift dan memencet tombol untuk menuju ke lantai atas. Dia masih ingat dengan jelas dimana letak apartemennya dahulu.


Audrey menarik nafas panjang sebelum membuka pintu apartemen Reiner. Ia memberanikan dirinya lalu mencoba membuka pintu. Ternyata pintu itu sengaja sudah dibuka dari dalam. Samar-samar, Audrey bisa mendengar suara tangisan Shane.


"Shane!" panggil Audrey menghambur masuk untuk menemui anaknya.


Di dalam, Audrey melihat Bi Mila sedang menggendong Shane. Dan ada Reiner yang berdiri di sampingnya. Reiner sedang menunjukkan beberapa mainan untuk coba menenangkan Shane.


Beberapa saat, pandangan Reiner dan Audrey saling bertemu. Audrey mendekat untuk mengambil Shane dari gendongan Bi Mila. Ia terkejut ketika melihat perubahan yang terjadi pada diri Reiner.


Tubuh Reiner yang dulu gagah dan atletis kini terlihat lebih kurus. Wajah Reiner masih sangat tampan seperti dulu, tapi ada gurat-gurat kesedihan yang tampak jelas disana. Namun, Audrey bersyukur karena melihat pria yang dicintainya itu sudah bisa berjalan dengan normal.


Rein, apa kamu sangat menderita selama menjalani proses pengobatan? Pantas saja kamu membenciku. Aku tidak ada disampingmu selama kamu melewati masa-masa yang berat.


pikir Audrey penuh penyesalan.


Reiner masuk mengikuti Audrey dan menutup pintu kamarnya.


"Rein, aku akan menyusui Shane dulu."


"Iya, kamu tidurkan saja Shane. Aku akan menunggumu disini," kata Reiner menatap Audrey dengan tajam.


Audrey membuka kancing dressnya dengan ragu-ragu. Entah mengapa ia merasa malu untuk membuka dadanya di depan Reiner. Namun, Audrey tetap melakukannya karena tangisan Shane yang semakin kencang. Shane langsung menyusu dengan tenang di dalam dekapan mamanya.


Sementara itu, Reiner memperhatikan istrinya yang tampak sangat menyayangi bayi mereka. Reiner menelan ludahnya sendiri, ketika melihat dada Audrey yang semakin berisi karena sedang menyusui. Hasratnya yang selama ini hilang, mendadak muncul kembali setelah ia bertemu dengan Audrey. Reiner teringat semua momen romantisnya bersama Audrey sebelum mereka berpisah.


Audrey, kamu tidak pernah berubah. Kamu selalu cantik dan membuatku kehilangan akal.


batin Reiner menekan hasratnya sendiri.


Reiner menunggu hingga Audrey selesai menyusui Shane. Bayi tampan itu tertidur lelap di dekapan Audrey. Reiner keluar dan memanggil Bi Mila untuk memindahkan Shane ke kamar sebelah.


"Bi, bawa Shane ke kamar sebelah. Tolong temani Shane," ucap Reiner memberikan perintah.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Audrey duduk diam di tepi tempat tidur dan tidak berani memandang wajah Reiner. Setelah Bi Mila keluar, Reiner mengunci pintu kamarnya dan menghampiri Audrey. Ia memaksa Audrey untuk berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Rein, a..apa yang mau...kamu bicarakan?" tanya Audrey terbata-bata.


Audrey berjalan mundur hingga merapat ke dinding, namun Reiner tidak mau melepaskannya.


"Audrey, kenapa kamu selalu bersama dengan Tristan? Aku tau mamaku telah memaksamu untuk meninggalkan aku. Tapi kenapa kamu memilih pergi dengan Tristan? Apa kalian sudah hidup bersama selama aku tidak ada?" bentak Reiner dengan suara tinggi.


"Ti..dak, Rein. Tristan memang menolongku, tapi aku tidak hidup bersamanya. Selama ini aku tinggal di villa milik Om Jonathan dengan Mama dan Opa. Aku juga melahirkan bayi kita didampingi Mama," kata Audrey berusaha menjelaskan.


Reiner mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey.


"Apa benar begitu? Aku melihat foto kalian sekeluarga sedang berada di mobil Tristan. Apa keluargamu sudah mendukungmu untuk menikah dengan Tristan dan menggantikan posisiku?"


"Bukan begitu, Rein. Aku tidak akan menggantikanmu dengan siapapun."


"Cukup, Audrey! Kamu tidak tau aku sangat menderita selama berada di luar negri. Aku merindukanmu setiap hari dan berharap kamu menemaniku untuk menjalani terapi. Aku sampai mengalami depresi dan dirawat oleh psikiater. Tapi kamu malah membiarkan dirimu ditemani oleh pria lain."


"Rein, aku tidak pernah mengkhianatimu. Maafkan aku, karena tidak mendampingimu selama kamu sakit. Aku terpaksa pergi demi kebaikanmu. Aku tidak tau kalau kamu mengalami penderitaan sebesar itu," ucap Audrey menitikkan air matanya.


"Aku tadi datang ke pesta pernikahan mamamu. Aku sengaja menyamar sebagai tamu untuk memastikan kebenarannya. Ternyata Tristan memang selalu ada di dekatmu. Bahkan aku melihat Tristan menggendong Shane dan terlihat akrab dengannya. Menyaksikan semua itu membuat hatiku sangat sakit. Apa kamu dan Tristan tidak ingat kalau kamu masih berstatus sebagai istri sahku?" tanya Reiner penuh amarah.


Audrey terkejut mendengar ucapan Reiner.


"Istrimu? Rein, bukankah kamu sudah menceraikan aku? Kamu yang mengutus pengacara untuk memaksaku menandatangani surat gugatan cerai. Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Sekarang aku bukan istrimu lagi," ucap Audrey sambil menangis.


"Surat gugatan cerai? Aku tidak pernah berniat menceraikanmu apalagi mengutus pengacara. Aku tidak akan melepaskan wanita yang aku cintai begitu saja," jawab Reiner tidak mengerti.


"Rein, aku..."


Audrey tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Reiner tiba-tiba menciumnya dengan penuh hasrat. Ciuman Reiner telah membangkitkan kerinduan Audrey yang dipendamnya selama ini. Bahkan sentuhan tangan Reiner di lehernya, membuat seluruh tubuh Audrey merinding.


Kenapa tubuhku bereaksi seperti ini? Apa aku sudah gila? Aku tidak boleh bercinta dengan Reiner kalau aku bukan istrinya lagi.


pikir Audrey berusaha mengembalikan akal sehatnya.


Reiner melepaskan ciumannya dan tersenyum melihat reaksi yang diberikan Audrey.


"Sayang, ternyata kamu masih menginginkan diriku. Apa kamu masih mencintaiku?" ucap Reiner dengan nafas yang memburu.


Audrey menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak tau apakah harus menjawab iya atau sebaliknya berbohong kepada Reiner.


"Kamu tidak perlu menjawabnya, tapi tunjukkan rasa cintamu padaku sekarang."


Reiner menggendong Audrey dan meletakkannya di atas tempat tidur. Meskipun gairahnya sangat bergelora, tapi Reiner ingat bahwa Audrey sedang menyusui putra mereka. Ia melepaskan semua baju yang dipakai Audrey dengan hati-hati lalu melepaskan bajunya sendiri.


Audrey melihat Reiner dengan tatapan penuh cinta. Ia telah menyerah pada perasaannya saat ini. Ia hanya ingin memberikan diri seutuhnya pada Reiner. Audrey sudah tidak peduli dengan statusnya, apakah ia masih menjadi istri Reiner atau tidak.

__ADS_1


"Sayang, aku sangat merindukanmu," bisik Reiner dengan suara lembut.


Reiner memberikan kecupan di leher Audrey dan meninggalkan tanda kepemilikannya disana. Bersentuhan langsung dengan kulit Audrey yang lama dirindukannya, membuat Reiner semakin tenggelam dalam hasratnya. Ia mencium setiap detail tubuh istrinya hingga mereka akhirnya bersatu kembali.


__ADS_2