Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
42 Audit Divisi Finance (Part 1)


__ADS_3

"Selamat pagi semua. Saya perkenalkan ini Tuan Adam dan Tuan Leon. Mereka adalah auditor yang bertugas hari ini untuk melakukan audit di divisi finance. Saya harap kita semua siap membantu para auditor, agar proses audit hari ini berjalan dengan lancar," ucap Pak Rizal memperkenalkan kedua auditor kepada seluruh staff finance.


"Selamat pagi, saya Adam. Ini rekan saya Leon. Kami berharap kita bisa bekerja sama untuk mendukung proses audit sampai selesai. Terima kasih," kata Tuan Adam mengucapkan salam perkenalan.


Pak Rizal mempersilahkan kedua auditor itu untuk memulai tugas mereka.


"Silahkan, Tuan. Anda akan mulai audit dari bagian mana?"


"Kami akan mulai dari bagian piutang kemudian ke bagian pajak, Tuan Rizal."


"Baik, silahkan Tuan. Ini Nona Audrey, supervisor kami yang akan membantu Anda."


Audrey maju dan menyalami kedua auditor itu.


"Pagi, Tuan Adam, Tuan Leon. Saya Audrey, mari saya antarkan ke bagian piutang."


Audrey melangkah dengan cepat ke meja Tristan diikuti oleh kedua orang auditor.


"Tuan, ini Tristan, staff yang mengurus bagian piutang."


"Selamat pagi, Tuan. Silahkan ada yang bisa saya bantu?" tanya Tristan dengan sopan.


"Kami akan memeriksa laporan saldo piutang tiga bulan terakhir dan saldo piutang per hari ini. Setelah itu kami akan meminta beberapa voucher bukti pelunasan dan bukti transfer dari customer secara random."


"Baik, Tuan, akan segera saya siapkan."


Tristan melangkah melewati Audrey yang berdiri di samping para auditor.


"Ibu, saya akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Ibu bisa mengandalkan saya," ucap Tristan dengan suara lirih.


Audrey hanya tersenyum mendengar ucapan Tristan. Bagi Audrey, proses audit seperti ini bukan untuk yang pertama kalinya. Namun entah mengapa audit tahun ini terasa berbeda untuknya. Ada semacam perasaan gelisah dan tidak nyaman yang dirasakannya. Atau mungkin dia hanya sekedar terpengaruh oleh suasana hati yang buruk akibat peristiwa kemarin.


Audrey merasa lega ketika ia melihat Tristan mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh para auditor. Mereka juga terlihat puas, karena Tristan memberikan laporan dan dokumen pendukung yang mereka minta dengan lengkap. Setelah hampir dua jam mengaudit bagian piutang, para auditor beralih ke bagian lain.


"Nona Audrey, kami rasa cukup untuk bagian piutang. Sekarang kami akan melakukan audit di bagian pajak," ucap Tuan Leon meninggalkan meja Tristan.


"Baik, Tuan, mari saya antarkan ke staff pajak kami. Ini ada Susan dan Renita di bagian pajak masukan dan keluaran," kata Audrey memperkenalkan kedua staffnya.


Susan dan Renita berdiri dan menyambut kedua auditor itu dengan ramah.


"Silahkan, Tuan," ucap Susan mempersilahkan kedua auditor memulai tugasnya.


Audrey menyemangati Susan dan Renita yang tampak gugup.


"Susan, Renita, tenang saja. Kalian pasti berhasil."


"Terima kasih, Mbak," ucap Susan sambil tersenyum.


Audrey kembali ke mejanya untuk mengerjakan beberapa tugas harian. Ia melihat Susan dan Renita bisa menghandle pertanyaan dari auditor dengan baik.


Semua berjalan lancar. Mungkin aku yang terlalu berlebihan memikirkan audit hari ini.


batin Audrey lega.


...****************...


Pada jam istirahat siang, Audrey mengajak anak buahnya untuk makan siang bersama.


"Tasya, Susan, Renita, Tristan, Aldo, Jessy, Karin, ayo kita makan di kantin. Aku yang traktir hari ini," kata Audrey meredakan suasana tegang di tengah proses audit.


"Siap, Mbak. Ayo, teman-teman aku sudah lapar," jawab Tasya penuh semangat.


"Mbak, maaf, Karin mau menyelesaikan perhitungan uang tunai dari customer dulu. Nanti Karin menyusul ke kantin."

__ADS_1


"Karin, kamu lanjut setelah makan siang aja. Toh kamu dapat giliran terakhir untuk audit," ucap Tasya keheranan.


"Aku ingin memastikan uang setoran dan petty cash aman sebelum dilakukan audit," jawab Karin tidak menggubris saran dari Tasya.


"Oke, Karin, kamu selesaikan dulu. Nanti kamu bisa menyusul kami di kantin. Hati-hati menyimpan uangnya," ucap Audrey mengkhawatirkan Karin.


"Iya, Mbak."


Para staff finance saling bercanda di kantin untuk menghilangkan kepenatan mereka.


"Mbak, Susan dengar kalau beberapa hari lagi CEO baru kita akan datang. Gosip yang Susan dengar dia itu masih muda, lulusan luar negri, dan ganteng. Susan jadi penasaran seperti apa orangnya. Apa Mbak Audrey pernah melihat fotonya?"


"Iya, benar, aku juga penasaran," sahut Renita menimpali ucapan Susan.


"Kalian ini..darimana aku lihat fotonya. Aku cuma pernah melihat Tuan Kevin sekali di rapat. Tapi untuk putra kedua Tuan Mario, aku belum pernah bertemu," jawab Audrey menggelengkan kepalanya.


"Iya, kalau Tuan Kevin aku juga pernah lihat. Waktu itu dia lewat di depan ruang finance. Sumpah ganteng banget. Sayangnya Tuan Kevin sudah punya istri," ucap Tasya pura-pura menangis.


"Kalau kakaknya ganteng, adiknya harusnya lebih ganteng karena lebih muda hehe..," sambung Renita dengan mata berbinar.


Tristan menimpali perkataan Renita sambil nyengir.


"Yang pasti CEO itu gak akan seganteng aku."


Para wanita menatap Tristan dengan penuh tanda tanya.


"Tristan, apa kamu pernah bertemu dengan calon CEO kita?" tanya Jessy penuh selidik.


"Belum, hanya feeling saja. Siapa yang bisa menyaingi ketampanan Tristan," jawab Tristan penuh percaya diri.


Tasya dan Susan berseru secara bersamaan.


"Iya sih kamu memang ganteng. Tapi sayangnya kamu bukan CEO."


"Siapa tau suatu hari aku berubah menjadi CEO. Pasti kalian akan kaget."


Audrey berusaha meredakan obrolan staffnya yang mulai tidak tentu arah itu.


"Sudah, jangan bergosip terus. Ayo kita makan. Audit belum selesai."


"Siap, Ibu," jawab Tristan menghabiskan makanannya.


...****************...


Selesai makan siang, para auditor kembali memasuki ruangan finance untuk melakukan audit lanjutan. Jadwal audit selanjutnya adalah di bagian administrasi keuangan, hutang, dan general ledger. Audrey memandu para auditor dengan cekatan untuk menyelesaikan tugasnya.


"Terima kasih Nona Audrey. Sekarang audit terakhir kami di bagian kasir."


"Silahkan, Tuan, mari saya antarkan ke staff kasir kami."


Audrey mengajak Tuan Adam dan Tuan Leon ke meja Karin. Gadis itu telah bersiap dengan laporan dan box uangnya di hadapan para auditor.


"Selamat sore, Tuan. Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Karin dengan sopan.


"Sore, Nona. Kami akan melakukan cash opname petty cash per hari ini. Setelah itu kami akan melakukan cash opname untuk uang hasil penagihan."


"Baik, Tuan, ini laporan kas untuk hari ini. Dan ini laporan hasil penagihan tunai yang saya terima dari kolektor."


"Kami akan periksa dulu, Nona. Oh ya, Nona Audrey apakah Anda yang biasa memeriksa laporan dan uang di kasir setiap akhir hari?" tanya Tuan Adam.


"Iya, Tuan. Saya juga yang menyimpan uang, cek, dan giro di brankas."


"Baik. Kalau begitu Anda ikut menyaksikan cash opname yang kami lakukan."

__ADS_1


Audrey mengamati para auditor yang sedang menghitung uang dengan cepat. Audrey berdoa di dalam hatinya agar semua jumlah uang di kasir sesuai dengan yang tercatat pada laporan. Audrey yakin tidak ada selisih yang terjadi, karena Karin selalu teliti dalam memegang uang.


"Nona, untuk jumlah petty cash lima belas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah. Sudah sesuai dengan laporan. Silahkan simpan kembali uangnya," kata Tuan Adam sembari membubuhkan tanda tangan pada laporan auditnya.


"Sekarang kami akan melakukan cash opname untuk uang hasil penagihan," sambung Tuan Leon.


Para auditor menerima box uang dari Karin dan mulai menghitung lembar demi lembar uang. Namun setelah beberapa menit berlalu, mereka mengerutkan dahi. Audrey yang melihat perubahan ekspresi wajah para auditor, tiba-tiba merasa cemas.


"Ada apa, Tuan?"


"Maaf, Nona. Jumlah uang di box ini tidak sesuai dengan laporan. Ada selisih sembilan juta antara laporan penagihan dengan cash opname."


"Ada selisih sembilan juta?" tanya Audrey terkejut.


"Betul, Nona. Selain itu juga ada selisih satu cek senilai empat puluh lima juta. Di laporan ini tertulis ada enam lembar cek pelunasan. Tapi kami hanya menemukan lima lembar cek. Cek yang hilang bernomor AJ3889 senilai empat puluh lima juta."


Wajah Karin tampak kebingungan mendengarkan pernyataan para auditor.


"Maaf, Tuan, tapi sebelum makan siang, saya sudah menyimpannya dengan jumlah yang sesuai. Ceknya juga ada enam lembar. Kenapa bisa jadi hilang satu?"


Karin beralih menatap Audrey.


"Mbak, tadi Mbak lihat sendiri Karin sudah menghitung ulang uangnya sebelum makan siang."


"Iya, Karin, kamu tenang dulu. Tuan, lalu apa yang harus kami lakukan?" jawab Audrey berusaha mencari solusi.


Pak Rizal yang mendengar keributan itu menghampiri mereka.


"Ada apa, Audrey?"


"Pak, uang hasil penagihan ada selisih kurang sembilan juta. Dan cek juga ada yang hilang satu lembar."


"Apa? Kenapa bisa terjadi hal seperti ini, Karin?" tanya Pak Rizal marah.


"Maaf, Pak, saya rasa ada yang mencurinya," jawab Karin ketakutan.


"Mencuri? Tapi selama ini tidak pernah ada pencurian di ruangan finance apalagi di siang hari. Semua staff kita adalah orang-orang yang jujur dan bisa dipercaya," kata Pak Rizal tidak percaya dengan ucapan Karin.


"Tuan, lebih baik kita lakukan penggeledahan di setiap meja staff. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman dan mencari bukti yang akurat," kata Tuan Adam memberikan saran.


"Baik, Tuan, mari kita lakukan penggeledahan segera."


Kedua auditor dan Pak Rizal bergegas memulai tugasnya. Para staff tampak tegang menghadapi situasi tak terduga itu di mejanya masing-masing. Semua meja dan tas para staff sudah selesai diperiksa, tapi para auditor tidak berhasil menemukan uang maupun cek yang hilang.


"Maaf, Nona Audrey, sekarang kami akan memeriksa meja dan tas Nona," ucap Tuan Leon menghampiri meja Audrey.


"Silahkan, Tuan. Ini tas saya," ucap Audrey menyerahkan tasnya.


Para auditor menerima tas itu dan memeriksa isinya, namun tidak menemukan apa-apa. Kemudian mereka beralih ke laci meja dan cabinet yang berisi dokumen milik Audrey.


Tuan Adam mengernyitkan dahinya saat memeriksa isi cabinet. Ia menemukan sebuah amplop coklat tebal di antara map yang berisi file. Tuan Adam dan Tuan Leon segera membuka dan memeriksa isi amplop itu.


"Tuan Rizal, ini dia uang sembilan juta rupiah dan cek empat puluh lima juta yang hilang. Kami menemukannya di dalam cabinet milik Nona Audrey."


"A...apa? Ti..tidak mungkin," jawab Audrey terkejut.


"Tuan, bagaimana mungkin uang dan cek itu bisa ada di cabinet Audrey?" tanya Pak Rizal keheranan.


"Maaf, Tuan, kami juga tidak tahu. Tapi ini bisa dijadikan barang bukti atas tuduhan pencurian."


Wajah Audrey pucat pasi. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.


Pencurian? Kenapa uang itu bisa ada di cabinetku? Ya Tuhan, apa aku sudah dituduh sebagai pencuri di kantorku sendiri?

__ADS_1


pikir Audrey putus asa.


__ADS_2