
Ny. Valeria mendengar pembicaraan Reiner dan Nicko di telpon.
Jadi Audrey sudah kembali. Mungkin dia pulang ke rumahnya atau tinggal bersama Jonathan. Aku harus mencegah Rein kembali pada Audrey. Sebaiknya aku bertindak sekarang sebelum Reiner pulang.
pikir Ny. Valeria.
Ny. Valeria mengambil ponsel dan menelpon Tuan Abram, pengacara kepercayaannya.
"Tuan Abram, apa Anda sudah menyiapkan surat perceraian anak saya dengan istrinya?"
"Sudah, Nyonya. Berkasnya sudah siap, tinggal ditandatangani oleh Tuan Reiner dan Ny. Audrey."
"Bagus. Reiner tidak akan mau menandatangani surat itu. Tapi kita akan memaksa Audrey. Besok tolong cari Audrey, saya akan berikan alamatnya. Serahkan surat itu dan katakan kepada Audrey persis seperti yang sudah kita rancang sebelumnya."
"Baik, Nyonya."
"Terima kasih, Tuan Abram. Saya akan segera mentransfer uangnya setelah Anda menyelesaikan tugas Anda. Ingat jangan sampai Reiner tau masalah ini."
"Iya, Nyonya saya mengerti."
Rein maafkan Mama. Kamu lebih baik bercerai dari Audrey. Mama akan menjodohkanmu dengan Bianca. Mama tidak mau punya menantu yang pernah ada hubungan dengan Diana dan anaknya.
Jika rencanaku ini berhasil, Audrey akan mengira Reiner menceraikannya. Dia tidak akan pernah kembali lagi ke kehidupan putraku.
...****************...
Audrey sedang membawa Shane berjalan-jalan di sekitar taman rumah Tuan Jonathan untuk berjemur. Ia melihat Bi Imas, pelayan Tuan Jonathan sedang berbicara dengan seorang laki-laki berjas hitam.
"Siapa pria itu? Apa dia teman Om Jonathan?" pikir Audrey penasaran.
Bi Imas datang terburu-buru menemui Audrey.
"Nona, pria itu mencari Anda. Namanya Abram Darusman. Katanya dia pengacara keluarga Bratawijaya."
Pengacara? Untuk apa dia mencariku? Dari mana dia tau aku ada disini?
gumam Audrey bertanya-tanya.
"Baik, Bi, saya akan menemuinya."
Audrey mengambil Shane dari keretanya dan menemui Tuan Abram.
"Apa Anda Nyonya Audrey Bratawijaya?" tanya Tuan Abram memperhatikan Audrey.
"Iya, Tuan. Ada keperluan apa mencari saya?"
"Perkenalkan saya Abram Darusman, pengacara keluarga Bratawijaya. Saya diutus Tuan Reiner untuk menemui Anda. Boleh saya masuk ke dalam, Nyonya?"
"Tentu, Tuan, mari masuk."
Audrey mempersilahkan Tuan Abram duduk di ruang tamu.
"Maaf, Nyonya saya datang kemari ingin menyerahkan surat ini kepada Anda. Mohon Anda baca dulu baik-baik," ucap Tuan Abram menyerahkan sebuah map kepada Audrey.
Audrey meletakkan Shane di ayunannya dan membuka isi map itu.
Tangan Audrey bergetar hebat ketika melihat isi map itu.
__ADS_1
Surat Gugatan Cerai
Reiner Bratawijaya
"Tuan, apa maksudnya ini?" tanya Audrey tidak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Nyonya, Tuan Reiner mengajukan gugatan cerai kepada Anda. Jika Anda setuju untuk menandatanganinya sekarang, maka Tuan Reiner akan menyerahkan hak asuh putranya kepada Anda."
"I...ini mustahil. A..apa Reiner sudah sembuh sekarang?"
"Tuan Reiner sudah sembuh, Nyonya. Hanya saja Tuan Reiner belum kembali, karena ingin proses perceraiannya dengan Anda dilakukan secepatnya."
Tak terasa air mata Audrey mengalir. Tubuhnya seolah-olah kehilangan seluruh tenaga. Ia tidak mengira Reiner akan tega menceraikannya saat putra mereka sudah lahir. Bahkan Reiner tidak bersedia pulang untuk bertemu dengan istri dan anaknya.
Perasaan Audrey hancur saat membaca kembali surat itu.
"Tuan, tapi belum ada tanda tangan suami saya di surat ini."
"Nyonya, Tuan Reiner meminta Anda menandatanganinya lebih dulu. Setelah Anda setuju maka Tuan Reiner akan segera memproses perceraiannya."
"Maaf, Tuan Abram saya tidak bisa menandatangani surat ini. Saya harus bertemu dengan suami saya dulu," kata Audrey berusaha mempertahankan pernikahannya.
Tuan Abram memicingkan matanya.
"Nyonya, sebaiknya Anda jangan mempersulit masalah ini. Tuan Reiner mengutus saya datang kemari karena Beliau tidak ingin bertemu Anda. Jika Anda mau tetap bersama dengan putra Anda, maka saya sarankan Anda segera menandatanganinya. Kalau Anda menolak, Tuan Reiner tidak akan segan untuk mengajukan surat gugatan cerai yang baru. Dan tentu saja Tuan Reiner akan mengajukan hak asuh atas putranya. Anda tau keluarga Bratawijaya sangat berkuasa dan mampu melakukan apa saja."
Audrey memandang Shane yang sedang tertidur pulas di ayunannya. Shane adalah satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup saat ini. Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Shane. Meskipun hatinya terasa sangat sakit, Audrey membulatkan tekadnya untuk mempertahankan Shane agar tetap berada di sisinya.
"Baik, Tuan, saya akan menandatanganinya," ucap Audrey dengan tangan gemetar.
Ny. Valeria pasti akan senang karena rencananya berhasil.
...****************...
Hari ini adalah hari pernikahan Ny. Olin dan Tuan Jonathan. Di tengah semua kenyataan pahit yang harus dihadapinya, pernikahan mamanya telah memberikan secercah harapan bagi Audrey. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap tegar demi Shane, putranya.
Audrey terkagum-kagum melihat perubahan penampilan mamanya yang sudah selesai dirias. Selama ini mamanya jarang sekali berdandan. Ternyata hanya dengan riasan dan gaun putih yang sederhana, mamanya sudah terlihat cantik.
"Shane, lihat Oma cantik sekali," kata Audrey sembari menggendong Shane.
"Audrey, jangan berlebihan begitu. Mama sudah tua," jawab Ny. Olin malu-malu.
"Lihat, Ma, Shane sampai tersenyum menatap Mama," kata Audrey menunjukkan wajah Shane yang ceria. Di usianya yang sudah hampir tiga bulan, Shane bisa memberikan respon ketika diajak bicara atau berinteraksi dengan Audrey.
Audrey menyerahkan Shane untuk digendong oleh Sinta, salah seorang pelayan Tuan Jonathan.
"Ayo, Ma. Om Jonathan sudah menunggu di depan," kata Audrey menggandeng tangan mamanya.
Acara pernikahan Ny. Olin dan Tuan Jonathan memang diadakan secara sederhana. Mereka hanya mengundang teman-teman terdekat untuk menghadiri acara itu. Namun bagi Audrey, kebahagiaan yang terpancar di wajah mamanya dan Tuan Jonathan adalah yang terpenting.
Audrey membantu mamanya duduk di samping Tuan Jonathan. Pendeta yang sudah menunggu mereka segera memulai upacara pemberkatan pernikahan.
Audrey kembali ke kursinya dan melihat Sinta tidak menggendong Shane. Namun, Shane justru sedang digendong oleh Tristan.
"Sinta, kenapa menyerahkan Shane kepada Tristan?" tanya Audrey memarahi pelayan itu.
"Audrey, jangan memarahinya. Aku yang memaksa untuk menggendong Shane. Lihat dia tertawa senang melihatku," kata Tristan memegang tangan mungil Shane.
__ADS_1
"Tristan, berikan saja Shane padaku."
"Audrey, kamu harus mendampingi mamamu sekarang. Fokus saja ke acara pernikahan sampai selesai. Aku akan menjaga Shane. Dia tidak akan rewel," kata Tristan meyakinkan Audrey.
"Nanti kalau mama membutuhkanku aku baru akan menitipkan Shane padamu," kata Audrey seraya mengambil Shane dari tangan Tristan.
"Lihat Shane mamamu sangat galak, dia cemburu dengan Om," kata Tristan mengejek Audrey.
Audrey tidak mengindahkan kata-kata Tristan dan berjalan menuju ke kursi paling depan. Di antara barisan tamu yang hadir, entah mengapa Audrey seperti merasakan ada kehadiran seseorang yang sedang memperhatikannya.
Menjelang berakhirnya acara, Audrey terpaksa menitipkan Shane kepada Bi Imas karena anaknya itu mulai rewel.
"Bi, tolong bawa Shane keluar ke depan sebentar. Nanti aku menyusul."
"Iya, Nona."
Audrey kembali ke acara untuk berfoto bersama dan menyalami para tamu. Namun perasaannya menjadi tidak tenang.
"Ma, Pa, Audrey tidak usah ikut foto lagi ya. Audrey khawatir dengan Shane."
"Iya, Audrey, kamu dan Shane pulang saja duluan bersama supir. Kami baik-baik saja disini," kata Tuan Jonathan menenangkan Audrey.
"Makasih, Pa. Audrey pamit dulu."
Audrey berjalan ke depan untuk mencari Bi Imas dan Shane, tapi ia tidak menemukan mereka berdua. Audrey mencoba berkeliling ke sekitar gedung, tapi hasilnya nihil. Ia tetap tidak menemukan keberadaan Bi Imas dan putra kecilnya.
"Bi Imas," panggil Audrey berteriak kebingungan.
"Audrey ada apa?" tanya Tristan menyusul Audrey.
"Tristan, Bi Imas dan Shane menghilang. Apa yang harus aku lakukan," kata Audrey putus asa.
"Audrey, tenang. Aku akan mencari Shane. Tunggu disini," kata Tristan berjalan cepat meninggalkan Audrey.
Ya Tuhan dimana Shane? Apa ada orang yang menculiknya?
pikir Audrey cemas.
Suara ponselnya yang berdering dengan tiba-tiba, membuat Audrey terkejut.
"Halo, siapa ini?" tanya Audrey melihat nomer ponsel yang tidak dikenalnya.
"Audrey, aku tau kamu sengaja mengganti nomer ponselmu. Tapi aku berhasil menemukanmu," jawab suara itu.
Suara itu membuat tenggorokan Audrey tercekat. Sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya.
Rein? Apa benar ini kamu?
"Audrey, kenapa kamu diam saja? Apa kamu takut mendengar suaraku? Putra kita ada di tanganku. Kalau kamu mau bertemu dengannya, temui aku sekarang di apartemen Amarilla."
"Tu..nggu Rein, kenapa kamu membawa Shane diam-diam?"
"Sayang, tidak perlu banyak bertanya. Kamu harus datang sendirian kesini dan jangan memberitahu siapapun. Aku memberimu waktu satu jam. Jika kamu tidak datang, aku akan membawa Shane pergi."
"Rein... tolong jangan. Baik, aku akan segera datang untuk menemuimu," ucap Audrey hampir menangis.
Rein kenapa kamu datang lagi dengan cara seperti ini? Apa yang kamu inginkan dariku? Bukankah kamu ingin bercerai denganku.
__ADS_1