Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
Side Story 1


__ADS_3

Audrey terbangun dari tidurnya, karena merasakan sebuah ciuman hangat mendarat di pipinya.


"Sayang, ini jam berapa?" tanya Audrey mengerjapkan matanya. Audrey masih enggan untuk bangun dari tempat tidur karena matanya masih ingin terpejam.


"Jam tujuh pagi, Sayang."


"Apa? Aku bangun kesiangan? Shane bisa terlambat masuk sekolah. Kamu juga, Sayang, kenapa belum bersiap-siap berangkat ke kantor?" tanya Audrey panik.


Reiner mengelus pipi istrinya dengan lembut.


"Sayang, tenanglah, ini hari Sabtu. Tidak ada yang sekolah atau bekerja. Aku membangunkanmu untuk sarapan. Kita ada janji dengan dokter obgyn jam sepuluh pagi."


"Aduh, kenapa aku jadi pelupa?" gumam Audrey hendak turun dari tempat tidur.


Reiner mencegah Audrey, dan meletakkan meja lipat yang di atasnya terletak berbagai macam makanan.


"Sayang, kamu tidak boleh kemana-kemana. Lihat aku sudah membawakan sarapan pagi untukmu. Ada nasi goreng, sandwich, pancake, muffin. Kamu mau pilih yang mana?"


"Rein, kenapa membawakan makanan sebanyak ini? Aku tidak akan sanggup memakan semuanya."


"Sayang, apa kamu mual? Aku membawakan banyak makanan supaya kamu bisa pilih yang kamu suka. Atau kamu ingin makanan yang lain?"


Audrey menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku sama sekali tidak mual, Sayang. Aku akan makan sandwich seperti biasa."


Reiner mengambilkan sandwich dari piring dan memberikannya pada Audrey. Namun, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada segelas jus jeruk yang ada di atas nampan.


"Sayang, boleh aku minum jus ini? Tiba-tiba aku ingin minum sesuatu yang asam."


"Boleh, Sayang, minumlah."


"Kalau pancake ini apa boleh aku makan, Sayang?"


Audrey tertawa melihat Reiner yang terlihat sangat menginginkan menu sarapannya. Tidak biasanya suaminya itu memilik selera makan yang berlebihan apalagi di pagi hari.


"Sayang, apa kamu belum sarapan? Kamu kelihatan lapar sekali."


"Sudah, tadi aku bangun pagi lalu makan nasi goreng. Tapi tiba-tiba aku ingin makan pancake ini."


"Rein, sepertinya kamu yang lebih cocok jadi ibu hamil daripada aku. Tapi itu bagus, setidaknya kamu yang akan bertambah gemuk, bukan aku," ucap Audrey menahan tawanya.


"Aku tidak tau kenapa tiba-tiba aku ingin sekali makan semua ini. Oh, ya, Mama dan Papaku sebentar lagi akan menjemput Shane untuk menginap di rumah mereka. Jadi seharian ini kita akan punya waktu berduaan, Sayang," kata Reiner bersemangat.


Audrey buru-buru turun dari tempat tidurnya.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi, Rein? Aku harus mandi sekarang. Aku tidak mau penampilanku berantakan seperti ini di hadapan Mama Valeria dan Papa Alex."


Reiner tersenyum melihat perubahan sikap Audrey akhir-akhir ini. Setelah hamil muda, Audrey mulai suka berdandan dan sangat memperhatikan penampilannya. Bahkan ia lebih sering menatap dirinya sendiri di cermin.


"Mama, Papa...," seru Shane menghambur masuk ke kamar orang tuanya.


"Ada apa, Sayang?" peluk Audrey sambil mencium pipi chubby putra kecilnya.


"Ma, apa Shane harus menginap di rumah Oma hari ini? Shane ingin ke Kidz Zone bersama Mama dan Papa," ujar Shane merajuk.


"Shane, minggu depan Papa akan ajak kamu main ke Kidz Zone sepuasnya. Sekarang Oma dan Opa kangen ingin bermain bersama Shane. Jadi Shane temani Oma dan Opa dulu," jawab Reiner membujuk putranya.


Shane menggembungkan kedua pipinya sebelum menanggapi perkataan Reiner.


"Okey, Shane akan menemani Opa dan Oma. Tapi cukup satu hari saja. Besok Papa harus menjemput Shane," ucap Shane memperingatkan papanya.


"Iya, Papa janji."


"Shane..." terdengar suara Ny. Valeria memanggil cucunya dari ruang tamu.


"Shane, itu Oma dan Opa datang. Ayo kita keluar," ajak Audrey menggandeng tangan putranya.

__ADS_1


Begitu melihat Shane, Ny. Valeria langsung menghampiri bocah tampan itu dan memeluknya.


"Cucu Oma Sayang, Oma kangen sekali. Oma dan Opa akan mengajak Shane jalan-jalan. Apa baju-baju Shane sudah siap dibawa?"


"Sudah, Oma, itu koper Shane," tunjuk Shane ke koper kecil berwarna biru yang dibawa Bi Mila.


"Wah, kalau begitu kita sudah siap berangkat," sambung Tuan Alexander tersenyum melihat kelincahan cucunya.


"Audrey, Mama senang akan punya cucu lagi. Mama harap kali ini cucu Mama perempuan. Sejak dulu Mama ingin punya anak perempuan supaya bisa mendandaninya secantik mungkin."


"Iya, Ma. Terima kasih Mama mau menjaga Shane hari ini. Kalau Shane nakal atau merepotkan Mama dan Papa, Mama telpon saja. Nanti Rein dan Audrey akan segera menjemput Shane pulang."


"Tidak usah, Audrey. Sifat Shane mirip dengan Reiner waktu kecil, Mama pasti bisa menanganinya. Kamu istirahat saja bersama Reiner. Jaga kandunganmu baik-baik."


Ny. Valeria mengalihkan pandangannya kepada Reiner.


"Rein, gunakan kesempatan yang Mama berikan. Wanita yang sedang hamil muda biasanya ingin dimanja suaminya."


"Iya, Ma," jawab Reiner tersenyum senang.


"Shane sudah siap berangkat sekarang?" tanya Tuan Alexander menggandeng tangan Shane.


"Sudah, Opa. Nanti belikan Shane ice cream juga ya."


Audrey mengecup kening Shane sebelum putranya itu pergi.


"Shane, jangan nakal. Shane harus patuh pada Oma dan Opa. Be a good boy."


"I promise, Ma," jawab Shane membulatkan mata besarnya.


Reiner mengusap kepala Shane dan menggendong putra kesayangannya sampai masuk ke dalam mobil.


"Bye bye Shane," ucap Audrey melambaikan tangannya.


"Bye, Ma."


Audrey menyisir rambutnya beberapa kali dan memandangi dirinya di cermin meja rias. Ia kelihatan cantik memakai dress berwarna biru langit dan memadukan penampilannya dengan anting berwarna senada. Sementara Reiner duduk menunggu di tempat tidur sambil memperhatikan gerak-gerik istrinya.


Reiner bangkit berdiri lalu memeluk Audrey dari belakang.


"Sayang, apa kamu harus berdandan secantik ini hanya untuk periksa ke dokter kandungan? Untung saja aku memilih dokter wanita untukmu. Kalau dokternya seorang pria, aku pasti akan cemburu," bisik Reiner meletakkan dagunya di bahu Audrey.


"Apa kamu tidak suka kalau aku terlihat cantik? Pasti kamu tidak sabar menungguku," ucap Audrey menunjukkan wajah cemberut.


"Tidak, Sayang. Aku selalu sabar menunggumu bahkan sampai seumur hidupku."


Audrey menoleh ke belakang dan menatap mata suaminya.


"Apa benar begitu? Aku harus memperhatikan penampilanku supaya kamu tidak berpaling menatap wanita lain, Sayang. Jadi mulai sekarang aku akan selalu tampil secantik mungkin untukmu."


Reiner menautkan bibirnya ke bibir Audrey dan menyatukan bibir mereka dengan lembut. Bibir Audrey selalu terasa manis, bahkan menjadi candu tersendiri bagi Reiner.


"Rein, kita harus berangkat sekarang sebelum terlambat. Dokter Liana pasti sudah menunggu," kata Audrey melepaskan ciuman Reiner yang semakin dalam.


"Iya, tapi nanti aku akan mengulanginya di malam hari. Dan dengan tambahan aktivitas lainnya," goda Reiner.


Audrey menggelengkan kepalanya.


"Sayang, aku sedang hamil trimester pertama. Kita harus bertanya pada dokter dulu apakah aman melakukan aktivitas yang kamu inginkan itu?"


"Iya, Sayang. Aku akan memastikannya kepada dokter nanti."


"Kalau begitu ayo berangkat sekarang," ajak Audrey menggandeng tangan Reiner.


Di dalam mobil, ekspresi wajah Reiner tampak gelisah ketika menyalakan mesin mobilnya. Ia memijit dahinya sendiri dengan jari-jarinya.


"Rein, kamu kenapa?" tanya Audrey cemas.

__ADS_1


"Aku lupa kemarin tidak mengganti pengharum mobil ini."


"Kamu baru saja menggantinya empat hari yang lalu, Sayang. Bau lavendernya juga masih sangat tajam."


"Justru karena baunya yang menyengat ini aku tidak tahan. Kepalaku jadi pusing dan perutku mual. Sayang, tunggu sebentar, aku mau mengambil pengharum beraroma strawberry yang aku beli kemarin."


Reiner bergegas turun dari mobilnya dan menuju ke dalam rumah.


Kenapa Reiner jadi aneh begitu? Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan aroma pengharum mobil. Tapi sekarang penciumannya sangat sensitif. Apa dia mengalami gejala kehamilan simpatik?


pikir Audrey tersenyum sendiri.


Wajah Reiner berubah ceria setelah selesai mengganti pengharum mobilnya.


"Nah, aku merasa segar sekarang. Sayang, aku juga akan mengganti pengharum ruangan di semua bagian kantorku dengan aroma strawberry."


"Jangan-jangan kamu juga akan mengganti parfum dan sabun mandimu dengan aroma strawberry," sambung Audrey meledek Reiner.


"Mungkin..." jawab Reiner menaikkan alisnya.


"Tidak mau. Aku lebih suka parfum yang aku pilihkan untukmu. Kalau kamu sampai menggantinya, aku akan marah padamu, Rein," kata Audrey memberikan peringatan.


"Iya, Sayang, tenanglah. Aku tidak berani melawan perintah ibu hamil."


Reiner dan Audrey tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang tunggu khusus pasien VIP.


"Tuan Reiner, di dalam sedang ada pasien. Setelah ini giliran Nyonya Audrey," kata perawat memberikan informasi kepada Reiner.


"Baik, Suster."


Reiner hendak meninggalkan meja perawat itu. Namun sebuah suara yang terdengar tidak asing di telinganya, memanggil Reiner dari belakang.


"Tuan Reiner?"


Reiner menoleh ke arah suara itu dan terkejut melihat Tristan berdiri tepat di belakangnya.


"Tuan Tristan. Kenapa Anda ada disini?"


Tristan tertawa mendengar pertanyaan Reiner.


"Tentu saja saya disini untuk memeriksakan kandungan istri saya. Dokter Liana adalah dokter spesialis obgyn, Tuan Reiner."


"Oh, selamat kalau begitu, Anda akan menjadi seorang ayah."


Kenapa aku harus bertemu dengan Tristan disini? Apa tidak ada dokter lain yang bisa memeriksa istrinya?


pikir Reiner tidak suka.


Meskipun Tristan sudah menikah setahun yang lalu, namun Reiner tetap saja merasa tidak aman setiap kali bertemu Tristan. Reiner selalu tidak menyukai cara Tristan memandang Audrey. Bahkan ketika mereka berdua datang sebagai tamu undangan di acara pernikahan Tristan dan Diandra.


Reiner mendengar informasi dari Nicko bahwa pernikahan Tristan terjadi karena perjodohan orang tuanya. Insting Reiner mengatakan, bukan mustahil jika di dalam hatinya Tristan masih menyimpan perasaan cinta untuk Audrey.


"Apa Audrey juga sedang hamil?" tanya Tristan mencari tau.


"Iya, kami akan punya anak kedua. Maaf, saya tinggal dulu Tuan Tristan. Saya harus menemani Audrey. Sebantar lagi giliran kami yang dipanggil," pamit Reiner tidak ingin membuang waktunya untuk berbicara dengan Tristan.


"Silahkan, Tuan Reiner."


Semoga dokter cepat memanggil Audrey agar tidak bertemu dengan Tristan.


guman Reiner buru-buru menghampiri Audrey yang duduk di sofa ruang tunggu.


Halo readers setiaku, author rindu menyapa kalian semua dengan extra part ini. Semoga bisa menjadi hiburan di akhir pekan.


Jangan lupa baca dan dukung Novel baru Author "Terjebak Cinta Dua Kekasih"


Thank u

__ADS_1



__ADS_2