Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
59 Keputusan Terberat


__ADS_3

Mobil yang melaju dengan tiba-tiba itu membuat Audrey terkejut. Ia terpaku di tempatnya dan tidak tau harus berbuat apa. Audrey hanya mendengar suara teriakan Reiner yang berlari ke arahnya.


Rein?


pikir Audrey melihat suaminya.


Detik selanjutnya, Audrey tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dengan gerakan cepat, Reiner mendorong Audrey agar terhindar dari mobil itu. Reiner membiarkan dirinya sendiri yang tertabrak dan menjadi korban.


"Rein!!!" jerit Audrey melihat suaminya terjatuh.


Mobil hitam yang menabrak Reiner langsung kabur dengan kecepatan tinggi dari lokasi kejadian. Pak Beni dan beberapa orang yang menyaksikan peristiwa tabrak lari itu, segera berlari untuk menolong Reiner.


Dalam keadaan panik, Audrey menangis melihat Reiner yang mengeluarkan banyak darah.


"Pak, tolong Reiner," ucap Audrey memeluk Reiner yang sudah tidak sadarkan diri.


"Nyonya, mari kita bawa Tuan ke rumah sakit."


Pak Beni dengan dibantu beberapa orang warga membawa Reiner masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Audrey tidak henti-hentinya mendoakan Reiner.


Rein bertahanlah. Aku dan anak kita membutuhkanmu.


batin Audrey cemas memandang Reiner yang masih tidak sadarkan diri.


"Pak, nanti tolong kabari Nicko dan orang tua Reiner," kata Audrey meminta tolong kepada Pak Beni.


"Baik, Nyonya. Saya akan segera mengabari Tuan Nicko," jawab Pak Beni menenangkan Audrey.


Setibanya di rumah sakit, Reiner langsung dilarikan ke bagian gawat darurat.


"Nyonya, silahkan menunggu di luar. Kami akan memberikan pertolongan pertama," ucap perawat.


Audrey hanya bisa pasrah menunggu para perawat dan dokter memeriksa Reiner. Kecemasan yang menyelimuti pikiran Audrey, membuatnya terus menangis. Menunggu seorang diri dalam ketidapastian, telah membuat Audrey putus asa. Ia masih tidak percaya bahwa Reiner rela mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Seandainya bisa, Audrey ingin sekali menggantikan posisi Reiner saat ini.


Seorang perawat dari ruangan itu, keluar dengan tergesa-gesa untuk menemui Audrey.


"Maaf, Nyonya, apakah Anda istri pasien?" tanya perawat.


"Iya, bagaimana keadaan suami saya, Suster?"


"Nyonya, Dokter Adrian ingin bertemu dengan Anda. Silahkan masuk ke dalam," ucap perawat itu mempersilahkan Audrey untuk masuk.


Audrey masuk ke dalam dan menemui dokter yang sedang menangani Reiner.


"Nyonya, suami Anda masih mengalami pendarahan. Jika terus seperti ini, kondisi pasien akan kritis. Dan dari hasil pemeriksaan sementara, kakinya mengalami patah tulang yang cukup serius. Kami harus segera melakukan operasi malam ini."


"Iya, Dokter, tolong lakukan operasi supaya suami saya selamat."


"Kalau begitu Nyonya bisa ke bagian administrasi untuk mengurus prosedur persetujuan operasi."


"Terima kasih, Dokter."


Seorang perawat mengantarkan Audrey ke bagian administrasi. Di lobby rumah sakit, Audrey bertemu dengan Nicko yang datang bersama aparat kepolisian.


"Nona, bagaimana kondisi Tuan Reiner?"


"Nicko, Reiner harus segera dioperasi. Aku akan mengurus administrasi untuk persetujuan operasinya."


"Nona, biar saya yang mengurus semuanya. Polisi ingin bicara dengan Anda dan Pak Beni sebagai saksi kejadian tabrak lari itu."


"Iya, Nicko, terima kasih."


Aparat kepolisian pun meminta keterangan dari Audrey dan Pak Beni. Dari keterangan yang didapat, pihak kepolisian menduga adanya unsur kesengajaan dari peristiwa tersebut.


"Pak, ini nomer plat mobil yang menabrak Tuan Reiner. Saya sempat mencatatnya tadi," kata Pak Beni menyerahkan sebuah kertas kepada polisi.

__ADS_1


"Baik, Pak, terima kasih atas bantuannya. Apakah Bapak bersedia ikut dengan kami untuk memberikan keterangan lebih lanjut? Karena kami menduga adanya upaya pembunuhan berencana."


"Iya, Pak, saya akan ikut ke kantor polisi."


Pak Beni berpamitan kepada Audrey.


"Nyonya, Anda disini saja mendampingi Tuan. Saya yang akan ke kantor polisi sebagai saksi."


"Terima kasih, Pak Beni. Hati-hati," ucap Audrey cemas.


...****************...


Tristan baru saja menyelesaikan meetingnya bersama dengan para investor. Ia ingin cepat-cepat pulang ke kantor dan membereskan pekerjaan yang masih tertunda. Namun, ia merasa kesal karena mobilnya tidak bisa bergerak sama sekali. Entah kenapa jalanan begitu macet dan ada banyak polisi yang berjaga.


"Ryan, ada apa di depan? Kenapa macet sekali?" tanya Tristan kepada asistennya yang mengemudikan mobil.


"Ada kerumunan orang dan polisi di depan, Tuan. Sepertinya baru saja ada kecelakaan. Tunggu sebentar saya akan bertanya kepada salah satu warga," ucap Ryan turun dari mobil.


"Pak, apa ada kecelakaan?" tanya Ryan kepada penjaga warung yang berjualan di area itu.


"Iya, Tuan, tadi ada tabrak lari. Korbannya terluka cukup parah, makanya polisi datang kesini. Itu banyak juga wartawan yang datang untuk meliput. Kata orang-orang sini yang ditabrak itu pengusaha terkenal. Siapa itu namanya saya lupa...," ucap pemilik warung.


"Kalau gak salah namanya pakai Brata...Bratawijaya," sambung istri pemilik warung itu.


"Apa Reiner Bratawijaya, Bu?" tanya Ryan terkejut.


"Nah, iya Tuan. Bener itu namanya, saya dengar dari obrolan para wartawan. Tadi ada juga wanita yang bersamanya, sepertinya istrinya karena nangis-nangis. Dan satu lagi ada bapak-bapak, mungkin supirnya."


"Lalu korban dibawa kemana, Bu?" tanya Ryan penasaran.


"Saya gak tau, Tuan. Tapi pasti ke rumah sakit di dekat sini."


Aku harus memberitahukan hal ini kepada Tuan Tristan.


gumam Ryan.


"Iya, Tuan tadi ada peristiwa tabrak lari. Dan yang mengalami kecelakaan itu adalah Reiner Bratawijaya, Tuan."


Tristan terkejut mendengar perkataan Ryan.


"Reiner? Kenapa dia sampai mengalami tabrak lari?"


"Saya juga tidak tau, Tuan. Kata pemilik warung, saat kejadian tadi ada istrinya juga. Pasti itu Nona Audrey."


Audrey? Apa Reiner menjemputnya ke kantor sebelum terjadi kecelakaan?


"Ryan apa kamu tau ke rumah sakit mana Reiner dibawa?"


"Saya tidak tau, Tuan. Menurut saya kemungkinan ke Rumah Sakit Victory karena lokasinya paling dekat dari sini."


Bayangan Audrey mendadak muncul di pikiran Tristan.


Audrey pasti sedih memikirkan Reiner. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya.


pikir Tristan cemas.


"Ryan, kita kembali ke kantor dulu. Nanti kalau pekerjaan kita sudah selesai, kita coba ke Rumah Sakit Victory untuk menjenguk Reiner."


"Baik, Tuan."


Tuan saya tau Anda pasti mencemaskan Nona Audrey.


pikir Ryan memahami isi hati Tristan.


...****************...


Audrey melihat kedua mertuanya datang dengan wajah penuh kecemasan.

__ADS_1


"Audrey, bagaimana keadaan Rein?" tanya Ny. Valeria sambil terisak.


"Dokter sedang mempersiapkan operasi Reiner, Ma. Kata dokter Reiner harus segera dioperasi karena pendarahannya belum berhenti juga. Kaki Reiner juga mengalami patah tulang."


"Audrey, kenapa Reiner bisa sampai tertabrak mobil? Apa kamu ingat nomer plat mobil yang menabrak Reiner?" tanya Tuan Alexander.


"Pak Beni tadi sudah memberikan nomer platnya ke polisi, Pa. Kejadiannya sangat tiba-tiba. Sepulang kantor, Audrey mampir ke toko kue. Saat Audrey keluar, ada mobil hitam yang melaju kencang ke arah Audrey. Mobil itu hampir menabrak Audrey, tapi Reiner mendorong Audrey dan dia...yang tertabrak," jawab Audrey meneteskan air mata.


"Jadi Rein tertabrak karena menyelamatkanmu?" tanya Ny. Valeria terkejut.


"Iya, Ma."


"Apa kamu punya musuh, Audrey? Ada kemungkinan mobil itu memang sengaja ingin menabrakmu," tanya Tuan Alexander.


"Audrey tidak tau, Pa," jawab Audrey ragu-ragu.


"Mama akan bertanya pada Nicko. Mungkin dia mengetahui sesuatu," ucap Ny. Valeria meninggalkan Audrey.


Ny. Valeria dan Tuan Alexander menghampiri Nicko. Mereka tampak menanyakan beberapa hal secara mendetail kepada asisten putranya itu. Pembicaraan mereka berlangsung cukup lama. Obrolan mereka baru terhenti ketika para perawat membawa Reiner ke ruang operasi.


"Nyonya, Tuan, operasi akan segera dimulai. Operasi akan berlangsung sekitar dua sampai tiga jam. Silahkan menunggu disini," ucap dokter yang menangani operasi.


Mereka semua duduk dalam diam di depan ruang operasi. Ny. Valeria yang masih menangisi keadaan Reiner, tiba-tiba berdiri menghampiri Audrey.


"Audrey, Mama ingin bicara denganmu."


Ny. Valeria mengajak Audrey ke kafe yang ada di samping lobby rumah sakit.


"Audrey, Nicko tadi mengatakan kepada Mama kalau dia mencurigai Diana yang ada di balik kasus tabrak lari ini. Mama baru tau kalau kamu pernah punya hubungan dengan Dave. Apa benar kamu dulu pernah menjadi pacar Dave?" tanya Ny. Valeria menatap mata Audrey.


"Iya, Ma," jawab Audrey menundukkan kepalanya.


Ny. Valeria menghela nafas panjang.


"Audrey, Mama tidak menyangka kamu punya keterkaitan dengan Diana dan Dave. Mama kenal betul siapa Diana. Dia tidak akan menyerah sebelum keinginannya tercapai. Sekali dia membencimu, dia akan terus berusaha menyakitimu."


Mata Ny. Valeria mulai berkaca-kaca. Ia melanjutkan kata-katanya.


"Mama sama sekali tidak ingin berurusan lagi dengan Diana. Mama takut dia akan menyebabkan masalah, apalagi kalau sampai mencelakakan Reiner. Kamu tau Reiner itu anak Mama satu-satunya. Mama tidak akan sanggup kalau sampai kehilangan Reiner."


Audrey memegang tangan ibu mertuanya. Ia sangat memahami isi hati Ny. Valeria yang sedang mengkhawatirkan putra tunggalnya.


"Audrey paham, Ma. Maafkan Audrey karena tidak menceritakan masa lalu Audrey kepada Mama sebelumnya."


Ny. Valeria menatap mata Audrey dalam-dalam.


"Audrey, bolehkah Mama minta sesuatu darimu? Mama sebenarnya sangat berat meminta hal ini. Tapi Mama mohon kamu mau mengabulkan permohonan Mama."


"Apa itu, Ma?" tanya Audrey terkejut.


"Selama kamu masih bersama Reiner, nyawa Reiner bisa terancam, karena dia pasti akan melindungimu dari Diana. Karena itu Mama mohon...tolong tinggalkan Reiner. Mama sadar permintaan Mama ini sangat egois. Tapi, Mama tidak bisa kehilangan putra Mama. Reiner adalah segalanya untuk Mama."


Audrey terpaku di kursinya dengan wajah yang pucat. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ibu mertuanya sendiri telah memohon padanya untuk meninggalkan Reiner, suami yang sangat dia cintai. Dia tidak pernah membayangkan akan menghadapi pilihan yang sulit seperti ini. Apalagi ketika dia sedang mengandung buah cintanya dengan Reiner.


Tak terasa butir-butir air mata membasahi pipi Audrey. Suara Audrey bergetar saat menjawab permintaan Ny. Valeria.


"Ma..af, Ma. Audrey tidak bisa melakukannya. Audrey sangat mencintai Reiner, dan...."


"Audrey, Mama mohon padamu. Kalau perlu Mama akan berlutut di hadapanmu supaya kamu mau mengabulkan permintaan Mama."


Ny. Valeria berdiri dari kursinya untuk berlutut di depan menantunya itu, namun Audrey dengan cepat mencegahnya. Audrey teringat kembali kenangan peristiwa masa lalunya, dimana ia selalu merasa berdosa telah membuat Ny. Diana kehilangan Dave. Sekarang, ia sungguh tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Ia tidak mau membuat seorang ibu sampai berpisah dengan putranya.


"Ma, jangan melakukan ini. Audrey akan menuruti permintaan Mama."


Ny. Valeria berdiri dan memeluk Audrey.


Tuhan, apa aku akan sanggup hidup tanpa Reiner.

__ADS_1


batin Audrey merasa putus asa.


__ADS_2