
"Pak, terima kasih," ucap Audrey menyerahkan sejumlah uang kepada supir taksi.
Audrey turun dari taksi dan melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.
Bukankah ini mobil Om Jonathan? Apa Om Jonathan ada disini?
Audrey masuk ke dalam rumah dan mendapati mamanya sedang menyuapi Opanya, sembari berbincang dengan Tuan Jonathan. Mereka tampak terkejut melihat kedatangan Audrey.
"Audrey?" tanya Bu Olin keheranan melihat putrinya datang.
"Mama, Opa," sapa Audrey mencium tangan Opanya.
"Pagi, Om Jonathan."
"Pagi, Audrey. Om baru saja ikut senam pagi bersama mamamu lalu mampir sebentar. Apa kamu tidak masuk kerja hari ini?"
"Iya, Om, Audrey cuti sehari. Audrey senang Om mau ikut senam bersama Mama."
"Audrey apa kamu sudah sarapan? Wajahmu agak pucat. Kenapa tidak memberitahu Mama dulu kalau mau datang?" tanya Bu Olin khawatir.
"Audrey sudah sarapan, Ma. Di apartemen ada Bi Mila yang menemani Audrey."
"Jadi Reiner masih belum pulang?" tanya Om Jonathan.
"Belum, Om. Mungkin beberapa hari lagi."
"Kalau begitu Om pulang dulu, Audrey. Ny. Olin, Tuan Hendri, saya pamit," ucap Om Jonathan berpamitan.
"Om, kenapa buru-buru?" tanya Audrey berusaha mencegah Tuan Jonathan.
"Om ada pertemuan dengan pihak penerbit buku siang ini, Audrey."
"Penerbit? Apa Om sekarang menulis buku?"
"Iya. Om pikir setelah pensiun sebagai diplomat, Om tetap harus punya kegiatan. Om berkonsultasi dengan psikolog kira-kira hal apa yang bisa Om lakukan. Katanya Om bisa coba untuk menulis buku. Dengan menulis, kita bisa menuangkan semua perasaan kita. Dan ternyata rasa sedih yang Om rasakan selama ini bisa berkurang setelah Om mulai menulis."
Audrey tersenyum bahagia mendengar perkataan Tuan Jonathan.
"Audrey ikut senang, Om. Nanti kalau sudah terbit bukunya, tolong kabari Audrey. Audrey pasti akan langsung membelinya."
"Om akan berikan bukunya gratis untukmu dan Reiner," jawab Om Jonathan spontan.
"Nyonya Olin besok saya akan ikut senam lagi. Tubuh saya mulai terasa segar setelah ikut senam tiga hari ini."
"Iya Tuan, saya tunggu besok. Sampai jumpa Tuan Jonathan."
Audrey mengantarkan Tuan Jonathan hingga masuk ke dalam mobilnya.
"Sampai jumpa lagi, Audrey. Salam Om untuk Reiner."
"Sampai jumpa, Om. Hati-hati di jalan."
Bu Olin mendatangi Audrey dan membelai rambut putrinya itu.
"Audrey, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu mendadak cuti dan datang kesini."
"Kemarin Audrey sempat pingsan di kantor, Ma. Makanya Audrey memutuskan untuk istirahat dulu."
__ADS_1
"Pingsan? Apa kamu kecapekan di kantor, Sayang?" tanya Bu Olin cemas.
"Mungkin, Ma. Dua hari ini Audrey sibuk karena ada rapat pemegang saham dan juga audit tahunan. Apalagi kemarin ada peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi pada Audrey."
"Ada apa, Sayang?"
"Karin, salah satu staff Audrey di kantor, Ma. Dia mengaku kalau sengaja menaruh uang dan cek di cabinet Audrey. Dia ingin Audrey dituduh sebagai pencuri."
Mata Bu Olin terbelalak karena terkejut mendengar cerita putrinya itu.
"Ha? Kenapa dia bisa berbuat sejahat itu padamu?"
"Audrey juga tidak tau alasannya, Ma. Selama ini hubungan Audrey dan Karin baik-baik saja di kantor."
"Sayang, apa mungkin ini ada hubungannya dengan Ny. Diana, mamanya Dave? Cuma dia satu-satunya orang yang sangat membencimu," kata Bu Olin menebak-nebak.
"Maksud Mama Karin itu disuruh oleh Tante Diana?" ucap Audrey tidak percaya.
"Mungkin saja. Tidak mungkin Karin tiba-tiba ingin berbuat jahat kepadamu tanpa alasan yang jelas."
"Tapi rasanya mustahil Karin bisa mengenal Tante Diana. Lagipula Karin sudah mengundurkan diri. Masalahnya juga sudah selesai. Mama tidak perlu memikirkannya lagi ya," ucap Audrey menenangkan hati mamanya.
Bu Olin mengambilkan segelas susu hangat untuk Audrey.
"Sayang, apa kamu sudah minum obat atau periksa ke dokter?"
"Audrey tadi minum vitamin, Ma."
"Apa kamu merasakan mual atau pusing tadi pagi?" tanya Bu Olin penasaran.
Audrey menggelengkan kepalanya.
"Sayang, coba kamu beli test pack. Siapa tau kamu hamil," kata Bu Olin tersenyum.
Hamil? Tidak mungkin aku hamil secepat ini. Aku pasti hanya kelelahan.
pikir Audrey panik.
Audrey baru teringat bahwa ia lupa meminum pil KB setelah berhubungan dengan Reiner beberapa hari lalu. Kesibukan di kantor telah membuatnya melalaikan hal yang seharusnya dia lakukan.
Audrey kenapa kamu ceroboh sekali.
pikir Audrey merutuki kebodohannya sendiri.
"Audrey, kenapa Sayang?" tanya Bu Olin melihat Audrey melamun.
"Ma, berapa hari setelah berhubungan, kita bisa memakai test pack untuk memastikan kehamilan?" tanya Audrey.
"Paling cepat satu minggu, Sayang. Mama senang kalau kamu benar-benar hamil. Artinya Mama akan segera punya cucu."
Pikiran-pikiran buruk mendadak terlintas di benak Audrey.
Jangan sampai aku hamil. Kalau aku hamil aku tidak akan bisa bekerja lagi. Bagaimana aku bisa membantu Mama dan Opa? Mungkin Reiner juga akan memisahkanku dari anakku nanti. Kontrak pernikahanku dengan Reiner tidak lama lagi akan berakhir, dan dia akan pergi dari hidupku. Kalau aku harus kehilangan Reiner dan anakku sekaligus, aku tidak akan sanggup menghadapinya.
Audrey berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tenang Audrey, kamu cuma kelelahan. Masih ada waktu untuk mencegahnya. Dan ini belum tentu terjadi.
__ADS_1
"Audrey, mulai sekarang kamu harus menjaga kesehatan. Jangan bekerja terlalu keras apalagi pulang larut malam."
"Iya, Ma."
"Mama, masak dulu untuk makan siang. Kamu istirahat disini saja menjaga Opa," kata Bu Olin berjalan ke dapur.
"Opa, mau Audrey pijat tangan dan kakinya?"
"Boleh, Sayang. Badan Opa pegal sekali duduk terus di kursi roda."
"Audrey antar Opa ke kamar ya. Supaya Opa bisa tiduran sambil Audrey pijat," ucap Audrey lembut.
Setelah membantu Opanya beristirahat di kamar, Audrey memijat tangan dan kaki Opanya hingga Opanya itu tertidur.
Perlahan-lahan Audrey meninggalkan kamar Opa dan berjalan menuju dapur untuk membantu mamanya. Namun, suara ketukan di pintu membuatnya berhenti.
"Audrey, sepertinya ada tamu yang datang."
"Iya, Ma," jawab Audrey seraya mengintip lewat jendela.
Audrey sangat terkejut ketika melihat Reiner sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
Reiner? Apa benar itu Reiner? Atau aku sedang bermimpi?
tanya Audrey meragukan penglihatannya sendiri.
Audrey buru-buru membukakan pintu. Ia masih tidak percaya melihat Reiner yang sudah berdiri di hadapannya.
"Rein, kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Audrey keheranan.
"Apa kamu tidak senang melihatku pulang?" ucap Reiner dengan sorot mata tajam.
Kenapa matanya terlihat menakutkan seperti itu? Lalu tangannya kenapa bisa terluka?
batin Audrey mengamati bekas darah di tangan Reiner.
Audrey merasa takut menatap ekspresi wajah Reiner yang tidak biasa.
"Reiner? Kamu sudah pulang dari luar negri? Kenapa tanganmu berdarah?" tanya Ny. Olin khawatir.
"Tidak apa-apa, Ma. Ini hanya tergores sedikit."
"Audrey cepat obati tangan Reiner. Mama ambilkan kotak obatnya."
Audrey mengajak Reiner masuk dan mengobati luka di tangan Reiner. Entah mengapa diamnya Reiner di ruangan itu membuat Audrey semakin takut.
"Audrey, Reiner, tunggu ya. Mama sebentar lagi selesai memasak. Kita akan makan siang bersama."
"Maaf, Ma. Aku akan mengajak Audrey pulang sekarang. Ada hal penting yang harus kami bicarakan," ucap Reiner kepada ibu mertuanya.
"Oh, iya. Kalau begitu Mama tidak akan menghalangi kalian."
"Ma, Reiner pamit," kata Reiner seraya menarik tangan Audrey.
Audrey terkejut melihat tindakan Reiner yang tiba-tiba.
"Ma...Audrey pulang dulu. Tolong sampaikan salam Audrey untuk Opa," ucap Audrey berpamitan.
__ADS_1
"Iya hati-hati Audrey, Reiner."
Audrey mengikuti Reiner masuk ke dalam mobil. Di dalam hatinya, Audrey masih belum mengerti mengapa sikap Reiner kembali berubah. Sebelum berangkat ke luar negri, dia menjadi pria yang hangat dan penuh cinta. Namun entah mengapa sekarang dia berubah total. Bahkan sikap dingin Reiner saat ini membuat Audrey merasa takut untuk berada di dekatnya.