Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
40 Penyamaran


__ADS_3

Tristan memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe eksklusif bernuansa vintage. Seorang petugas kafe datang menyambut mereka, dan membawa sebuah payung di tangannya.


"Tuan, Nona, silahkan pakai payungnya, mari saya antar masuk."


Tristan menerima payung yang dibawa petugas kafe itu dan keluar dari mobilnya.


"Ibu, silahkan keluar. Saya akan membawakan payungnya," kata Tristan membukakan pintu mobil untuk Audrey.


"Terima kasih, Tristan."


"Ibu Audrey, jangan berdiri terlalu jauh dari saya nanti baju Anda basah. Payung ini tidak terlalu besar."


"Iya..."


Audrey terpaksa menuruti saran Tristan karena hujan yang semakin deras di luar. Tristan memayungi Audrey dengan hati-hati seraya berjalan memasuki area kafe.


"Silahkan duduk Tuan, Nona," sapa pelayan kafe menyambut mereka dan menyerahkan buku menu.


"Tuan, Nona, mau pesan apa?"


"Ibu Audrey, pesan saja yang Ibu suka, saya akan menurut pada Ibu."


"Tristan, kamu yang mengajak aku kesini. Kamu yang harus memilih menunya."


"Baiklah, Ibu, semoga Ibu suka dengan pilihan saya."


Setelah memesan beberapa menu favorit di kafe itu, pelayan kafe meninggalkan Tristan dan Audrey.


"Ibu, apa Anda masih memikirkan masalah tadi pagi?" tanya Tristan memperhatikan wajah Audrey yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak, Tristan. Aku hanya sedikit cemas memikirkan audit besok. Entah kenapa aku jadi takut akan terjadi hal yang buruk seperti tadi pagi."


"Bukankah Ibu sudah memeriksa dan mengawasi semua persiapannya dengan baik? Saya melihat Ibu sangat sibuk sepanjang hari ini."


"Iya, tapi aku merasa akhir-akhir ini kinerjaku kurang maksimal. Aku hampir melakukan kesalahan yang fatal," jawab Audrey sedih.


"Ibu sudah bekerja dengan sangat baik. Kalau sesekali kita melakukan kesalahan yang tidak disengaja, itu manusiawi. Saya rasa Ibu tidak perlu cemas."


"Tristan, Oragon Group sudah menjadi bagian penting dalam hidupku selama lima tahun ini. Aku tidak mau melakukan kesalahan apapun yang akan merugikan perusahaan."


"Saya mengerti, Ibu. Tenanglah, saya akan selalu berada di sisi Ibu dan membantu Ibu. Saya yakin besok proses audit akan berjalan lancar."


"Terima kasih ya, kamu sudah menolongku," ucap Audrey tulus.


Pembicaraan Tristan dan Audrey terhenti ketika ada seorang lelaki muda datang menghampiri meja mereka.


"Tristan, Hi, Bro...Kamu sudah pulang dari luar negri? Kenapa diam saja gak mengabariku?"


"Hi, Steve. Maaf, aku belum sempat memberi kabar. Aku gak nyangka kita bisa ketemu disini."


"Bro, apa ini pacarmu?" tanya Steve memperhatikan Audrey dengan seksama.


"Bukan, ini Ibu Audrey, atasanku di kantor, Bro."


"What? Atasan? Bukannya kantor itu..."


"Kantorku Oragon Group," jawab Tristan memutus ucapan Steve.


"Ibu Audrey, maaf, saya tinggal sebentar," ucap Tristan membawa temannya itu pergi menjauh dari Audrey.

__ADS_1


"Hey, Bro, apa kamu suka bermain sandiwara sekarang?" tanya Steve keheranan.


"Bukan sandiwara, Steve. Aku hanya sedang dalam penyamaran," ucap Tristan setengah berbisik.


"Oh my goodness! Kenapa tingkah lakumu jadi aneh seperti ini, Bro? Apa karena kamu jatuh cinta pada cewek itu? Sampai-sampai rela jadi karyawan kelas bawah di perusahaanmu sendiri?"


"Aku sengaja melakukannya karena ingin membuktikan kepada papaku kalau aku juga bisa diandalkan. Aku bisa melakukan sesuatu tanpa bantuannya. Selama ini papaku sering meremehkan kemampuanku dan membandingkan aku dengan kakakku, Kevin," jawab Tristan menjelaskan alasannya.


"Tapi, Bro, sampai kapan kamu akan menyamar?"


"Tidak lama lagi, Steve. Pengangkatanku sebagai CEO sudah diumumkan di rapat pemegang saham."


"Wah, selamat, Tristan!"


"Ssst, pelankan suaramu, Steve," ucap Tristan menghentikan Steve yang mulai bicara dengan suara keras.


"Lalu bagaimana dengan cewekmu itu, Bro? Apa kamu akan mengatakan yang sejujurnya?"


"Belum waktunya sekarang, Bro. Nanti juga dia akan tau."


"Oke, oke, I see, Bro. Good luck. Semoga kamu berhasil."


"Thanks, Bro.."


Tristan menepuk bahu temannya itu dan kembali ke mejanya.


"Maaf, Ibu, apa Anda menunggu lama?"


"Tidak apa-apa, Tristan, makanannya juga baru datang. Kenapa kamu tidak mengajak temanmu gabung bersama kita?" tanya Audrey keheranan.


"Tidak, Ibu. Steve sedang makan malam berdua dengan pacarnya. Nanti mereka bisa terganggu kalau saya ajak kesini," jawab Tristan dengan santai.


...****************...


Karena hujan yang masih deras di luar, petugas kafe kembali meminjamkan payung untuk Tristan dan Audrey.


"Ibu, pelan-pelan, jalanannya tergenang air," kata Tristan sembari membawa payung.


Karena suasana gelap dan hujan, Audrey hampir saja terpeleset oleh genangan air di area parkir. Untung saja Tristan dengan sigap memegang lengan Audrey dan menahannya.


"Ibu, Anda tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa, Tristan. Terima Kasih."


"Silahkan masuk, Bu," ujar Tristan membukakan pintu mobil.


Udara yang dingin di luar membuat tubuh Audrey mulai menggigil.


"Ibu, Anda kedinginan?" tanya Tristan memperhatikan Audrey yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


"Hanya sedikit mungkin karena terkena air hujan," jawab Audrey berusaha menutupi apa yang dirasakannya.


"Saya tidak mau Anda sampai sakit besok. Tunggu sebentar."


Tristan mengambil jaketnya dari kursi belakang mobil. Dengan gerakan cepat, ia menutupkan jaketnya di tubuh Audrey.


"Tristan, ini tidak perlu," ucap Audrey mencegah tindakan Tristan.


"Ibu kali ini Anda harus menurut kepada saya. Bukankah besok Anda ingin memastikan proses audit berjalan lancar? Anda tidak boleh sampai sakit."

__ADS_1


"Iya, Tristan, terima kasih."


Tristan mengantarkan Audrey sampai ke depan lobby apartemen Amarilla.


"Tristan, ini jaketmu. Terima kasih sudah meminjamkannya," ucap Audrey mengembalikan jaket milik Tristan.


"Sampai jumpa besok, Ibu. Jangan lupa mandi dan langsung istirahat," kata Tristan melambaikan tangannya.


Audrey menunggu hingga mobil Tristan hilang dari pandangannya, lalu bergegas naik ke lantai empat. Setibanya di apartemen, Audrey terkejut melihat Bi Mila sudah menunggunya di ruang tamu.


"Selamat malam, Nyonya. Apa Anda baik-baik saja? Saya khawatir karena Anda belum pulang?"


"Bi Mila ada disini?"


"Iya, Nyonya, Tuan Reiner menyuruh saya menginap disini untuk menemani Anda selama Tuan tidak ada."


"Maaf, Bi, sudah membuat Bibi khawatir."


"Nyonya, silahkan mandi lalu makan. Saya sudah menyiapkan makan malam untuk Anda."


"Aku sudah makan tadi Bi sebelum pulang. Aku akan mandi dulu dan langsung istirahat."


"Nyonya, maaf, Tuan Reiner tadi menelpon kesini kira-kira satu jam yang lalu untuk mencari Anda. Katanya ponsel Anda tidak bisa dihubungi."


Audrey merogoh ponselnya dari dalam tas dan melihat ponselnya dalam keadaan mati.


"Oh, iya, Bi, ponselku kehabisan baterai di jalan. Aku akan menelpon Reiner segera."


"Maaf, Nyonya, tapi Tuan mengatakan kalau Tuan yang akan menelpon Nyonya besok. Karena sinyal di tempat Tuan tidak bagus."


"Baik, Bi, terima kasih sudah memberitahuku. Malam, Bi Mila."


"Malam, Nyonya."


Kenapa aku merasa seperti seorang istri yang sudah berselingkuh di belakang suaminya? Seharusnya aku menolak ajakan Tristan untuk makan malam.


pikir Audrey menyesal.


...****************...


Ny. Diana berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia tampak sedang menunggu kabar dari seseorang. Saat dering panggilan telpon berbunyi, Ny. Diana bergegas mengambil ponselnya dengan wajah senang.


"Halo, Karin, bagaimana hasilnya? Apa kamu berhasil membuat wanita itu dipecat dari pekerjaannya?"


"Malam, Tante. Maaf, rencana kita belum berhasil. Sebenarnya Karin hampir membuat Audrey dipecat, tapi salah seorang staff sudah menyelamatkannya. Sepertinya dia tau kalau Karin pelakunya."


"Karin harusnya kamu lebih hati-hati. Jangan bertindak gegabah!" ucap Ny. Diana marah.


"Tante tidak perlu khawatir. Karin sudah punya rencana cadangan. Besok ada audit di divisi finance, dan Karin pastikan Audrey akan dipecat dari pekerjaannya."


"Bagus, Karin. Tante percayakan semuanya kepadamu. Besok Tante tunggu kabar baik darimu."


"Baik, Tante."


Ny. Diana tersenyum puas. Saat ini, Karin, keponakan perempuannya, adalah satu-satunya harapan terakhir untuk membalas dendam kepada Audrey. Dahulu, ia sangat berharap Reiner bisa dijadikan alat baginya untuk membuat Audrey menderita. Tapi pada kenyataannya, Reiner justru tidak melakukan apa-apa. Mungkin Reiner malah sudah jatuh cinta pada istrinya itu.


Audrey, sudah saatnya kamu menderita lebih dari penderitaan yang aku rasakan karena kehilangan putraku.


batin Ny. Diana penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2