Membayar Karma Cinta

Membayar Karma Cinta
74 Kebahagiaan Sempurna (Part 1)


__ADS_3

Empat Tahun Kemudian...


Audrey mengambil setelan jas berwarna hitam dengan kombinasi abu-abu di tepinya.


"Rein, aku rasa kamu akan cocok memakai jas ini. Kamu akan terlihat tampan di bawah sorot kamera nanti," ucap Audrey menunjukkan pilihannya kepada Reiner.


Reiner menarik Audrey ke dalam pelukannya.


"Aku selalu setuju dengan semua pilihanmu, Sayang. Aku ini suamimu yang penurut. Tapi apa kamu yakin ingin aku terlihat tampan? Bagaimana kalau nanti aku memiliki banyak fans wanita? Apa kamu tidak akan cemburu?" goda Reiner.


Audrey memasang wajah cemberut.


"Jadi Tuan Reiner berencana mencari fans di acara wawancara itu? Atau kamu ingin menjadi idola baru kaum wanita? Kalau begitu aku tidak jadi memakaikan kemeja dan jas ini untukmu."


"Sayang, aku hanya bercanda. Bukankah kamu yang menyuruhku menerima wawancara televisi ini? Tapi... aku senang melihatmu cemburu. Kamu tau aku cuma butuh satu penggemar wanita di dunia ini," ucap Reiner mengecup bibir Audrey.


"Jangan merayuku lagi. Aku akan melihat siaranmu nanti di rumah bersama Shane, Sayang. Jadi jangan berani tebar pesona di televisi," tegas Audrey memberikan peringatan kepada suaminya.


Audrey mengancingkan kemeja Reiner lalu memasangkan dasi berwarna abu tua yang senada dengan kemejanya.


"Sayang, apa kamu benar-benar tidak ingin menemaniku di studio selama wawancara?" tanya Reiner berharap Audrey akan berubah pikiran.


Audrey menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak berani melawan perintah Tuan Muda Reiner Junior. Setelah pulang sekolah, Shane minta aku menemaninya ikut kelas mewarnai. Dia sangat antusias menunggu kelasnya ini, Sayang. Sepertinya Shane mewarisi bakat melukis darimu."


"Hmmm, jadi kamu lebih takut kepada Tuan Reiner Junior daripada Tuan Reiner yang Senior?"


"Tentu, karena Tuan Reiner Senior ini lebih mudah ditaklukkan dan lebih penurut. Sedangkan yang Junior suka ngambek kalau keinginannya diabaikan," jawab Audrey tersenyum.


Suara ketukan keras di pintu mengagetkan Audrey dan Reiner. Terdengar suara kecil yang sedang merajuk dari balik pintu.


"Ma, kenapa lama sekali? Aku maunya Mama yang memakaikan seragam, bukan Bi Mila," seru Shane tidak sabar untuk menemui Audrey.


"Tunggu Sayang, sebentar lagi Mama keluar."


Audrey merapikan jas Reiner dan merasa puas melihat penampilan suaminya yang terlihat gagah dan tampan.


"Sayang, sudah selesai. Sekarang giliranku melayani pangeran kecil kita."


"Iya, Sayang. Ayo kita keluar sebelum Shane marah. Dia pasti cemburu karena aku mengambil mamanya terlalu lama," ajak Reiner menggandeng tangan Audrey.


Saat membuka pintu kamar, Audrey dan Reiner langsung disambut oleh wajah cemberut putra mereka.


Bi Mila yang berdiri di belakang Shane, tampak tidak enak hati karena gagal membujuk Shane.


"Maaf, Tuan, Nyonya, Shane bersikeras minta Nyonya yang memakaikan seragamnya dan menyuapinya menghabiskan sarapan pagi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bi. Bibi ke dapur saja, biar aku yang menangani Shane."


Audrey menundukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan wajah Shane.


"Sayang, Mama sudah bilang Shane tidak boleh bicara dengan keras seperti itu. Mama sedang membantu Papa bersiap-siap ke kantor. Hari ini Papa juga ada wawancara di televisi. Setelah itu, Mama pasti akan menemani Shane."


Shane mendengus dengan kesal.


"Habis Mama lama sekali di dalam bersama Papa."


Shane mengalihkan pandangannya kepada Reiner. Jika dilihat dari dekat, Shane sungguh terlihat bagai cerminan diri Reiner. Selain wajah mereka sangat mirip, Shane juga mewarisi sorot mata tajam milik papanya. Ekspresinya ketika sedang marah selalu mengingatkan Audrey pada kemarahan Reiner saat dulu terbakar rasa cemburu.


"Papa khan sudah besar, kenapa tidak pakai baju sendiri? Kenapa harus dibantu Mama? Di sekolah, Miss bilang Shane harus belajar pakai baju sendiri. Tapi Shane belum bisa, makanya Shane minta dibantu Mama," tanya Shane polos.


Reiner tertawa mendengar pertanyaan putra kecilnya yang pintar itu. Ia menggendong Shane dan membelai rambutnya.


"Benar, Shane, Papa seharusnya pakai baju sendiri. Maafkan Papa ya karena merepotkan Mama. Sebagai permintaan maaf Papa, nanti kalau Papa pulang Papa akan memberikan Shane mainan robot putih yang Shane lihat di mall kemarin."


"Iya, Pa, Shane mau," jawab Shane antusias.


"Ayo, sekarang Shane pakai baju seragamnya dengan Mama. Setelah itu kita sarapan supaya Shane tidak ngantuk di sekolah," sambung Reiner menurunkan Shane dari gendongannya.


Dengan penuh semangat, Shane bergegas lari menuju ke kamarnya.


"Sayang, kenapa kamu menjanjikan Shane mainan lagi? Apa kamu tidak lihat mainannya banyak sekali sampai menumpuk di gudang. Kemarin Opa dan Omanya baru menghadiahi mobil-mobilan baru, sekarang kamu malah membelikan dia robot. Jangan terlalu memanjakan Shane," protes Audrey kepada Reiner.


"Iya, iya."


Audrey buru-buru menuju ke kamar Shane. Kesibukan di pagi hari seperti ini memang sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Ia harus bisa membagi waktu dan perhatian antara suami dan anaknya yang sama-sama manja padanya. Namun, Audrey sangat bahagia karena sekarang hidupnya telah lengkap.


...****************...


Audrey memasangkan tas punggung Shane dan mengantarkan putranya itu hingga ke depan kelas. Sepanjang perjalanan menuju ke kelasnya, teman-teman Shane yang manis berusaha menyapanya dengan ramah.


"Hi, Shane," panggil Gladys dan Nicole, dua gadis kecil mungil, teman sekelas Shane.


"How are you, Shane?" sapa Abigail, teman Shane yang berambut panjang dan bermata biru.


Audrey menegur Shane yang tetap diam saja, tidak mau menanggapi sapaan gadis-gadis kecil itu. Walaupun masih duduk di bangku TK, wajah tampan Shane memang mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Shane, jawab donk. Hi, Gladys, Nicole, Abigail. I'm fine. Shane harus bersikap ramah dan sopan kepada teman-teman Shane," tegur Audrey.


Shane menganggukkan kepalanya lalu menjawab salam dari teman-temannya dengan enggan.


"Hi, I'm fine."


Sikap cool Shane ini persis seperti papanya dulu. Aku harus mendidiknya supaya bisa lebih ramah pada orang lain.

__ADS_1


batin Audrey keheranan.


Miss Vera, guru kelas Shane, telah menunggu murid-muridnya di depan pintu kelas. Ia menyapa Shane dengan wajah ceria.


"Good Morning, Shane."


"Good Morning, Miss Vera," jawab Shane memberi salam kepada gurunya.


"Say bye bye to your mommy."


"Bye bye, Mama," ucap Shane sembari memeluk Audrey.


"Bye, Shane, be a good boy ya," balas Audrey mencium pipi Shane.


Audrey menunggu hingga Shane masuk ke dalam kelas. Mendadak, Audrey merasakan kepalanya pusing dan perutnya sedikit mual. Sudah beberapa hari, ia sering mengalami kondisi yang sama di pagi hari. Jika diingat kembali, Audrey baru tersadar bahwa ia belum mengalami datang bulan.


Apa aku hamil? Aku akan membeli testpack untuk memastikannya. Semoga saja benar aku hamil. Rein pasti akan senang kalau mendengar kabar kehamilanku.


Audrey buru-buru menuju ke mobil untuk menemui Pak Beni.


"Nyonya, apa kita akan pulang ke rumah?" tanya Pak Beni dari balik setir.


"Kita mampir dulu ke apotek, Pak."


"Baik, Nyonya."


Sambil harap-harap cemas, Audrey masuk ke kamarnya dan menunggu hasil testpack.


Ia dan Reiner memang sepakat untuk menunda kehamilan selama tiga tahun terakhir. Namun sekarang, waktunya sudah tepat bagi Shane untuk memiliki seorang adik.


Rona bahagia terpancar di wajah Audrey, ketika melihat dua garis merah terlihat jelas di alat testpacknya.


Aku akan memberitahukan kabar bahagia ini nanti kepada Reiner.


gumam Audrey merasa bersyukur karena ia akan mendapat karunia seorang buah hati lagi.


.


.


.


My lovely Readers, akhirnya bab terakhir author bagi menjadi 2 Part ya supaya bacanya lebih puas.


Semoga kalian suka.


Ditunggu like, vote, dan komennya.

__ADS_1


__ADS_2