
Zura berlari mendekati Evan yang jatuh terduduk di kamar mandi kecil rumah mereka. Lelaki itu nampak meringis menahan sakit, bahkan keringat sudah mengucur di dahinya.
"Evan, kamu kenapa bisa disini? Mau ngapain?" tanya Zura yang langsung berlutut dihadapan Evan.
Evan langsung meraih tangan Zura untuk berpegangan agar dia bisa berdiri. Karena sepertinya kakinya sedikit keseleo sekarang. "Tadi aku mau buang air kecil, tapi tidak sengaja malah tersandung," jawab Evan.
Zura langsung tertawa kecil mendengar itu. Meski dia cemas namun ketika melihat Evan yang baik-baik saja membuat Zura bisa bernafas dengan lega sekarang.
"Kamu ini, buat aku cemas saja. Untung aku pulang," ucap Zura. Dia menunduk dan memeriksa kaki Evan yang sepertinya memang tidak apa-apa. Hanya sedikit memerah dibagian tumitnya.
"Kenapa kamu pulang cepat?" tanya Evan.
"Aku merasa terpanggil," jawab Zura seadanya.
"Kamu kira aku setan," sahut Evan sedikit ketus. Hingga lagi-lagi membuat Zura tertawa geli melihat wajah kesal lelaki itu.
"Memang seperti itu kan, kamu bukan setan tapi kamu sudah menghantui hidupku sekarang," ucap Zura.
"Ya, aku memang tidak berguna sama sekali," gumam Evan terlihat sedih. Dia berjalan keluar disaat Zura merangkul lengannya dan menuntunnya untuk keluar dari dalam kamar mandi itu.
"Ck, kenapa malah ngomong begitu sih," protes Zura yang tidak senang mendengar ucapan Evan yang seperti itu.
"Untuk mengurus diriku sendiri saja aku tidak bisa. Selalu saja merepotkan kamu. Kamu pasti lelah harus kesana dan kemari merawat aku dan nenek," jawab Evan.
Zura mendudukkan Evan disebuah kursi. Dia mengambil minyak pijat di atas meja dan kembali berlutut dihadapan Evan. "Aku nggak merasa lelah sama sekali kok, kamu aja yang sensitif. Nanti, suatu saat ada masanya kita gantian. Mungkin untuk sekarang kamu yang masih membutuhkan bantuan ku," ujar Zura.
"Tapi entah kapan, aku benar-benar merepotkan kamu, Zura," sahut Evan.
"Nggak, jangan kayak gitu lagi deh. Aku gak suka kamu ngomong gitu," ujar Zura.
Evan terdiam, dia merasakan usapan lembut tangan Zura di kakinya.
"Maaf," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Aku cuma pengen kamu itu jadi lelaki yang kuat, yang selalu yakin kalau suatu saat nanti Tuhan pasti kasih kembali ingatan dan penglihatan kamu," ujar Zura.
Evan mengangguk lemah. "Iya, aku juga berharap seperti itu. Aku sangat ingin melihat wajah kamu dan nenek," jawab Evan.
Wajah Zura yang tadinya tertekuk kesal, kini langsung mendengus senyum mendengar ucapan Evan barusan.
"Iya, makanya kamu berdoa terus supaya semua cepat kembali, harus tetap yakin meski keadaan kita masih seperti ini terus," ujar Zura. Dia beranjak dan memandang wajah Evan yang sudah kembali tenang dan tidak lagi merasa bersalah.
"Ya, terimakasih," jawab Evan.
"Nanti kalau nenek udah sembuh, aku mau bawa kamu jalan-jalan. Udah lama sekali aku gak keluar. Selagi ada kamu yang jadi temanku," ucap Zura.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Evan.
"Pasar malam," jawab Zura.
"Pasar malam?" gumam Evan kembali.
"Iya, kata Kang Akmal di desa sebelah ada pasar malam. Tempat hiburan gitu, aku pengen kesana. Ya, walaupun cuma lihat-lihat aja gak papa deh," jawab Zura.
"Susah kenapa? Kita juga pergi bareng kang Akmal kok. Disana tempat ramai Van. Siapa tahu ada yang ngenalin kamu. Kalau kamu dirumah terus, gimana caranya kita tahu siapa kamu. Ya, walaupun kemungkinannya kecil, tapikan yang penting berusaha," ujar Zura.
Evan nampak terdiam mendengar perkataan Zura tersebut. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Zura. Jika dia hanya berada didalam rumah sepanjang hari bagaimana orang-orang bisa melihatnya. Apalagi ini sudah empat bulan berlalu, jelas keluarga Evan pasti menganggap Evan sudah mati. Siapa yang mau percaya jika dia masih hidup setelah tenggelam disungai dan menghilang selama empat bulan lamanya?
"Mau ya, sekalian jalan-jalan," pinta Zura kembali dengan wajah yang memelas dan suara yang dibuat-buat manja. Hingga akhirnya, mau tidak mau Evan mengangguk setuju. Membuat Zura langsung berteriak kegirangan. Kapan lagi bisa jalan-jalan malam bersama dengan pria tampan yang tidak bisa melihat apapun ini. Pria yang semakin lama semakin membuat Zura begitu terikat padanya. Begitu pula dengan Evan. Tanpa Zura, apalah arti hidupnya sekarang.
...
Malam hari di klinik Desa Nateh.
Daffa nampak terduduk lelah di kursinya. Namun tangannya sejak tadi belum berhenti untuk membereskan perlengkapan dan obat-obatan yang masih berserak di atas meja. Dia baru saja menyiapkan obat-obatan yang akan dia gunakan untuk besok hari.
Bekerja menjadi relawan disebuah desa kecil dan terpencil seperti ini cukup melelahkan juga. Namun, Daffa merasakan kepuasan tersendiri. Apalagi ketika melihat wajah-wajah bahagia orang-orang yang datang ke klinik untuk berobat. Sebagian besar dari mereka adalah warga yang tidak mampu. Apalagi selama ini pengobatan di Desa Nateh cukup mahal karena mengambil pasokan obat-obatan yang cukup jauh dari kota. Jadi banyak dari mereka yang tidak sanggup untuk berobat dan hanya mampu mengandalkan obat tradisional yang bisa mereka racik sendiri.
__ADS_1
Ya, tidak masalah memberikan kebehagiaan dan kesehatan pada orang lain. Daffa senang melakukan itu. Apalagi sejak kecil dia selalu diajakarkan kebaikan dan sifat tolong menolong oleh ayah dan ibunya. Hingga membuat Daffa tumbuh menjadi seorang lelaki yang tidak bisa melihat kesusahan orang lain.
"Dokter." Tiba-tiba suara Diyah membuat Daffa sedikit terkesiap. Dia langsung menoleh kearah pintu dan memandang gadis berwajah manis itu dengan sedikit senyuman diwajahnya.
"Apa ada pasien lagi?" tanya Daffa.
"Nggak ada, dokter. Yang terakhir Nek Sri, itu juga sudah dibawa pulang sama cucunya," jawab Diyah. Dia berjalan ke lemari penyimpanan obat-obatan mereka untuk menyimpan obat-obatan yang tersisa.
"Oh syukurlah, kamu pulang saja. Kan sudah malam, kamu juga butuh istirahat. Saya bisa membereskan ini sendiri," ujar Daffa.
Namun, Diyah langsung menggeleng pelan, " Nggak apa-apa dokter, sudah tugas saya membantu disini," jawab Diyah.
"kamu rajin sekali, padahal sudah dari pagi kamu tidak ada beristirahat," sahut Daffa.
Diyah tersenyum tipis dan menggeleng pelan, " kadang juga saya bisa lebih lelah dari ini ketika harus menangai mereka sendirian," jawab Diyah.
Kali ini Daffa yang gantian tersenyum tipis memandang Diyah. Mereka bekerja sama membereskan ruangan kecil itu. Tidak terlalu berantakan, hanya obat-obatannya saja yang perlu diatur. Hingga tidak lama kemudian mereka selesai membereskan semuanya dan sekarang tiba waktunya untuk pulang kerumah.
Jalanan di desa Nateh malam ini cukup ramai. Terutama muda mudi bahkan orang-orang tua yang nampak ceria pergi beramai-ramai.
"Ramai sekali, mereka mau kemana?" tanya Daffa.
"Di desa sebelah ada pasar malam, dokter. Jadi mereka pasti kesana," jawab Diyah.
"Pasar malam?" gumam Daffa kembali.
Diyah mengangguk pelan, "Iya, tempat hiburan untuk warga desa disini. Jarang-jarang ada, maka dari itu mereka begitu antusias," jawab Diyah lagi.
"Kamu tidak pergi?" tanya Daffa berbasa-basi. Padahal ini bukan gayanya sekali. Biasanya Daffi, saudaranya yang suka sekali berbasa-basi hal yang tidak penting. Tapi sekarang dia malah ketularan saudaranya kembarnya itu.
"Kalau saya pergi, nanti tidak ada yang membantu dokter di klinik," ucap Diyah.
"Kalau mau pergi juga tidak apa-apa, kan di klinik kalau malam juga sepi," jawab Daffa.
__ADS_1
"Benar juga sih," gumam Diyah. Dia terdiam untuk beberapa saat hingga tidak lama kemudian Diyah kembali berucap, "atau kalau dokter mau, dokter juga bisa ikut. Ya, sekalian untuk menghibur diri. Memang tidak sebagus di kota, tapi setidaknya untuk pengalaman saja selama ada di desa ini," ujar Diyah. Dia memandang Daffa yang nampak terdiam. Dokter tampan itu nampak tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Boleh juga," jawabnya.