Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Jalan Pagi


__ADS_3

Malam yang benar-benar indah untuk Zura. Mereka menghabiskan waktu di atas gedung itu dan menikmati keindahan malam yang membuat hati merasa tenang dan damai. Berdua di bawah langit malam adalah hal yang paling membuat hati mereka tenang. Sejak dulu hingga sekarang.


Bahkan saat ini semua jauh terasa lebih indah, apalagi dengan Vanno yang sudah bisa menikmati keindahan ini bersama Zura. Jika dulu dia hanya mendengar cerita dari Zura, maka saat ini dia sudah bisa melihat sendiri dan dia yang memberikan keindahan itu pada kekasihnya.


Malam ini akan menjadi malam yang paling indah yang akan tersimpan di dalam memori mereka berdua.


Semua keindahan, ucapan cinta dan janji manis, semua akan selalu Zura bawa ke dalam ingatannya. Bahkan sampai pagi menjelang dan malam indah itu telah usai, semuanya masih begitu membekas di hati Zura.


Hingga pagi ini, Zura bangun dengan wajah yang nampak begitu berseri. Memulai hari dengan senyum secerah mentari dan semangat yang berkobar di dalam hati.


"Pagi mbak Zura, cerah banget sih wajahnya," goda Diko yang ternyata sudah datang ke toko bunga itu.


"Pagi, emang biasanya nggak ya?" tanya Zura.


"Beda dong, ini pasti gara-gara habis ngedate malam tadi sama Tuan muda, wajahnya udah cerah banget, matahari di luar aja kalah," puji Diko.


Zura langsung tertawa malu dan menggeleng pelan mendengar itu. "Kamu ih, godain terus. Udah sana kerja, aku mau belanja dulu," ujar Zura.


"Hehe siap, mbak," jawab Diko. Lelaki itu langsung pergi meninggalkan Zura dan masuk ke dalam ruangan untuk mengecek persediaan bunga-bunga segar mereka.


Sedangkan Zura langsung pergi keluar toko dan mendatangi Akmal yang sedang menyirami tanaman mereka di depan.


"Kang, rajin amat," sapa Zura.


Akmal langsung berbalik dan tersenyum memandang Zura, "iya, gak ada kerjaan, bentar lagi baru antar barang sama Anton," jawab Akmal.


Zura hanya mengangguk saja dan menarik nafas dalam-dalam menikmati udara segar di pagi hari itu.


"Mau kemana?" tanya Akmal.


"Mau belanja bahan makanan, udah habis stok di kulkas," jawab Zura.

__ADS_1


"Ke pasar?" tanya Akmal.


Zura menggeleng, "ke minimarket aja kayaknya kang, sekalian belanja sabun-sabun kita sama bedak Zura," jawab Zura.


"Mau di anter gak?" tanya Akmal.


"Gak usahlah, kan dekat, Zura bawa motor aja, sekalian jalan-jalan," jawab Zura.


"Yaudah hati-hati," ujar lelaki itu.


"Siap, Zura pergi dulu ya," pamit Zura.


Akmal hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya seperti biasa sembari matanya yang memandangi Zura pergi dengan motornya sendiri. Meski sudah jadi bos tapi tetap saja Zura lebih memilih untuk menyiapkan keperluan sendiri, Bahkan untuk makan saja dia lebih memilih untuk memasak sendiri di banding membeli atau memesan makanan di luar.


Sepanjang perjalanan menuju minimarket yang dia tuju, senyum tidak pernah lepas dari wajah cantik itu. Apalagi ketika dia melewati gedung perkantoran Adidaksa, ingatannya langsung tertuju pada Vanno yang pastinya sedang bertugas di sana.


Ah rasanya Zura tidak menyangka jika dia bisa menjalin hubungan dengan anak dari pewaris perusahaan besar itu. Sangat tidak menyangka bahkan terkadang dia merasa tidak tahu diri. Tapi, jika mengingat tentang hatinya, Zura malah tidak berdaya. Menyedihkan sekali bukan.


"Zura!"


Zura langsung tersenyum memandang gadis itu, "Mbak Zeze, mau kemana?" sapa Zura.


"Kamu yang mau kemana? kok bawa motor sendiri?" Bukannya menjawab, Zeze malah kembali bertanya.


"Saya mau belanja mingguan mbak, tuh di minimarket depan," jawab Zura sembari menunjuk gedung minimarket yang memang sudah nampak di ujung mata.


"Oke, kita ketemu di sana," ujar Zeze.


Zura mengernyit bingung, namun belum lagi bertanya lampu merah sudah berganti dan waktunya mereka untuk jalan kembali. Bahkan mobil yang membawa Zeze sudah jalan lebih dulu.


Zura hanya mengendikkan bahunya saja dan langsung melajukan motornya kembali. Sesekali dia kembali memandang gedung Adidaksa tempat Vanno bekerja.

__ADS_1


Entah kapan Zura bisa menginjakkan kakinya di sana lagi. Terkadang, ingin sekali dia mengunjungi Vanno di sana. Ya, meski hanya sekedar mengantar makan siang atau membuat kejutan. Tetapi, lagi-lagi perasaan rendah diri itu selalu ada dan membatasi setiap keinginan hatinya.


...


Sedangkan di perusahaan Adidaksa sendiri. Tuan muda yang masih selalu dipikirkan oleh Zura itu masih terlihat sibuk dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk. Dia sudah tiba sejak tadi karena hari juga sudah mulai siang. Dan sekarang Vanno harus menyelesaikan berbagai pekerjaan yang tidak ada habisnya ini. Menjadi pengganti ayahnya untuk memimpin perusahaan nyatanya tidak bisa membuat dia tenang dan berfoya-foya. Tanggung jawab yang Vanno pegang cukuplah berat, karena kini masa depan Adidaksa sudah berada di tangannya.


Kaca mata baca yang bertengger di hidungnya semakin membuat penampilan Vanno semakin berkharisma. Siapapun tahu jika Tuan muda ini mewarisi gen kedua orang tuanya yang tampan dan cantik, hingga menghasilkan sebuah bibit unggul yang tidak bisa di remehkan.


Tapi sayang, belum ada siapapun yang tahu siapa kekasih dan wanita yang beruntung yang bisa berada di dekat Tuan muda ini. Meski kini, semua orang di perusahaan sudah menerka-nerka tentang hubungan Vanno dan Zoya. Karena hanya sekretaris cantik itu yang bisa dekat dengan Tuan muda mereka.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat perhatian Vanno teralihkan. Dia merenggangkan sedikit otot kepalanya dan memandang ke arah pintu. Dimana Zoya masuk ke dalam dengan wajah yang sedikit berbeda.


Vanno mengernyit, memandang Zoya dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Vanno langsung. Karena tidak biasanya sekretarisnya ini memasang wajah sedih.


"Tuan, saya boleh izin hari ini? Ayah saya masuk rumah sakit," pamit Zoya.


"Masuk rumah sakit?" tanya Vanno sekali lagi.


Zoya langsung mengangguk dengan cepat, "iya, jantungnya kumat lagi, orang rumah bilang jika Ayah saya jatuh pagi tadi," ungkap Zoya. Wajahnya memang nampak cemas sekali.


"Yasudah, pergilah. Tidak apa-apa. Biar Deni yang menghandle pekerjaan kamu," ujar Vanno.


"Terimakasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Zura langsung.


"Ya, semoga ayah kamu tidak apa-apa dan cepat sembuh," ucap Vanno.


Zoya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Setelah berpamitan dia langsung keluar dari ruangan Vanno. Meninggalkan Vanno sendirian.

__ADS_1


"Sepertinya pekerjaan hari ini akan semakin menumpuk," gumamnya seorang diri.


Namun, sesekali dia tersenyum ketika memandang foto di wallpaper ponselnya. Foto Zura yang tengah tersenyum manis.


__ADS_2