
Zura memandang Evan dengan heran. Sejak tadi Evan hanya diam dan terus mengikuti setiap langkahnya berkeliling pasar malam itu. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki ini. Namun, setelah Zura berbicara tentang Dokter Daffa tadi, Evan memang lebih banyak diam dan tidak lagi banyak bertanya.
"Van," panggil Zura.
Evan sedikit terkesiap, dia mengarahkan kepalanya kearah Zura. Dahinya nampak mengernyit, apalagi suasana di pasar malam itu terdengar begitu berisik dan sangat ramai. Evan benar-benar bingung.
"Kamu diem aja dari tadi? Mikirin apa sih?" tanya Zura.
"Tidak ada," jawab Evan dengan singkat.
"Bohong banget," dengus Zura.
Evan tersenyum tipis sembari mengusap tangan Zura yang masih merangkul lengannya sejak tadi. "Tempat ini sangat ramai, aku hanya bingung dan sedikit risih," jawab Evan.
"Iya, disini lumayan ramai. Padahal bukan malam minggu. Kamu nikmati aja ya, udah lama aku nggak jalan-jalan begini," ungkap Zura.
Evan mengangguk tipis. Langkah kaki mereka berjalan cukup pelan. Zura takut jika Evan akan terjatuh atau menabrak orang-orang yang sedikit berdesakan disana.
"Kenapa disini ramai sekali? Apa ada sesuatu yang menarik?" tanya Evan.
"Ada, disini banyak wahana permainan," jawab Zura. "Seperti biang lala, motor cros, permainan anak-anak, dan juga lempar bola. Banyak deh, aku juga bingung mau nyebutin satu-satu," jawab Zura dengan tawa kecilnya.
"Kamu tidak mau coba?" tanya Evan.
"Nggak lah, kan kita cuma jalan-jalan aja, lagian mahal kalau naik kesana. Sayang uangnya. Aku juga nggak mungkin ninggalin kamu, disini ramai," ungkap Zura.
Evan terdiam mendengar ucapan Zura. Rasanya kehidupan gadis ini benar-benar menyedihkan. Empat bulan lebih tinggal bersama Zura, dia bisa merasakan kesulitan yang dialami oleh Zura dan neneknya. Evan benar-benar kagum dengan mereka, karena sampai sekarang mereka tidak pernah sedikitpun mengeluh tentang kehidupan. Padahal bukan hanya kesulitan dalam masalah ekonomi saja, namun mereka juga dikucilkan oleh seluruh warga desa.
Ah itu terasa begitu menyedihkan.
"Zura," panggil Evan tiba-tiba.
"Ya," sahut Zura yang masih fokus memandangi suasana pasar malam itu.
"Apa impian terbesar dalam hidup kamu?" tanya Evan.
Zura langsung mendengus senyum mendengar pertanyaan Evan. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Zura.
"Aku hanya ingin tahu," jawab Evan.
Mata Zura kembali memandang orang-orang yang nampak tertawa lepas ketika menaiki salah satu wahana seperti kapal besar yang di ayun dengan kencang.
"Impian terbesar aku cuma ingin bahagia dan tenang," jawab Zura.
__ADS_1
Evan mengernyit bingung, "Hei, bukannya semua orang menginginkan hal itu," sahut Evan. Namun, Zura malah tertawa kecil dan menggeleng pelan.
"Iya memang, tapi aku sendiri kadang nggak tahu apa impian ku. Apa gadis miskin seperti aku ini masih pantas memiliki impian?" tanya Zura.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Evan terdengar tidak suka.
"Karena memang begitu kenyataannya kan. Hidup ku dan Nenek sudah susah sejak dulu, bahkan kami dimusuhi satu desa karena kesalahan yang sama sekali nggak pernah kami perbuat. Jadi, aku cuma pengen hidup tenang dan bahagia sama Nenek. Punya uang banyak supaya nggak di rendahin sama orang-orang lagi," ungkap Zura.
Evan kembali mengusap tangan Zura, dan kali ini dia sedikit menggenggam tangan yang masih melingkar di lengannya itu.
"Kamu gadis yang baik, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa mendapatkan kebahgiaan itu," ucap Evan.
"Aamiin. Aku harap begitu, Van. Hidup seperti ini rasanya berat sekali. Bukan karena susah, tapi karena di anggap rendah," jawab Zura.
"Jangan dengarkan apa kata mereka. Kamu itu seperti berlian yang jauh lebih berharga daripada mulut sampah seperti mereka," jawab Evan.
Zura kembali mendengus senyum mendengar perkataan Evan. "Perkataan kamu begitu manis, Van. Aku sampai terharu mendengarnya," ucap Zura.
"Aku bicara yang sesungguhnya, Zura," sahut Evan.
"Aku nggak tahu bagaimana jika kamu udah nggak ada nanti, pasti hidup aku bakalan sepi lagi," ucap Zura. Dan kali ini nada suaranya terdengar begitu lirih.
"Aku nggak akan pergi," sahut Evan.
"Van, suatu saat nanti, cepat atau lambat kamu pasti menemukan keluarga kamu. Dan disaat itu tiba, aku pasti akan kehilangan kamu," Zura berucap sembari membawa Evan untuk duduk di sebuah kursi kosong yang ada disana.
"Kamu janji?" tanya Zura.
Evan mengangguk pelan, dia meraih tangan Zura dan langsung menggenggam tangan itu dengan lembut.
"Bagaimana aku bisa melupakan kamu, kamu itu malaikat dalam hidup aku," ungkap Evan.
Zura tersenyum tipis dan langsung tertunduk malu mendengar ucapan Evan. Untung saja lelaki ini tidak bisa melihat, jika bisa mungkin dia akan melihat wajah Zura yang memerah bagai udang rebus sekarang.
"Kalaupun kita berpisah untuk beberapa saat, aku mau kamu tetap menjadi Zura yang seperti ini ya," pinta Evan. Dan kali ini ucapannya itu membuat Zura kembali memandang kearahnya.
"Maksud kamu?" tanya Zura.
"Ya, aku mau kamu menjadi Zura yang baik hati dan menjadi Zura yang kuat," jawab Evan.
Zura terdiam.
"Kamu bisakan?" tanya Evan
__ADS_1
Zura mendengus senyum tipis dan mengangguk pelan, meski Evan tidak melihat.
"Ya, aku akan tetap menjadi Zura yang seperti ini, yang baik dan hati dan juga kuat," jawab Zura.
"Nah, itu baru Zura ku. Aku berjanji, jika suatu saat aku sudah kembali ke keluargaku, aku pasti akan datang lagi untuk menemui kamu dan Nenek," ucap Evan.
"Kamu janji?" tanya Zura.
"Janji," jawab Evan begitu yakin.
Zura tersenyum haru, dia tidak lagi mengatakan apapun selain saling bergenggaman tangan dengan Evan. Tidak perduli dia ada orang-orang yang melihat kedekatan mereka berdua. Zura hanya ingin menikmati momen-momen ini bersama Evan. Entah akan selalu seperti ini lagi atau tidak, tapi Zura sudah yakin, jika Evan pergi dari hidupnya, Zura pasti akan begitu kehilangan.
Kehadiran Evan didalam hidup Zura terasa merubah hari-harinya yang sepi dan menyakitkan menjadi lebih baik. Bahkan tidak pernah lagi dia merasa terpuruk dan sedih ketika ada orang yang dengan begitu tega menyindir atau bahkan menghinanya. Ada Evan yang selalu berada di samping Zura membuat semua kesedihan dan kegundahan hatinya terasa membaik.
Lalu, jika Evan sudah pergi dan menemukan keluarganya nanti, bagaimana nasib Zura?
Ah itu pasti menyakitkan.
"Evan," panggil Zura. Dia melepaskan genggaman tangan Evan dari tangannya.
"Ada apa?" tanya Evan.
"Kamu tunggu disini dulu ya, aku mau beli minuman disana. Kamu pasti haus kan," ucap Zura.
"Memangnya ada uang? Aku masih bisa tahan," jawab Evan.
"Ada, jangan khawatir. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana ya," ujar Zura.
"Iya," jawab Evan yang hanya bisa mengangguk pasrah. Hanya ada senyum tipis di bibirnya yang merah muda. Senyum yang selalu membuat hati Zura berdebar dengan kencang.
Setelah memastikan jika Evan akan baik-baik saja disana, Zura langsung pergi menuju sebuah tempat penjual minuman yang ada disana. Tidak jauh sebenarnya, namun karena orang-orang ramai jadi Zura tidak bisa memandang Evan dengan jelas.
Evan duduk terdiam di kursi itu. Tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan dia seperti patung bernyawa disana. Hanya terdiam dan mendengarkan riuhnya musik dan teriakan orang-orang yang memenuhi area pasar malam itu. Evan tidak tahu kenapa mereka berteriak seperti itu. Mungkin saja sedang naik wahana yang dikatakan oleh Zura tadi.
Cukup lama Zura meninggalkan Evan, apalagi karena antrian yang cukup panjang. Hingga membuat Evan mulai gusar. Dia tidak takut, namun dia risih berada sendirian terlalu lama disini.
Hingga tidak lama kemudian, disaat Evan masih ingin merenggangkan sedikit tubuhnya yang pegal, terdengar suara riuh dan teriakan orang-orang. Ditambah seperti suara benda yang jatuh dan bertabrakan dengan kuat.
"Aaaahhhhh!" Brak
Evan panik dan dia begitu terkejut, apalagi ketika suara itu berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bahkan, tubuh Evan langsung oleng karena dia merasa jika banyak orang yang bergerombol dan berlarian tidak tentu arah.
"Ada apa?" tanya Evan begitu panik.
__ADS_1
...
Hayo nungguin Evan ketemu sama Daffa ya. Next part selanjutnya ya. Hehe