
Zura kembali berlari kerumah, wajahnya terlihat lelah dan berkeringat karena dari klinik dia berlari dengan cepat menuju keujung desa.
Wajah lelahnya menyiratkan kebahagiaan yang begitu mendalam, apalagi ketika Diyah berkata jika Zura bisa membawa neneknya ke klinik. Tentu saja Zura tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ya, meskipun dia harus berdebat dengan Anika dan beberapa warga yang ada disana. Apalagi jika bukan karena mereka yang tidak menyukai Zura. Namun, Zura beruntung karena Diyah masih berpihak padanya.
"Nenek! Evan!" teriak Zura dari luar rumah. Bahkan belum lagi masuk kedalam rumah namun suara teriakannya sudah terdengar sampai ke kamar nek Sri.
Evan bahkan sampai terkejut mendengar itu, "kenapa Zura berteriak begitu?" gumam Evan, namun masih terdengar ditelinga nek Sri.
"Kamu seperti tidak tahu Zura saja," jawab Nek Sri masih terdengar lemah. Tubuh tuanya kelelahan dan mungkin penyakitnya yang kumat lagi.
Benar saja, tidak lama kemudian, Zura sudah masuk kedalam kamar nek Sri. Nafasnya terangah-engah, bahkan dia sampai tertunduk sebentar untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya.
"Ada apa Zura? Apa ada sesuatu?" tanya Evan.
"Nggak, aku cuma mau bawa Nenek ke klinik. Disana lagi ada pengobatan gratis," jawab Zura. Dia berjalan menuju kearah neneknya yang mulai beranjak untuk bangun dari tempat tidur.
"Kok tumben?" tanya Nek Sri.
Zura membantu nek Sri untuk duduk, "ada dokter magang disana Nek, mungkin dia yang jadi relawan dan bantu mbak Diyah di klinik. Kata mbak Diyah, Zura boleh bawa nenek kesana," jawab Zura.
"Nenek jadi bisa berobat," sahut Evan pula.
"Iya benar," jawab Zura.
"Selama nenek hidup, baru kali ini ada dokter yang magang di desa ini. Mengadakan pengobatan gratis pula," ucap Nek Sri.
"Entahlah nek, anggap saja dia orang baik yang hari ini bisa bantu nenek untuk berobat," sahut Zura.
"Sekarang kita pergi ya," ajak Zura sembari memakaikan jaket tebal ditubuh neneknya. "Tadi Zura udah minta tolong Kang Akmal untuk anter nenek pakai motornya, jadi nenek gak akan capek dijalan," kata Zura lagi.
Nek Sri hanya mengangguk pelan, dan kini Zura beralih pada Evan. "Kamu gak apa-apa dirumah sebentar kan Van. Kami nggak lama kok, mungkin siang nanti udah pulang kalau keadaan nenek udah baikan," pamit Zura.
__ADS_1
Evan mengangguk pelan, "Nggak apa-apa. Aku baik-baik aja," jawab Evan,
Zura tersenyum dan mengangguk pelan. Setelah selesai berkemas, dia dan Nek Sri langsung pergi ke klinik di antar oleh kang Akmal. Meninggalkan Evan sendirian dirumah. Sebenarnya Zura tidak tega membiarkan Evan dirumah sendiri seperti ini. Namun, dia akan sedikit kesulitan jika membawa Evan juga. Apalagi keadaan Nek Sri yang juga sedang tidak baik.
Hingga setengah jam kemudian, mereka sudah tiba di klinik. Beruntungnya klinik sudah tidak terlalu ramai lagi, meskipun masih tetap ada beberapa orang yang mengantri. Namun, Zura bisa membawa neneknya masuk kedalam untuk di periksa dokter magang itu.
"Heh, harusnya gak perlu lah datang-datang ke klinik, cuma buat susah aja," sindir Anika yang beridiri di depan pintu ruangan dokter. Zura dan Nek Sri hanya memandangnya saja tanpa ingin menimpali perkataan menyakitkan itu. Mereka sudah biasa dengan ucapan gadis angkuh ini.
"Selamat pagi, Nek. Sakit apa?" Diyah langsung membantu Zura merebahkan nek Sri di atas ranjang.
"Badan nenek panas, mbak. Dia juga menggigil kedinginan," jawab Zura.
"Sudah sering?" tanya dokter Daffa pula.
Zura langsung menyingkir saat Daffa mendekat dan mulai memeriksa nek Sri.
"Kadang kalau nenek udah kecapean sering kumat dokter. Bahkan sampai menggigil kuat," ungkap Zura. Dia memandang wajah tampan dokter Daffa. Tampan, bersih dan juga tinggi. Tapi jika di perhatikan tidak setampan Evannya. Evan lebih manly, lebih dingin, dan lebih ... gagah.
"Nenek terkena Malaria, mungkin karena kebersihan lingkungan yang kurang terjaga dan daya tahan tubuhnya yang sudah lemah," ungkap Dokter Daffa.
"Bahaya gak dokter?" tanya Zura begitu cemas.
Dokter Daffa tersenyum tipis dan menggeleng pelan, "Tidak, kalau segera di tangani dengan baik. Untuk sekarang biar nenek istirahat disini dulu ya. Nanti kalau sudah turun demamnya baru boleh dibawa pulang," ujar Dokter Daffa.
"Kapan itu dokter?" tanya Zura. Dia benar-benar mengkhawatirkan Evan yang dia tinggal dirumah seorang diri. Meski dia seorang pria, namun Evan tidak bisa melihat, jika terjadi sesuatu padanya siapa yang akan menolong?
"Jika keadaan nenek sudah membaik, mungkin sore sudah bisa pulang," jawab Dokter Daffa.
Zura menghela nafas pelan dan hanya bisa mengangguk pasrah. Jika sore, mungkin dia akan pulang sebentar nanti untuk melihat Evan dirumah. Perasaan Zura tidak nyaman meninggalkan pria itu seorang diri.
"Nenek istirahat dulu sebentar ya, bawa tidur." ujar dokter Daffa pada Nek Sri.
__ADS_1
"Iya, Dokter." Nek Sri hanya bisa mengangguk pasrah. Tubuhnya sudah lemah dan dia memang butuh istirahat sekarang.
Setelah memeriksakan keadaan Nek Sri, mereka membiarkan wanita tua itu tertidur dengan tangan yang sudah diinfus oleh Daffa.
Kini Zura kembali mengikuti Diyah yang sedang menyiapkan obat-obatan untuk pasien yang datang. Sedangkan Dokter muda itu masih sibuk memeriksa pasien lainnya. Sepertinya dia cukup sibuk sekarang. Terbukti pasien yang tidak pernah ada habisnya. Sepertinya mereka memang sengaja untuk datang kemari. Apalagi dengan keluhan yang tidak terlalu parah.
Ya, apalagi jika bukan karena dokter muda tampan ini.
"Saya bersyukur banget mbak, mbak dan dokter mau mengobati nenek," ucap Zura.
Diyah tersenyum lembut dan mengangguk pelan. "Kamu gak usah khawatir, ini kan klinik umum. Semua bebas mau berobat disini," ungkap Zura.
"Tapikan mbak tahu sendiri bagaimana saya dan Nenek dimusuhi warga disini," Zura berucap dengan sedikit berbisik.
Namun, perawat cantik itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan. "Itu urusan mereka dengan kamu, sedangkan saya, tugas saya disini melayani siapa saja yang datang," jawab Diyah.
"Terima kasih banyak ya, mbak. Mbak baik banget," ucap Zura dengan mata yang berkaca-kaca. Ya, dia merasa hanya kang Akmal dan Diyah saja yang begitu baik padanya. Selebihnya hanya menganggap Zura dan Neneknya bagai sampah yang begitu hina.
Diyah hanya tersenyum dan mengusap lengan Zura dengan lembut. Dan setelah itu dia kembali membantu Dokter Daffa untuk melayani pasien yang lainnya.
Sudah hampir tengah hari, dan Zura masih berada di klinik. Entah kenapa perasaannya selalu saja mengingat Evan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melihat pria itu.
Zura menitipkan Nek Sri pada kang Akmal. Sedangkan dia pulang sendiri kerumah.
Hari sudah siang, dan Evan pasti belum makan. Itu yang membuat Zura begitu khawatir. Dia berjalan kerumah dengan cepat. Bahkan tanpa beristirahat sama sekali. Hingga tidak lama kemudian, dia tiba di rumah papan kecil mereka.
"Van!" seru Zura sembari masuk kedalam rumah. Rumah terlihat sepi, entah dimana pria itu berada. Apa dikamarnya?
"Evan!" panggil Zura lagi. Dia masuk kedalam kamar Evan, namun tidak dia temukan pria itu disana. Hingga akhirnya Zura memutuskan untuk pergi ke belakang rumah, perasaannya benar-benar tidak enak sekarang. Dan benar saja. ketika tiba dibelakang rumah, dia langsung terkejut ketika melihat pria itu.
"Astaga Evan!"
__ADS_1