Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Secercah Memori


__ADS_3

Zura tersenyum manis saat seorang gadis mendekat kearahnya. Diyah, dia datang dengan se cup air lemon ditangannya. Zura tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Diyah disini. Perawat baik hati yang sudah mau membantu Zura banyak hal.


"Mbak Diyah disini juga," sapa Zura.


Gadis manis itu mengangguk pelan, dia melirik kearah Evan sejenak dan kembali lagi memandang kearah Zura.


"Iya, kebetulan baru malam ini sempat. Seharusnya ingin dua hari yang lalu, tapi pasien di klinik cukup banyak," jawab Diyah.


Diyah kembali memandang kearah Evan yang hanya diam dan mendengarkan mereka. "Kamu sama siapa? dia?" tanya Diyah sembari menunjuk Evan.


Zura tersenyum dan mengangguk pelan. Dia meraih tangan Evan dan merangkulnya dengan lembut. "Iya mbak, dia Evan. Mbak pasti tahu lah gosip yang sering disebut mbak Anika," jawab Zura sembari mengenalkan Evan pada Diyah.


Diyah mengangguk mengerti. Namun, pandangan matanya selalu memandang pada Evan, bukan karena wajah Evan yang tampan dan menawan, hanya saja pandangan mata Evan yang tidak fokus dan nampak kosong, itu yang menjadi fokus Diyah sejak tadi.


"Apa dia?" Diyah tidak berani melanjutkan ucapannya, dia takut Zura dan lelaki ini tersinggung. Namun, Zura malah tersenyum dan mengangguk pelan.


"Iya mbak, Evan nggak bisa melihat. Kecelakaan hari itu membuat dia buta. Mbak lupa ya, kalau mbak sendiri yang bilang kalau matanya cedera waktu itu," ungkap Zura.


Diyah nampak terdiam sesaat, hingga beberapa detik kemudian dia langsung terkesiap dan tersenyum getir. Bahkan dia sampai menepuk dahinya sekilas karena dia baru mengingat tentang lelaki ini.


"Ya ampun Zura, maaf. Aku benar-benar lupa kalau aku pernah merawat dia dulu. Aku terlalu sibuk dan memang cepat lupa. Aku kira kalau dia udah ketemu sama keluarganya," jawab Diyah.


Zura menggeleng pelan, " belum mbak, Evan malah lupa ingatan. Jadi saya sama sekali gak bisa cari tahu atau menghubungi keluarganya," ucap Zura..


"Ya ampun, ini sudah lama sekali. Keluarganya pasti khawatir," Diyah memandang Evan dengan perasaan yang iba.


"Kamu dokter?" tanya Evan tiba-tiba. Sejak tadi dia hanya diam dan mendengarkan pembicaraan kedua gadis ini. Namun, ketika Zura berkata jika Diyah juga pernah merawatnya, Evan jadi ingin tahu satu hal.


"Bukan, aku hanya perawat yang bertugas di klinik itu," jawab Diyah.


"Iya, Van. Dia mbak Diyah yang pernah ngerawat kamu juga sewaktu nggak sadar dulu," sahut Zura pula.


"Itukan memang udah tugas aku Ra. Tapi aku gak nyangka banget kalau dia bisa sehat seperti sekarang, bahkan hanya dengan perawatan seadanya dirumah," ucap Diyah.

__ADS_1


Zura tersenyum getir memandang Evan yang terlihat menghela nafas panjang.


"Kamu kan perawat, apa kamu tidak bisa membuat ingatan ku kembali?" tanya Evan.


Zura kembali menoleh pada Diyah. Kali ini gadis itu nampak menggeleng lemah. "Aku tidak bisa, aku cuma perawat, bukan dokter. Lagi pula amnesia juga tidak bisa sembuh hanya dengan obat-obatan saja. Itu harus menjalani operasi dan juga terapi," ungkap Diyah.


Evan langsung tertunduk lesu mendengar itu. Operasi dan terapi? bagaimana mungkin bisa dia lakukan jika untuk makan saja Zura dan neneknya sudah kesusahan. Tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Dan jika pun dia sudah menemukan keluarganya. Tidak ada kemungkinan juga jika keluarganya punya uang yang banyak. Jika keluarga Evan juga orang miskin, bagaimana?


Apa selamanya dia akan buta dan juga lupa ingatan? Ah hidupnya memang menyedihkan sekali.


"Gak ada cara lain ya mbak?" tanya Zura.


Diyah menggeleng pelan, " sebenarnya untuk beberapa kasus, pasien amnesia bisa diajak mengingat kenangan-kenangan masa lalunya dengan mendatangi tempat-tempat kenangan atau berkumpul dengan anggota keluarga dan juga sahabat dekat. Dengan begitu saja memorinya pasti akan sedikit demi sedikit bisa pulih. Tapi untuk kasus Evan, ini sedikit sulit karena dia ... tidak bisa melihat," ungkap Diyah panjang lebar.


Evan menggeleng pelan dan tersenyum getir mendengar itu. Namun, usapan lembut tangan Zura di lengannya membuat Evan merasa tenang.


"Nggak apa-apa. Aku yakin nanti suatu saat kamu pasti bisa sembuh," ucap Zura.


"Iya," jawab Evan begitu singkat.


"Wah terima kasih, mbak," ucap Zura terlihat senang.


"Jangan berterima kasih sekarang. Ini juga terlambat, seharusnya sudah sejak dulu. Tapi karena kesibukan, aku jadi lupa," jawab Diyah.


Zura tertawa kecil mendengar itu. " Iya gak apa-apa, saya juga ngerti kok mbak. Saya mau minta tolong juga takut waktu itu. Mbak tahu sendirilah bagaimana kami di desa itu," ungkap Zura.


Diyah tersenyum tipis dan menggeleng pelan, dia juga tidak menyangka jika lelaki yang digosipkan orang-orang selama ini adalah Evan. Dia sudah sering mendengar jika Zura kumpul kebo dan menyimpan lelaki dirumahnya. Awalnya Diyah juga berpikir jika Zura memang sengaja. Dia benar-benar melupakan kalau lelaki itu adalah lelaki malang yang kini buta dan amnesia. Wajar, jika Zura menempatkan lelaki ini dirumahnya.


Zura dan Nek Sri adalah orang baik. Dan sekarang, Diyah percaya itu.


"Ah, kita jadi membahas hal itu disini. Padahal kemari untuk bersenang-senang," ucapan Zura membuat Diyah langsung tertawa dan kembali memandang ke sekitar.


"kamu benar juga, ya ampun. Maaf ya, aku juga lupa lagi," sahut Diyah.

__ADS_1


"Mbak memang pelupa, ya," canda Zura. Mereka berdua kembali tertawa. Sedangkan Evan hanya bisa terdiam, karena mendengar suara tawa Zura saja sudah cukup baik untuknya.


"Oh iya, mbak sama siapa kemari?" tanya Zura. Dia merangkul kembali lengan Evan dan berjalan masuk kearea pasar malam itu.


"Aku sama dokter Daffa, tadi dia pamit ke kamar mandi. Tapi sampai sekarang belum kembali lagi. Apa dia nyasar ya?" gumam Diyah.


"Duh, gawat mbak. Dokter Daffa kan belum tahu daerah sini. Pasar malam ini lumayan besar, nanti dia bingung cari mbak lagi," sahut Zura pula.


Kini Diyah yang nampak panik, "kamu benar juga. Yasudah, aku permisi cari dia dulu. Nanti kita ketemu di dalam aja, siapa tahu dokter Daffa juga bisa bantu masalah Evan," ujar Diyah.


Zura langsung tersenyum senang mendengar itu. "Oke mbak, kami nunggu di dalam ya," jawab Zura.


Diyah mengangguk, dan akhirnya dia langsung pergi meninggalkan Zura dan Evan untuk mencari dimana keberadaan Daffa.


Sedangkan Zura membawa Evan masuk kedalam area pasar malam itu.


"Dokter Daffa itu, dokter relawan yang kamu ceritain waktu itu?" tanya Evan di sela-sela langkah kaki mereka.


"Iya, dia masih muda. Kata mbak Diyah dia masih umur 21 tahun. Masih sekolah di kedokteran juga," ungkap Zura. Matanya mengedar kesegala arah, memandangi berbagai wahana permainan yang ada di sana.


"Baik sekali dia mau menjadi relawan disini," ucap Evan. Dan ucapan Evan itu membuat Zura mengangguk pelan.


"Iya, baik banget emang. Kalau gak salah namanya, Daffa Aditya Bagaskara," jawab Zura.


Namun, jawaban Zura itu membuat langkah Evan langsung terhenti.


"Siapa?" tanyanya kembali.


"Daffa Adtya Bagaskara, dia dari Jakarta,"


Evan terdiam, mendengar nama itu dan nama kota itu disebut, rasanya seperti tidak asing. Ada sekelabat memori yang membuat kepalanya menjadi pusing sekarang.


Daffa? Jakarta?

__ADS_1


Apa itu ada hubungannya dengan dia?


m


__ADS_2