
Debar jantung Zura serasa berdenyut nyeri seiring dengan langkah kaki Vanno yang menjauh. Zura masih mematung dengan bunga tulip di tangannya. Dia berbalik dan memandang Vanno yang ternyata berhenti dan berpapasan dengan seorang wanita cantik, sangat cantik dan bahkan sangat berkilau.
"Kamu dari mana, saya menunggu berkas itu sekarang. Ini sudah sangat sore," suara gerutuan Vanno membuat Zura semakin membatu.
Suara itu, ya suara merdu namun tegas itu adalah suara Evan yang Zura kenal. Berarti benar ini Evan? Ya Tuhan, Zura benar-benar tidak menyangka jika Evan sudah sembuh. Dia sudah bisa melihat kembali, dia juga pasti sudah bisa mengingat lagi. Zura langsung tersenyum haru melihat ini. Evan nya yang malang kini sudah kembali. Kembali menjadi seorang pria yang sangat tampan dan nampak begitu hebat.
Zura mengusap air matanya dengan cepat, dia langsung membalikkan tubuhnya saat Vanno juga membalikkan tubuh menghadap ke arahnya. Entah kenapa rasanya Zura jadi malu dan begitu ragu jika Vanno tahu dia ada di sini. Rasa rindu yang selama ini terpendam kalah dengan rasa ragu dan takut, dia takut untuk menyapa lebih dulu. Zura takut jika Vanno tidak lagi mengenalinya.
'Aku pasti bisa menemukanmu, meskipun aku tidak bisa melihat tapi aku hafal aroma tubuhmu,'
Perkataan yang pernah Vanno ucapkan dulu kembali terngiang di kepala Zura. Membuat air mata lagi-lagi menetes di wajahnya. Dia menggeleng pelan, dengan cepat kembali menghapus air mata itu. Sudahlah, cukup melihat Evan saja Zura sudah begitu bahagia. Setidaknya dia bisa melepaskan rasa rindu yang selama ini selalu menjadi beban di hati. Meskipun rasanya tetap saja sakit. Rasa rindu dan hati yang ingin memeluk membuat Zura harus bisa menahan air mata.
Bukankah sejak dulu selalu seperti ini, biarkan Zura yang melihat, biarkan Zura yang memandang. Vanno tak perlu tahu, apalagi sekarang Zura bisa lihat jika Vanno sudah kembali menjadi seorang pria yang hebat dan luar biasa.
Zura mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu, namun suara Vanno kembali membuat dia mematung.
"Hei kau!"
Zura membatu di tempatnya, apalagi ketika dia mendengar suara langkah kaki Vanno yang semakin mendekat. Namun, suara seorang wanita membuat langkah Vanno beralih, dan malah memalingkan wajahnya kearah wanita cantik itu yang tidak lain adalah Zoya.
Melihat kesempatan itu Zura langsung pergi dari sana, bahkan dia berjalan dengan cepat dan tidak ingin lagi memandang ke belakang. Meninggalkan Vanno yang sedang berbicara dengan Zoya.
"Tuan mau kemana? Bukankah kita sudah harus mengerjakan laporan ini sekarang?" tanya Zoya.
Vanno nampak menghela nafas dan langsung mengangguk pelan, dia dan Zoya kembali berjalan menuju ke dalam lift. Namun, sesekali mata Vanno terus memandang ke arah ruangan tempat gadis pembawa bunga itu masuk.
__ADS_1
"Tuan melihat apa?" tanya Zoya.
Vanno menggeleng pelan, "tidak ada," jawabnya. Meskipun sebenarnya entah kenapa perasaannya terasa tidak nyaman saat ini.
Lagi dan lagi untuk kesekian kalinya dia mencium aroma tubuh Zura, aroma vanilla yang selalu membuatnya tenang. Bahkan dia merasa untuk beberapa saat tadi dia seperti merasakan kehadiran Zura. Ya, seperti ada Zura di dekatnya. Zura yang selalu dia cari selama ini.
Tapi, apa itu bukan hanya halusinasi Vanno lagi? Tidakkah cukup Zoya yang memiliki aroma tubuh Zura, kenapa sekarang harus gadis pembawa bunga itu?
Vanno langsung memijat kepalanya yang terasa pusing. Sepertinya karena sudah setiap hari berkutat dengan pekerjaan dan juga pikiran yang selalu mengingat Zura, membuat Vanno sudah ingin gila saja. Hingga membuat setiap wanita yang dia jumpai membuat dia merasa jika itu adalah Zura.
Jika wanita tadi adalah Zura, tidak mungkin jika dia tidak menyapa Vanno kan? Tidak mungkin dia hanya diam dan memandang Vanno seperti itu?
Ah, Zura, untuk yang kesekian kali namamu membuat hati Vanno merasa tidak tenang.
...
"Hei, Zura!" seruan Akmal membuat Zura sedikit terkesiap. Dia langsung menoleh dan memandang Akmal yang baru datang dengan berbagai kawat di tangannya.
"Kenapa? Kok kayak habis nangis begitu?" tanya Akmal. Dia memandang wajah Zura yang nampak berbeda, apalagi wajahnya masih terasa lengket dan sembab. Bahkan matanya pun masih terlihat memerah.
"Mbak Zura kayaknya habis nangis, bang," adu Diko, salah satu karyawan mereka. Masih muda mungkin sekitar 19 tahunan.
Zura langsung berdecak kesal mendengar itu, "mana ada," ucapnya.
Akmal langsung melepaskan kawat yang dia pegang ke atas lantai, dan kembali menoleh kearah Zura. "Hei, jangan bohong. Nangis kenapa? siapa yang udah jahatin kamu?' tanya Akmal, dia bahkan menarik tangan Zura untuk menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Nggak ada yang buat Zura nangis kok, kang. Zura memang lagi pengen nangis aja. Zura ngerasa terharu bisa kerja di sini," kilah Zura.
Akmal memandang Zura dengan mata yang menelisik. " Bener?" tanyanya.
Zura mengangguk pelan, "Beneran, kok. Lagian siapa yang berani buat Zura nangis," ucap Zura pula.
"Kamu kan memang sering nangis kalau lagi ingat Evan," ledek Akmal.
Zura langsung mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajah yang kembali ingin menangis. Tentu saja itu membuat Akmal semakin bingung melihat Zura.
"Nah itu, kenapa lagi juga malah mau nangis. Jangan-jangan memang lagi ingat dia?" tebak Akmal.
Zura menghela nafas dan mengangguk pelan, tangannya kembali memasukkan bunga-bunga tulip yang sejak tadi dia pegang ke dalam vas.
"Udah, untuk saat ini fokus dulu ya. Ini pekerjaan pertama kita, jangan sampai buat Mas Aldi kecewa. Hasil akhirnya ada di tangan kamu lo," ujar Akmal.
"Iya, kang," jawab Zura dengan pasrah.
Akmal tersenyum tipis sembari mengusap bahu Zura dengan lembut, "semangat," ujarnya lagi.
Zura hanya mengangguk dan tersenyum saja. Dia memang harus bisa fokus saat ini. Untuk beberapa waktu lupakan tentang Evan. Zura harus bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Dia harus membuktikan jika dia bisa untuk maju. Zura harus berkaca dari Evan, lelaki itu terlihat seperti orang kaya. Jika Zura ingin menyapanya, Zura harus sadar diri dulu. Jangan sampai dia membuat Evan malu dan malah tidak ingin lagi mengenalnya.
Ya, Zura harus bisa sukses dulu untuk bisa bertemu dengan Evan. Mungkin dengan begitu dia tidak akan lagi ragu untuk menyapa lelaki itu. Lelaki yang sangat Zura rindukan.
__ADS_1
'Sekarang aku sudah tahu kamu ada di sini, Van. Kamu tampan sekali, kamu sudah menjadi diri kamu yang sebenarnya. Tunggu sampai aku berani untuk menyapamu ya. Rasanya untuk saat ini aku masih ragu, meskipun hatiku sungguh merindu,'