Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Kerumah Uncle Arya


__ADS_3

Zura memarkirkan motornya di parkiran minimarket yang dia datangi. Setelah memastikan semuanya aman, Zura langsung berjalan masuk. Dan benar saja di depan sana sudah ada Zeze yang menunggu dia.


"Nona mau belanja juga?" tanya Zura.


Nona muda itu nampak menghela nafas dan mengangguk pelan, namun dengan wajah yang terlihat malas. Meski sudah memiliki dua anak, tapi saudara kembar Vanno ini terlihat selalu cantik dan muda saja. Bahkan, mereka terlihat seumuran meski Zeze lebih tua dari Zura.


"Aku mau minta bantuan kamu, Ra," ucap Zeze.


"Bantuan saya?" tanya Zura bingung. Mereka berjalan bersama-sama masuk ke dalam minimarket itu.


Zeze mengangguk pelan, "Iya, kamu tahu, suamiku yang paling tampan dan paling menyebalkan di dunia itu minta aku membuatkan sesuatu. Menyebalkan sekali bukan, padahal dia tahu aku tidak bisa memasak," ungkap Zeze begitu cepat.


Zura bahkan sampai meringis mendengar itu.


"Kan wajar dia minta, Nona istrinya," jawab Zura dengan polos. Namun, Zeze malah berdecak kesal.


"Masalahnya ibu mertuaku sedang tidak di rumah, dia melihat keponakan Zev yang baru lahiran. Jadi aku tidak tahu minta bantuan siapa untuk memasak. Mommy di rumah juga sedang tidak enak badan. Bagaimana mungkin aku memasak sendiri," jawab Zeze.


"Memangnya Nona mau memasak apa?" tanya Zura. Mereka berjalan menuju tempat sayuran dan juga bahan masakan yang lain.


"Zev mau makan steak home made, dan juga desert buah," jawab Zeze.


"Yasudah, saya bantu. Tapi kita masak dimana?" tanya Zura.


"Ya di rumah ku lah, dimana lagi. Kebetulan di rumah mertua ku sedang sepi. Kita di sana saja," ujar Zeze.


Zura mengangguk pelan.


"Eh tapi jangan deh," seru Zeze kembali dan kali ini membuat Zura kembali terkejut. Dia memandang Zeze dengan bingung.


"Di rumah uncle Aryo saja, sekalian kamu bertamu kesana. Kamu belum pernah kan kerumah uncle," ujar Zeze kembali.


"Ayah Dokter Daffa?" tanya Zura.


Zeze langsung mengangguk dengan cepat. "Iya, aunty Pel juga bisa membantu kita masak. Nah ide yang bagus, kenapa aku tidak kepikiran dari tadi ya, ini pasti gara-gara Zev, aku jadi panik," gerutu Zeze seorang diri.


Zura langsung meringis dan menggaruk tengkuknya sejenak. Terkadang dia benar-benar heran, Vanno lebih pendiam dan dingin, tapi kenapa Zeze malah sebaliknya?


"Lalu dimana anak-anak Nona?" tanya Zura


"Di bawa mertuaku, mereka tidak akan bisa berpisah lama dengan kedua bayiku itu. Aku sudah seperti pacaran lagi bersama Zev sekarang," jawab Zeze.


Zura hanya tersenyum saja dan mulai memilih sayuran yang mereka butuhkan. Sembari memilih lagi-lagi pikirannya tertuju pada nasibnya yang dia pikir begitu malang.


Andai saja dia orang berada, atau sepaling tidak dia mempunyai orang tua yang lengkap. Meski tidak kaya, tapi Zura selalu berharap dia lahir dari keluarga baik-baik, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Setiap hari hanya di hantui oleh rasa takut dan juga gelisah. Apalagi jika mengenangkan tentang hubungannya dengan Vanno.


Sungguh, Zura benar-benar malu. Bagaikan langit dan bumi, sudah tahu berbeda tapi masih saja berharap untuk bersatu. Bagaimana mungkin? Lihat saja Zeze, dia memiliki suami yang setara dengan keluarga Adiputra. Jelas saja Zura tidak ada apa-apanya jika ingin menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Hei, kenapa malah melamun? Ayo yang mana ini sayurannya?" tanya Zeze.


Tentu saja perkataan Zeze membuat Zura sedikit terkesiap. Dia tersenyum canggung dan kembali memilih sayuran dan bahan masakan lain yang sekiranya diperlukan. Karena usulan dari Zeze akhirnya pagi itu Zura jadi membatalkan niatnya yang ingin berbelanja. Mereka malah pergi ke rumah uncle Arya.


Ingin menolak, tapi Zura merasa tidak enak. Hingga akhirnya mau tidak mau setelah selesai berbelanja mereka langsung pergi ke rumah orang tua Dokter Daffa yang Zura kenal.


Masih seperti tadi, Zura menggunakan motor dan Zeze menggunakan mobil karena dia membawa barang belanjaan mereka. Tidak jauh dari tempat itu, setengah jam kemudian Zura tiba di depan sebuah rumah mewah yang nampak asri dan banyak di tumbuhi oleh bunga-bunga mawar yang cukup segar dan beraneka warna. Sepertinya ibu dokter Daffa memang penyuka bunga.

__ADS_1


"Ayo, Ra," ajak Zeze.


Zura mengangguk, dia langsung membantu supir Zeze membawakan belanjaan mereka dan langsung masuk ke dalam rumah mewah itu. Meski tidak semewah rumah Vanno, tapi rumah ini juga cukup besar.


"Aunty pel!" Zeze langsung berteriak dengan kencang, bahkan Zura sampai dibuat terkejut karena mendengar suaranya.


"Aunty! Zeze datang!" teriak Zeze kembali.


Zura ingin menegur, tapi lagi-lagi dia tidak berani. Mungkin saja Zeze memang sudah terbiasa seperti itu. Dia cukup bar-bar padahal dia memiliki suami yang tidak jauh berbeda dari Vanno. Dingin dan ketus.


"Zeze, kamu datang, nak," sapa seorang wanita cantik dari dalam ruang tengah. Terlihat sederhana namun tetap cantik di usia yang tidak muda lagi.


"Aunty, sudah lama Zeze tidak main kemari," sapa Zeze yang langsung memeluk Pelangi, istri uncle Arya. Nona muda ini terlihat ramah sekali, dan sepertinya dia memang sudah dekat dengan keluarga ini.


"Iya, aunty mengerti. Kamu kan sudah punya tiga bayi sekarang," ucap Pelangi.


"Iya, tapi bayi besar lebih merepotkan dari pada bayi kecil," jawab Zeze. Pelangi langsung tertawa mendengar itu. Kini dia langsung menoleh ke arah Zura, bahkan dia memandang Zura dengan bingung.


"Oh, ini Zura. Teman kak Vanno yang sering di ceritakan Mommy, aunty," ucap Zeze yang langsung memperkenalkan Zura pada Pelangi.


"Oh, Zura. Ya ampun, kenapa baru main sekarang. Kedua Nona dan tuan muda itu pasti sibuk sekali sampai tidak ingin memperkenalkan kamu sama aunty," sapa Pelangi.


Zura langsung tersenyum simpul mendengar itu, "halo aunty, maaf, Zura juga masih sibuk di toko bunga," jawab Zura.


"Iya, aunty mengerti. Sebenarnya aunty juga sudah lama ingin main kesana, tapi kakek dan nenek Daffa sedang sakit jadi tidak bisa pergi kemana-mana," jawab Pelangi.


"Ayo kita masuk, kalian bawa apa sih?" tanya Pelangi yang langsung merangkul lengan Zura dan Zeze bersamaan.


"Zev minta dibuatkan makanan untuk makan siang, aunty. Jadi Zeze kemari mau minta bantuan aunty. Tadi juga belanja di bantu sama Zura," jawab Zeze.


"Bagaimana mau memasak. Mommy Zea tidak boleh Zeze ke dapur," jawab Zeze.


"Dia pasti takut dapurnya meledak sayang," ledek Pelangi. Hingga tanpa sengaja Zura langsung tertawa mendengar itu.


"Ish kamu, Ra, jangan ketawa," seru Zeze kesal.


"Hehe maaf, Nona. Saya tidak bisa menahan," jawab Zura.


"Kamu memang lucu, Ze. Untung saja punya mertua dan suami yang sayang," sahut Pelangi. "Yasudah, langsung saja kita ke dapur. Hari juga sudah siang," ajak Pelangi.


Kedua gadis itu langsung mengangguk pelan, "kamu bisa memasak kan Ra?" kini Pelangi beralih pada Zura.


"Bisa sedikit aunty, hanya saja tidak terlalu pandai," jawab Zura.


"Bohong aunty, kata kak Vanno masakan Zura enak," sahut Zeze.


"Mana ada begitu, Nona," ucap Zura.


Namun, Zeze hanya mendengus saja sedangkan Pelangi malah tertawa kecil.


Mereka berjalan menuju dapur rumah Pelangi. Dimana di sepanjang jalan di setiap sudut rumah pasti Zura bisa melihat banyak bunga-bunga segar yang terpajang indah di sana. Dan semua di dominasi oleh bunga mawar dan bunga tulip. Tiba-tiba Zura jadi mengingat tentang perkataan Vanno beberapa waktu lalu tentang kisah percintaan uncle Arya dan juga Aunty Pel ini.


Bunga tulip adalah bunga favorit mantan kekasih uncle Arya yang sudah tiada, tapi masih di abadikan sampai saat ini. Dan hebatnya aunty Pelangi bisa memadukan antara bunga favoritnya dan juga kenangan milik mantan kekasih suaminya.


Ah, besar sekali hatinya. Jika Zura yang berada di posisi itu, apa dia bisa???

__ADS_1


Ck, kenapa jadi berpikiran kesana? Vanno tidak memiliki mantan, bahkan sekarang Zura yang menjadi pemilik hatinya. Bagaimana mungkin Zura bisa merasakan apa yang dirasakan aunty Pelangi.


"Ibu, ngapain sih ramai banget?"


Tiba-tiba seruan seseorang yang baru masuk keruang dapur itu membuat mereka yang baru tiba langsung menoleh. Zura bahkan langsung mengernyit saat melihat seorang lelaki tampan dengan rambut gondrongnya berdiri dengan setelan yang amat santai.


"Loh ada kak Zeze, tumben dateng. Kembar mana?" tanya lelaki itu.


"Lagi di bawa omanya. Kamu gak kuliah Daf? Kok pucat?" tanya Zeze.


"Iya, gak enak badan aku," jawab lelaki itu. Dia berjalan dan langsung duduk di kursi makan. Tepat di dekat Zura.


Zura masih memandang lelaki itu.


"Dokter Daffa bukan?" tanya Zura, begitu ragu, sebab lelaki ini benar-benar seperti tidak mengenalinya.


"Daffa?" tanya Zeze.


Zura langsung mengerjapkan matanya, dia memandang Zeze dengan bingung. Namun aunty Pel dan putranya langsung tersenyum tipis memandang Zura.


"Dia adik Daffa, nak. Namanya Daffi," ungkap Pelangi.


Zura langsung terperangah mendengar itu. "Loh jadi kembar?" tanya Zura.


Daffi tertawa kecil begitu pula dengan Zeze.


"Iya, mereka kembar. Kayak upin ipin. Yang satu gondrong bar-bar yang satu botak kaleman," jawab Zeze..


Daffi langsung mendengus mendengar itu, "sembarangan banget, nggak nyadar tuh kalau anaknya juga kembar," sahut Daffi kesal.


Zura langsung tersenyum canggung mengetahui hal ini. Pantas saja sewaktu awal dia datang ke ibukota Daffi tidak mengenalnya. Jika dia memang bukan dokter Daffa melainkan adiknya. Astaga, Zura sudah sempat berpikiran negatif.


"Sudahlah, ayo kita mulai memasak saja, hari juga sudah mulai siang. Nanti ajak saja para lelaki itu makan disini. Biar kita masak banyak sekalian, " ujar Aunty Pel.


"Nah, ide bagus aunty," sahut Zeze langsung.


Zura hanya tersenyum saja, dia benar-benar masih begitu canggung jika harus bergabung dengan orang-orang kaya ini. Rasanya tidak nyaman sekali, apalagi ketika mengingat statusnya yang hanya beruntung karena pernah menyelamatkan Vanno.


Jika tidak, apa mungkin dia akan di anggap?


drrt drrt


Tiba-tiba ponsel Zeze langsung berdering di dalam tasnya, membuat dia langsung berdecak kesal. "Ini pasti bayi besar," gumam Zeze sembari meraih ponsel itu.


Namun, ketika sudah dilihat ternyata yang menghubunginya bukanlah Zev, melainkan ... Vanno.


"Kak Vanno," gumam Zeze.


Semua orang terdiam, mereka mulai melakukan kegiatan masing-masing. Aunty Pel berjalan menuju meja kompor sedangkan Zura mengeluarkan barang belanjaan mereka tadi. Hanya Daffa yang tetap duduk dengan lemas di kursinya.


Tiba-tiba ekspresi terkejut Zeze membuat mereka semua langsung menoleh ke arahnya.


"Apa? Mommy masuk rumah sakit?"


...

__ADS_1


Hayo sampai di sini, apa udah ada yang bisa nebak konflik apa yang bakalan terjadi?


__ADS_2