Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Niat Melamar


__ADS_3

'Aku tahu ini berlebihan dan tidak seharusnya, tapi hati dan pikiranku benar-benar berkhianat dan tidak tahu diri untuk terus ingin selalu bersamamu.


Janjimu yang manis, ungkapanmu yang indah, dan harapan yang kamu berikan. Semua membuat aku terlena.' _Azzura


...


Masih di senja yang indah dengan hamparan bunga tulip yang menemani waktu mereka. Seolah tidak ingin melewatkan setiap detik waktu yang ada, Vanno dan Zura benar-benar menghabiskan waktu di sana. Genggaman tangan itu sejak tadi tidak pernah lepas seiring langkah kaki mereka yang terus menyusuri taman bunga itu. Kali ini mereka berada di antara taman bunga tulip dan bunga mawar. Terletak di paling ujung perkebunan.


"Jadi pemilik tempat ini adalah paman kamu?" tanya Zura. Setelah beberapa saat lalu mereka menceritakan tentang asal-usul taman bunga ini.


Vanno mengangguk pelan, "Ya, ayah Daffa. Kamu pasti masih mengingatnya kan," jawab Vanno.


Kali ini Zura yang mengangguk, "iya, dokter Daffa," jawab Zura.


"Sekarang dia sedang menjalani study kedokterannya di Singapura," ungkap Vanno.


"Oh, keren sekali ya," ucap Zura.


"Itu cita-citanya. Dia tidak ingin menjadi pengusaha seperti ayahnya," ungkap Vanno.


Zura tersenyum dan mengangguk. "Tapi aku masih tidak menyangka jika paman kamu bisa berpikiran mempunyai taman bunga ini. Sangat cantik, luas dan benar-benar indah. Ini inspirasi yang sangat menarik," ungkap Zura.


"Kamu tidak tahu kan, kalau tersimpan kisah cinta yang cukup indah tapi juga menyedihkan ketika membangun taman bunga ini," sahut Vanno.


"Benarkah?" tanya Zura. Dia langsung memandang Vanno dengan wajah yang penasaran.


"Mau dengar?" tanya Vanno.


Zura langsung mengangguk dengan cepat, "tentu saja, aku suka cerita romantis," jawab Zura.


Vanno langsung tertawa lucu dan mengusap pucuk kepala Zura dengan lembut.


"Taman bunga ini ada sebelum aku lahir," ucap Vanno.


"Wow, lama sekali," sahut Zura.


"Ya, lebih tepatnya waktu uncle Arya masih muda. Taman bunga ini dia buat sebagai bukti cinta dan permintaan dari kekasihnya," ungkap Vanno. Dia berbicara dengan senyum yang nampak mengembang sempurna.


"Romantisnya, beruntung sekali ibu dokter Daffa," ucap Zura, namun dia langsung mengernyit saat melihat Vanno yang malah menggeleng pelan.

__ADS_1


"Bukan ibu Daffa," ucapnya.


Zura langsung terkejut, " lalu?" tanyanya.


"Mendiang kekasih uncle Arya," jawab Vanno.


Zura langsung terperangah mendengar itu. "Jadi, sudah meninggal?" tanya Zura.


Vanno mengangguk pelan, "Ya, kekasih uncle Arya sekaligus adik dari Daddy ku," jawab Vanno.


Zura mematung mendengar itu, bahkan kini mereka sudah berhenti dan kembali memandangi hamparan bunga tulip yang begitu luas itu.


"Mereka menjalin hubungan sangat lama, saling mencintai bahkan sudah berjanji untuk hidup bersama selamanya. Tapi sayang, sebulan sebelum hari pernikahan itu terjadi, kekasih uncle Arya meninggal karena kecelakaan," ungkap Vanno.


Zura terdiam dengan hati yang ikut mengiba.


"Dan yang lebih parahnya, dia meninggal di saat mereka melakukan fitting gaun pengantin," ucap Vanno lagi.


"Astaga," gumam Zura dengan cepat, entah kenapa hatinya benar-benar miris mendengar cerita ini.


"Aku nggak bisa bayangin gimana hancurnya perasaan uncle kamu waktu itu, Van," ucap Zura. Bahkan hanya dengan membayangkan saja matanya sudah berkaca-kaca.


Vanno mendengus senyum dan mengangguk pelan, "Tentu saja hancur, apalagi taman bunga ini dia buat untuk mahar pernikahan mereka. Dia hampir gila, Ra. Bahkan bertahun-tahun dia bertahan hidup dari rasa sakitnya. Berubah seperti bukan dia lagi, sampai akhirnya dia ketemu sama Ibu Daffa," ungkap Vanno.


"Tentu saja, apalagi kata Mommy, aunty Zelina adalah cinta pertamanya. Mana mungkin dia bisa lupa," jawab Vanno.


"Tapi ibu dokter Daffa juga hebat bisa menyembuhkan luka Uncle kamu," kata Zura pula.


Vanno mendengus senyum dan mengangguk pelan. "Ya, beruntungnya ada dia, jadi uncle bisa sembuh meski aku tahu luka itu gak akan pernah hilang. Cintanya juga masih ada dan tumbuh subur bersama bunga-bunga yang terus dia kembang biakkan sampai saat ini," ungkap Vanno.


"Kisah cinta yang paling romantis yang pernah aku dengar," ucap Zura.


"Romantis, tapi cukup menyedihkan," sahut Vanno. "Apalagi cinta pertama, aku selalu berharap aku akan terus hidup bersama dengan cinta pertamaku," Vanno berucap sembari menoleh ke arah Zura. Memandang gadis itu dengan lekat dan lembut.


"Aku berharap kalau kisah kita akan lebih indah dari pada itu," sahut Vanno.


Zura langsung tersenyum dan mengangguk pelan, meski setiap kali membicarakan hal yang lebih serius dia serasa tidak terlalu yakin.


"Aku selalu berdoa yang terbaik untuk kita, Van," jawab Zura.

__ADS_1


Vanno meraih tangan Zura dan menggamnya dengan lembut. "Aku akan melamar kamu setelah ini,"


Deg


Zura langsung tertegun mendengar itu. "Melamar?" gumamnya.


Vanno mengangguk pelan, "aku gak mau lagi kehilangan kamu, Ra."


"Tapi," Zura langsung terlihat ragu.


"Apa kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Vanno.


Zura tertunduk, dia senang, dia bahagia mendengar ini. Tapi kenapa ada keraguan yang begitu besar di dalam hatinya sekarang?


"Zura," panggil Vanno.


"Tapi status kita beda, Van. Aku ... aku bukan siapa-siapa. Bahkan aku cuma gadis yang gak bernasab. Aku nggak punya ayah, sedangkan kamu. Kamu ..."


"Sssttt..." Vanno langsung membungkam mulut Zura dengan jari tangannya.


"Udah selalu aku bilang kan untuk jangan pernah ungkit tentang status sosial kita. Aku itu cinta kamu, mau bagaimanapun kamu, mau siapapun kamu, mau seberapa buruk pun masa lalu kamu, aku nggak peduli," tegas Vanno tanpa bisa dibantah.


Mata Zura langsung berkaca-kaca mendengar itu. "Evan," lirih Zura.


"Aku hanya mau kamu Zura, tidak ada yang lain," ucap Vanno sembari menarik Zura ke dalam pelukannya.


"Besok aku akan bicarain ini sama Daddy dan Mommy," kata Vanno lagi.


"Tapi, gimana kalau mereka nggak setuju?" tanya Zura.


"Aku pasti akan memperjuangkan kamu, aku janji," jawab Vanno.


Namun, Zura hanya terdiam. Hatinya benar-benar perih jika membayangkan hal itu. Meski dia tahu jika hubungan yang lebih serius itu juga pasti tidak akan mudah. Tidak mungkin keluarga Adiputra akan menerima dia dengan mudah.


Anak dari seorang bekas pelacur, tanpa ayah dan penuh dengan kehinaan. Sangat jauh berbeda dengan Vanno yang memiliki derajat dan kekuasaan yang begitu tinggi. Apa mungkin mereka bisa bersatu? Apa mungkin cinta yang dia miliki bisa meyakinkan keluarga itu?


Apa mungkin semua berjalan sesuai dengan harapannya?


Rasanya ... mustahil bukan? Bagaikan matahari dan bulan, apa mungkin bisa bertemu?

__ADS_1


...


Ah ... mulai siapin tisu yuk!


__ADS_2