
Zura memandang nanar sebuah gedung bertingkat yang sangat mewah dan megah. Sebuah gedung restaurant bintang tujuh yang saat ini akan dia datangi bersama Vanno. Ini adalah kali pertama Zura datang ke tempat semewah ini. Dan tentu saja dia merasa sangat canggung dan gugup.
"Ayo," ajak Vanno seraya menjulurkan tangannya pada Zura.
"Kamu yakin bawa aku ke tempat ini?" tanya Zura.
"Yakinlah, kenapa memangnya. Aku belum pernah kan ajak kamu dinner romantis," jawab Vanno. Dia langsung meraih tangan Zura dan menggenggamnya dengan lembut.
"Jangan pikirkan apapun. Malam ini aku ingin membuat kamu bahagia," ucap Vanno kembali. Dia membawa Zura untuk masuk ke dalam gedung itu. Dimana Zura langsung disambut dengan kemewahan yang tercipta di sana.
"Padahal hanya jalan-jalan ke taman bunga saja aku sudah senang sekali," ucap Zura.
Vanno tersenyum simpul, " aku juga ingin membawa kamu ke tempat seperti ini. Aku ingin memperkenalkan semua keindahan yang ada di ibukota. Seperti kamu yang sudah membawa aku jalan-jalan sewaktu di desa," sahut Vanno.
Zura langsung menahan senyumnya ketika mendengar ucapan Vanno. Dia jadi mengingat tentang kenangan mereka lagi ketika Vanno masih menjadi Evan. Lelaki malang yang Zura selamatkan dari sungai.
"Kamu masih mengingatnya?" tanya Zura.
"Tentu saja, tidak ada satu hal pun yang aku lupakan dari semua kenangan kita. Bahkan aku masih ingat bagaimana paniknya kamu ketika salah satu wahana di sana jatuh," jawab Vanno.
"Ya, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Zura
"Kamu begitu mengkhawatirkan aku, tangisan mu buat aku takut waktu itu," ucap Vanno.
"Bagaimana aku nggak menangis, kamu berada tepat di bawah sana. Jika terjadi sesuatu dengan mu, hidup aku pasti gak akan pernah tenang," ungkap Zura.
Vanno kembali tersenyum mendengar itu. Dia memandang Zura sejenak dengan raut wajah yang penuh kekaguman. "Aku beruntung bertemu dengan kamu," Vanno berucap sembari mencubit gemas hidung Zura.
"Jangan selalu berkata seperti itu, aku yang beruntung bertemu denganmu. Lihat, karena kamu aku bisa ada di tempat mewah seperti ini," bisik Zura.
Vanno langsung mendengus tawa mendengar itu. "Kamu ini, nanti setelah kita menikah kamu akan selalu merasakan semua ini," ucap Vanno.
Zura terdiam, dia memandang Vanno yang nampak serius. Namun, Zura hanya bisa tersenyum dan mengangguk saja.
Menikah? Kenapa rasanya Zura menjadi takut untuk mengharapkan hal itu?
Pandangan mata Zura mengedar, memandangi restauran itu yang memang sangat mewah. Semua arsitektur dan gaya yang dipakai di restaurant ini sangat elegan dan tentunya hanya kalangan atas yang bisa berada di tempat ini. Dan Zura pikir dia akan dibawa Vanno untuk duduk dan makan disini, tapi ternyata mereka berjalan ke arah lift dan masuk ke sana untuk naik ke lantai atas.
__ADS_1
"Kita ke atas?" tanya Zura saat mereka sudah berada di dalam lift.
Vanno mengangguk pelan, "ya, ada kejutan untuk kamu," jawab Vanno. Dia menghadap ke arah Zura, memandangi wajah Zura dan seluruh penampilan kekasihnya itu dengan lekat. Bahkan dengan pandangan mata yang penuh cinta dan kekaguman. Membuat Zura benar-benar canggung di pandang seperti ini.
"Jangan memandangi aku seperti itu," ujar Zura.
Vanno mendengus senyum, bukannya beralih dia malah menarik pinggang Zura hingga merapat ke arahnya. Tangannya mulai terjulur dan mengusap wajah Zura dengan lembut. Membelai wajah cantik itu yang malam ini benar-benar membuat Vanno pangling.
"Bagaimana aku tidak memandangimu seperti ini, Kamu cantik sekali malam ini," puji Vanno.
Wajah Zura langsung merona merah mendengar perkataan Vanno. Membuat Vanno benar-benar gemas sekali. Dia semakin membelai wajah cantik itu dengan penuh perasaan. Perasaan cinta namun juga ada rasa gelisah di dalam hatinya. Ya, gelisah karena sampai hari ini dia belum juga mendapatkan restu dari kedua orang tuanya tentang niatnya untuk melamar Zura. Bahkan Reynand selalu menghindar ketika Vanno ingin membahas tentang hal ini.
Entah bagaimana caranya untuk dia mencari restu orang tuanya. Saat ini yang ada di pikiran Vanno hanyalah bagaimana caranya dia bisa membahagiakan Zura. Seperti Zura yang selalu berusaha untuk membuat dia tersenyum ketika di desa waktu itu.
"Sekarang kamu tutup mata dulu ya," ujar Vanno.
"Kenapa harus tutup mata?" tanya Zura.
"Harus karena aku ingin memberi kamu kejutan," jawab Vanno. Bahkan dia langsung mengeluarkan sebuah kain merah dari balik saku jasnya.
"Kamu tidak akan berbuat macam-macam padaku kan?" tanya Zura saat matanya sudah ditutup oleh Vanno.
"Kamu ini, aku tidak sejahat itu. Walau bagaimanapun cintanya aku ke kamu, aku tidak akan mau meminta hal yang aneh sayang," ucap Vanno.
Zura langsung terkekeh kecil mendengar itu. Entah kenapa pikirannya jadi negatif sekarang. Apalagi ketika Vanno membuat semuanya seperti penuh kejutan seperti ini. Entah apa yang akan dilakukan oleh lelaki ini.
"Ayo aku bantu keluar, jalan hati-hati," ujar Vanno.
"Bagaimana kalau aku tersandung?" tanya Zura di saat mereka sudah akan keluar dari lift.
"Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh, seperti kamu yang selalu menjagaku waktu itu," jawab Vanno.
Zura mendengus senyum, dia terus merangkul lengan Vanno yang membawanya entah kemana. Bahkan cukup jauh mereka berjalan. Zura sudah sangat penasaran sekarang.
"Aku harap kamu suka sayang," ucap Vanno
"Apapun asal bersama kamu, aku pasti suka," jawab Zura.
__ADS_1
Vanno tidak bisa untuk tidak tersenyum, semua jawaban Zura selalu bisa membuat hatinya berdesir hangat. Ya, bukan hanya karena budi baik Zura yang membuat Vanno jatuh hati pada gadis ini, tapi karena semua hal yang ada pada Zura mampu membuat dia jatuh cinta. Jatuh cinta terus dan semakin kuat setiap harinya. Bahkan, dia sangat takut jika harus kehilangan gadis ini. Gadis baik hati yang hadir seperti malaikat cinta untuk seorang Zevanno. Meskipun asal usul Zura penuh dengan derita dan keburukan, namun di mata Vanno, Zura tetap malaikatnya.
Semilir angin dingin langsung menerpa wajah dan tubuh Zura, hingga membuat dia sedikit merinding apalagi dengan gaun malam dengan bahu yang terbuka seperti ini.
"Kita dimana?" tanya Zura.
"Kamu siap? aku buka ya," ucap Vanno.
Zura hanya mengangguk. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar dengan kencang dan dia semakin gugup. Apalagi dengan perlahan Vanno mulai membuka penutup matanya.
"Buka perlahan mata kamu," ujar Vanno.
Zura mulai membuka matanya perlahan-lahan. Awalnya tidak terlalu jelas namun lama kelamaan dia langsung terkejut ketika sudah bisa memandang dengan jelas. Sebuah tempat di atas gedung dengan pemandangan yang sangat cantik.
Sebuah meja makan yang sudah di hias untuk dinner romantis mereka. Bahkan di sana juga ada lilin dan juga bunga mawar yang menjadi pemanis di meja itu. Bukan itu saja, pemandangan malam yang di penuhi oleh bintang semakin membuat suasana menjadi terlihat romantis. Dan ini membuat Zura benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
"Evan," lirihnya.
"Kamu suka?" tanya Vanno yang langsung menarik tangan Zura untuk duduk di meja makan itu.
"Romantis sekali," ucap Zura. Bahkan Vanno dengan sigap menarik kursi untuk Zura duduk. Membuat gadis itu langsung tersenyum simpul.
"Spesial untuk orang yang aku cintai," ucap Vanno. Setelah Zura duduk, Vanno juga langsung duduk di kursinya. Dia mengambil setangkai mawar merah di depannya dan memberikannya pada Zura.
"Aku mencintaimu," ucap Vanno.
Zura langsung tertawa mendengar itu. Namun tangannya juga mengambil bunga dari tangan Vanno.
"Aku juga mencintai kamu," balas Zura
"Siap untuk kejutan lainnya?" tanya Vanno.
"Masih ada lagi?" tanya Zura.
"Masih sayang, tapi sebelum itu kita makan dulu oke. Perutku sudah lapar," ujar Vanno dengan tawa kecilnya. Membuat Zura juga langsung tertawa.
Romantis yang tertunda.
__ADS_1