Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Bertemu Mas Aldi


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk segala aktivitas yang akan kembali di lakukan. Tidak ada kata bosan dan menyerah untuk segala perjuangan yang terjadi di dalam setiap kehidupan. Hari ini, Zura akan memulai kembali untuk merintis usahanya. Pagi-pagi sekali dia sudah membantu Akmal untuk membereskan sisa-sisa ruko mereka yang masih berserakan. Hingga sekarang, ruko itu sudah bersih dan hanya tinggal mendekorasi saja.


Setelah selesai berkemas, Zura juga sudah selesai membersihkan diri. Dia sudah rapi dengan dress bunga-bunga yang nampak sederhana. Rambutnya dia ikat separuh hingga membuat penampilannya cukup manis pagi ini.


"Cantik banget yang mau ketemu mas Aldi," goda Akmal yang juga sudah rapi dengan setelan kemeja kotak-kotaknya. Tubuhnya yang kurus tidak membuat dia terlihat aneh, dia tetap lelaki desa yang manis dengan kulit sawo matangnya.


"Iya dong, kan memang harus rapi. Zura baca di internet, penampilan itu juga menunjang keberhasilan karir lo," sahut Zura.


Akmal tertawa kecil dan langsung mengangguk pelan, "Iya, iya yang sudah pintar. Yuk, kita pergi, aku udah pesan gojek. Panas-panas dikit gak papa ya," ujar Akmal.


"Akang ih, kayak Zura ini gak biasa panas aja. Biasa juga seringnya di kebun," gerutu Zura. Hingga membuat Akmal kembali tertawa.


"Ya kan kamu bilang tadi penampilan kita harus bagus dan keren, sayangnya masih sanggup pesan gojek, belum bisa pesan taksi. Mahal," ucap Akmal.


Kali ini Zura yang tertawa kecil. Mereka berbicara sembari berjalan keluar rumah dimana dua ojek online sudah menunggu mereka disana.


"Itu juga untungnya akang bisa lebih pintar dari Zura mainin ponsel. Kalau nggak gawat kita, gaptek dua-dua," ucap Zura namun sedikit berbisik.


Akmal yang sedang mengunci pintu ruko mereka langsung menahan tawa mendengar itu. "Kalau nggak tahu teknologi jaman sekarang, aku juga nggak berani bawa kamu ke ibukota, Ra. Disini apa-apa serba online. Bisa mati berdiri kita," ungkap Akmal.


Zura hanya tertawa kecil dan mengangguk saja. Ya, nasib orang dari desa yang harus merangkak dan semuanya dimulai dari nol. Beruntungnya Akmal lebih bisa dari Zura tentang hal seperti itu. Maka dari itu selama ini dia terus yang menghandle dan mengurus tentang pelanggan-pelanggan Zura melalui media sosial.


Zura dan Akmal akhirnya pergi kesebuah tempat yang sudah di janjikan oleh Aldi, orang yang akan membantu Zura untuk membangun bisnis toko bungannya. Mereka tidak pernah bertemu, namun Aldi sudah sering melihat banyaknya hasil karya Zura yang cukup bagus untuk dia jadikan peluang bisnis. Dan hari ini adalah hari pertemuan mereka yang pertama.


Sepanjang jalan Zura menikmati perjalanannya. Ibukota cukup macet dan sesak. Beruntungnya mereka memakai motor, jika mobil pasti akan susah untuk tiba tepat waktu.


Meski saat di Kalimantan Zura juga tinggal di kota, tapi tentunya berbeda dengan Jakarta. Disini begitu banyak gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan begitu megah. Zura sampai takjub melihatnya. Apalagi satu gedung yang dia lewati saat ini, kebetulan motor berhenti karena macet parah. Zura bisa melihat gedung tinggi dan begitu megah dengan logo Adidaksa didekat sana. Semua mobil mewah terparkir rapi, bahkan karyawannya juga terlihat keren.


Ah... entah kenapa tiba-tiba Zura jadi mengingat tentang Evannya. Lagi dan lagi, selalu saja ada yang mengingatkan dia dengan lelaki itu. Bahkan Zura juga tidak tahu Evan masih mengingatnya atau tidak.


Zura menghela nafas dalam-dalam. Pandangannya nanar memandang gedung yang mulai mereka lewati lagi. Jika tidak salah ingat Evan juga berasal dari ibukota. Tapi ... dibagian mana? Ibukota juga sangat luas. Bisakah dia bertemu lagi dengan lelaki itu??


Zura rindu sekali.


'Kamu harus selalu menjadi Zura yang kuat ya, apapun yang terjadi,'

__ADS_1


Ucapan Evan selalu terngiang di telinganya. Meski hanya pria asing yang masuk ke kehidupan Zura. Tapi sampai saat ini pria itu tidak bisa Zura lupakan.


"Neng, udah sampai nih. Mau sampai kapan duduk di situ?" suara abang ojek membuat Zura terkejut. Dia langsung menoleh kedepan dimana Akmal yang sudah turun dari atas motor juga.


"Ya ampun, maaf bang. Saya ngelamun, hehe," ucap Zura sembari turun dari atas motor. Entah kenapa dia bisa jadi melamun sepanjang jalan karena mengenang tentang pria yang entah ada dimana itu.


Ternyata mereka sudah tiba di depan sebuah cafe, cukup nyaman untuk tempat nongkrong dan sekedar berbincang.


Setelah membayar, Zura dan Akmal langsung berjalan masuk kedalam resto.


"Oh, itu orangnya Zur," Akmal berucap sembari menunjuk seorang pria yang duduk sendirian di sebuah meja. Dia sedang sibuk memainkan ponselnya hingga tidak lama ponsel Akmal yang berdering. Ternyata lelaki itu menghubungi Akmal.


"Mas, kami disini," ucap Akmal seraya melambaikan tangannya pada Aldi. Dia menarik tangan Zura untuk mendekat kearah Aldi. Seorang lelaki muda mungkin belum genap 30 tahun. Tinggi, putih dan tampan. Dia langsung berdiri dan tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.


"Ya ampun, ternyata ini kalian. Selamat datang, bagaimana perjalanannya?" tanya Aldi sembari menjabat tangan Akmal.


"Lancar, Mas. Gak ada kendala apapun. Ya meskipun Zura mabuk perjalanan," jawab Akmal yang tersenyum menggoda kearah Zura. Membuat lelaki yang bernama Aldi itu juga ikut tersenyum dan kini memandang ke arah Zura.


"Perkenalkan, saya Aldi," kini Aldi menjulurkan tangannya pada Zura.


"Saya Zura, Mas." jawab Zura.


Zura tersenyum simpul dan menggeleng pelan,"Mas Aldi bisa saja," jawab Zura.


"Yasudah, ayo duduk. Saya sudah pesankan kalian makanan dan minuman terbaik di cafe ini. Sebentar lagi datang," ucap Aldi. Pandangan matanya terus saja tertuju pada Zura, membuat Zura sedikit risih sebenarnya.


"Terimakasih ya, Mas. Kami kira kami terlambat tadi," ucap Akmal.


"Nggak dong, lagian kalau terlambat juga wajar. Kalian masih baru di sini. Harusnya saya yang menjemput tadi," ungkap Aldi.


Akmal dan Zura hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Aldi. Lelaki itu begitu ramah dan kelihatan baik. Membuat Akmal dan Zura cukup nyaman disini.


Mereka terdiam ketika pelayan datang dan mengantarkan makanan dan minuman untuk mereka. Semua terlihat enak karena Aldi memang memesankan makanan yang terbaik dari restaurant ini.


"Ayo silahkan dimakan, kita bisa makan sambil mengobrol santai," ujar Aldi.

__ADS_1


"Iya Mas, terima kasih," ucap Zura.


Aldi mengangguk dan tersenyum simpul, "jadi sudah lama kamu belajar merangkai bunga-bunga segar begitu, Zura? Saya lihat dari gambar yang di kirim Akmal rangkaian bunga kamu terlihat bagus dan memiliki nilai tersendiri," tanya Aldi.


"Hanya belajar-belajar sendiri, Mas. Itu juga belum lama. Mungkin baru setahun ini," jawab Zura.


Aldi kembali mengangguk pelan, "tapi kamu sudah seeprti orang yang berpengalaman saja," jawab Aldi.


Zura menjadi tersenyum malu mendengar itu.


"Mulai besok saya akan membantu kamu untuk membuka toko, saya juga akan menanamkan modal di toko kamu jika kamu bersedia, hasil bisa kita bagi dua nanti sebelum modal kembali," ujar Aldi.


"Mas serius?" tanya Zura.


Aldi mengangguk yakin, "ya, anggap saja sebagai investasi." jawabnya.


"Tapi Mas belum melihat kerja saya secara langsung," ucap Zura lagi.


"Saya percaya sama kamu, saya dulu sebenarnya juga sudah ingin membuka sebuah toko bunga bersama dengan tunangan saya, tapi sayang dia lebih dulu pergi sebelum cita-cita kami itu terwujud. Jadi sekarang, selagi ada peluang saya ingin merealisasikan impian saya melalui kamu. Bagaimana? Kita saling menguntungkan bukan?" tawar Aldi.


Zura langsung menoleh kearah Akmal. Lelaki itu nampak mengangguk setuju. Apalagi ini juga cukup bagus untuk mereka yang pemula dan masih memerlukan banyak modal.


"Baiklah, saya setuju. Tapi tetap, saya ingin nama toko bunga itu memakai nama saya," pinta Zura.


Aldi mengangguk pelan, dia masih saja terus memandang kearah Zura, " tentu saja, tidak masalah, Zuan Florist, itu juga bagus," jawab Aldi.


Zura tersenyum senang, "terima kasih banyak, Mas. Semoga kami tidak akan membuat Mas Aldi kecewa," ucap Zura.


"Tentu saja, besok kita akan mulai melihat bunga-bunga yang kamu butuhkan. Ke tamannya langsung, jadi kamu bisa mendapatkan bunga segar setiap harinya," ujar Aldi.


"Wah, itu pasti lebih bagus Ra, selama ini kan kamu sering kesulitan mendapatkan bunga segar," sahut Akmal pula.


Zura mengangguk pelan dan tersenyum pada Akmal. Dia kembali menoleh ke arah Aldi dan bertanya, "apa ada taman bunga yang menyediakan bunga segar dalam jumlah banyak setiap harinya, Mas?" tanya Zura


"Ada, di taman bunga Ze in Florist, kita bisa mendapatkan pasokan bunga dari sana. Kebetulan aku mengenal Pak Rangga, pengelola taman bunga sekaligus kebun bunga itu," jawab Aldi.

__ADS_1


...


Hayo... siapa yang udah gak sabar pengen lihat Zura ketemu sama Vanno? Sabar ya.. next part udah semakin dekat jalan mereka untuk ketemu. Semangat membaca.


__ADS_2