Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Dia Zevanno, Bukan Evan


__ADS_3

Suasana di gedung Adidaksa sudah nampak ramai dengan tamu-tamu yang hadir. Para wartawan pencari berita juga sudah berkumpul sejak pagi di area gedung itu. Hari ini mereka akan meliput acara pelantikan pemimpin perusahaan yang baru. Seorang pebisnis muda yang masih berusia 27 tahun. Walau masih muda, namun tuan besar Adidaksa sudah mempercayakan putranya untuk menggantikan dia memimpin perusahaan. Bukan karena masalah lain, tapi karena Vanno yang dia anggap sudah mampu untuk menjalankan perusahaan dengan baik tanpa campur tangannya lagi.


Jika dulu perusahaan Adidaksa baru akan pindah ahli waris jika pemimpin yang baru sudah berusia 30 tahun dan sudah menikah, maka kini tidak lagi. Reynand tidak ingin hal itu membebani Vanno ataupun dirinya. Bagi Tuan besar Reynand Adiputra itu, berapapun usia putranya sekarang, jika dia sudah mampu maka akan Reynand serahkan saat itu juga. Apalagi Vanno memang sudah dia didik cukup keras sejak kecil untuk menjadi pemimpin yang baik dan menggantikan dia di kejayaan Adidaksa ini.


Berbagai relasi bisnis dan petinggi perusahaan yang mereka undang sudah duduk dengan rapi di dalam aula itu. Uncle Aryo juga sudah ada di sana, Zevandra dan Issa, Bimantara dan Shaka, juga dari perusahaan Gemilang grup yang sudah di wakilkan oleh Abimanyu.


Mereka semua sudah duduk dan akan menyaksikan acara pelantikan ini. Menantikan tuan muda Adiputra bersama tuan Besar yang akan masuk ke dalam aula. Dan tidak lama kemudian, dua orang itu sudah masuk ke dalam. Berjalan dengan wajah datar dan dingin yang sama-sama memiliki aura dan kharisma masing-masing.


Begitu gagah, berwibawa dan juga mempesona. Kilatan kamera langsung menyambut kedatangan mereka bahkan hingga mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan.


Mata Vanno mengedar, memandangi ruangan yang sudah penuh itu. Dia tersenyum tipis saat semua orang yang ada di sana menyapanya. Tapi sayang, mata dan perhatian Vanno tidak terlalu fokus pada tamu undangan yang datang kesana. Tapi dia malah terfokus pada dekorasi sederhana yang ada di dalam sana.


Bunga-bunga tulip putih dan mawar putih yang dihias sedemikian rupa membuat Vanno jadi mengingat tentang gadis pembawa bunga semalam. Ya, setelah acara ini selesai, Vanno sudah berniat untuk mencari dimana keberadaan gadis itu. Dia harus memastikan sesuatu. Gadis itu Zura atau bukan.


Setelah basa-basi sebentar dan kata sambutan dari Reynand Adiputra, kini giliran Vanno yang berdiri gagah di balik mejanya. Memandang ke arah kamera dan para tamu yang ada di sana.


"Selamat pagi semuanya," sapa Vanno pada semua orang yang ada di sana.


"Saya Zevanno Adiputra, mulai hari ini akan menggantikan kedudukan ayah saya untuk memimpin perusahaan Adidaksa. Saya harap, perusahaan ini bisa lebih berjaya dan maju di bawah kepemimpinan saya," ucapnya dengan suara yang begitu lantang dan tegas.


"Terima kasih untuk Daddy yang sudah mempercayakan saya memimpin perusahaan, dan terimakasih untuk rekan semua yang sudah mau membantu memajukan perusahaan ini bersama-sama. Semoga kita bisa selalu bekerja sama dengan baik. Terima kasih," ucap Vanno kembali.


Riuh tepuk tangan langsung terdengar di dalam aula itu. Pandangan kagum dan juga senyuman haru langsung terukir di bibir orang-orang terdekat Vanno.


Apalagi seorang gadis yang kini sedang menonton siaran langsung Vanno dari sebuah televisi yang ada di toko souvenir yang sedang dia kunjungi. Bahkan tanpa terasa matanya berkaca-kaca memandang Vanno. Bagaimana tidak, jika dia bisa melihat Vanno nampak begitu gagah di sana, begitu tampan dan tentunya sangat hebat dan luar biasa.


"Zura, ternyata benar. Dia kerja di sana, dan yang lebih parah, dia anak dari pemilik perusahaan besar itu," ucap Akmal yang wajahnya juga masih terperangah. Bahkan begitu terkejut melihat Vanno ada di dalam televisi.


"Dia anak orang hebat kan, kang," lirih Zura.

__ADS_1


Akmal memandang Zura dengan pandangan sendu. "Kan gak ada salahnya kalau kamu datangi dia, sekedar menyapa. Anggap saja teman lama," ujar Akmal.


Namun, Zura langsung menggeleng pelan dan memalingkan wajahnya dari televisi besar itu. Bahkan untuk mengakui jika mereka adalah teman lama saja rasanya Zura sudah malu. "Rasanya kayak nggak pantas aja, kang. Zura takut dia nggak kenal lagi sama Zura. Zura takut keluarganya anggap kita datang untuk minta imbalan," ungkap Zura.


Dia tertunduk, memainkan sebuah bunga-bunga plastik di tangannya yang sejak tadi dia pegang.


"Tapi katanya kamu rindu dia," sahut Akmal.


Zura menggeleng pelan, "Zura memang rindu, tapi Zura gak mau rindu Zura ini malah mengusik ketenangan hidup Evan. Dia udah tenang sekarang, dia udah kembali menjadi Tuan muda Zevanno. Dia bukan Evan lagi," jawab Zura.


Akmal menghela nafas, dia mengusap pundak Zura dengan lembut. Sebenarnya dia juga ragu untuk menemui Vanno sekarang. Apalagi ketika melihat betapa berkuasanya lelaki itu. Bahkan dia adalah anak dari pemilik dari sebuah perusahaan besar. Apa jadinya jika mereka datang ke sana? Bisa-bisa mereka di anggap pengemis yang meminta imbalan karena pernah menyelamatkan nyawa putra mereka dulu.


Mungkin bukan sapaan hangat yang akan mereka dapatkan, bagaimana jika hanya uang banyak tapi penuh penghinaan? Bukankah itu menyakitkan? Bukankah seperti itu sifat dan watak orang-orang kaya? Meski tidak tahu, tapi baik Zura dan Akmal sudah cukup trauma. Selama ini hidup mereka sudah penuh dengan penghinaan karena mereka orang yang miskin. Apalagi Zura.


"Sudahlah, yuk kita bayar. Jangan sedih lagi, kalau Tuhan mengizinkan kalian pasti bertemu dengan cara-Nya," ujar Akmal.


Zura hanya mampu mengangguk lemah dan langsung membayar belanjaan yang mereka beli. Beberapa perlengkapan dan aksesoris untuk di toko bunga mereka yang akan mereka buka dua hari lagi. Setelah selesai membayar dan barang-barang itu sudah di masukkan ke dalam mobil. Akmal mengajak Zura untuk mencari makanan, apalagi mereka yang belum sempat sarapan pagi tadi.


"Kang, lihat deh, mirip dokter Daffa," bisik Zura pada Akmal.


"Mana?" tanya Akmal.


"Itu, di sebelah situ. Tapi kok rambutnya udah gondrong ya," ucap Zura.


Akmal langsung menoleh ke arah lelaki itu, dan benar saja ketika di perhatikan lelaki muda itu begitu mirip sekali dengan dokter Daffa. Meski sudah lama sekali, tapi mereka masih kenal dan hafal wajah dokter tampan itu.


"Yuk, kita sapa," ujar Akmal.


"Ah janganlah kang, malu," sahut Zura ragu.

__ADS_1


"Lagian kita mau duduk dimana, udah penuh semua. Cuma di tempat dokter Daffa yang kosong," ucap Akmal.


Zura memperhatikan ke sekelilingnya dan benar saja, semua meja sudah terisi dan hanya di meja dokter Daffa yang masih ada tempat.


Lelaki berambut gondrong itu terlihat sedang asyik bercerita bersama dengan teman perempuannya.


"Tapi jangan sok kenal dulu, kang. Takut dia lupa," ujar Zura.


"Iya, kita pura-pura gak kenal dulu," jawab Akmal.


Zura mengangguk pelan, meski ragu dan tidak mungkin untuk berbalik akhirnya dia mengikuti Akmal mendatangi meja lelaki yang mereka kenal sebagai Daffa itu.


"Permisi, Mas, mbak. Boleh numpang duduk di sini ya," ucap Akmal pada lelaki dan wanita itu.


Mereka mendongak dan memandang Akmal bersama Zura. Membuat jantung Zura sedikit berdebar canggung. "Oh iya, duduk aja," jawab lelaki berambut gondrong itu. Dia terlihat santai dan acuh sekali, bahkan dia langsung memalingkan wajahnya dan bercerita kembali dengan teman wanitanya.


Zura dan Akmal saling pandang getir. Ternyata orang yang mereka kenal memang tidak lagi mengenal mereka. Apa Zura salah orang? Rasanya tidak mungkin. Dia masih ingat wajah tampan dokter Daffa.


"Udah yuk, Daff. Udah siang nih, nanti kita telat," ajak teman wanitanya.


"Oh, oke," jawab lelaki berambut gondrong itu.


Zura memandangi lelaki itu yang berlalu begitu saja, bahkan tidak ada memandangnya sedikitpun.


"Mungkin kita salah orang kali, Ra," ucap Akmal.


"Rasanya gak mungkin kang. Akang dengar sendiri kan wanita itu juga manggilnya, Daff. Berarti bener dia dokter Daffa," ungkap Zura.


"Tapi kok dia gak ingat ya," gumam Akmal.

__ADS_1


"Udah satu tahun setengah, jelas dia lupa kang. Emang kita siapa," jawab Zura dengan lesu.


Akmal hanya bisa tersenyum getir mendengar itu.


__ADS_2