Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Niat Untuk Sebuah Impian


__ADS_3

Hujan masih turun membasahi langit Jakarta malam itu, tapi sudah tidak lagi sederas tadi. Kini sudah mulai mereda dan hanya tinggal menyisakan rasa dingin dan basah. Di dalam mobil, Zoya dan Aldi masih duduk berdua, seakan belum ingin berpisah meski kini mereka sudah tiba di depan sebuah rumah mewah milik keluarga Zoya.


Aldi menghela nafas panjang, dia masih duduk dan memandangi Zoya yang nampak diam sejak tadi. Dia senang, dia bahagia karena gadis yang selama ini dia cari sudah dia temukan. Gadis yang dulunya terlihat sederhana, kini sudah sangat berubah, Zoya sangat cantik, dewasa dan semakin anggun. Sangat jauh berbeda dengan Zoya yang terakhir kali dia temui beberapa tahun yang lalu.


"Jadi kamu tidak ingin mengatakan kenapa kamu tidak lagi menemui ku di taman bunga itu?" tanya Aldi. Masih saja itu yang dia ungkit. Tentang janji yang sampai saat ini masih selalu dia ingat dan dia tunggu.


Zoya tertunduk, wajahnya nampak pucat karena menahan dingin sejak tadi. Tapi rasa dingin itu tidak lagi dia rasakan karena kini hatinya yang serasa harus kembali menahan luka.


"Aku bukan tidak ingin menemui kamu," Zoya mulai berucap. Sedangkan Aldi kini sudah memandangi Zoya dengan lekat, bahkan seluruh wajah cantik itu.


"Tapi karena ... Papa yang tahu tentang hubungan kita," ucap Zoya kembali.


Aldi terdiam.


"Dia melarang aku untuk berhubungan dengan kamu lagi, dia mengancam akan mengeluarkan kamu dari universitas dan memblacklist kamu dari kota ini. Aku tidak mau itu terjadi, aku tidak ingin apa yang kamu impikan hancur begitu saja," ungkap Zoya. Namun manik cokelat itu kini sudah kembali membendung air mata.


Aldi tersenyum getir. "Jadi karena itu kamu tidak ingin mendatangiku lagi?" tanya Aldi.


"Aku harus bagaimana Aldi? Aku anak semata wayang Papa, hanya dia yang aku punya setelah ibu tidak ada. Tidak mungkin aku melawan perkataannya. Aku juga tidak mau melihat kamu gagal. Aku mau kamu sukses," jawab Zoya.


Mereka saling pandang dengan lekat sekarang, penuh perasaan dan penuh dengan beban di hati yang begitu mendalam. Zoya adalah anak dari seorang pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu. Ayahnya, Tuan Mahendra memiliki universitas dan beberapa rumah sakit hingga nama mereka cukup terkenal. Sedangkan Aldi hanyalah seorang lelaki yang tidak memiliki apa-apa. Dia hanya anak rantau yang mencoba peruntungan di ibukota. Jelas, status mereka sangat berbeda.


"Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Aldi.


"Kamu tidak tahu seberapa kuat aku mencoba untuk menahan hatiku agar bisa tetap hidup meski tanpa kamu," ungkap Zoya.


Aldi tersenyum, dia langsung meraih tangan Zoya dan menggenggamnya dengan lembut. "Sekarang aku sudah mulai berdiri sendiri, meski tidak sekaya keluarga kamu, tapi biarkan aku memperjuangkan cinta kita Yaya. Tolong berikan aku kesempatan, aku sudah menunggu lama," pinta Aldi, begitu serius.


"Aldi, kamu serius?" tanya Zoya.


Aldi mengangguk yakin, pandangan mata itu memandang manik mata cokelat Zoya dengan lekat. Masih sama, masih penuh dengan kekaguman, rasa cinta dan rindu yang menggebu. Membuat perasaan yang sudah lama berusaha Zoya kubur kini kembali lagi.


"Kamu mau menikah denganku, bukan?" tanya Aldi.


Setitik air mata Zoya langsung menetes di wajahnya.


"Yaya," panggil Aldi, tangannya mengusap air mata yang menetes di wajah cantik itu.


"Aku sudah berjuang semampuku untuk hidup yang lebih baik, semua karena kamu. Dan kini aku ingin kita menikmatinya bersama-sama," ucap Aldi.

__ADS_1


"Kamu mau menghadapi Papaku? Bagaimana jika dia menolak?" tanya Zoya cukup ragu.


"Aku janji, aku akan berusaha semampu yang aku bisa. Cintaku tidak main-main, Yaya. Aku bersungguh-sungguh," jawab Aldi.


Zoya tersenyum getir dan langsung mengangguk pelan, "dua hari lagi datanglah kerumah. Saat ini Papa masih ada di luar kota," ujar Zoya.


Aldi langsung mengangguk dengan cepat. "Aku pasti datang," jawabnya.


...


Sementara di kediaman Adiputra, suasana rumah saat ini terasa sepi dan begitu hening. Vanno baru saja tiba di rumah setelah sebelumnya dia menghabiskan waktu di toko bunga Zura. Hari hujan dan dia tidak bisa cepat pulang. Lagi-lagi dia merasa jika rumah ini terasa begitu sepi, apalagi jika adiknya sudah pulang ke rumah mertuanya, pasti rumah ini sepi sekali. Karena siapapun tahu jika Zevanya selalu bisa menghidupkan suasana. Apalagi dengan kedua anak kembarnya itu.


Setelah membersihkan diri, Vanno melihat jam yang ternyata masih pukul sembilan malam. Belum terlalu malam dan sepertinya dia ingin meminum air hangat saja. Udara yang dingin membuat tubuhnya sedikit menggigil.


Namun, ketika sudah berada di dapur, Vanno melihat Bu Minah, pelayan rumah mereka yang sedang memasak sesuatu.


"Bu, masak apa?" tanya Vanno.


Bu Minah sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Vanno, " eh Tuan muda, ini buatkan Nyonya bubur kacang hijau. Dari sore belum ada makan," ungkap Bu Minah.


"Momm, apa gak enak badan lagi?" tanya Vanno.


Bu Minah mengangguk pelan, "iya, Tuan. Sore tadi baru pulang periksa sama Tuan besar," jawab Bu Minah. Tangannya sembari menuangkan bubur yang sudah matang itu ke dalam mangkuk.


"Mungkin karena Tuan masih sibuk kerja," sahut Bu Minah.


Vanno menghela nafas, dia langsung meminum air hangatnya dengan cepat. "Udah bu, biar saya saja yang bawa ke kamar Mommy," ujar Vanno.


"Oh, beneran Tuan? Gak apa-apa, biar Ibu bawakan," tolak Bu Minah tidak enak.


"Nggak, sekalian mau lihat keadaan Mommy," jawab Vanno. Bahkan dia langsung merebut nampan yang berisi bubur dan segelas air putih itu dari tangan Bu Minah.


"Yasudah, tuan. Terima kasih," ucap Bu Minah.


Vanno hanya menganggukkan kepalanya saja dan setelah itu langsung pergi meninggalkan Bu Minah di dapur. Dia berjalan perlahan menuju kamar utama orang tuanya. Akhir-akhir ini kesehatan Nara memang sedikit memburuk, dan itu membuat seisi rumah cukup khawatir, apalagi Nara memang memiliki riwayat penyakit yang serius.


Tok tok tok


Vanno mengetuk pintu beberapa kali hingga ketika dia mendengar seruan Reynand dari dalam, barulah Vanno membuka pintu kamar itu. Terlihat kedua orang tuanya masih duduk di atas ranjang besar mereka.

__ADS_1


"Vanno, kamu sudah pulang nak?" sapa Nara. Wajahnya memang terlihat pucat dan itu membuat Vanno bersedih.


"Iya, Mom. Mommy kenapa? Kenapa tidak bilang kalau siang tadi ke rumah sakit?" tanya Vanno. Dia meletakkan nampan bubur itu di atas meja nakas dan langsung menarik kursi yang ada di sana.


"Cuma periksa saja," jawab Nara.


"Lalu apa kata dokter?" tanya Vanno.


Nara terdiam, begitu pula dengan Reynand, membuat Vanno memandang kedua orang tuanya dengan bingung.


"Dad," panggil Vanno.


Reynand menghela nafas sejenak, wajahnya terlihat menyimpan kesedihan, " ginjal Mommy mu bermasalah lagi," jawab Reynand.


Vanno langsung tertegun mendengar itu, dia memandang Nara dengan wajah yang khawatir, "tidak apa-apa. Hanya diminta untuk minum obat rutin, Mommy sudah bisa pulih seperti biasa," ucap Nara dengan senyum tipisnya.


"Benar?" tanya Vanno.


"Iya sayang. Jangan khawatir," ujar Nara.


"Tapi aku yang kahwatir. Kamu tidak boleh sakit lagi, kalau kamu sakit siapa yang akan mengurusku," Reynand berucap sembari meraih mangkuk bubur Nara dan mulai mengaduknya agar dingin.


Nara tersenyum memandang suaminya itu. "Kamu ini, selama ini juga selalu kamu yang mengurusku," ucapnya.


"Kan berbeda sayang, yasudah, sekarang kamu makan dulu," ujar Reynand sembari mulai menyuapkan bubur itu pada istrinya. Membuat Vanno langsung tersenyum simpul. Sejak mereka kecil kedua orang tuanya memang sudah romantis dan terlihat saling mencintai. Apalagi Daddy nya, sangat tidak bisa untuk jauh sedikit saja dari Mommy nya. Kata uncle Aryo, Mommy dan Daddy nya pernah memiliki kisah yang cukup kelam juga. Sayangnya uncle Aryo tidak ingin menceritakan kisah orang tuanya pada mereka.


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini?" tanya Reynand, hingga membuat Vanno sedikit terkesiap.


"Baik, Dad. Tidak ada masalah. Mungkin besok Deni yang akan pergi untuk meninjau lokasi proyek dengan Zev di kota Bandung," ungkap Vanno.


Reynand langsung mengangguk pelan sembari kembali menyuapi istrinya makan.


"Emm... dad, Mom. Ada yang ingin Vanno katakan pada kalian," ucap Vanno. Nada suaranya sedikit ragu. Karena entah kenapa jantungnya malah berdebar sekarang. Padahal hanya ingin menyampaikan niatnya saja.


"Apa?" tanya Reynand.


Nara juga langsung memandang Vanno dengan heran. Tidak pernahnya Vanno seserius ini.


"Vanno berniat untuk melamar Zura menjadi istri Vanno,"

__ADS_1


ting


Sendok yang ada di tangan Reynand seketika langsung terlepas ketika mendengar ucapan putranya.


__ADS_2