
Suasana di kamar orang tua Vanno langsung terasa tegang dan canggung. Untuk beberapa saat tidak ada di antara mereka yang berbicara. Apalagi wajah Tuan besar Reynand yang langsung berubah. Meski raut wajahnya memang sudah selalu terlihat dingin dan datar namun sekarang semakin berubah. Bahkan Nara yang biasanya bersikap tenang juga sedikit terkejut dengan perkataan Vanno barusan.
Mereka tahu bagaimana kedekatan Vanno dengan Azzura, gadis baik hati yang telah menyelamatkan hidup putera mereka. Tapi mereka tidak pernah menyangka jika Vanno akan meminta hal serius seperti ini pada mereka. Selama ini Vanno adalah orang yang sangat jarang bahkan belum pernah terlihat dekat dengan gadis manapun. Mereka berpikir dia akan menjadi lelaki pemilih seperti Reynand dahulu. Tapi nyatanya, putra mereka malah meminta Azzura untuk menjadi calon istrinya. Tentu hal itu mengejutkan mereka.
"Nak, kamu serius?" tanya Nara yang langsung melepas kesunyian yang ada.
Vanno mengangguk pelan, " ya, Vanno serius ingin melamar Azzura menjadi istri Vanno, Mom," jawab Vanno.
Reynand langsung meletakkan mangkuk bubur yang sejak tadi dia pegang ke atas meja. Wajah datarnya memandang Vanno dengan lekat. Hingga membuat Vanno merasa gentar sekarang.
"Jangan karena dia pernah menyelamatkan nyawamu dan kau balas hal itu dengan menikahi dia, Zevanno," ucap Reynand begitu serius.
Vanno terdiam, kali ini mereka saling memandang dengan lekat dan begitu serius. "Apa Daddy tidak suka dengan niat Vanno ini?" tanya Vanno.
"Bukan tidak suka, kau sudah dewasa dan kau berhak menentukan pilihan hidupmu sendiri. Tapi daddy tidak ingin kau menikahi dia hanya untuk membalas kebaikan gadis itu padamu, masih banyak cara yang lain," ujar Reynand.
Namun, Vanno langsung tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Sayangnya Daddy salah," ucapan Vanno membuat kedua orang tuanya langsung memandang dia dengan heran.
"Vanno berniat melamar Zura bukan karena untuk membalas budi. Tapi Vanno melamar Zura sebagai seorang lelaki yang mencintai dia, Dad,"
Deg
Reynand dan Nara langsung tertegun mendengar ungkapan putra mereka. Bahkan Nara langsung memandang suaminya yang nampak menghela nafas berat.
"Vanno ... kau tahu siapa dia, nak?" tanya Reynand. Dia bingung sekarang.
__ADS_1
"Kenapa? Apa karena dia hanya anak yatim piatu dan bukan orang kaya?" tanya Vanno.
Reynand menggeleng pelan, "Vanno, setelah bertemu dengan Zura, Daddy sudah mencari informasi tentang dia. Daddy tidak mempermasalahkan tentang status sosial kita. Hanya saja ..." Reynand terlihat berat untuk mengatakan hal itu.
"Hanya saja apa?" tanya Vanno.
Nara langsung mengusap lengan suaminya dengan lemah.
"Hanya saja dia anak dari seorang pekerja malam," jawab Reynand.
"Dad, yang seperti itu ibunya. Daddy dan Mommy tahu kalau Zura gadis yang baik. Bahkan selama berbulan-bulan Vanno tinggal bersama mereka, tidak pernah sedikitpun Vanno melihat Zura berbuat hal yang aneh. Bahkan ketika dia sampai di ibukota. Dia gadis yang baik," tegas Vanno.
Namun, Reynand dan Nara hanya bisa terdiam. Mereka bingung, mereka tahu Zura memang gadis yang baik. Dia sudah menyelamatkan nyawa putera mereka. Tapi sebagai orang tua mereka juga ingin anak mereka mendapatkan perempuan yang baik. Apalagi sejak dulu keluarga Adiputra memang tidak pernah menjalin hubungan dengan orang sembarangan. Mereka keluarga yang terpandang, keluarga yang terhormat bahkan terkenal dengan nama baik yang begitu tinggi.
Tapi Zura, bukan saja status mereka yang berbeda. Reynand hanya mencemaskan asal usul gadis itu. Dia sudah mencari tahu tentang kehidupan Zura dulunya. Bahkan yang lebih parah, ibunya bukan hanya bekerja sebagai pekerja malam, tapi juga menjadi tangan kanan pemilik club malam tempat para ****** berkumpul.
"Dad, Mom, please. Vanno tahu ini berat untuk di terima. Tapi Vanno benar-benar mencintai Zura dan Vanno ingin menjadikan dia istri Vanno," ucap Vanno lagi.
Reynand ingin menyahut ucapan Vanno, namun Nara langsung menahannya. Dia menggeleng pelan pada Reynand hingga membuat suaminya itu nampak menghela nafas berat.
"Pergilah dulu, kita bicarakan besok hari," ujar Reynand..
"Dad," Vanno terlihat keberatan.
"Nak, masih banyak waktu untuk membicarakan hal ini. Istirahat lah dulu, ya," ujar Nara pula.
__ADS_1
Vanno hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pasrah.
"Baiklah, tapi semoga kalian tidak menghalangi niat Vanno," ucap Vanno pada kedua orang tuanya. Dan setelah mengatakan itu dia langsung keluar dari kamar itu. Meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa saling pandang dengan helaan nafas yang berat.
"Bagaimana mungkin aku bisa menerima gadis itu menjadi menantu kita, sayang?" tanya Reynand. Dia benar-benar bingung sekarang.
"Tapi untuk menolak, aku juga tidak tega Rey. Selama ini Vanno tidak pernah meminta apapun dari kita. Bahkan sejak kecil dia sudah selalu menuruti keinginanmu. Apa kita tega membuat dia bersedih karena harus menentang keinginannya kali ini?" tanya Nara pula.
Reynand tertunduk, dia memijat kepalanya yang terasa berat sekarang. "Kenapa harus gadis itu?"
Nara menghela nafas dan memandang suaminya dengan sedih. Vanno putera mereka satu-satunya, untuk menolak tentu mereka tidak akan sanggup. Tapi menerima, kenapa terasa berat sekali?
...
Sedangkan di dalam kamarnya, Vanno terduduk di depan lukisan wajah Zura yang belum sempat dia berikan pada gadis itu. Lagi-lagi senyum tipis langsung terbit di wajahnya ketika melihat lukisan ini.
Lukisan wajah gadis cantik yang sangat dia cintai. Tidak tahu seberapa dalam dia mencintai gadis itu, tapi Vanno berharap garis takdir mereka bisa bersama sampai selamanya.
Meski sulit untuk mendapatkan restu, tapi Vanno akan tetap memperjuangkan Zura untuk menjadi miliknya. Seperti Zura yang terus mempertahankan kehidupan Vanno hingga dia masih bisa berdiri tegak saat ini.
'Kamu cinta pertamaku, dan aku ingin terus hidup bersamamu Azzura. Bagaimanapun caranya. Hanya kamu dan cuma kamu yang aku cintai. Aku berjanji,' batin Vanno.
Tapi, apakah semudah dia mengucapkan janji?
Tentu tidak!
__ADS_1
...
Jangan lupa tinggalin jejak di setiap babnya guys. Like dan komen kalian membuat semangat untuk author. Thanks for reading