Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Malam Romantis


__ADS_3

Zura benar-benar tidak bisa makan dengan baik, selain suasana yang cukup romantis, pandangan mata Vanno juga membuat dia selalu merasa gugup. Lelaki itu tidak pernah berhenti memandanginya sejak tadi. Bahkan ketika dia sedang makan sekalipun. Meskipun sudah mencoba untuk tenang, tapi tetap saja ada yang berbeda yang membuat Zura malu.


Tatapan Vanno, mata indah itu dan juga raut wajah penuh kekaguman dan cinta itu membuat Zura merasa sedikit melayang. Masih dia ingat dengan jelas jika dulu dia yang selalu memandang Vanno dengan pandangan seperti ini dan tidak pernah merasa bosan. Tapi sekarang, malah gantian Vanno yang memandangnya seperti ini.


"Wajah kamu merah," ucap Vanno.


Zura langsung mengerucutkan bibirnya mendengar itu, "kamu kenapa melihat aku terus, nggak bosan?" tanya Zura.


Vanno menggeleng pelan sembari mengusap mulutnya dengan kain yang tersedia di sana. "Tidak ada kata bosan untuk terus memandang kamu. Bahkan rasanya aku ingin melihat kamu setiap saat, di saat aku membuka mata, dan di saat aku ingin terpejam," jawab Vanno.


Zura mendengus senyum tipis dan juga menyudahi makannya. "Jangan selalu berbicara hal yang manis seperti itu," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Vanno.


"Aku takut aku tidak akan bisa melupakan kamu nantinya," jawab Zura.


Vanno terdiam beberapa saat. Dia semakin memandang Zura dengan lekat. "Apa kamu berniat untuk melupakan aku?" tanya Vanno.


"Tidak mungkin setiap detik kamu terus berada di sisiku kan, wahai Tuan muda Adiputra. Kamu harus bekerja untuk masa depan kita," ucap Zura.


Wajah Vanno yang semula datar kini langsung mendengus senyum dan sedikit memerah. Zura memang selalu bisa membuat moodnya berubah secepat itu.


Tangan Vanno terjulur, dia langsung meraih tangan Zura dan menggenggamnya dengan lembut. "Apapun yang terjadi, aku akan terus memperjuangkan hubungan kita," ucap Vanno.


Dan kali ini Zura yang nampak terdiam, untuk beberapa saat mereka saling pandang dengan lekat. Penuh perasaan yang tidak bisa dijelaskan dan yang pastinya hanya tersimpan di hati mereka masing-masing, bagaimana kegundahan yang mereka rasakan di balik senyuman yang terukir di malam ini.


"Apa Om dan Tante tidak merestui hubungan kita?" tanya Zura. Hatinya langsung terasa perih ketika bertanya tentang hal ini.


Vanno tersenyum, dia mengusap tangan Zura dengan lembut. "Jangan pikirkan apapun, karena apapun yang terjadi nanti aku hanya ingin kamu yang menjadi istriku," jawab Vanno.


"Tapi,"


"Ssstt," Vanno langsung menghentikan ucapan Zura.


"Untuk malam ini, ayo kita nikmati waktu berdua," ajak Vanno. Dia langsung beranjak dan mendekat ke arah Zura.


Zura hanya terdiam, hatinya gelisah, resah dan gundah. Tapi benar apa yang dikatakan oleh Vanno, untuk malam ini biarkan mereka menikmati waktu sebelum besok akan menghadapi hari yang berat. Seberat ujian cinta mereka yang sudah jelas akan terhalang restu.


Siapa yang mau menerima anak dari seorang pelacur? Miskin, tidak ber nasab pula. Jelas dari situ saja seharusnya Zura sudah mengerti betapa beratnya hubungan mereka. Tapi hatinya dengan tidak tahu diri malah terus maju seakan menentang takdir yang sudah tergariskan.


"Aku punya sesuatu untuk kamu, sayang," ucap Vanno. Kini dia suah berdiri di belakang Zura.


"Apa?" tanya Zura.


"Sebentar," ucap Vanno. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah kotak kecil yang berisikan sebuah kalung berlian yang sangat indah. Dengan tenang dan lembut Vanno langsung melingkarkan kalung itu di leher jenjang Zura.


"Kalung spesial yang hanya ada untuk kamu," bisik Vanno di telinga Zura. Hingga nafas hangat dari Vanno langsung terasa dan membuat tengkuk Zura sedikit meremang.


Zura tertunduk, dia meraba kalung itu. Kalung yang tidak terlalu besar, simple dengan batu berlian putih sebagai bandulnya.


"Di bandul itu ada ukiran inisial nama kita berdua, aku sudah menyiapkan ini sejak sebulan yang lalu, semoga kamu suka," ungkap Vanno.

__ADS_1


Zura langsung tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini manis sekali, aku suka. Terima kasih," ucap Zura. Dia mendongak dan memandang Vanno yang tengah tersenyum simpul memandang Zura.


Lelaki itu menarik tangan Zura hingga kini mereka sudah saling berhadapan. Kalung yang Vanno pasangkan memang sangat cocok di leher Zura. Dan dia memang tidak salah memilih.


"Kamu semakin cantik," puji Vanno. Lagi-lagi dia tidak pernah bosan untuk mengatakan hal itu.


"Aku cantik karena kamu," ucap Zura.


"Dan hanya untuk aku kan?" tanya Vanno.


Zura mengangguk dengan cepat, "tentu saja," ucapnya.


Vanno langsung memeluk tubuh Zura. Sangat erat dan begitu hangat. Menikmati aroma Vanila yang selalu membuat dia tenang dan nyaman. Tidak pernah berubah, sejak pertama kali bertemu hingga sekarang, pelukan Zura selalu mampu membuat dunia Vanno baik-baik saja.


"Berjanjilah untuk tidak pergi dariku, Zura," pinta Vanno.


"Aku tidak akan pergi jika bukan kamu yang meminta," jawab Zura.


"Mana mungkin aku meminta kamu untuk pergi. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak ada kamu," kata Vanno kembali. Tangannya masih terus memeluk Zuranya. Menikmati setiap sentuhan hangat dari tangan Zura yang membelai punggungnya.


Mereka berpelukan, dibawah gelapnya malam dan bintang yang bertabur begitu banyak. Bagaikan kunang-kunang malam yang menghiasi langit malam ini.


Sangat cerah, indah dan tentunya seperti hati mereka berdua.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga dirasa sudah puas Vanno langsung melepaskan pelukan mereka. Dia kembali mengusap wajah Zura dengan lembut. "Kamu cantik," pujinya untuk yang kesekian kali. Membuat Zura langsung mendengus senyum dan menggeleng pelan.


Mereka saling memandang dengan lekat, saling mengagumi keindahan masing-masing. Bahkan Zura selalu tidak pernah bosan memandang wajah Vanno. Apalagi Vanno yang sekarang. Sangat jauh berbeda dengan Evannya yang dulu.


"Aku tahu," jawab Vanno.


"Bohong," sahut Zura.


Vanno tertawa kecil dan mencubit gemas hidung Zura. "Meskipun aku tidak bisa melihat waktu itu, tapi aku bisa merasakannya, sayang. Kamu memandangi wajahku, apalagi ketika kita hanya berdua. Duduk di depan rumah menghabiskan malam, di temani bintang seperti ini dan juga sinar rembulan yang cerah. Aku tahu itu, kamu pasti sambil menikmati ketampanan wajahku kan," ungkap Vanno.


Zura menahan senyum dan langsung tertunduk malu, namun Vanno segera menarik dagunya hingga mereka saling berhadapan kembali. "Kamu sudah puas memandangi aku, dan sekarang, biarkan aku yang akan selalu memandangi mu sampai puas, meskipun tidak akan ada puasnya," ucap Vanno.


"Kamu selalu bisa membuat aku salah tingkah," ucap Zura.


"Itu karena kamu yang pemalu," ucap Vanno.


Zura hanya tersenyum saja mendengar itu. Bukan pemalu, hanya saja di pandangi seperti itu pasti membuat siapapun salah tingkah. Apalagi dengan Vanno. Lelaki yang super tampan, berkharisma, dan memiliki aura yang begitu memikat. Siapa yang tidak salah tingkah jika dipandangi terus-menerus.


"Sekarang ayo, kita lihat kejutan selanjutnya," ajak Vanno. Dia langsung menarik tangan Zura ke pinggir gedung. Hingga suasana kota Jakarta malam itu langsung terlihat jelas. Bahkan puncak monas juga terlihat dari sini.


Zura selalu merasa terpukau dengan keindahan ini.


"Cantik sekali dari atas sini," ucap Zura.


"Kamu akan melihat keindahan lain setelah ini," ucap Vanno.


Zura langsung memandang Vanno dengan bingung. Namun lelaki itu hanya tersenyum saja. Hingga beberapa detik kemudian, Zura langsung dibuat terkesiap dengan sebuah suara dentuman yang begitu besar.

__ADS_1


Duarrr


Cletasss


Ledakan kembang api di atas langit malam itu membuat Zura terperangah kaget. Bahkan mulutnya hampir terbuka saat melihat indahnya kembang api yang meledak di atas langit dan membentuk sebuah cahaya yang benar-benar indah.


"Evan... ini indah sekali," gumam Zura begitu takjub.


Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali kembang api besar itu meledak di atas langit. Keindahannya hampir membuat bintang yang bertaburan di atas langit tak lagi terlihat. Cahaya bewarna-warni yang bertebar membuat suasana kota menjadi nampak bergemuruh dalam keindahan.


"Kamu suka sayang?" tanya Vanno.


Zura mendengus senyum, dia langsung memeluk Vanno dengan cepat. "Aku senang, senang sekali, ini sangat indah Evan," ucap Zura


Vanno ikut bahagia melihat kebahagiaan Zura.


Bahkan Zura memandangi pemandangan ini tanpa berkedip sedikitpun. Senyumnya yang lepas terus tersemai di wajahnya yang cantik. Bahkan kilauan kembang api itu membuat wajah Zura semakin bersinar. Dan tidak ada keindahan lain selain wajah Zura di pandangan Vanno.


"Benar-benar indah," ucapnya dengan senyum yang semakin lebar.


Apalagi ketika kembang api yang paling besar di tembakkan ke atas dan membentuk sebuah ukiran love yang cukup besar, membuat Zura benar-benar terperangah tidak percaya.


"Evan..." gumamnya memanggil nama Vanno.


"Aku mencintaimu, Azzura. Sangat mencintaimu." ucap Vanno.


Zura langsung menangis terharu mendengar itu. Dia kembali memandang ke arah Vanno yang kini sudah meraih pinggangnya dan merangkul dia dengan mesra.


"Tetaplah menjadi Zura yang aku cinta," pinta Vanno


Zura mengangguk dengan lelehan air mata yang tidak bisa dia tahan.


"Aku ingin kamu selalu menjadi malaikat di hatiku," ucap Vanno kembali.


"Janji jangan pernah berubah Van, aku hanya punya kamu," pinta Zura.


"Tidak akan sayang, cintaku sampai mati hanya kamu," ucap Vanno.


Dia mengusap wajah Zura dengan lembut, dan langsung mendekatkan wajahnya pada wajah basah itu. Hingga sentuhan hangat di bibir Zura membuat dia langsung memejamkan mata.


Vanno mencium bibir Zura dengan lembut, penuh perasaan dan juga rasa cinta yang begitu besar. Hingga membuat Zura juga terbuai dengan ciuman itu.


Mereka berciuman di bawah kembang api yang masih meledak di atas sana. Untuk sejenak mereka melupakan rasa gundah di hati akan hubungan mereka yang belum tahu akan seperti apa ujungnya. Tapi untuk sekarang, biarkan mereka menikmati waktu berdua. Membuat sebuah kenangan indah yang tidak akan pernah mereka lupakan jika pun mereka akan berpisah nanti.


Di bawah langit Jakarta, mereka memadu kasih dan menghabiskan malam berdua. Di bawah bintang dan cahaya kembang api, mereka lantunkan semua harapan untuk hubungan mereka di esok hari.


...


'Aku mencintaimu seindah bulan, meski terlihat jauh tapi cahayaku akan selalu menerangi kegelapan hidupmu.


Aku mencintaimu sebanyak bintang di langit, meski terlihat sederhana tapi akan selalu menjadi rindu di setiap malammu,'

__ADS_1


__ADS_2