
Beberapa saat sebelumnya, Zura masih mengantri untuk membeli air minum yang dia pesan. Sesekali Zura melirik kearah Evan yang masih duduk dengan tenang di kursinya. Terkadang, Zura tersenyum tipis melihat Evan yang sepertinya sudah merasa bosan. Dia ingin kembali, namun antrian ini sebentar lagi akan selesai. Hanya tinggal menunggu satu orang lagi dan setelahnya baru giliran Zura.
Sambil menunggu, mata Zura mengedar memandangi setiap wahana permainan yang ada disana. Jika dia punya uang, ingin sekali Zura mengajak Evan menaiki bianglala yang berada tidak jauh dari tempat duduk Evan. Apalagi ketika melihat muda mudi yang berpasang-pasangan terlihat begitu bahagia menghabiskan waktu.
Ah, sayangnya Zura tidak punya uang untuk mencoba hal itu. Dia hanya membawa uang dua puluh ribu rupiah, itu juga hanya cukup untuk membeli air minum ini. Menyedihkan bukan, tapi mau bagaimana lagi. Bisa keluar bersama Evan saja Zura sudah begitu bahagia.
Zura menarik nafas dalam-dalam, matanya masih memandangi wahana bianglala itu dengan pandangan yang getir. Dan entah kenapa tiba-tiba dia jadi ingat dengan Diyah dan juga dokter Daffa. Kemana dua orang itu? apa sudah pulang? Bukannya tadi Diyah berkata jika dia akan menemui Zura lagi. Tapi sampai sekarang, Zura tidak menemukan wanita baik itu.
Zura menoleh kearah lain, mencoba mencari keberadaan Diyah, namun tiba-tiba dia begitu terkejut saat mendengar suara decitan besi yang begitu memekakkan telinga. Bukan hanya Zura, tapi semua orang yang ada disana. Fokus mereka langsug teralih pada bianglala besar yang tiba-tiba berhenti dan malah oleng.
Suara teriakan orang-orang begitu kuat melengking, apalagi ketika melihat bianglala itu oleng dan akan terjatuh.
"Awas!" teriak orang-orang yang ada disekitar Bianglala itu. Mereka berlarian bagai semut yang bergerombol.
"Astaga, Evan!" Zura berteriak dengan kuat dan lansgung berlari dengan cepat menuju tempat Evan berada, karena lelaki itu memang berada di dekat bianglala itu.
Brak
Suara dentuman bianglala yang patah dan sebagian jatuh ketanah lagi-lagi membuat suara gemuruh dan teriakan ketakutan orang-orang disana.
"Evan!" teriak Zura. Wajahnya benar-benar panik, dia terus berlari menuju tempat Evan berada. Namun, semua usahanya sia-sia. Apalagi lautan manusia yang berlari menjauh dari sana membuat Zura begitu sulit untuk menuju ke tempat Evan. Bahkan tubuhnya yang kecil malah hampir jatuh karena ditabrak oleh orang-orang yang berlari ketakutan.
Suara tangisan, teriakan minta tolong, dan juga suara ketakutan semua orang membuat suasana di pasar malam itu menjadi tidak terkendali. Apalagi banyak korban yang jatuh dari atas bianglala dan juga sudah pasti ada yang tertimpa di bawahnya.
Lalu bagaimana dengan Evan? Zura benar-benar takut membayangkan hal itu. Apalagi tempat duduk mereka tadi tepat berada didekat bianglala itu. Zura mendongak sembari terus berusaha untuk melawan arus orang-orang yang berlarian dan berkerumun untuk menolong korban yang ada disana. Dia sama sekali tidak bisa lagi melihat dimana keberadaan Evan. Semua sudah penuh dengan lautan manusia.
"Evan," Zura sudah menangis ketakutan. Sekuat tenaganya dia terus berjalan dan menabrak serta melewati orang-orang yang menghalangi jalannya. Beberapa kali Zura hampir terjatuh, dan beberapa kali pula meringis kesakitan saat tubuhnya ditabrak begitu saja. Hingga akhirnya, dia bisa menerobos kerumunan orang-orang yang masih ada disana.
"EVan!" teriak Zura begitu kuat. Tubuh kecilnya langsung masuk kedalam kerumunan orang-orang itu hingga akhirnya dia bisa melihat Evan yang masih terduduk dikursi yang sejak tadi dia duduki.
Zura langsung bisa bernafas lega meski tangisannya semakin kuat. Dia benar-benar panik dan takut.
"Evan!" Zura kembali berteriak dan berlari mendekati Evan. Tidak perduli dia dengan orang-orang yang ada disana, yang ada di dalam pikirannya hanyalah Evan.
Mendengar suara teriakan Zura, Evan langsung berdiri dari duduknya, dan dia begitu terkejut saat Zura memeluk tubuhnya dengan erat. Apalagi ketika mendengar suara isak tangis Zura.
__ADS_1
"Hei, kenapa menangis?" tanya Evan yang langsung membalas pelukan Zura.
"Huuu... aku takut. Aku takut kamu knapa-kenapa," jawab Zura masih terus dengan isak tangis yang tidak bisa dia tahan.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap Evan.
"Beneran?" Zura mendongak dan memandang wajah Evan. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk pelan. Tangannya meraba wajah Zura yang basah dan mengusap air mata itu dengan lembut.
"Aku takut kamu jadi korban, ini dekat sekali dengan kamu Van, aku takut sekali," ungkap Zura.
"Tuhan masih menolongku sekali lagi, Zura. Tenanglah," jawab Evan. Dia kembali menarik Zura kedalam dekapannya. Bahkan bisa Evan rasakan jika tubuh Zura masih begitu bergetar dan lemas. Entah apa yang terjadi di sini, meski Evan tidak melihat tapi dia tahu jika ada hal yang tidak bagus. Apalagi dengan suara teriakan, tangisan dan ketakutan semua orang.
Zura melepaskan pelukannya dari Evan. Dia menoleh kearah kejadian itu, dimana banyak sekali orang-orang yang merintih kesakitan. Zura sungguh tidak sanggup melihatnya. Apalagi ketika melihat beberapa orang yang sudah tidak sadarkan diri karena tertimpa besi-besi bianglala itu.
"Kita menjauh dari sini, Van. Kayaknya udah ada petugas yang datang," ujar Zura yang langsung merangkul tangan Evan dan membawa Evan menjauh dari tempat itu. Karena banyak orang yang sudah mulai menolong orang-orang yang tertimpa dan jatuh dari atas bianglala.
Entah bagaimana ceritanya wahana yang seharusnya kokoh ini malah ambruk dan patah. Sungguh, ini adalah malam yang mengerihkan untuk semua orang yang ada disana. Apalagi untuk para korban. Zura begitu beruntung karena Evan baik-baik saja. Padahal wahana itu jatuh sangat dekat dari tempat Evan duduk. Ternyata Tuhan masih begitu baik pada Evan untuk menyelamatkan nyawanya sekali lagi
"Kamu masih takut?" tanya Evan, dia masih merasakan jika tangan Zura dingin dan gemetar.
"Itu mengerihkan Van, bianglalanya patah dan jatuh. Banyak korban yang jatuh dari atas dan juga yang tertimpah," jawab Zura sembari menarik nafasnya dalam-dalam. Bahkan wajahnya masih basah dan memerah karena dia sempat menangis ketakutan tadinya.
"Aku nggak tahu gimana jadinya kalau kamu juga ada diantara mereka tadi," gumam Zura. Namun, masih terdengar jelas di telinga Evan.
"Kamu mengkahwatirkan aku?" tanya Evan.
"Tentu saja, aku lebih rela melihat kamu pergi meninggalkan aku karena keluargamu, dari pada kamu pergi meninggalkan aku karena kejadian itu," jawab Zura. Dia kembali ingin menangis sekarang namun sebisa mungkin dia tahan. Tapi tiba-tiba Evan malah memeluk tubuhnya. Membuat pertahanan Zura runtuh juga. Dia kembali terisak di dalam dekapan lelaki itu. Kejadian ini sungguh membuat Zura benar-benar trauma dan takut. Apalagi sampai sekarang suara teriakan dan tangisan orang-orang disana masih terdengar begitu mengerihkan.
Tempat yang seharusnya menjadi hiburan malah menjadi tempat duka malam ini.
"Terima kasih sudah selalu mengkhawatirkan aku, Zura. Terima kasih, aku bahagia sekali punya kamu," ucap Evan.
"Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja,Van," pinta Zura.
"Aku janji, aku akan selalu baik-baik saja untuk kamu," jawab Evan.
__ADS_1
Pelukan Zura semakin erat, begitu pula dengan Evan. Mereka seolah saling mengungkapkan perasaan melalui pelukan masing-masing. Cukup lama dan cukup dalam, hingga setelah Zura merasa tenang barulah dia melepaskan pelukannya.
"Jangan menangis lagi," pinta Evan. Dia kembali meraba wajah Zura dan mengusap air mata itu.
"Nggak," jawab Zura yang langsung meraih tangan Evan dan menggenggamnya dengan lembut.
Zura memandang wajah Evan dengan lekat. Wajah tampan yang sangat tampan meski penampilannya begitu lusuh seperti ini. Tapi dengan begini saja sudah membuat Zura tidak bisa berpaling dari lelaki ini. Rasa takut kehilangan, rasa sedih saat melihat Evan yang kesusahan, dan rasa lain yang tidak bisa dia jelaskan membuat perasaan Zura semakin tidak menentu.
"Zura!" Tiba-tiba suara teriakan Diyah membuat Zura dan Evan terkesiap kaget. Mereka langsung menoleh kearah Diyah yang berlari kearah Zura dengan wajah yang panik.
"Ya Tuhan, Zura, untung kalian nggak kenapa-kenapa. Aku panik banget dari tadi cariin kamu," ucap Diyah dengan nafas yang tersengal.
"Kami nggak apa-apa mbak, Tuhan masih begitu baik ngelindungi kami," jawab Zura.
"Syukurlah, aku takut sekali. Kalian bener gak apa-apakan?" tanya Diyah lagi. Dia memandang Zura dan Evan bergantian.
"Nggak apa-apa mbak," jawab Zura.
"Diyah, bagaimana?" Tiba-tiba suara seseorang membuat mereka lagi-lagi terkesiap kaget.
Dokter Daffa, dia juga sedikit berlari mendekati Zura dan Diyah. Wajahnya juga nampak panik.
"Mereka nggak apa-apa dokter," jawab Diyah langsung.
"Oh syukurlah, kalau begitu saya mau membantu orang-orang itu dulu untuk ...."
Perkataan Daffa langsung terhenti saat dia menoleh kearah Evan. Mulut Daffa masih tergantung bahkan sedikit terbuka, matanya tidak berkedip bahkan langsung memucat. Membuat Zura dan Diyah jadi heran.
"Dokter, ada apa?" tanya Diyah.
Daffa tidak menjawab, dia langsung mendekat kearah Evan dan memandangi wajahnya dengan lekat.
"Kak Vanno! Ini kamu kak?" tanya Daffa dengan wajah yang terperangah tidak percaya.
..
__ADS_1
Bersambung ...
Yuk tinggalin jejak dulu. Yang penasaran harus tetap setia ya. Terima kasih sudah membaca