Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Mulai Pengobatan


__ADS_3

Kebahagiaan yang tidak pernah di sangka-sangka oleh keluarga Adiputra jika mereka akan kembali lagi berkumpul bersama dengan putra mereka yang hilang. Sudah berbulan-bulan mereka berpisah, bahkan sebagian dari mereka sudah putus asa dan menganggap jika Zevanno telah mati, ternyata kini harapan yang sempat hilang itu kembali lagi. Vanno kembali, dia masih hidup meskipun kini dia terlihat berbeda dan begitu menyedihkan.


Sudah dua hari Vanno berkumpul bersama keluarganya. Bahkan semalam mereka sudah mengadakan syukuran atas kembalinya Vanno kedalam keluarga mereka. Reynand begitu bahagia, begitu pula dengan kerabat mereka yang lain.


Hari ini Vanno akan memulai pengobatannya, Reynand sudah memilihkan dokter terbaik untuk mengoperasi mata Vanno, dan juga seorang psikolog yang akan membantu Vanno mengingat kembali ingatannya yang sempat hilang. Mereka begitu bersemangat agar Vanno bisa sembuh kembali.


Pagi ini mereka sudah berkumpul di ruang tengah karena mereka baru saja selesai sarapan. Nampak Nara dan Zeze yang selalu berada di samping Vanno, mereka seolah tidak ingin lagi jauh dari Vanno. Terkadang Evan alias Vanno itu cukup bingung, tapi dia juga bahagia karena dia memiliki keluarga yang sangat menyayangi dan begitu peduli padanya.


"Jadi hari ini Daddy akan pergi ke desa Nateh?" tanya Vanno.


"Benar, Daddy ingin mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah menolong kamu. Hari ini kamu kerumah sakit di temani Mommy dan Zeze juga Zev, biar Daddy dan Daffa yang terbang ke Kalimantan. Kita harus bagi tugas," ujar Reynand.


"Jika bisa, ajaklah mereka kemari Rey. Aku juga ingin mengucapkan rasa terima kasih karena mereka sudah mau menyelamatkan putra kita," ujar Nara.


"Tentu sayang, aku pasti akan membawa mereka kemari. Bukankah kehidupan mereka disana juga tidak baik," jawab Reynand.


"Terima kasih, Daddy. Vanno senang sekali jika Daddy mau membawa mereka kemari, Zura dan Neneknya hanya berdua. Hidup mereka cukup susah disana," ungkap Evan. Nada bicaranya masih terdengar begitu kaku, dan itu membuat Ryenand tersenyum tipis sembari mengangguk pelan. Meski tidak seperti putranya yang selama ini dia kenal, namun sekarang Reynand cukup bersyukur.


"Ya, kamu tenang saja. Daddy akan membawa mereka kemari," jawab Reynand. Dia bisa saja meminta orang-orangnya untuk menjemput orang yang sudah menolong putranya itu, atau sekedar membawakan hadiah yang besar untuk mereka. Tapi rasanya itu sangat tidak sopan. Mereka sudah begitu baik mau merawat Evan selama berbulan-bulan, dan sangat tidak pantas jika Reynand hanya menyuruh orang-orangnya saja. Dia ingin datang sendiri dan menemui langsung Zura dan Neneknya. Maka dari itu, baru hari ini Reynand akan terbang ke Kalimantan.


"Kamu bisa mengurus semuanya kan, Zev. Daddy mungkin malam nanti atau besok baru bisa pulang." Kini Reynand beralih pada menantunya, Zevandra. Yang selama beberapa bulan semenjak Vanno menghilang dia tinggal dirumah mereka agar Nara tidak kesiapan.


Zevandra mengangguk pelan, " tentu , Dad. Jangan khawatir. Zev pasti bisa mengurus semuanya. Lagi pula hanya tinggal mengantar, Shaka juga pasti akan membantu," jawab Zevandra.


Reynand mengangguk pelan. Hari itu juga dia langsung terbang ke Kalimantan. Pergi untuk menemui orang baik yang sudah begitu berjasa untuk kehidupan putranya.


Sedangkan Vanno juga langsung kerumah sakit di antar oleh Ibu dan adiknya. Zeze dan juga Nara dengan setia menemani Vanno. Bahkan mereka tidak pernah jauh dari Vanno sedikitpun. Apalagi ketika Vanno sedang di periksa oleh dokter.


Meski Vanno sudah kembali dan mulai pengobatannya, tapi sampai sekarang awak media belum ada yang tahu jika penerus kejayaan Adiputra itu telah kembali. Reynand sengaja menyembunyikan hal ini karena dia ingin Vanno berobat dengan tenang. Nanti, jika Vanno sudah sehat kembali barulah dia akan mengumumkan jika putranya telah kembali.


Saat ini, Vanno sedang duduk di ruang tunggu, menunggu hasil lab yang akan keluar sebentar lagi.


"Kamu lapar tidak, nak? Kalau lapar biar Mommy minta Steve mencari makanan," tawar Nara.


Vanno menggeleng pelan, "Tidak ma, Vanno masih kenyang," jawab Vanno.


"Kakak harus banyak makan, lihat tubuh kakak kurus sekali sekarang," ujar Zeze pula.


Vanno tersenyum tipis dan mengangguk, "iya, tapi aku benar masih kenyang Ze. Sejak aku pulang kamu selalu saja memintaku untuk makan banyak," jawab Vanno.


Zeze langsung tertawa mendengar itu, " Zeze kan mau kakak sehat lagi, Zeze mau kakak jadi kakak Zeze yang galak lagi," ucap Zeze.


"Memangnya aku galak?" tanya Vanno. Wajahnya begitu polos membuat Nara tersenyum haru memandangnya. Dia masih tidak menyangka jika putranya ada dihadapannya sekarang.

__ADS_1


"Galak sekali, bahkan lebih galak dari daddy kalau sedang marah," jawab Zeze. Dia merangkul lengan Vanno dan bersandar manja di bahu kakaknya itu.


"Kamu manja sekali, padahal kamu sudah punya suami," ucap Vanno.


"Memang begitu kakak ipar, sejak kepulanganmu, aku terabaikan," sahut Zev yang duduk tidak jauh dari mereka.


Zeze tertawa kecil mendengar itu, begitu pula dengan Nara. Lucu sekali ketika melihat wajah Zev yang cemberut karena dia memang iri. Apalagi selama beberapa bulan ini banyak sekali kasabaran yang harus dia keluarkan. Yah, apalagi jika bukan karena harus terus menyenangkan Zeze dan membuat gadis itu tidak bersedih sepanjang hari. Bahkan, masa-masa pengantin baru mereka hanya di habiskan di dalam rumah. Mereka belum ada berbulan madu sama sekali.


Menyedihkan bukan, tapi lebih menyedihkan lagi ketika melihat Zeze dan keluarga Adiputra yang selalu bersedih. Sekarang, meskipun Zev merasa terabaikan, dia juga ikut senang karena dia bisa melihat kembali senyum Zeze yang ceria.


"Jangan seperti itu, aku kan sudah kembali. Jangan lupakan suami kamu. Nanti kalau dia marah bagaimana?" tanya Vanno dengan begitu polos.


"Kakak tenang saja, Zev itu adalah orang yang paling sabar di dunia ini. Selama tidak ada kakak, dia yang menggantikan peran kakak dirumah," ungkap Zeze.


"Ya, tapi tetap saja tidak bisa membuat adikmu tersenyum lagi," sahut Zev.


Zeze tertawa dan langsung beranjak dari tempatnya. Kini dia pindah dan duduk di sebelah Zev. Bahkan dia langsung merangkul lengan suaminya itu dengan manja. " Maaf, sayang. Sekarang aku janji, nggak akan sedih-sedih lagi," ucap Zeze.


"Janji?" pinta Zev.


"Janji, terima kasih sudah menjadi suami yang baik," ucap Zeze, bahkan tanpa segan dia langsung mengecup wajah Zev. Membuat pria itu terkesiap kaget dan langsung menoleh pada ibu mertuanya dengan canggung.


Nara hanya geleng-geleng kepala saja.


"Kamu harus sabar menghadapi sikap Zeze , nak," ujar Nara.


Zeze langsung mendengus mendengar itu, namun pelukannya semakin erat di lengan Zev.


Ceklek


Pintu yang terbuka membuat mereka menoleh, Shaka masuk kedalam bersama dokter Aiza, dokter mata yang menangani masalah penglihatan Zev.


"Selamat siang aunty," sapa Shaka begitu ramah seperti biasa. Putra dari sahabat Nara.


"Siang, Shaka, Aiza. Bagaimana hasilnya?" tanya Nara langsung tanpa basa -basi.


Shaka langsung menoleh pada dokter cantik berhijab itu. Dokter Aiza nampak tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Dia nampak duduk disebuah kursi di dekat Nara. Semua orang langsung menunggu penjelasan dokter itu.


"Kondisi mata tuan Vanno sebelah kiri masih bisa di tolong dengan operasi kecil Nyonya, cidera nya tidak terlalu parah. Hanya saraf matanya saja yang terganggu karena mata sebelah kanan Tuan Vanno yang memang tidak bisa diperbaiki lagi. Cideranya cukup parah hingga membuat seluruh fungsi mata rusak, apalagi tidak segera di tangani dengan baik," ungkap Dokter Aiza. Dokter muda itu nampak menjelaskan begitu lembut dan hati-hati.


Namun, meskipun begitu tetap saja penjelasannya itu membuat Nara dan Zeze bersedih.


"Tapi masih ada cara lain untuk Vanno sembuh kan?" tanya Zev.

__ADS_1


Dokter Aiza mengangguk pelan, "jalan satu-satunya adalah donor mata," jawab Dokter Aiza.


"Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk Vanno, nak," pinta Nara.


"Tentu Nyonya, jangan khawatir. Insya Allah, akan ada jalannya," jawab Aiza.


"Benar aunty, Shaka juga akan membantu mencarikan donor mata untuk Vanno secepatnya," sahut Shaka pula.


"Ah kak Shaka memang terbaik," puji Zeze, namun dia langsung terkesiap saat Zev mencubit gemas pinggangnya.


"Jangan memuji lelaki lain didepanku," bisik Zev.


Zeze hanya mendengus kesal mendengar itu.


Vanno menghela nafasnya dengan panjang, semoga dia bisa cepat melihat lagi. Dia sudah tidak sabar untuk melihat seorang gadis yang selalu ada di dalam pikirannya saat ini. Azzura.


...


Sementara beberapa  waktu kemudian di Kalimantan, Desa Nateh waktu setempat.


Reynand dan Daffa sudah berada didepan sebuah rumah kayu kecil yang sudah nampak lapuk. Mereka berdiri dirumah itu, sembari menunggu orang-orang Reynand mengetuk pintu dan memanggil penghunginya.


Namun, sudah beberapa menit mereka memanggil bahkan berkeliling tidak ada juga sahutan dari dalam. Rumah itu sepi dan seperti tidak berpenghuni.


"Kamu yakin disini tempatnya?" tanya Reynand.


"Yakin, uncle. Ini tidak salah. Ini rumah Zura dan Neneknya," jawab Daffa.


Reynand menghela nafas pedih ketika membayangkan jika putranya selama beberapa bulan ini tinggal di gubuk reyot seperti ini. Astaga.


"Dokter Daffa," Tiba-tiba seruan seorang gadis yang mengendarai motor langsung membuat mereka menoleh.


"Diyah," sapa Daffa.


Diyah turun dari atas motor dan mendekat kearah Daffa.


"Apa dokter mencari Zura?" tanya Diyah.


"Ya, kemana dia?" tanya Daffa.


"Zura sudah pergi semalam sore. Nek Sri meninggal, dan dia ... di usir dari desa ini oleh warga,"


Deg

__ADS_1


..


Bersambung


__ADS_2