
Beberapa waktu berlalu tanpa terasa, dari detik ke detik waktu yang selalu silih berganti. Rasanya masih seperti mimpi jika mengenangkan kehidupan Zura yang sekarang. Semenjak mengenal keluarga Adiputra, semua kehidupannya berubah. Ya, Tuan besar Reynand benar-benar menepati perkataannya untuk memberikan Zura fasilitas yang bisa dia gunakan untuk usaha toko bunganya.
Tuan besar itu memberikan Zura sebuah gedung besar untuk tempat usaha. Bahkan tidak tanggung-tanggung Zura juga diberikan modal yang cukup besar untuk membangun toko bunganya dan juga membangun usaha yang lain seperti jasa untuk mendekor kamar hotel khusus untuk pengantin baru.
Sekarang meski baru berjalan hampir sekitar dua bulan, namun toko bunga Zuan Florist sudah banyak di kenal masyarakat. Terutama di masyarakat menengah hingga kalangan atas. Pengalaman bekerja pertama kali di perusahaan Adiputra ternyata membuat nama Zuan florist mulai di kenal dan di perhitungkan. Sekarang, Zura benar-benar terlihat sibuk dalam usaha barunya. Sungguh tidak disangka jika dia akan berada di titik ini. Apalagi sekarang, hatinya juga sudah tenang karena hampir setiap hari ketika ada waktu senggang Vanno pasti selalu menyempatkan diri untuk datang ke toko bunganya.
Seperti sore ini Zura sedang duduk di meja kerjanya untuk mendata pemasukan semalam dan juga barang apa saja yang sudah mulai habis. Dia kelihatan sibuk, apalagi dari pagi dia memantau karyawan yang bekerja untuk membuat pesanan para pelanggan.
Ting
Suara bel di pintu masuk membuat Zura menghela nafas, dia merenggangkan tangannya dan memandang ke depan. Terlihat seorang karyawan perempuan Zura yang menyambut seseorang yang masuk.
Ternyata Aldi. Sudah beberapa hari pria itu tidak ada datang ke toko bunga ini. Dia baru dari luar kota dan sekarang sepertinya dia sudah kembali.
"Selamat sore Ibu Zura," sapa Aldi dengan senyum ramahnya seperti biasa.
"Selamat sore Mas Aldi, udah pulang ya? Zura kira masih lama," jawab Zura.
Aldi tersenyum dan menggeleng pelan, dia langsung duduk di depan meja Zura dan meletakkan buah tangan yang dia bawa ke hadapan gadis itu.
"Udah selesai kok, jadi langsung pulang. Ini juga belum pulang kerumah. Aku langsung kemari tadi, sekalian singgah," ungkap Aldi.
"Wah, seharusnya kan Mas bisa istirahat dulu di rumah," ujar Zura sembari tangannya yang meraih barang bawaan Aldi.
"Sekalian mampir lah, mau lihat perkembangan toko. Kayaknya udah makin bersinar ya," ucap Aldi sambil memandangi karyawan Zura yang masih sibuk bekerja.
Zura tertawa kecil dan menggeleng pelan, "Mas bisa aja, baru juga seminggu nggak datang. Mana ada perubahan yang besar. Masih begini aja. Tapi alhamdulillah semakin hari ada aja pelanggan baru," ungkap Zura.
"Iya, syukur dong. Bulan depan juga ada yang pesan karangan bunga dalam jumlah besar dan juga dekorasi untuk kejutan lamaran pakai konsep bunga tabur. Nanti aku kirimkan emailnya sama Diko," ujar Aldi.
__ADS_1
"Oke," jawab Zura. Dia meraih sebuah box dari dalam paper bag yang dibawa oleh Aldi tadi, dan mata Zura langsung berbinar memandangi isi kotak itu. "Wahh, pie cokelat!" serunya begitu girang, Bahkan sampai membuat Aldi tertawa kecil mendengarnya.
"Iya, kebetulan di sana tadi aku ngelihat ada toko kue, eh kok malah ingat kamu," ucap Aldi.
"Mas baik banget, tahu aja kalau Zura suka ini," ucap Zura. Bahkan tidak segan dia langsung mencicipi kue pie itu.
"Tahulah, kamu kan doyan makan. Lihat aja sekarang, padahal belum ada dua bulan tapi pipi kamu udah mulai chubby," ledek Aldi membuat Zura langsung mendengus senyum dengan mulut yang penuh.
"Biar aja, yang penting tetap sehat," jawab Zura.
Aldi hanya geleng-geleng kepala saja melihat Zura yang selalu ceria meski dia sedang lelah sekalipun.
"Tuan muda Adiputra masih sering main kesini?" tanya Aldi.
Uhuk uhuk uhuk
"Kamu ini, baru juga aku bertanya," Aldi berucap sembari memandang lucu wajah Zura yang nampak memerah karena tersedak.
"Mas ih, jangan sebut dia kalau Zura lagi makan," sahut Zura kesal.
"Lah kenapa?" tanya Aldi
"Gak bisa, langsung kayak kena setrum," jawab Zura asal.
Aldi terkekeh dan langsung menepuk dahi Zura dengan gemas. Sekarang dia sudah lebih dekat dengan Zura. Bahkan dia sudah menganggap Zura sebagai adiknya sendiri.
"Suka ya sama dia," goda Aldi.
Zura mendengus, Aldi tidak tahu saja jika dia dan Vanno sudah suka lebih dari yang di bayangkan.
__ADS_1
"Udah ah, mending mas makan ini aja. Daripada godain Zura terus," ujar Zura sembari menyodorkan kotak kue itu pada Aldi.
"Nggak, aku udah kenyang. Apalagi kalau lihat kamu makan. Kenyang duluan aku," jawab Aldi.
Lagi-lagi Zura hanya mendengus dan kembali menikmati kuenya.
"Itu bodyguard kamu yang betiga pada kemana?" tanya Aldi yang melihat tidak ada satupun laki-laki yang dia kenal di dalam sini.
"Oh, kang Akmal sama Anton lagi antar pesanan pelanggan. Kalau Diko biasa lagi ngecek stok barang di dalam gudang," jawab Zura.
"Oh, yasudah, kalau gitu aku pamit ya. Gerah banget mau mandi. Besok aku datang lagi sambil bawain barang yang kamu pesan, kayaknya udah sampai di rumah," ungkap Aldi.
"Oh iya Mas. Makasih banget ya kuenya," ucap Zura
"Aman," jawab Aldi. "Kamu makan kayak anak kecil, belepotan begitu," Aldi berucap sembari beranjak dari kursinya. Dia meraih tisu yang ada di atas meja dan langsung menempelkan tisu itu di bibir Zura, membuat Zura dengan sigap langsung meraihnya. Mereka terlihat dekat, dan semua karyawan Zura sudah tahu itu. Namun, sayangnya kali ini kedekatan mereka di lihat oleh seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam toko.
"Lain kali belajar makan," ledek Aldi. Sedangkan Zura langsung tertawa dan mengangguk saja. Mereka langsung menoleh ke arah pintu bersamaan, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat siapa yang datang. Apalagi Zura, dia bahkan sampai terperangah memandang wajah dingin lelaki itu.
"Evan," gumam Zura.
Lelaki itu masuk dan berjalan mendekat ke arah mereka. Wajahnya datar dan dingin tanpa ekspresi apapun, bahkan dia mengabaikan sapaan karyawan Zura yang menyambutnya di depan pintu. Matanya memandang Zura dengan lekat, dan bergantian ke arah Aldi.
'Apa dia cemburu? Tapi tidak mungkinkan, Vanno sudah kenal dengan Aldi,' batin Zura.
"Selamat sore tuan muda," sapa Aldi begitu sopan, seperti biasa.
Namun, lagi-lagi Vanno hanya memandang saja, dan mengangguk tipis.
Sekarang entah kenapa suasana di dalam toko bunga Zura langsung berubah menjadi dingin dan sedikit horor.
__ADS_1