Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Aku Merasakan Kehadiranmu


__ADS_3

"Evan!"


Suara teriakan Zura dari dalam rumah membuat Evan yang sedang duduk melamun di depan rumah sedikit terkejut. Dia menoleh kearah samping, menanti kedatangan Zura. Namun, sampai beberapa detik kemudian tidak juga dia dengar lagi suara Zura.


"Zura!" panggil Evan. Kepalanya bergerak kesana dan kemari mencari-cari suara gadis itu, namun sama sekali tidak lagi terdengar.


"Evan!" Lagi, suara teriakannya terdengar. Membuat Evan sedikit cemas hingga dia memutuskan untuk beranjak dari kursi kayu.


Tangannya meraba-raba kedepan seiring dengan langkah kaki yang mulai berjalan. Sudah tiga bulan lebih dia hidup di rumah kecil ini, tentu saja sedikit banyaknya Evan sudah hafal bagaimana keadaan dan juga tempat ini.


Tangannya meraih dinding kayu yang mulai lapuk. Berjalan menyusuri rumah itu hingga dia bisa menemukan pintu dan masuk kedalam rumah.


"Zura! Kamu dimana?" tanya Evan. Sedikit berseru.


"Evan, aku disini. Tolong!" seru Zura.


"Dimana?" tanya Evan lagi. Dia terus menyusuri dinding kayu itu, dimana sesekali dia hampir terjatuh saat menyentuh meja kayu yang terpajang disana.


"Disini, Van. Tolongin," sahut Zura kembali.


Evan yang panik semakin masuk kedalam rumah, dia berjalan sedikit ke ruang tengah. Meraba-raba kedepan mencari dimana keberadaan Zura.


Tanpa Evan tahu, jika gadis itu tengah menahan tawa dan berjongkok tidak jauh dari hadapannya. Zura senang sekali mengerjai Evan seperti ini. Apalagi ketika melihat Evan yang kebingungan saat mencarinya.


"Zura, dimana? Jangan buat aku takut," ucap Evan.


"Aku disini, tapi kamu pasti nggak akan menemukanku," jawab Zura, dia tidak lagi mampu menahan tawa saat melihat wajah serius Evan.


Evan berhenti, dia mendengus kesal. "Kamu mengerjai ku lagi, Zura," kesal Evan.


Zura langsung tertawa kecil mendengar itu, "aku mau tahu, kamu itu bisa nggak menemukan aku. Kamu bilang feeling kamu kuat," ucap Zura yang beranjak dan beralih kebelakang Evan.


"Kamu menantang ku?" tanya Evan.


"Iya," jawab Zura.


Evan berbalik arah, namun Zura segera beralih. Dia bersembunyi di samping lemari kayu yang ada disana. Zura langsung menahan tawa disaat Evan mencarinya dengan bingung.


"Awas saja kalau aku bisa menemukanmu," ucap Evan. Sepertinya dia terlihat kesal sekarang.


Zura membungkam mulutnya dengan tangan, menahan tawa saat Evan terdiam ditempatnya. Namun, tidak lama kemudian lelaki itu malah berbalik arah tepat kehadapan Zura. Membuat Zura sedikit terkesiap.

__ADS_1


Zura mematung saat langkah kaki itu perlahan-lahan menuju kearahnya. Matanya memandang wajah Evan dengan lekat, dia buta tapi dia bisa tahu persis dimana Zura berada.


Bahkan Zura sampai melambaikan tangannya dihadapan Evan, memastikan jika pria ini memang belum bisa melihat. Tetapi, kenapa dia bisa tahu Zura ada disini? padahal cukup jauh dari tempat Evan berada tadi.


Zura benar-benar menahan nafas saat Evan sudah tiba tepat dihadapannya. Matanya mengerjap saat tangan putih itu terjulur dan meraba kedepan.


"Aku menemukanmu," ucap Evan dengan senyumnya yang lebar. Membuat Zura tertegun dan begitu terpana melihat senyuman ini. Sangat manis dan begitu indah.


"Kenapa bisa tahu aku disini?" tanya Zura.


"Aku memang tidak bisa melihatmu, tapi aku bisa merasakan keberadaan mu," jawab Evan.


Lagi-lagi Zura tertegun mendengar itu. "Apa kamu kira aku seperti hantu?" tanya Zura. Dia ingin menarik Evan untuk ketengah, namun Evan malah menahan tangannya.


"Bolehkah aku tahu wajahmu, Zura," pinta Evan.


Zura terdiam sesaat ketika mendengar permintaan Evan. "Melihat wajahku? Tapi, bagaimana caranya?" tanya Zura. Wajahnya menjadi sendu sekarang. Namun, dia langsung tertegun saat Evan meletakkan kedua tangannya diwajah zura.


"Biarkan aku merasakannya," jawab Evan.


Jantung Zura tiba-tiba berdetak dengan kencang saat tangan hangat itu mulai menyentuh wajahnya. Dia memejamkan mata saat tangan Evan mulai menjelajah disana.


Deg


Lagi-lagi Zura termangu mendengar perkataan itu. Dia memandang wajah Evan dengan lekat sembari membiarkan Evan terus meraba wajahnya.


"Jadi, selama kamu berada di dekatku, aku akan selalu merasakan kehadiranmu."


Wajah Zura seketika memanas mendengar perkataan Evan itu. Perkataan sederhana namun begitu manis terdengar. Hingga tanpa sadar, Zura langsung tersenyum haru mendengar ucapan Evan.


"Kamu pasti memiliki mata yang indah," ucap Evan ketika tangannya meraba mata Zura.


"Tidak juga, mataku seperti mata boneka, besar." jawab Zura dengan sedikit tertawa membuat Evan juga ikut tertawa.


"Hidung kamu mancung," ucapnya lagi.


"Tentu saja, tidak kalah mancung dari kamu," jawab Zura.


"Benarkah?" tanya Evan yang masih terus meraba hidung mancung Zura.


Zura tertawa geli saat Evan malah mencubit gemas hidung itu.

__ADS_1


"Kenapa malah dicubit," tanya Zura sembari memukul lengan Evan.


"Aku gemas," jawab Evan. Membuat Zura semakin tertawa.


Namun, tawanya terhenti saat jemari lentik milik Evan mulai meraba bibirnya. Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang menghangat dan membakar tubuh Zura. Apalagi sentuhan hangat itu terasa begitu lembut.


"Sekarang, aku hafal wajahmu," ucap Evan. Dan ucapannya itu membuat Zura sedikit terkesiap. Dia bahkan langsung mengerjapkan mata dan meraba wajahnya yang memanas ketika Evan menurunkan tangannya dari wajahnya.


"Kamu memang cantik," puji Evan.


Zura langsung mendengus senyum mendengar itu. "Aku memang cantik, tapi ketika kamu bisa melihat nanti, kamu pasti akan terkejut," sahut Zura.


"Terkejut kenapa?" tanya Evan. Dia berjalan saat Zura meraih lengannya dan membawa Evan untuk duduk di luar rumah.


"Terkejut karena tidak sesuai dengan ekspektasi kamu," jawab Zura. Dia tertawa kecil saat melihat Evan sedikit terkejut.


"Ada-ada saja. Bahkan aku tidak tahu aku bisa melihat atau tidak," ucap Evan.


"Hei, jangan berkata seperti itu. Siapa tahu suatu hari nanti keluarga kamu menemukan mu disini. Kamu pasti bisa sembuh," ujar Zura.


Namun, Evan malah menggeleng lemah. "Hal yang mustahil, Zura. Ini sudah hampir empat bulan aku berada disini. Mungkin, jika aku masih memiliki keluarga, mereka pasti sudah menganggap ku mati," jawab Evan. Wajahnya terlihat begitu bersedih. Entah kenapa, meskipun dia melupakan segalanya, namun tetap saja setiap hari dia selalu merasakan perasaan sedih dan cemas yang luar biasa.


Zura menghela nafas panjang, dia meraih tangan Evan dan menggenggamnya dengan lembut. Zura juga tidak tahu bagaimana cara mencari keluarga Evan. Apalagi dengan keterbatasan biaya dan keadaan. Entah mereka masih mencari Evan atau tidak. Tapi sampai saat ini, Zura sangat berharap Evan bisa bertemu lagi dengan keluarganya.


"Van," panggil Zura dengan lembut.


Evan tidak menjawab, hanya genggaman tangannya saja yang semakin mengerat. Ya, dia dan Zura sudah terbiasa seperti ini. Saling menggenggam dan saling menguatkan satu sama lain. Hampir empat bulan hidup bersama sudah membuat mereka saling ketergantungan.


"Aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti akan berkumpul lagi dengan keluarga kamu," ucap Zura.


"Tapi aku yang tidak yakin," jawab Evan. "Aku takut, aku hanya akan menjadi bebanmu dan nenek," tambah Evan lagi.


"Kamu ini, meskipun kamu selamanya tinggal disini, aku dan nenek pasti akan selalu menerima kamu," jawab Zura.


"Aku beruntung bertemu denganmu, Zura." jawab Evan.


"Aku juga," jawab Zura.


Evan tersenyum tipis sembari mengusap tangan Zura dengan lembut. Sedangkan Zura langsung merebahkan kepalanya di pundak Evan. Mereka kembali menghabiskan waktu sore itu dengan bercerita apa saja. Tentu saja, Zura yang banyak bicara, namun Evan sangat menyukai itu.


Bersama Zura, dia tidak merasa kesepian.

__ADS_1


__ADS_2