
Evan tertunduk lesu saat Daffa dan Reynand menceritakan jika Zura tidak ada lagi di Desa Nateh. Bahkan Nek Sri juga sudah meninggal sehari setelah kepergian Evan dari rumah mereka. Rasanya hati dan perasaan Evan menjadi tidak tenang sekarang. Daddy dan sepupunya ini baru saja tiba di rumah pagi ini dan malah membawa kabar buruk untuk dia.
Kemana perginya Zura jika dia tidak ada disana? Zura hanya punya Nek Sri, dan sekarang dia sudah terusir dari desa itu. Ah, Evan benar-benar tidak tenang memikirkan keadaan Zura saat ini.
"Padahal sewaktu kita pergi, bukankah Nenek baik-baik saja?" tanya Evan.
"Benar, kak. Tapi memang kesehatan Nek Sri sudah tidak baik. Diyah bilang jika Nek Sri terjatuh saat akan mandi di sungai. Mungkin karena jantungnya yang lemah hingga dia bisa meninggal mendadak," ungkap Daffa.
"Lalu, apa Diyah tidak tahu kemana perginya Zura? Apa kamu juga sudah bertanya pada Akmal?" tanya Evan lagi. Wajahnya benar-benar menunjukkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Membuat kedua orangtuanya begitu iba melihat putra mereka. Mereka tahu jika Evan pasti merasa bersalah dan kehilangan dengan kepergian orang yang sudah merawatnya itu.
Apalagi saat ini Evan hanya mengingat kedua orang itu saja. Ya, Zevanno Adiputra masih merasa jika dia adalah Evan. Nama yang diberikan oleh seorang gadis baik hati yang bahkan belum sempat Evan lihat wajahnya tapi malah sudah pergi entah kemana.
"Akmal juga tidak ada di desa itu, kak. Kata Diyah, lelaki yang sering membantu Zura itu memang sudah beberapa hari tidak ada di desa mereka. Jadi Diyah sama sekali tidak tahu kemana perginya Zura," ungkap Daffa.
Evan tertunduk lesu, hanya bibirnya yang bergetar bergumam menyebut nama Zura. Kemana dia? Kenapa tidak menunggu Evan datang?
"Tenanglah, nak. Daddy sudah meminta orang untuk mencari gadis itu. Mereka akan mencarinya sampai ketemu," ujar Reynand.
Nara mengusap bahu puteranya dengan lembut. "Sabar sayang, mungkin Zura yang kamu maksud itu masih pergi ke rumah keluarganya," ucap Nara pula.
Namun, Evan langsung menggeleng pelan. "Tidak, Mom. Zura tidak punya siapapun selain Nek Sri. Dia sebatang kara," ungkap Evan, terdengar begitu sedih.
"Apa dia memang punya masalah hingga dia bisa terusir dari desa itu?" tanya Zeze pula, dia yang sejak tadi terdiam bersama Zev.
"Dia gadis yang baik," jawab Evan.
Zeze terdiam, semua orang yang ada di ruang tengah itu saling pandang canggung. Sebab Reynand dan Daffa sudah tahu apa penyebab Zura bisa terusir dari desa itu.
Salah seorang warga disana berkata jika Zura dianggap sebagai pembawa sial, apalagi dia yang sudah berani menampung seorang lelaki di rumahnya selama berbulan-bulan. Bukan itu saja, latar belakang keluarga Zura yang buruk juga mempengaruhi prasangka buruk warga desa pada Zura dan Neneknya.
__ADS_1
Mereka tidak ingin Zura berbuat hal yang tidak-tidak di desa itu seperti apa yang pernah ibu Zura lakukan dulunya. Ya, Reynand mendapat kabar jika Zura adalah anak dari seorang pelacur, bahkan dia hidup tanpa seorang ayah. Ibu Zura meninggal karena penyakit mematikan. Selama ini warga desa hanya mengucilkan mereka di pinggir hutan karena masih memandang Nek Sri yang sedikit banyak sudah membantu beberapa warga karena obat tradisionalnya. Tetapi, setelah Nek Sri meninggal, mereka langsung mengusir Zura tanpa iba.
Semua sudah Reynand dan Daffa ketahui. Bahkan seluruh warga desa berbicara seperti itu pada mereka ketika mereka mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Tetapi, baik Reynand maupun Daffa tidak ingin membicarakan hal itu pada Evan. Bagaimanapun buruknya keluarga itu, Reynand dan keluarganya sudah berhutang nyawa dan berhutang budi pada mereka. Dan oleh karena itu, Reynand sudah mengirimkan orang-orangnya untuk mencari Dimana keberadaan gadis itu.
Setidaknya untuk membalaskan semua kebaikan karena telah menolong putera mereka.
"Sudah, jangan pikirkan apapun sekarang. Daddy sudah mengirimkan orang-orang kita untuk mencarinya. Daddy tidak akan mengabaikan kebaikannya karena sudah menolong mu. Sekarang kamu cukup fokus pada pengobatan mu saja," ujar Reynand.
Evan menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. "Vanno mohon, tolong cari dia, Dad. Dia gadis yang baik, dia sendirian di luar sana," pinta Evan. Bahkan wajahnya begitu memelas saat ini. Membuat Nara dan Zeze menjadi tidak tega.
"Iya, Daddy akan berusaha nak. Kamu tahu kan, tidak ada jejak apapun yang bisa kita jadikan pedoman untuk mencari gadis itu. Fotonya tidak ada, bahkan tanda pengenal pun dia tidak punya. Ini cukup sulit, tapi kamu tenang saja, pasti akan Daddy usahakan," jawab Reynand.
Evan menghela nafas dan tertunduk sedih. Jika dia tahu begini kejadiannya, Evan pasti akan memaksa Zura untuk ikut dengannya waktu itu.
"Waktu itu Daffa ada memberikan gadis itu kartu kredit, uncle. Mungkin dengan itu kita bisa melacak keberadaannya," ujar Daffa.
"Oh benarkah. Nanti hubungi Steve, itu bisa menjadi petunjuk untuk mereka," sahut Reynand.
Nara mengusap pundak Evan dengan lembut, seraya berbisik "tenang, ya," untuk menenangkan hati Evan yang memang sedang tidak baik-baik saja sekarang.
…
Sementara ditempat lain. Seorang gadis duduk di pinggir jalan dengan wajah sendu dan terlihat pucat. Matanya sembab dan penampilannya sangat kusut. Hanya tas usang yang dia peluk sejak tadi. Rasanya dia ingin mati saja sekarang. Tidak ada lagi semangatnya untuk tetap hidup. Sudah tiga hari dia terlunta-lunta di jalanan. Hanya berbekal sebotol air dan juga beberapa bungkus roti.
Nenek yang menjadi sandaran hidupnya kini telah pergi meninggalkan dia sendiri. Rumah gubuk yang menjadi tempatnya berteduh selama ini juga sudah tidak bisa lagi dia tinggali. Dengan teganya mereka membuat dia seperti sampah. Membuangnya dengan begitu jahat.
Zura menangis, menangis untuk yang kesekian kali. Menangisi nasib hidupnya yang begitu menyedihkan. Dia sendirian sekarang, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Kemana Zura harus pergi? Kemana Zura harus berteduh? Dia sendirian, sendirian dalam rasa sakit yang rasanya sudah tidak bisa dia tahan.
__ADS_1
"Zura!" Tiba-tiba suara seseorang membuat Zura sedikit terkesiap. Dengan wajah basah yang begitu menyedihkan dia mendongak. Memandang seorang lelaki yang memandangnya dengan pandangan sedih dan terkejut.
"Kamu kenapa disini?" tanya lelaki itu.
"Kang Akmal," Zura langsung beranjak, dia menangis dan memeluk Akmal dengan erat.
"Aku cari kamu kemana-mana. Semalam aku pulang dari kota, tapi aku dengar nenek udah gak ada dan kamu pergi dari rumah," ungkap Akmal. Lelaki baik yang sudah seperti kakak sendiri bagi Zura.
"Mereka jahat, mereka usir Zura dari sana, kang. Zura nggak tahu mau kemana," ungkap Zura dengan Isak tangis yang begitu pilu.
"Udah jangan sedih, kita ke kota aja. Bapak ku juga udah meninggal, aku sendirian sekarang," ujar Akmal
Zura langsung melepaskan pelukannya dari Akmal. "Akang serius?" tanya Zura.
Akmal mengangguk pelan, matanya juga berkaca-kaca. "Iya, sekarang aku dan kamu udah sendiri. Kita berjuang sama-sama ya, gak boleh menyerah," ujar Akmal.
Mendengar perkataan Akmal, membuat Zura semakin ingin menangis.
"Kang Akmal, terima kasih. Terima kasih masih selalu ada untuk Zura," ucap Zura begitu haru.
"Hei, kamu itu udah seperti adikku sendiri Zura," jawab Akmal.
"Sekarang kita pergi, aku masih ada sedikit uang sisa jual tanah kemarin. Kita bisa gunain itu untuk biaya sewa rumah. Nanti kita cari kerja disana," ujar Akmal lagi.
Zura mengangguk pelan. Dia sangat bersyukur karena ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Dan sekarang, Zura harus bisa berjuang sendiri untuk hidupnya. Meski tidak mudah, tapi akan Zura lewati. Mencari uang untuk bisa bertahan hidup.
..
Tapi sayang, Zura melupakan kartu yang diberikan oleh Daffa beberapa waktu lalu. Kartu yang seharusnya bisa menjadi petunjuk agar Evan bisa menemukannya. Namun, takdir harus berkata lain. Kartu itu tertinggal di rumah gubuk Zura. Dan akan tetap berada disana sampai rumah itu usang dan tak lagi terlihat.
__ADS_1