Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Gadis Pembawa Bunga


__ADS_3

Suasana ruang aula gedung sudah nampak indah dengan berbagai bunga tulip putih berpadu dengan mawar putih yang menghiasi beberapa sudut ruang. Rangkaian bunga hasil karya Zura juga sudah terpajang rapi di dalam vas-vas mewah yang ada di sana.


Zura dan Akmal bekerja hingga larut malam, apalagi semuanya di siapkan secara mendadak dan di tempat itu juga. Tetapi, semuanya sudah selesai dengan harapan dan rencana mereka. Meski terlihat lelah dan letih, tapi Zura dan Akmal benar-benar puas dengan hasil kerja mereka saat ini. Ini adalah yang pertama kali untuk mereka, tapi hasilnya benar-benar di luar ekspetasi. Sangat indah dan tentunya memukau. Bahkan Aldi dan juga Deni yang memang memantau pekerjaan mereka di sana cukup puas dengan hasil kerja team Zuan Florist. Ya, nama toko bunga yang belum tahu kapan akan Zura buka.


"Oke, sepertinya tuan besar akan menyukai dekorasi kalian ini. Sangat indah dan tidak terlalu heboh," ucap Deni.


Zura langsung tersenyum bangga mendengar itu. Rasanya gundah di hati karena pertemuannya dengan Evan tadi bisa sedikit terobati mendengar pujian dari Deni. Asisten bos. Dan sampai sekarang, Zura tidak tahu dimana bos yang punya perusahaan ini.


"Senang sekali jika Tuan suka, padahal ini adalah pekerjaan Zuan Florist yang pertama," ungkap Aldi.


"Wah benarkah?" tanya Deni tak percaya.


Mereka semua langsung mengangguk dengan cepat.


"Keren sekali, jika hasil kalian rapi dan sekreatif ini mungkin dalam acara lainnya Tuan besar ataupun Tuan muda Adiputra pasti akan memakai jasa kalian kembali," ucap Deni yang bagai angin segar untuk Zura.


"Wah, itu adalah kabar bagus Tuan. Jika memang memerlukan bantuan, team Zuan Florist pasti akan siap kapanpun dibutuhkan," sahut Aldi,


"Benarkan, Zura? Bang Akmal?" tanya Aldi pada Zura dan Akmal bergantian.


"Tentu saja," jawab mereka berdua. Wajah lelah mereka terlihat bahagia sekali.


"Pasti saya akan merekomendasikan kalian lagi pada Tuan besar jika di butuhkan," ucap Deni. "Kalau begitu, kalian boleh pulang, nanti uangnya akan saya transfer. Saya sudah harus pergi sekarang, Tuan muda sudah menunggu," ujar Deni.


"Baik Tuan, sepertinya kalian lembur," sahut Aldi.


"Ya, Tuan muda kelihatannya sedang dalam keadaan mood yang tidak baik saat ini. Jadi dia selalu ingin lembur untuk menenangkan diri," ungkap Deni.


Aldi langsung tertawa kecil mendengar itu. Akhirnya setelah berpamitan pada Deni mereka semua pulang ke rumah. Seperti siang tadi, malam ini Aldi juga mengantarkan Zura dan Akmal kembali ke toko bunga mereka. Tidak seperti siang tadi Zura banyak berbincang dengan Aldi, tapi malam ini dia nampak banyak diam bahkan hanya melamun sepanjang jalan.


Pandangannya terus saja memandang jalanan ibukota yang tak pernah sepi meskipun hari sudah larut. Matanya memandang ke jalanan, namun pikirannya yang entah melayang kemana.

__ADS_1


Akmal dan Aldi juga tidak berani untuk menegur atau sekedar menyapa Zura. Mereka berpikir jika gadis itu pasti sudah sangat lelah dan mengantuk saat ini.


Hingga tidak terasa, mobil yang dikemudikan oleh Aldi sudah tiba di depan toko bunga mereka. Akmal langsung menepuk lengan Zura membuat gadis itu sedikit terkesiap kaget.


"Ayo turun, kok malah melamun," ucap Akmal.


Zura langsung tersenyum getir mendengar itu, apalagi saat dia menyadari jika mereka sudah tiba.


"Capek banget ya, Ra. Sampai melamun aja di sepanjang jalan?" tanya Aldi yang juga ikut turun dari dalam mobil.


"Iya kayaknya, Mas. Kan baru ini kerja sampai lembur," kilah Zura. Padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi. Pikirannya kembali mengingat tentang Evan. Ya selalu lelaki itu, bahkan Zura sampai merasa pusing sekarang.


"Yasudah, istirahat dulu. Jangan sampai sakit. Masih banyak yang harus kamu kerjakan untuk membuka toko bunga inikan," ujar Aldi.


Zura tersenyum tipis dan langsung mengangguk pelan, "Iya, Mas. Terima kasih ya sudah mengantarkan kami," ucap Zura.


"Ya, sama-sama. Saya juga terima kasih karena kamu sudah bekerja dengan baik hari ini. Saya pastikan jika Tuan Adiputra menyukai konsep rancangan kamu itu, namamu pasti akan semakin terkenal dalam waktu dekat," ungkap Aldi.


"Aamiimn," jawab Zura.


"Iya, mas, hati-hati," jawab Zura. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Aldi saat pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Zura kembali menghela nafas panjang dan langsung masuk ke dalam rukonya dimana Akmal sudah menunggu di sebuah kursi.


"Sini dulu, aku mau bicara," ujar Akmal.


Zura menurut, dia langsung berjalan menuju Akmal.


"Apa sih, kang. Zura capek," jawab Zura yang juga langsung duduk meleseh di atas lantai. Wajahnya benar-benar tidak bersemangat sekali.


"Gak mau jujur kenapa kamu nangis tadi?" tanya Akmal. "Bahkan kamu melamun terus lo aku perhatikan," tambahnya lagi. Lelaki itu memandang Zura dengan lekat.

__ADS_1


Zura tertunduk, hanya bibirmnya saja yang mengerucut kesal.


"Zura," panggil Akmal.


"Zura ketemu Evan," jawab Zura.


Akmal langsung terdiam mendengar itu.


"Ternyata dia kerja di perusahaan itu juga. Dia .... dia udah kembali jadi Evan yang berbeda, kang," lirih Zura. Bahkan dia langsung tertunduk dan menyembunyikan air matanya.


"Kamu tegur dia?" tanya Akmal.


Zura menggeleng pelan.


"Kenapa?" tanya Akmal bingung.


"Zura gak punya nyali untuk sapa dia duluan. Rasanya bagai langit dan bumi sekarang," jawab Zura


...


Sementara di kediaman Adiputra.


Vanno baru tiba di rumah. Keadaan rumah sudah sepi, mungkin kedua orang tuanya sudah tidur saat ini. Apalagi hari memang sudah sangat larut.


Wajah Vanno juga terlihat begitu lelah. Dia langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah lukisan gadis cantik yang dia lukis beberapa waktu lalu.


Vanno tersenyum tipis, dia berjalan mendekat ke arah lukisan itu sembari membuka dasinya. Duduk di sebuah kursi dan terus memandangi lukisan itu.


"Azzura," gumam Vanno.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam, rasa lelahnya sedikit berkurang setiap kali dia melihat wajah ini. Wajah gadis cantik yang dia gambar dari hati dan tanpa sengaja malah terbentuk sebuah lukisan yang sangat indah. Vanno bahkan tidak menyangka jika dia bisa melukis tanpa objek foto seperti ini.

__ADS_1


Tapi ... semakin lama dilihat, kenapa lukisan ini mirip seseorang. Vanno mengernyit, dia semakin memandangi lukisan ini dan mengingat beberapa orang yang dia temui hari ini.


"Sepertinya lukisan ini mirip dengan ... " Vanno terdiam sesaat, hingga beberapa detik kemudian dia terkesiap dengan wajah terperangah, " gadis pembawa bunga," gumamnya.


__ADS_2