
Sepanjang jalan Zura lebih banyak diam, begitu pula dengan Vanno. Sesekali mereka hanya saling pandang dan setelah itu sama-sama tersenyum malu. Mereka nampak seperti anak remaja yang baru pertama kali kenal dan jatuh cinta. Apalagi wajah Zura, tidak bisa dia bohongi jika dia sangat malu ketika dipandangi Vanno terus menerus.
"Kenapa terus ngelihatin aku begitu? Kamu lihat jalan saja," ujar Zura, untuk yang kesekian kali.
Vanno mendengus senyum, dia menggeleng pelan dan rasanya benar-benar tidak bisa untuk tidak memandang wajah Zura. Seperti tidak ada puasnya. Dia masih tidak menyangka jika selama ini gadis baik hati yang merawatnya bisa dia lihat sekarang. Sangat cantik dan nampak sederhana. Ya, Zura cantik alami meski tanpa polesan make up. Dan Vanno suka.
"Evan!" rengek Zura saat Vanno masih saja mencuri pandang kearahnya sejak tadi. Bahkan lelaki itu tidak peduli jika saat ini mereka sedang berada di jalanan yang cukup padat.
"Aku masih belum puas memandang wajahmu, Zura. Kamu cantik," ucap Vanno dengan tawa kecilnya. Julukan CEO dingin di perusahaan tidak lagi ada di saat bersama Zura seperti ini.
Zura mendengus gerah, "mana ada begitu. Jelas kamu sudah bisa melihat sekarang, pasti lebih banyak gadis yang lebih cantik daripada aku. Jangan membual," sahut Zura.
Vanno tertawa lucu melihat wajah kesal sekaligus malu itu. Wajah merona itu membuat Vanno gemas sekali.
"Walaupun banyak wanita cantik tapi selama ini yang aku lihat dan aku ingat hanya kamu. Bahkan dari sebelum aku bisa melihat dan sekarang sudah melihat semuanya lagi tetap saja hanya nama kamu," jawab Vanno.
"Aku kira kamu bakalan ngelupain aku," ucap Zura.
"Kamu lupa kalau aku pernah janji sama kamu," sahut Vanno pula.
"Aku nggak lupa, aku masih ingat, bahkan aku masih ingat semua yang kamu katakan," jawab Zura.
"Jadi kenapa kamu gak sapa aku waktu kamu melihat aku di perusahaan kemarin?" tanya Vanno.
Zura menghela nafas sejenak dan menggeleng pelan, "Aku terkejut, aku gak nyangka kalau aku bisa ngelihat kamu lagi. Bahkan kamu kelihatan berbeda sekali. Kamu Vanno, bukan Evan yang aku kenal dulu," jawab Zura.
Kali ini Vanno yang nampak menghela nafas. Dia langsung memarkirkan mobilnya, karena kini mereka memang sudah tiba di depan toko bunga milik Zura.
Mereka tidak turun, namun kini Vanno malah menghadap ke arah Zura. Memandang wajah Zura dengan lekat bahkan sangat dalam. Tidak ada yang lepas dari pandangan Vanno. Semuanya dia tangkap dan dia ingat ke dalam memorinya. Wajah cantik yang selama ini dia cari-cari.
"Zura," panggil Vanno. Terdengar begitu lembut dan penuh perasaan.
"Sekarang aku memang Vanno, Zevanno Adiputra yang sudah kembali ke kehidupan awalku. Tapi ketika bersama kamu, aku tetap Evan yang kamu kenal. Tidak ada yang berubah sama sekali dariku untuk kamu. Semua janji itu, semua yang pernah aku ucapkan tidak akan pernah aku lupakan," ungkap Vanno, begitu serius.
__ADS_1
Zura sampai tertegun mendengar itu. Kini, mereka saling pandang dengan lekat. Vanno bahkan memandangi Zura tanpa berkedip sedikitpun. Pandangan mata tajam itu memandangi setiap inci bagian dari wajah Zura tanpa terkecuali. Mata cokelat yang indah, hidung yang mancung, dan bibir yang bewarna merah alami, semua tidak putus dari perhatiannya.
Vanno tersenyum, bahkan senyum yang paling indah yang pernah Zura lihat selama ini. Dulu dia juga melihat senyum ini, tapi rasanya berbeda karena dulu Vanno tersenyum hanya untuk perkataannya saja. Tapi sekarang, lelaki ini tersenyum karena memandang wajahnya, dia tersenyum sambil memandang Zura dengan penuh perasaan.
"Aku rindu kamu," ucap Vanno. Tangannya mulai terjulur dan mengusap wajah Zura dengan lembut. Bahkan usapan kali ini terasa berbeda. Bukan lagi untuk merasakan, namun usapan yang penuh dengan kekaguman.
"Tiada satu haripun yang aku lewatkan tanpa memikirkan keberadaan kamu, Zura. Setiap hal baru yang aku dapatkan, selalu saja mengingatkan aku tentang kamu. Tidak tahu kenapa aku begitu khawatir dengan keadaan kamu, aku takut tidak bisa bertemu dengan kamu lagi, dan aku takut tidak bisa melihat wajah kamu," ungkap Vanno kembali.
Mata Zura langsung berkaca-kaca mendengar itu. Tidak tahu kenapa setiap ucapan yang keluar dari mulut lelaki ini membuat Zura merasa tersentuh. Apa mungkin karena rasa rindu yang juga sudah tertanam di dalam hatinya selama ini?
"Sudah hampir dua tahun, kamu tidak melupakan aku dan semua yang telah terjadi?" tanya Zura.
Vanno langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak," jawabnya.
"Apa kamu mengingat itu karena kamu merasa punya hutang nyawa denganku?" tanya Zura lagi, kali ini dia bertanya dengan nada yang sedikit getir. Entah kenapa dia sangat ingin tahu tentang perasaan Vanno, meski seharusnya dia sadar diri untuk tidak terlalu banyak berharap.
Vanno meraih tangan Zura, dia menggenggam tangan itu dengan lembut.
Vanno menggeleng pelan, genggaman tangan itu semakin kuat dan bisa Zura rasakan kehangatan tangan itu kembali. Kehangatan yang selama ini sangat dia rindukan.
"Awalnya aku berpikir memang seperti itu," ungkap Vanno. Dan ungkapan itu membuat Zura langsung menahan nafas.
"Tapi, mana ada rasa balas budi itu melibatkan debaran jantung di saat aku bersama kamu. Aku selalu suka ada di dekatmu bukan karena aku yang memanfaatkan mu, aku suka ada di dekat kamu dari hatiku. Aku tidak bisa tanpa kamu bukan karena keterbatasan ku waktu itu. Tetapi, karena aku yang memang sudah jatuh hati padamu, Zura."
Deg
Jantung Zura langsung berdenyut ngilu mendengar ungkapan Vanno. Terlalu manis.
"Salahku yang tidak mengungkapkan hal itu lebih dulu. Aku beranggapan jika saat itu aku tidak pantas untuk mengucapkan itu karena nasibku yang malang. Aku tidak ingin kamu berpikir jika aku hanya memanfaatkan keadaan," ungkap Vanno.
Zura masih terdiam dan memadang Vanno dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku berniat untuk sembuh dan kembali dengan keadaan yang baik, setelah itu baru aku akan mengungkapkan semuanya padamu. Tapi sayang, ketika aku datang kesana, kamu sudah pergi," Vanno berucap dengan mata mulai sendu.
__ADS_1
Zura langsung tertunduk, dia tidak tahu harus merasa bahagia atau bersedih saat ini. Yang jelas jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa bahagia. Karena dia tahu perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi ... jika mengenangkan perbedaan status sosial mereka, rasanya sangat tidak mungkin untuk mengharapkan hal yang lain bukan?
"Zura," panggil Vanno, dia meraih dagu Zura hingga kini pandangan mata mereka saling bertatapan kembali.
"Jika tidak ada perasaan apapun yang ada di hatiku aku tidak akan mencarimu sampai sekarang. Aku juga tidak akan menyebut janji itu," ucap Vanno.
"Tapi kita berbeda," lirih Zura.
"Berbeda apa maksudmu?" tanya Vanno.
"Kamu pasti tahu aku siapa, Van. Sedangkan kamu adalah orang yang hebat. Rasanya bukankah percuma jika kita memiliki perasaan yang lebih?" tanya Zura.
Vanno berdecak, dia langsung menarik Zura ke dalam dekapannya.
"Jangan bicarakan hal itu, bagiku bagaimanapun masa lalu kamu, kamu tetap Zura ku yang baik hati. Kamu tetap malaikat dalam hidupku. Di dalam kehidupan ini aku hanya mau kamu, dan aku hanya menginginkan kamu." ucap Vanno dengan yakin.
Zura langsung tersenyum dengan air mata yang semakin deras. Dia juga memeluk tubuh Vanno dengan kuat, menikmati aroma maskulin yang cukup menenangkan.
"Jangan pergi lagi, aku mohon," pinta Vanno.
"Aku nggak akan pergi kalau bukan kamu yang minta," jawab Zura.
"Berjanjilah," pinta Vanno kembali.
"Aku janji," jawab Zura.
Mereka berpelukan cukup lama, saling mengungkapkan perasaan masing-masing. saling melepaskan rasa rindu yang selama ini terpendam.
Penantian Vanno terbayar, gadis yang dia cari kini telah ada di dalam dekapannya. Begitu pula dengan Zura yang merasa bahagia karena dia tahu jika sekarang perasaannya terbalas.
Tapi...
Apakah semua akan berjalan dengan mudah???
__ADS_1