
Siang itu di desa Nateh, sebuah klinik kecil yang berada di desa itu kedatangan seorang dokter magang yang akan bekerja untuk beberapa waktu disana. Desa Nateh adalah sebuah desa kecil dan jauh dari kota, dimana disana untuk tenaga kesehatan masih kurang memadai. Jadi dengan kedatangan dokter magang itu mereka akan sangat merasa terbantu.
Meskipun hanya seorang dokter magang yang masih menjalani study kedokteran, namun dia sudah memiliki izin untuk bekerja. Lelaki tampan yang masih berusia 21 tahun itu terlihat bersih dan begitu klimis khas seorang dokter pada umumnya. Jelas saja kedatangannya disambut baik oleh warga disana.
Daffa Aditya Bagaskara, dia tersenyum ramah saat menyapa kepala desa yang menyambut kedatangannya. Rasanya lelah sekali, tapi ini demi misi dan tujuan mulianya yang ingin membantu sesama.
"Selamat datang didesa kami, nak. Semoga kamu betah ya," ucap Pak Bandi.
Daffa tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Tentu, Pak. Terima kasih sudah menyambut saya dengan baik," jawab Daffa.
"Ya, tentu saja. Tapi maaf ya, nak. Fasilitas disini hanya seperti ini. Rumah ini kecil, kliniknya juga hanya seadanya. Semoga saja dengan kedatangan kamu semua bisa berubah," harap Pak Bandi.
"Iya, pak. Saya datang kemari memang untuk memajukan dan membantu kesehatan di desa ini. Semoga dengan kedatangan saya bisa sedikit membantu warga desa yang kesusahan," jawab Daffa.
"Itu pasti, kami memang sangat merasa terbantu. Oh iya, jika memerlukan sesuatu kamu bisa meminta tolong sama bapak ya. Ini putri bapak, Anika. Dia juga pasti akan membantu kamu nanti," Pak Bandi langsung memperkenalkan Anika yang sejak tadi sudah tidak sabar untuk mendekati dokter tampan itu. Bahkan dia langsung menjulurkan tangannya pada Daffa dengan senyum secerah mentari.
"Halo dokter, saya Anika. Kalau dokter butuh teman atau butuh bantuan, jangan sungkan beri tahu saya," ucapnya.
Daffa hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. " Ya, terima kasih." jawabnya cukup singkat. Malas sekali dia menanggapi gadis ini yang benar-benar terlalu berlebihan.
"Oh iya, nak. Di klinik kamu juga akan dibantu oleh Diyah, dia perawat yang biasanya bertugas di klinik kita setiap hari." Kali ini pak Bandi memperkenalkan seorang gadis manis dengan pakaian putihnya yang sejak tadi hanya diam di dekat mereka.
"Salam kenal dokter, saya Diyah," ucap Diyah yang langsung memperkenalkan dirinya pada Daffa. Dan kali ini Daffa menyambutnya dengan ramah.
"Halo Diyah, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," jawab Daffa.
Diyah hanya mengangguk dan tersenyum ramah pada Daffa. Sikapnya yang menjaga pandangan membuat Daffa suka. Mungkin gadis ini bisa menjadi patner kerja yang cocok untuk Daffa nantinya.
"Jika begitu kami tinggal dulu ya, nak. Semua keperluan kamu juga sudah disediakan oleh Diyah. Jadi kamu bisa berdiskusi dengan Diyah nanti," ujar pak Bandi kembali.
"Tentu pak, terima kasih," jawab Daffa.
"Biar saya temani ya dokter, siapa tahu butuh bantuan," tawar Anika. Namun, Daffa langsung menggeleng pelan.
"Tidak, Anika. Terima kasih. Saya ingin beristirahat dulu sekalian ingin membahas tentang kesehatan di sini bersama Diyah saja," tolak Daffa dengan halus. Membuat Anika menjadi kesal sekarang.
"Sudahlah, biarkan dokter Daffa beristirahat dulu. Sudah ada Diyah," sahut Pak Bandi.
Anika langsung berdecak kesal. Tidak Diyah, tidak Zura, kedua gadis ini adalah gadis yang selalu bisa membuat Anika merasa emosi.
__ADS_1
Hingga mau tidak mau, Anika pergi bersama pak Bandi dan yang lainnya meninggalkan Diyah bersama dokter Daffa.
Diyah membantu Daffa memasukkan barang-barangnya kedalam rumah kecil. Rumah yang tidak jauh dari klinik mereka berada.
"Kamu asli penduduk sini Diyah?" tanya Daffa berbasa-basi.
"Iya, dokter. Saya lahir dan besar disini, kuliah 3,5 tahun di kota dan kembali lagi kesini," jawab Diyah sembari meletakkan tas kecil Daffa diatas meja.
"Kenapa tidak bekerja di kota saja?" tanya Daffa. Dia menggeret koper yang berisi peralatan medis yang dia bawa dari ibu kota.
Diyah menggeleng pelan, dia berjalan menuju kearah Daffa yang sudah duduk dikursi kecil rumah itu. " Disini tenaga medis kurang. Bahkan terbilang tidak ada. Rasanya tidak mungkin saya tamat sekolah kesehatan tapi malah memilih bekerja diluar sementara desa saya sendiri kesulitan jika untuk berobat," jawab Diyah.
Daffa langsung tersenyum kagum mendengar itu. "Kamu hebat, saya yakin diantara satu berbanding seribu hanya kamu yang mau menetap di desa dengan keadaan yang minim seperti ini," ucap Daffa.
Diyah mendengus senyum dan mengangguk pelan. "Bukankah dokter juga seperti itu? Jauh-jauh datang dari ibu kota tapi malah memilih desa terpencil ini untuk magang," balas Diyah pula.
Tentu saja ucapan Diyah itu membuat Daffa lagi-lagi tersenyum tipis. "Kamu benar, saya kemari selain ingin membantu warga juga karena memiliki tujuan," jawab Daffa.
"Tujuan apa?" tanya Diyah.
"Mencari kakak saya yang menghilang, sudah empat bulan dia tidak pulang," ungkap Daffa.
Diyah langsung tertegun mendengar itu.
"Menghilang karena apa dokter?" tanya Diyah.
"Kecelakaan, mobilnya masuk kesungai, dan sampai sekarang tidak ditemukan. Entahlah, banyak yang bilang jika dia memang sudah tewas. Bahkan keluarga juga sudah merelakan kepergiannya," ungkap Daffa.
"Ya ampun, keluarga kalian pasti begitu terpukul," gumam Diyah.
Daffa langsung mengangguk dengan wajah sendu.
Diyah melupakan sesuatu, dia tidak berpikiran jauh ketika empat bulan yang lalu dia pernah menolong seorang pria yang dibawa oleh Zura ke klinik kecilnya.
...
Keesokan harinya, Zura sedikit khawatir dengan keadaan nek Sri yang tiba-tiba demam pagi ini. Badan wanita tua itu begitu panas bahkan dia juga menggigil kedinginan sejak subuh tadi. Sudah berulang kali Zura mengompres tubuhnya, namun panasnya tidak juga turun.
"Nek, kita ke klinik aja ya," ajak Zura.
__ADS_1
"Janganlah, mahal. Nenek nggak ada uang lagi," jawab Nek Sri dengan suara yang begitu lemah.
"Tapi nenek sakit, nenek harus berobat," ujar Zura.
"Nggak apa-apa, kan sudah minum obat tumbuk nenek. Nanti juga sembuh," jawab Nek Sri.
"Tapikan lama, Nek. Zura gak tega lihat nenek kayak gini," jawab Zura dengan wajah yang sedih.
"Nenek sakit ya?" Tiba-tiba suara Evan membuat mereka sedikit terkesiap.
"Ah, Evan. Kamu tungguin Nenek dulu ya. Aku mau beli obat di klinik, Nenek demam," ujar Zura yang langsung beranjak dan mendekat kearah Evan. Bahkan dia langsung meraih tangan Evan dan mendudukkan Evan didekat neneknya.
"Zura, kamu masih punya uang, nak?" tanya Nek Sri.
"Masih kok, Nek. Nenek tenang aja. Nenek disini dulu sama Evan ya, Zura pergi dulu," pamit Zura.
"Hati-hati Ra," ujar Evan.
"Iya," sahut Zura yang langsung berlari meninggalkan Evan dan neneknya berdua dirumah.
Zura berjalan sedikit berlari kearah klinik. Ditangannya menggenggam selembar uang lima puluh ribuan. Entah cukup atau tidak, Zura tidak tahu. Dia hanya ingin neneknya sembuh.
Zura berjalan tanpa memperdulikan orang-orang seperti biasa. Dia hanya ingin cepat sampai di klinik. Namun, dia sedikit heran, kenapa di klinik itu terlihat ramai? Bahkan ada Anika disana.
"Mau ngapain kamu?" tanya Anika dengan ketus. Zura tidak menanggapi, dia hanya ingin cepat masuk kedalam. Namun, tangannya langsung di cekal oleh Anika.
"Sabar, ngantri, gak liat tuh orang-orang pada ngantri!" ucap Anika sembari menunjuk antrian orang-orang yang ada disana.
"Kok tumben banyak orang?" tanya Zura dengan bingung.
"Iyalah, kan disini ada pengobatan gratis. Makanya jangan sibuk ngurusin orang buta itu aja, sampai keadaan dusun sendiri gak tahu," sahut Anika dengan ketus.
Zura menghela nafas dan kembali memandang antrian yang sudah bergiliran masuk kedalam itu. Jika ada pengobatan gratis, berarti neneknya bisa dia bawa kemari. Senyum langsung mengembang diwajah Zura sekarang. Membuat Anika langsung meringis geli memandangnya.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri begitu. Heh, jangan-jangan kamu kesini untuk periksa kandungan lagi," tuding Anika.
"Kok periksa kandungan sih," gerutu Zura.
"Iyalah, kamu kan kumpul kebo sama si buta itu, jelas aja kamu hamil kan," jawabnya dengan sesuka hati.
__ADS_1
Tentu saja ucapan Anika membuat beberapa orang yang ada disana langsung menoleh kearah mereka.
"Jangan asal ngomong dong, mbak," protes Zura tidak terima. Namun, bukan Anika namanya jika dia tidak membuat Zura malu.