Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Datang Kerumah Keluarga Adiputra


__ADS_3

Zura memandangi hasil rangkaian bunga yang sudah terpajang rapi di etalase. Bunga tulip putih yang berhasil dia rangkai dalam satu buket besar yang sangat indah. Bunga ini dia buat satu malaman, bahkan Zura hanya tertidur beberapa jam saja. Bukan karena perkerjaan membuat bunga itu yang memakan waktu lama, tapi karena hati dan pikiran Zura yang benar-benar tidak menentu.


Bunga -bunga hasil rancangannya ini akan dibawa ke tempat Evan. Tempat dimana seseorang yang selalu Zura rindui selama satu setengah tahun ini.


Begitu dalam rasa rindu yang dia rasakan. Ingin memeluk, ingin bertemu, bahkan ingin sekali melihat kembali senyum dari wajah tampan lelaki itu. Tapi sekarang, rasanya sungguh tidak bisa lagi untuk berharap banyak. Mereka memang punya janji, mereka punya kata-kata indah di masa dulu. Janji untuk terus selalu bersama, janji untuk kembali bertemu dan menjalani hidup bersama lagi.


Tapi itu dulu, dulu sekali ketika Evan masih menjadi lelaki malang yang kehilangan segalanya. Tapi sekarang dia bukan Evan lagi, dia sudah menjadi seorang Zevanno Adiputra. Lelaki yang memiliki kekuasaan dan juga nama baik yang cukup tinggi.


Apa mungkin lelaki itu masih mengingat tentang janji mereka? Apa mungkin dia masih mengingat tentang kenangan manis yang pernah tercipta di antara mereka dulu?


Ah rasanya sangat mustahil bukan.


Zura menghela nafasnya dengan berat. Dia masih duduk di kursi dan memandangi Anton yang sedang membereskan toko bersama Akmal. Jika tidak ada halangan besok mereka sudah akan membuka toko bunga ini. Semua sudah hampir selesai, hanya tinggal beberapa sentuhan terakhir saja. Setelah itu Zura bisa bekerja dengan nyaman di toko bunganya.


Toko bunga Zuan florist. Toko bunga yang Zura beri nama dengan gabungan namanya dan Evan. Lucu sekali bukan, tapi begitulah kenyataannya. Nama lelaki itu memang tidak akan pernah bisa Zura abaikan di dalam kehidupannya.


"Mbak Zura!" Tiba-tiba seruan Diko membuat Zura langsung menoleh, begitu pula dengan Akmal dan Anton yang masih menyusun bunga-bunga plastik di dalam rak hias.


"Ada apa?" tanya Zura. Dia memandangi Diko yang baru saja tiba. Tidak biasanya karyawan baru Zura ini terlambat datang. Biasanya dia datang paling cepat.


"Tiba-tiba Mas Aldi minta saya ke kebun bunga untuk ambil stok bunga kita, jadi saya gak bisa anterin pesanan bunga itu ke pelanggan, mbak," ungkap Diko.


"Loh, jadi gimana dong? Ini banyak banget loh," Zura langsung berdiri dari kursinya dan memandang Diko dengan bingung. Semua adalah tanggung jawab Diko, tapi kenapa malah lelaki ini ada tugas lain?


"Mas Aldi juga nyuruh saya kesana sekarang, dia bilang pesanan ini biar Anton yang anterin. Bunga-bunga segar itu masih dalam proses mbak, takut gak kebagian sama yang lain. Pesanan kita juga banyak kan untuk besok," sahut Diko.


"Ada apa sih?" tanya Akmal yang berjalan mendekat kearah Zura dan Diko begitu pula dengan Anton. Di tangan mereka masih memegang beberapa tangkai bunga plastik untuk pajangan.


"Diko mendadak diminta Mas Aldi ambil stok bunga di kebun," jawab Zura.


"Bener, bang. Hari ini cukup banyak pemborong. Takut kita gak kebagian untuk stok besok. Besok juga banyak pesanan. Jadi kita bagi tugas ya," ujar Diko.


"Yaudah gak papa, itu juga penting," sahut Akmal.

__ADS_1


"Tapi waktunya udah mepet. Ini udah mulai sore, bukannya semua pesanan ini di antar siang ini juga? Mana tiga tempat lagi," ungkap Zura bingung.


"Kita bagi tugas. Kan itu ada tiga, jadi masing-masing kita pergi ke satu tempat supaya aman semua, gimana?" tawar Akmal.


"Boleh deh, daripada kita ngecewain pelanggan mbak," sahut Anton pula.


"Yaudah, Zura ke gedung pertanian antar papan bunga," ucap Zura. Namun ketiga lelaki itu langsung menyahut dengan cepat membuat Zura langsung terkesiap kaget.


"Janganlah, itu berat. Walaupun bisa pesan mobil tapi tempatnya jauh. Itu biar Anton aja, dia lebih tahu daerah itu," ujar Akmal.


"Benar mbak," sahut Anton dan Diko bersamaan.


"Tapi kan sekolah SMA itu lebih jauh, kang. Zura juga gak tahu daerah sana," sahut Zura dengan wajah yang cemas.


"Itu biar aku, kamu cukup ke rumah keluarga Adiputra aja. Di sana lebih dekat dan jalannya juga gak ribet. Kalau kamu yang antar juga pasti bakalan lancar semua. Barang yang dibawa juga nggak banyak dan besar. Cuma perlu kehatia-hatian, kalau rusak kamu bisa benerin itu lagi. Tapi kalau kami yang bawa, salah sedikit bisa gawat kita," ungkap Akmal panjang lebar.


Diko dan Anton langsung mengangguk setuju. Mereka seolah memang ingin Zura yang pergi mengantarkan pesanan keluarga konglomerat itu.


"Tapi, kang. Zura ...." perkataan Zura langsung terhenti karena dia benar-benar ragu untuk pergi kesana.


Namun, Zura hanya bisa menghela nafas panjang dan begitu berat. Dia benar-benar tidak bisa jika harus bertemu dengan Evan lagi. Dia takut tidak bisa untuk menhana perasaan. Bagaimana jika dia menyapa tapi Evan malah tidak mengenalinya. Bukankah itu akan terasa sangat sakit?


"Zura, ayolah. Dia tidak akan ada di rumah sore ini," kata Akmal lagi.


"Dia siapa?" tanya Diko yang heran.


"Bukan siapa-siapa, cuma tukang kebun di sana," jawab Akmal.


Zura langsung menampar gemas lengan Akmal. Enak sekali dia berkata jika Evan adalah tukang kebun. Apa Akmal tidak takut jika mulutnya itu bisa hilang jika tuan besar Adiputra itu tahu?


Akhirnya, mau tidak mau di siang yang sudah akan beranjak sore itu Zura pergi membawa pesanan milik keluarga Adfiputra. Tidak tahu ada mobil dari mana, tapi mereka bilang itu dari rumah keluarga Adiputra yang memang menjemput pesanan mereka.


Awalnya Zura ingin menolak, tapi supir mobil itu berkata jika Zura harus ikut sampai ke tempat agar memastikan bunga yang mereka pesan bisa aman.

__ADS_1


Akmal dan Diko berjanji akan menjemput Zura setelah urusan mereka selesai. Hingga akhirnya Zura bisa pergi dengan tenang. Ya, meskipun di sepanjang jalan hatinya yang tidak tenang. Apalagi ketika mobil sudah memasuki kawasan perumahan elit. Rasanya Zura seperti berada di sebuah negeri dongeng yang dipenuhi oleh hunian mewah.


Sesekali supir mobil itu melirik Zura yang sedag memangku karangan bunga tulip dan terus memandang keluar mobil. Tidak ada yang mereka bicarakan sepanjang jalan. Zura dengan keraguan hatinya sedangkan supir itu dengan rasa bingung karena pesan dari Tuan Asisten yang berkata jika dia harus membawa Zura dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Zura masuk ke dalam sebuah rumah mewah dan terlihat begitu megah. Bahkan gerbangnya saja begitu menjulang tinggi menutupi rumah itu. Halamannya luas, ada seperti taman dan juga air terjun buatan di sana. Benar-benar sangat indah, Zura bahkan sampai terperangah takjub memandang rumah ini.


Sekarang, dia semakin yakin jika dia tidak akan bisa bersama dengan Evan dan mengulang kenangan manis mereka dulunya. Makan bersama, minum bersama, tertawa, menangis, bahkan dia tidak akan bisa lagi menggoda lelaki itu.


"Nona, ayo turun," ujar supir itu yang ternyata sudah membukakan pintu mobil untuk Zura.


Zura mengangguk pelan, dia turun dari mobil dengan perasaan yang benar-benar tidak menentu. Bahkan jantungnya sudah berdebar dengan kencang sekarang. Kaki Zura sedikit bergetar, apalagi ketika dua orang pelayan dengan sigap mengambil karangan bunga yang masih berada di dalam mobil.


"Mari, Nona. Masuk ke dalam," ajak mereka.


"Bisakah kalian saja yang membawa ini. Aku sudah harus pulang sekarang," ujar Zura.


Namun, kedua pelayan itu langsung menggeleng pelan, "Tidak bisa, Nona. Tuan muda ingin bertemu dengan anda," jawab mereka.


Zura tertegun, jantungnya semakin berdenyut ngilu.


Tuan muda?


Bukankah Tuan muda di keluarga ini adalah Evan?


Ya Tuhan, tolong jangan sampai Zura bertemu dengan lelaki itu.


Tapi, suara seseorang membuat Zura langsung membatu.


"Kenapa masih berdiri di situ?" tanya Zevanno.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Jantung Zura serasa berhenti berdetak sekarang, wajahnya memucat, lututnya bergetar, bahkan tubuhnya langsung panas dingin. Apalagi ketika melihat Tuan Muda Zevanno Adiputra itu sudah berdiri di depan pintu dan memandang Zura dengan lekat.


__ADS_2