
Suasana hiruk pikuk dan begitu riuh itu kini kalah dengan perasaan terkejut Daffa. Dan bukan hanya Daffa yang terkejut, namun Zura dan Diyah juga begitu.
"Kak, ini benar kamu kan!" seru Daffa sekali lagi. Bahkan dia langsung memeluk Evan dengan erat, namun Evan hanya diam dan nampak kebingungan.
"Kamu siapa?" tanya Evan. Dia yang risih langsung melepaskan Daffa dari tubuhnya. Jelas saja penolakan Evan itu membuat Daffa bingung. Dia memandang Evan dengan lekat. Seluruh wajahnya bahkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak salah, ini memang Vanno, anak dari saudara ayah Daffa yang menghilang lebih dari empat bulan lalu. Tidak mungkin Daffa salah orang. Meski penampilan lelaki ini sangat jauh berbeda dan terlihat kurus, namun ini memanglah Vanno yang dia kenal.
"Dokter, apa maksud Dokter? Dokter kenal Evan?" tanya Zura.
Daffa mengangguk ragu. Dia masih terus memandangi Evan tanpa henti. "Dia begitu mirip kakakku, Zevanno," jawab Daffa. "Tapi kenapa kamu tidak mengenalku, kak? Apa aku salah orang," ucap Daffa lagi, nada suaranya terdengar begitu lirih. Dia sangat berharap jika dia tidak salah orang.
"Aku benar-benar tidak mengenalmu," jawab Evan pula.
Daffa menggeleng lesu, rasanya tidak mungkin. Suaranya, wajahnya dan pembawaan pria ini sangat mirip dengan saudaranya.
"Dokter." Tiba-tiba Diyah menyahut ditengah-tengah kebingungan mereka. Membuat Daffa langsung menoleh ke arahnya.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk berbicara saja, di sini mulai ramai," ujar Diyah.
Zura dan Daffa langsung memandang area sekitar mereka, dimana orang-orang masih panik dan terus menangis ketakutan di sana. Bahkan mereka melupakan kejadian mengerihkan itu untuk beberapa saat karena pertemuan Daffa dan Evan.
Hingga akhirnya, mereka berpindah tempat dan pergi dari pasar malam itu. Duduk di sebuah warung kecil yang nampak kosong karena penghunginya berada di pasar malam.
Sejak tadi Daffa tidak berhenti memandangi Evan. Dia benar-benar bingung dengan sikap Evan yang seperti ini. Apalagi dengan pandangan matanya yang tidak fokus dan juga dia yang seperti orang bingung.
"Apa benar Evan mirip dengan kakak Dokter?' tanya Zura kembali.
Daffa langsung mengangguk dengan cepat. Dan dengan cepat pula dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Mencari sesuatu yang akhirnya dia tunjukkan kearah Zura.
Mata Zura langsung terbelalak lebar saat melihat foto seorang lelaki tampan dengan wajah datarnya, dan itu sangat mirip sekali dengan Evannya.
"Astaga, memang mirip sekali Zura," gumam Diyah yang juga begitu terkejut.
Zura langsung memandang Evan dengan senyum haru dan mata yang berkaca-kaca.
"Evan, kamu menemukan saudara mu sekarang," ucap Zura.
Evan mengernyit, begitu pula dengan Daffa.
__ADS_1
"Saudaraku?" gumam Evan.
"Tunggu dulu, sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Daffa. Dia benar-benar bingung sekarang.
"Apa saudara dokter hilang lebih dari empat bulan yang lalu?" tanya Zura tanpa mau menjawab pertanyaan Daffa terlebih dahulu.
Daffa mengangguk pelan, entah kenapa jantungnya menjadi tidak tenang sekarang. Bahkan mungkin sudah sejak tadi. "Ya, kakak ku melakukan perjalanan bisnis di Banjarmasin untuk meninjau proyek barunya. Namun, dia tidak kembali tepat waktu, dan kabar yang kami dapatkan adalah dia mengalami kecelakaan parah dan mobil yang dia kendarai masuk sungai. Sejak saat itu kami tidak menemukan dia lagi," ungkap Daffa.
Zura semakin yakin jika Dokter muda ini memanglah kerabat Evan. Antara sedih dan bahagia dia sekarang. Sedih karena sepertinya sebentar lagi masanya dengan Evan sudah akan habis. Tapi dia juga bahagia, karena akhirnya dia bisa melihat Evan kembali ke keluarganya.
"Saya menemukan Evan di pinggir sungai beberapa bulan lalu," ungkap Zura yang mulai menceritakan kisah itu pada Daffa.
"Keadaannya cukup parah, bahkan dia sampai tidak sadar hampir sebulan lamanya,"
Ucapan Zura membuat Daffa tertegun, dia masih terus memandang Evan yang hanya bisa diam dan masih saja seperti orang bingung.
"Namun, karena kecelakaan parah itu membuat Evan lupa ingatan,"
Deg
Daffa kembali tertegun, hatinya langsung mencelos mendengar ucapan Zura. Pantas saja Evan tidak mengenalinya dan bahkan sudah seperti orang yang linglung.
Daffa memejamkan matanya sejenak dan menarik nafasnya dalam-dalam. "Ya Tuhan, kak Vanno. Pantas saja kami tidak bisa menemukan kakak dimanapun," ucap Daffa begitu getir. Dia sangat sedih melihat keadaan Vanno yang sekarang. Tapi dia juga bahagia, karena ternyata Vanno masih hidup. Keluarga Adiputra pasti senang sekali mendengar kabar ini.
"Kamu benar saudaraku?" tanya Evan. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang? Bahagia, jelas saja. Tapi ... dia juga masih ragu.
"Ya, saya adalah anak dari Ayah Arya, saudara aunty Nara. Kita sepupu kak," jawab Vanno.
"Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?" tanya Vanno lagi.
"Kak, kasus amnesia ini tidak bisa mengingat hal dengan cepat. Apalagi jika bukan kenangan yang membekas dihati," ungkap Daffa.
"Aunty Nara sangat bersedih dengan kakak yang menghilang, begitu pula dengan uncle Reynand. Kak Zeze juga tidak lagi seceria dulu sejak kepergian kakak," ungkap Daffa.
Evan terdiam, nama-nama yang disebutkan oleh Daffa memang terasa tidak asing di kepalanya.
"Evan, kamu sudah menemukan keluarga mu sekarang. Kamu bisa sembuh lagi," Zura berucap sembari mengusap tangan Evan dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu tidak berbohongkan?" tanya Evan pada Daffa.
"Kak, untuk apa aku berbohong. Jika kakak tidak percaya, kakak boleh minta teman kakak ini untuk melihat isi ponselku, disana semua anggota keluarga kakak ada," ungkap Daffa. Bahkan dia langsung menyerahkan ponselnya pada Zura.
Zura dan Diyah langsung memeriksa dan melihat semua galeri Daffa dimana memang banyak sekali foto-foto keluarga mereka saat sedang berkumpul.
Hati Zura begitu terharu melihat gambar-gambar itu. Ternyata Evan memang orang kaya. Terlihat jelas dari semua penampilannya disana. Keluarganya, gaya hidupnya dan juga semua yang melekat ditubuh Evan.
Ah rasanya Zura merasa sangat kecil sekarang.
"Van, ini benar. Dokter Daffa adalah keluarga mu," ucap Zura.
Evan masih terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Rasanya benar-benar tidak menyangka jika dimalam ini dia akan bertemu kembali dengan keluarganya.
"Kak, kita harus pulang secepatnya. Semua orang pasti senang jika mereka tahu kamu masih hidup," ujar Daffa.
"Pulang?" tanya Evan kembali.
"Ya, ke Jakarta," jawab Daffa. Kini dia menoleh kearah Zura. Memandang gadis yang selalu bersama Evan ini.
"Kamu yang sudah menolong kakakku?" tanya Daffa.
Zura hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum getir.
"Aku mengucapkan terima kasih banyak padamu untuk mewakili keluarga kami, aku harus membawa kak Vanno pulang. Dia harus segera mendapatkan perawatan disana. Apalagi sampai saat ini keluarganya masih terpukul dengan kepergian kak Vanno," ujar Daffa.
Zura mengangguk pelan, "Iya, Dokter. Gak apa-apa. Evan memang sudah harus kembali. Saya cuma bisa merawat dia seadanya, saya dan nenek gak punya biaya untuk bawa Evan berobat," jawab Zura.
"Zura, apa yang kamu lakuin udah lebih dari cukup. Kalau nggak ada kamu mungkin aku sudah mati," jawab Evan terdengar tidak suka.
"Benar, kami berhutang budi padamu. Jika tidak ada kamu, tidak mungkin kak Vanno masih ada disini. Semua kebaikan kamu pasti akan dibalaskan oleh keluarga kak Vanno nantinya," ucap Daffa lagi.
Namun, Zura langsung menggeleng dengan cepat. "Nggak perlu dokter, saya dan nenek ikhlas menolong Evan. Melihat Evan kembali ke keluarganya saja, saya sudah senang sekali," jawab Zura.
"Zura," lirih Evan.
Zura kembali mengusap lengan Evan dengan lembut,"Iya, aku senang kamu sudah menemukan keluargamu lagi. Sekarang kamu sudah bisa pulang, berkumpul lagi dengan orang tuamu. Mereka pasti merindukan kamu. Kamu juga sudah bisa sembuh nanti," jawab Zura.
__ADS_1
Bibirnya bergetar menahan tangis, namun karena masih ada Diyah dan Daffa, sebisa mungkin Zura menahan tangisnya.
Ya, bagaimana tidak sedih. Hampir lima bulan bersama dan malam ini adalah malam terakhir mereka. Jelas saja itu membuat Zura bersedih. Evan akan pulang dan dia akan kembali sendirian.