Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Memulai Usaha


__ADS_3

'Sejauh apapun aku melangkah, dan sejauh apapun aku pergi. Titik rindu yang aku temui, adalah dirimu. Apa kabar kamu sekarang? Aku rindu'


..


Kalimantan waktu setempat.


Seorang gadis duduk dengan banyak bunga segar di sekelilingnya. Tangannya sejak tadi tidak bisa berhenti untuk merangkai bunga berbagai warna itu dalam satu tempat. Sore ini dia harus sudah selesai dengan rangkaian bunganya untuk dia antar ke pelanggan.


"Zura, lihat apa yang aku bawa," ucapan seseorang membuat Zura yang masih fokus langsung menoleh. Wajahnya nampak mengernyit dan memandang Akmal dengan bingung.


"Apa itu kang?" tanya Zura.


"Tiket pesawat ke Jakarta," ucap Akmal dengan senyum lebarnya. Dia memainkan dua buah tiket di tangannya.


Mata Zura langsung terbelalak kaget mendengar itu. Bahkan bunga yang ada di tangannya langsung dia lepas begitu saja. Zura beranjak dan langsung berlari menuju Akmal.


"Akang serius kita ke Jakarta? Beneran di terima?" tanya Zura.


Akmal mengangguk cepat, "iya dong, kamu di terima untuk kerjasama dengan wedding organizer itu. Katanya bakat kamu luar biasa, hasil rancangan desain parsel dan buket bunga yang kamu kirim sangat mereka sukai," ungkap Akmal.


"Waahh! Senangnya, akhirnya bisa punya supplier tetap!" Zura berteriak dengan begitu senang. Bahkan dia langsung memeluk Akmal dengan kuat. Membuat lelaki itu langsung gelagapan menangkap tubuh Zura.


"Heh kamu itu berat, main lompat aja," gerutu Akmal, namun tetap saja dia menahan tubuh Zura dalam dekapannya.


"Enak aja ngatain Zura berat, Zura cuma senang karena usaha kita bisa maju kang, apalagi bisa kerjasama sama mereka," ungkap Zura.


Akmal tertawa senang dan mengusap gemas pucuk kepala Zura. "Ini berkat kegigihan kamu selama setahun ini. Aku aja nggak nyangka kamu punya bakat di bidang ini," jawab Akmal.

__ADS_1


Zura melepaskan pelukannya dari Akmal dan menghela nafas panjang. Memandangi tumpukan bunga-bunga segar yang masih berserakan di atas lantai rumah sewa mereka.


"Zura juga nggak nyangka, awalnya cuma iseng bantu-bantu Bu Nani, tapi ternyata malah bisa sampai sekarang," jawab Zura.


"Tuhan pasti kasih jalan untuk bisa merubah hidup kita, bahkan kita juga bisa pindah ke Ibukota untuk buat usaha kita ini semakin maju," ucap Akmal.


Zura mengangguk dengan senyum simpulnya. Dia juga tidak menyangka bisa seperti sekarang. Awal tiba di kota besar Banjarmasin, Zura dan Akmal begitu susah. Mereka harus bekerja dengan keras agar bisa makan dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


Akmal bekerja sebagai kuli bangunan, sedangkan Zura menjadi pembantu rumah tangga di sebuah rumah mewah. Lelah, letih, dan ingin menyerah sudah berulang kali Zura rasakan. Apalagi duka karena kehilangan neneknya belum hilang, di tambah dengan perasaan rindu pada seseorang yang sampai sekarang masih selalu dia rasakan.


Semua tidak mudah untuk Zura. Hingga suatu hari, ibu Nani, majikan Zura meminta bantuan Zura untuk bekerja di tempat usaha parcel hantaran miliknya. Disana Zura belajar merangkai parcel dan buket bunga. Siapa sangka, dia bisa bekerja dengan cepat apalagi untuk merangkai bunga. Zura sangat menyukai itu.


Dari situ, Bu Nani meminta Zura bekerja di tempatnya. Uang hasil bekerja di tempat Bu Nani Zura jadikan modal, dan sekarang dia mempunyai usaha sendiri. Sebuah toko bunga kecil yang menyediakan parcel dan juga buket bunga.


Meski masih kecil-kecilan, tapi beberapa waktu lalu usaha kecilnya malah di lirik seorang pengusaha dari ibukota. Dia meminta Zura untuk bekerja sama dengan wedding organizer miliknya. Tentu Zura tidak menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi di ibukota lebih banyak peluang daripada di Kalimantan. Jadi dengan berbagai keputusan, dia bersama Akmal akan pindah ke Ibukota dua hari lagi.


"Ya, aku pasti akan selalu mendukungmu," jawab Akmal.


"Terima kasih, kang. Akang memang terbaik," puji Zura.


Akmal mengusap kepala Zura dengan gemas. "Aku suka dengan gadis yang penuh semangat seperti mu. Tidak terus larut dalam kesedihan, kamu bisa buktikan ke orang-orang di desa kalau kamu bisa berdiri di kakimu sendiri," ucap Akmal.


"Ini berkat akang juga, dan juga berkat seseorang yang selalu nasehatin Zura untuk tetap kuat bagaimanapun keadaannya," jawab Zura.


"Evan," tebak Akmal.


Zura mendengus senyum dan kembali duduk di tempatnya. "Ya, Evan," jawab Zura.

__ADS_1


"Kamu masih ingat dia?" tanya Akmal yang juga duduk di dekat Zura. Tugasnya adalah membantu Zura sekarang. Terutama untuk mengumpulkan dan membeli bunga-bunga segar yang akan mereka rangkai dan jual.


"Kenapa harus lupa, hampir lima bulan sama-sama, rasanya gak mungkin bisa di lupain begitu aja kan," jawab Zura. Namun kini nada bicaranya terdengar begitu sendu.


"Jika ada jodoh, kalian pasti bertemu lagi," ucap Akmal.


Zura menggeleng lemah, "entahlah kang, Zura cuma berharap Evan udah bahagia dengan keluarganya sekarang," jawab Zura.


Akmal hanya tersenyum simpul. Lain di bibir, lain di hati. Begitulah keadaan Zura sekarang. Beberapa kali Akmal melihat Zura yang sering melamun, bukan hanya karena merindukan neneknya, tapi Akmal tahu dia pasti merindukan lelaki asing itu. Lelaki yang entah ada dimana sekarang.


Ya, Zura tak akan bisa melupakan Evan sedikitpun. Meski sudah satu tahun lebih berlalu, tapi kenangan itu masih tetap selalu dia ingat.


Senyum Evan, wajah takutnya, wajah cemasnya, dan wajah kesalnya disaat Zura menggodanya dulu, semua masih Zura ingat.


Dia rindu, bahkan sangat rindu. Tidak tahu bisa bertemu lagi atau tidak. Tapi besar harapan Zura untuk bisa melihat Evan lagi. Dia ingin sekali melihat kabar Evan yang sekarang. Entahlah pria itu masih mengingatnya atau tidak. Tapi perkataan Evan disaat terkahir pertemuan mereka masih Zura ingat sampai sekarang.


'Aku tidak akan melupakanmu Zura, aku pasti akan datang lagi menemui mu.'


Ya, ucapan itu masih selalu Zura ingat sampai saat ini.


Benarkah Evan tidak akan melupakannya? Benarkah dia akan datang lagi ketika dia sudah sembuh.


Ah, rasanya begitu mustahil. Jikapun Evan dan keluarganya datang lagi ke desa Nateh. Mereka juga tidak akan menemui Zura. Dan pasti mereka hanya mendapatkan kabar memalukan itu dari warga desa.


Sakit sekali ketika mengingat itu. Tidak cukup dengan kehilangan yang melepas kepergian Zura, tapi juga dengan hinaan yang menyakitkan. Hinaan yang membuat mental Zura merasa lemah. Dia menjadi malu, merasa paling hina dan tentunya rendah. Hingga berharap untuk bertemu dengan Evan pun, rasanya sudah tidak punya muka.


'Van, jikapun kita tidak bertemu lagi, aku harap kamu akan selalu mengingatku, meskipun hanya sebatas angin lalu,'

__ADS_1


__ADS_2