
Hari yang cukup sibuk untuk Zura dan Akmal. Apalagi Zura, sejak semalam setelah pulang dari taman bunga Ze in florist, dia bersama Aldi langsung mencari ide dan tema yang pas untuk mereka kerjakan hari ini. Bahkan sembari membicarakan tema, mereka juga harus menyiapkan bunga-bunga dan juga alat keperluan yang lain. Beruntungnya Aldi meminta bantuan pekerjanya yang lain untuk membantu Zura.
Ini adalah pekerjaan pertama Zura, tapi sayangnya dia malah sudah mendapatkan tanggung jawab yang besar. Mendekorasi perusahaan milik seorang pengusaha ternama di negara ini. Tentu itu bukan hal yang mudah, apalagi Aldi berkata jika mereka harus bekerja dengan teliti dan sempurna.
Zura cukup gugup sebenarnya, tapi dia harus mencoba demi untuk kemajuan karirnya.
"Ra! Mas Aldi udah datang tuh!" seruan Akmal dari luar kamar Zura terdengar nyaring.
Zura yang baru selesai bersiap langsung kelimpungan. Dengan cepat dia langsung meraih tasnya dan berlari keluar. Terlihat Akmal sudah membantu dua orang yang lain untuk memasukkan bunga-bunga mereka ke dalam mobil box.
Aldi berdiri di samping mobilnya dan sedang menerima telepon. Pria itu sepertinya juga terlihat sibuk sekali.
"Udah semua kang?" tanya Zura.
"Udah kok, udah bolak-balik aku cek," jawab Akmal.
Zura mengangguk pelan dan langsung berjalan menuju Aldi. Melihat kedatangan Zura Aldi langsung menyambutnya dengan senyum ramah seperti biasa.
"Sudah selesai? Kita pergi sekarang ya?" ujar Aldi.
"Iya mas, ini juga kayaknya udah kesorean gak sih?" tanya Zura.
"Nggak apa-apa. Kita bisa kerja sampai malam nanti. Kalau malam perusahaan kan sepi, jadi kamu enak kerjanya," jawab Aldi sembari membukakan pintu mobil untuk Zura.
"Terimakasih, Mas," Zura berucap sembari tersenyum tipis pada Aldi. Lelaki ini begitu baik dan sangat perhatian. Terkadang Zura benar-benar tidak enak melihatnya.
"Akmal naik mobil di belakang?" tanya Aldi di saat dia juga sudah masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan toko bunga Zura yang belum di buka.
"Iya, katanya biar bisa kenalan sama mereka," jawab Zura.
Aldi mengangguk pelan, "iya, mereka itu udah berpengalaman. Nanti kamu bisa kerjasama sama mereka," ujar Aldi.
"Iya, Mas. Mas baik banget sama kami. Padahal kita juga baru kenal," ucap Zura.
Aldi mendengus senyum mendengar ucapan Zura. Dia menoleh ke arah Zura sejenak dan kembali memandang jalanan di depan mereka.
"Dulu aku juga pendatang seperti kamu, merantau di ibukota dengan hanya berbekal ijazah. Banyak rintangan dan kesulitan yang aku alami karena aku tidak mengenal apapun ketika di sini. Tapi, aku malah bertemu dengan seorang gadis baik hati. Dia datang dan membantuku. Meskipun dia orang kaya, tapi dia tidak pernah membeda-bedakan tentang status," ungkap Aldi.
Zura langsung tersenyum mendengar itu, lelaki ini malah menceritakan tentang pengalamannya.
"Dia selalu bilang padaku, jika aku sukses jangan sampai itu membuatku sombong. Aku harus selalu membantu sesama, apalagi dengan pendatang yang ingin berjuang merubah hidup. Seperti kamu dan Akmal," ucap Aldi kembali.
"Perempuan itu pasti begitu baik," sahut Zura.
Aldi mengangguk pelan, "sangat baik, tapi sayang aku kehilangan dia ketika aku sudah sukses seperti sekarang," jawab Aldi.
"Memangnya dia kemana?" tanya Zura. Cukup ragu sebenarnya. Tapi entah kenapa dia malah penasaran.
"Dia pergi sekolah keluar negeri. Dia berjanji untuk menemui ku lagi jika dia sudah kembali, tapi sayang sudah bertahun-tahun, dia juga tidak pulang. Bahkan, kabarnya pun aku tidak tahu," jawab Aldi.
"Apa perempuan itu yang ingin membuat toko bunga bersama Mas Aldi?" tanya Zura.
Aldi tertawa kecil dan mengangguk pelan, "kamu masih mengingatnya ternyata," jawab Aldi.
Zura mendengus senyum dan mengangguk pelan. "Tentu saja, saya mengerti perasaan Mas Aldi. Kehilangan seseorang itu gak mudah, apalagi setiap saat selalu ada saja yang membuat kita teringat," ucap Zura.
"Kamu benar, seperti saat bersama kamu. Aku selalu merasa jika kamu, adalah dia," sahut Aldi.
__ADS_1
Zura langsung mengernyit mendengar itu. "Kenapa bisa berpikir seperti itu?" tanya Zura cukup bingung.
"Entahlah, tapi parfum yang kamu pakai selalu mengingatkan saya dengan dia. Aroma vanila," jawab Aldi.
Zura tertawa kecil dan menggeleng pelan. "Mas Aldi ada-ada saja. Saya itu memakai parfum murahan, mana mungkin bisa sama," ungkap Zura.
"Iya sih, tapi kan terkadang setiap orang itu mempunyai aroma tubuh masing-masing. Jadi saya terkadang suka bingung dekat dengan kamu, antara senang, atau harus sedih," jawab Aldi.
Zura hanya bisa tertawa mendengar penuturan Aldi tersebut.
"Mas memang ada-ada saja," jawabnya.
"Maaf, tapi jangan kamu pikirkan. Biar saya saja yang memikirkan kenapa kalian bisa sama," ujar Aldi.
"Ya, tentu saja. Karena sekarang saya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa bekerja dengan baik," jawab Zura.
Aldi tertawa kecil dan memandang Zura sejenak. "Kamu gugup?" tanyanya.
Zura mengangguk cepat, "gugup banget."
"Bawa tenang, Tuan besar Adiputra memang sedikit galak, tapi tidak dengan putranya. Dia sedikit lebih punya hati," ujar Aldi.
"Sedikit," ucap Zura.
Aldi tertawa kecil dan mengangguk, "ya, lumayan bukan walau hanya sedikit," jawabnya.
Zura hanya mendengus senyum dan mengangguk saja. Jantungnya berdebar dengan kencang di sepanjang jalan. Apalagi ketika gedung megah yang akan mereka datangi itu sudah terlihat jelas. Zura benar-benar gugup.
Bahkan ketika mobil Aldi berhenti di depan gedung itu rasanya tangan Zura semakin dingin saja.
Zura menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk pelan. Dia tidak boleh seperti ini, dia harus bisa. Zura harus berhasil, ini kesempatan besar.
'Kamu harus jadi gadis yang kuat, tidak boleh lemah,'
Kata-kata yang selalu membuat Zura semangat kembali.
"Sudah lebih relaks?" tanya Aldi ketika melihat Zura yang terdiam sembari memejamkan mata. Aldi tahu jika Zura pasti sedang menenangkan dirinya. Dia tidak heran, karena dia mengerti jika Zura pasti gugup saat ini.
"Sudah mas, yuk," ajak Zura.
Aldi tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka langsung turun dari mobil. Bersama-sama masuk ke dalam lobi perusahaan untuk menemui receptionsist di sana.
Zura benar-benar takjub dan begitu kagum dengan penampakan gedung ini. Sangat besar, megah dan tentunya mewah. Pasti pemilik gedung ini adalah orang yang paling kaya raya.
Ah Zura tidak menyangka jika dia bisa menginjakkan kakinya di tempat ini.
"Apa kalian dari Zuan Florist?" pertanyaan sang receptionsist membuat Zura menoleh kearahnya.
"Benar, apa kami sudah bisa bekerja sekarang?" tanya Aldi.
"Tentu, tunggu sebentar. Saya akan menghubungi tuan Deni," ucapnya. Zura dan Aldi hanya mengangguk saja. Sembari menunggu, Zura kembali memandangi gedung itu. Senang sekali dia bisa memandangi gedung-gedung ini.
Jika saja dia sekolah mungkin dia bisa bekerja di tempat seperti ini. Tapi sayang, nasibnya tidak sebagus mereka.
Tidak lama mereka menunggu, sepuluh menit kemudian, seorang lelaki muda dan tampan datang menemui mereka.
"Selamat sore, Tuan," sapa Aldi.
__ADS_1
"Kalian dari Zuan Florist?" tanya Deni, asisten bos.
"Benar, tuan," jawab Aldi
"Oke, mari saya antarkan ke ruangan yang akan di pakai untuk acara besok," ajak Deni tanpa basa basi lagi.
Zura dan Akmal langsung pergi mengikuti pria tampan itu. Ya, semua orang yang ada di sini memang sangat cantik dan tampan. Apalagi dengan bosnya. Zura benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat besar dan juga luas. Ruangan itu masih kosong dan hanya di isi oleh beberapa kursi saja.
"Ini adalah ruangan yang akan di pakai untuk acara besok. Tuan besar ingin kalian mendekorasi ruangan ini dengan baik. Tapi dia mau semua bernuansa putih," ujar Deni.
Aldi langsung menoleh ke arah Zura, "baik Tuan, kami sudah menyiapkan semuanya," jawab Zura.
"Bagus, nanti di jalan ke depan kalian juga bisa beri sedikit bunga. Tapi jangan berlebihan," ujar Deni lagi.
"Baik, Tuan," jawab Zura dan Aldi.
"Jika perlu apa-apa kalian bisa hubungi staff saya ataupun dengan saya langsung. Karena mungkin saya akan berada di gedung ini sampai malam," ungkap Deni.
"Baik tuan, terimakasih," ucap Aldi.
Deni mengangguk, setelah memberikan sedikit arahan dan apa yang harus di lakukan dia langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Zura dan Aldi juga langsung kembali ke luar lobi untuk membantu Akmal dan dua karyawan mereka yang lain menurunkan bunga-bunga yang di perlukan.
"Ra, kamu duluan ya, saya mau Nerima telepon dulu. Besok ada meeting soalnya," ujar Aldi.
"Oh oke mas," jawab Zura. Di tangannya sudah penuh dengan bunga-bunga tulip putih. Sedangkan Akmal dan yang lain membawa peralatan yang mereka perlukan.
Mereka keluar masuk gedung berulang kali untuk memasukkan bunga-bunga itu. Hingga di saat Zura berjalan sendiri. Salah satu bunganya terjatuh, membuat dia harus menunduk dan memungut bunga itu. Bertepatan dengan seorang lelaki tampan yang keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah lobi dimana Zura berada.
Zura mengangkat kepalanya dan ingin bangkit kembali, namun tiba-tiba matanya langsung terbuka lebar ketika melihat seseorang yang berjalan dengan begitu gagah ke arahnya.
"E … Evan," gumamnya. Bahkan bunga yang baru saja dia pungut kembali terjatuh saat melihat perawakan pria itu yang begitu mirip dengan Evan yang dia kenal.
Zura mematung, berdiri dan memandang pria itu dengan jantung yang bergemuruh hebat. Benarkah yang dia lihat ini? Benarkah ini Evan? Dia tidak ingin percaya, tapi wajahnya sangat mirip. Hanya perawakan mereka saja yang berbeda.
Pria ini terlihat begitu gagah, tampan, berkharisma, dan tentunya sangat luar biasa. Apa benar dia Evan? Atau orang lain.
"Tuan Vanno, selamat sore," sapaan karyawannya membuat pria itu mengangguk dengan wajah datar.
Zura menelan salivanya dengan berat. Vanno? Bukankah nama itu adalah nama yang disebutkan oleh dokter Daffa? Ya, meski sudah lama, tapi Zura ingat. Bahkan sangat ingat.
Jadi benar, pria gagah ini adalah Evan?
Zura mematung, jantungnya semakin berdenyut begitu ngilu saat tatapan Vanno memandang kearahnya. Ya, pria itu memandang kearah Zura. Bahkan dia berjalan mendekat kearah Zura. Semakin dekat, semakin lekat dan semakin membuat Zura seperti patung yang tak bisa bergerak.
Apa Evan mengenalnya? Apa Evan tahu jika ini adalah Zura yang merawatnya dulu?
Deg
Jantung Zura serasa berhenti berdetak ketika Vanno menghentikan langkahnya saat berada tepat di depan Zura. Pria itu memandang Zura sejenak, membuat Zura ingin tersenyum, tapi … senyumnya langsung luntur di saat Vanno malah kembali berjalan, dan pergi meninggalkan Zura di sana.
Zura terdiam sedih, air mata seketika membendung di wajah cantiknya yang sudah memucat.
"Evan.." lirihnya dalam hati.
__ADS_1