Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Aldi Dan Zoya


__ADS_3

Ibukota malam itu diguyur hujan, meski tidak terlalu deras namun cukup mampu membuat suasana sedikit mengganggu. Apalagi untuk para pekerja yang baru pulang dari kantor dan juga untuk orang-orang yang masih berada di sekitar jalan itu.


Hari sudah mulai larut, seorang gadis cantik masih duduk di dalam mobil dan memandangi jam yang ada di tangannya. Sudah pukul sembilan malam. Sudah satu jam dia berada di pinggir jalan ini. Menunggu hujan reda dan juga menunggu taksi yang lewat.


Begitu sial bagi gadis itu karena mobil yang dia kendarai mogok, dan lebih sial lagi karena baterai ponselnya yang habis hingga membuat dia tidak bisa menghubungi siapapun saat ini.


"Duh, gimana ini. Mana udah mulai malam lagi. Apa masih ada taksi yang lewat," gumamnya dengan wajah yang begitu khawatir.


Sejak tadi hujan tidak juga berhenti, menunggu taksi atau angkutan yang lain juga tidak ada yang lewat sama sekali. Membuat dia benar-benar panik.


"Kayaknya udah mulai reda, aku periksa aja deh," gumamnya kembali. Dia meraih jaket yang tersedia di mobil dan langsung memakainya, menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja kerja saja. Malam ini dia lembur, karena bosnya pamit pulang lebih dulu siang tadi.


Zoya Mahendra, sekretaris cantik yang masih berusia 25 tahun itu mengintip sedikit keluar mobil, dimana hujan sudah tidak terlalu deras tapi cukup membuat tubuhnya basah. Dengan sangat terpaksa dia langsung turun dari mobil dan sedikit menutupi kepalanya dengan penutup kepala yang ada di jaket itu.


Zoya berjalan kedepan mobil dan langsung membuka kap depan mobilnya. Tapi sayang, dia tidak tahu apa yang membuat mobilnya bisa mogok seperti ini.


"Duh.. aku harus apa sekarang? Mana sepi banget lagi," Zoya bergumam sembari memandang ke sekitarnya dimana memang sangat sepi dan tidak ada yang bisa dimintai tolong. Mobil yang Zoya kendarai berhenti tepat di jalanan yang sepi penduduk. Hanya ada ruko kosong yang tidak lagi bertuan.


Dia takut, bukan takut hantu tapi takut dengan orang jahat.


Zoya meringis sembari mengusap wajahnya yang basah, hingga tiba-tiba sebuah mobil yang berhenti tepat di dekatnya membuat Zoya mulai takut. Tempat ini sepi, dan jika terjadi sesuatu dengannya sudah pasti tidak akan ada yang tahu. Apalagi pengguna jalan yang lewat juga sangat jarang karena ini bukan jalan utama.


"Kenapa mobilnya?" tanya seseorang yang turun dari mobil itu, dia membawa payung dan memakai jaket yang juga menutupi tubuh dan separuh wajahnya.


Namun, Zoya sedikit mengernyit saat sepertinya dia mengenal suara itu.


"Mogok, Mas," jawab Zoya.

__ADS_1


Lelaki itu terdiam, dia yang sedang membenarkan kancing jaketnya langsung mendongak dan memandang Zoya dengan pandangan terkejut. Begitu pula dengan Zoya yang kini bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu.


Mereka saling pandang terkejut dengan wajah yang terperangah tidak percaya.


"Yaya,"


"Aldi,"


Ucap mereka bersamaan.


Untuk beberapa detik mereka hanya terdiam namun terus saling memandang dengan lekat.


"I.. ini benar kamu," Aldi berucap dengan suara yang terbata.


"Aldi," gumam Zoya kembali. Dia tidak menyangka jika lelaki yang pernah dia tolong dan pernah dekat dengannya kini bisa bertemu di tempat ini.


Sudah lama sekali, sudah bertahun-tahun.


"Kamu .. kenapa kamu pergi?" tanya Aldi langsung.


Zoya terdiam, bahkan air hujan yang kini sudah membuat tubuhnya basah sudah tidak lagi dia rasakan. Pandangan matanya hanya terus mengarah pada lelaki ini. Lelaki yang merupakan cinta pertamanya, tapi sayang semua harus berakhir karena Zoya yang harus pergi menjauh.


"Yaya," panggil Aldi kembali.


Nama itu, nama panggilan dari Aldi untuknya. Membuat hati Zoya serasa tidak menentu. Dia sudah ingin melupakan lelaki ini, dia sudah ingin melupakan semua kenangan mereka. Tapi kenapa bisa bertemu lagi sekarang?


Kenapa harus bertemu di tempat ini dan kenapa juga di saat dia sudah ingin melupakan semuanya?

__ADS_1


Aldi langsung melepaskan payung yang sejak tadi dia pegang, hingga kini tubuhnya juga terguyur air hujan yang masih tiada berhenti. Apalagi ketika melihat mata Zoya yang mulai mengembun dan menitikan air mata. Meski hujan membasahi mereka namun Aldi tahu jika Zoya menangis. Gadis yang dia cari selama ini menangis, hingga membuat Aldi tidak bisa menahan lagi.


Dia langsung mendekat ke arah Zoya dan memeluk wanita itu dengan erat. Sangat erat hingga Aldi dan Zoya bisa merasakan detak jantung mereka masing-masing yang bergemuruh dengan hebat.


Suara isak tangis Zoya mulai terdengar, bahkan Aldi bisa merasakan jika tubuh Zoya bergetar menahan isak tangis itu.


"Aku rindu kamu, aku merindukan kamu, Ya. Aku sudah menunggu kamu di taman bunga itu, tapi kamu tidak pernah datang lagi," ungkap Aldi. Tangannya masih terus memeluk tubuh Zoya dengan erat meski kini Zoya masih belum membalas pelukannya.


"Setiap hari, setiap hari aku selalu datang ke taman bunga itu. Aku masih selalu menunggu kamu di sana," kata Aldi lagi.


Zoya semakin menangis, dia sungguh tidak bisa menahan perasaan yang semakin menjadi seperti ini. Apalagi ketika mendengar semua ungkapan lelaki ini.


Janji yang pernah mereka buat kini langsung melintas kembali di kepala Zoya. Janji untuk saling bertemu di taman bunga itu ketika Zoya kembali ke Indonesia setelah mereka harus berpisah karena Zoya melanjutkan studynya di Amerika.


Zoya langsung merebahkan kepalanya di dada Aldi seiring tangannya yang juga membalas pelukan itu. Isak tangisnya semakin menjadi membuat Aldi juga semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf, maafkan aku," ucap Zoya.


"Kamu lupa pada janji kita?" tanya Aldi.


"Tidak, aku tidak pernah lupa," jawab Zoya.


"Kamu tidak rindu aku?" tanya Aldi kembali, bahkan pelukan itu semakin erat seiring dengan air mata mereka yang mengalir bersamaan dengan tetes air hujan yang semakin deras.


"Aku rindu, Aldi. Aku rindu. Rindu sekali," jawab Zoya masih dengan isak tangis yang begitu pilu.


Hujan yang terus mengguyur dan jalanan yang hening menjadi saksi bagaimana pertemuan mereka setelah bertahun-tahun lamanya mereka tidak bertemu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pernah datang?" tanya Aldi.


"Aku ... aku tidak bisa datang,"


__ADS_2