Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Kebahagiaan Keluarga Adiputra


__ADS_3

Suasana yang tadinya tenang kini berubah menjadi tegang. Apalagi ketika Zevanya membuka masker yang ada diwajah Evan. Gadis itu nampak mematung, wajahnya terperangah, bahkan matanya juga berkaca-kaca. Dia menggeleng pelan dan memperhatikan wajah Evan dengan lekat. Sangat lekat penuh rindu dan juga rasa bahagia yang begitu mendalam.


"Kak Vanno," lirihnya.


Evan masih terdiam, dia tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Namun, dia langsung mematung saat gadis itu memeluk erat tubuhnya. Tiba-tiba saja ada perasaan hangat yang membuat Vanno merasa berbeda. Perasaan sedih, bahagia dan semua yang bercampur menjadi satu.


"Kakak, kakak masih hidup. Ini kak Vanno kan, Zeze rindu, kak. Rindu sekali," Zevanya menangis dan pelukan Vanno. Menangis meraung dan memeluk erat tubuh Evan yang masih mematung.


Daffa tersenyum, dia mundur perlahan membiarkan Zeze memeluk Evan dengan erat. Bahkan, Tuan besar Reynand Adiputra juga sudah beranjak dari duduknya, begitu pula dengan ayah Daffa.


Wajah Reynand tidak terbaca, dia masih memandang Evan dengan lekat. Antara percaya atau tidak putra yang dia sangka telah tiada kini berdiri di hadapannya kembali. Putra yang dia sangka tidak akan lagi dia temui kini hadir kembali.


"Vanno," gumam Reynand. Suaranya tercekat, wajahnya tegang dan sedikit memerah. Mungkin karena dia tidak bisa berekspresi untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


Zeze mundur dan melepaskan pelukannya dari Evan. Dia membiarkan ayahnya yang mendekat kearah Evan sekarang.


Reynand nampak memegang kedua pundak Evan, memandang wajah putranya yang nampak kurus, lusuh dan juga berbeda.


"Ini kamu, nak? Ini benar kamu?" tanya Reynand. Suaranya terdengar bergetar. Dia langsung memeluk Evan dengan erat. Sangat erat bahkan sampai membuat Evan merasa sesak. Tapi lagi-lagi dia merasa jika pelukan ini terasa sangat menenangkan. Pelukan yang rasanya tidak pernah dia dapatkan tapi dia tahu ada perasaan sayang yang begitu besar di dalamnya.


"Daddy sangat merindukan mu, nak. Kamu kenapa tidak pulang? Daddy sudah mencarimu kemana-mana," ucap Reynand. Dia terus memeluk Vanno. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Bahkan terakhir kali dia memeluk putranya mungkin di saat Vanno masih sekolah dasar, disaat Vanno merengek dan menangis karena sesuatu. Dan kini, dia kembali memeluk putranya, memeluknya karena perasaan rindu dan takut yang luar biasa.


Dia memang keras, dia kejam, dan dia banyak menuntut. Tapi ketika kehilangan Vanno, Reynand adalah orang yang paling gencar dan paling peduli untuk terus mencari keberadaan putranya.


Evan terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Rasanya benar-benar bingung. Bahkan pelukan dari Reynand dan Zeze saja tidak dia balas. Dia hanya seperti patung yang diam dengan perlakuan mereka.


"Apa dia memang Zevanno?" tanya Arya. Dan pertanyaannya itu membuat Zeze dan Reynand tertegun. Bahkan Reynand langsung melepaskan pelukannya dari Vanno. Memandang wajah lelaki itu dengan lekat. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Apa uncle tidak percaya jika dia memang kak Vanno?" tanya Daffa, yang bahkan dia tidak menjawab pertanyaan Arya, ayahnya.


Reynand terdiam sejenak, matanya masih menelisik seluruh penampilan Evan. Hingga akhirnya dia berkata, "Dia memang putraku."

__ADS_1


Evan tertegun mendengar jawaban itu.


"Tapi ... kenapa berbeda?" tanya Reynand, kali ini terdengar begitu lirih.


Zeze langsung menoleh pada Daddynya dan kembali memandang pada Evan. Ya, Evan memang berbeda, dia seperti orang linglung dan pandangan mata yang tidak fokus.


"Apa yang terjadi padanya Daffa? Dimana kamu menemukan Vanno?" tanya Arya, disaat Reynand dan Zeze tidak lagi mampu bertanya.


"Daffa menemukan kak Vanno di Desa Nateh, tempat Daffa praktek magang, Ayah. Kak Vanno ditemukan oleh seseorang di pinggiran sungai desa itu," ungkap Daffa.


Reynand dan Arya terdiam, begitu pula dengan Zeze.


"Karena kecelakaan parah itu, kak Vanno lupa ingatan dan dia kehilangan penglihatannya," ucap Daffa lagi.


Zeze langsung menutup mulutnya mendengar penuturan Daffa. Sementara Reynand menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca memandang putranya. Pantas saja dia seperti orang linglung sekarang.


"Kamu tidak ingat dengan daddy, nak?" tanya Reynand, dia mengusap pundak Evan dengan lembut.


Zeze langsung memeluk Arya dan menangis dalam dekapan unclenya itu. Sedangkan Reynand kembali memeluk putranya dengan erat.


"Tidak apa-apa, ingatan dan penglihatanmu pasti akan kembali. Yang terpenting sekarang, kamu ada disini, kamu masih hidup. Itu sudah membuat Daddy dan Mommy senang, nak." Reynand sungguh tidak tahu bagaimana dia harus mengungkapkan kebahagiaan ini. Antara bahagia dan sedih. Dia sangat bahagia putra semata wayangnya ternyata masih hidup, namun dia juga sedih karena melihat keadaan Vanno yang menyedihkan seperti ini.


"Mommy, mommy harus tahu ini," Zeze tiba-tiba berucap dan langsung berlari dari sana. Membuat Arya tersenyum haru melihat ini. Orang yang selama ini mereka cari dan mereka kira telah mati ternyata masih hidup dan kembali pada mereka.


"Tuhan masih begitu baik untuk mengembalikan Vanno pada kita," ucap Arya. Dia menepuk pundak Daffa, seolah dia ingin mengatakan jika dia sangat bersyukur putranya bisa membawa seseorang yang selama ini membuat keluarga Adipuitra terpuruk dalam kesedihan.


"Doa aunty Nara terkabulkan, Ayah," jawab Daffa pula.


Reynand mendengus senyum sembari mengusap wajahnya yang berair. Dia terlihat sangat bahagia sekali.


"Ayo nak, kita duduk dulu." Reynand langsung membawa Evan menuju sofa, menuntun putranya untuk duduk disana.

__ADS_1


"Anda benar orang tua saya?" tanya Evan saat dia sudah duduk di sofa yang terasa begitu empuk dan lembut.


"Ya, aku daddymu," jawab Reynand dengan nada yang begitu bangga, meski matanya yang kembali berkaca-kaca.


"Mommy, lihat siapa yang ada di sini," ucapan Zeze membuat mereka semua langsung menoleh dimana Zeze datang bersama Mommynya.


Nara terperangah, dia terdiam dengan detak jantung yang bergemuruh. Wajahnya yang memucat nampak memerah sekarang. Memandang seorang lelaki yang terlihat menyedihkan duduk di sofa bersama suaminya.


"Vanno," gumam Nara.


"Iya, ma. Dia kak Vanno. Kak Vanno masih hidup," jawab Zeze.


Reynand langsung berdiri menyambut istrinya yang selama ini selalu bersedih. "Kemarilah, dia putra kita sayang, putra yang kamu rindukan," ucap Reynand. Dia juga membawa Evan untuk berdiri kembali.


Air mata langsung mengalir di wajah Nara, dia tidak percaya melihat ini. Dia tidak menyangka jika putranya akan kembali lagi.


"Vanno, ya Tuhan, nak. Kamu masih hidup sayang, kamu masih hidup?" Nara langsung berlari mendekat kearah Evan, bahkan dia langsung memeluk Evan dengan erat. Seerat rasa rindu dan kesedihan yang selama ini dia pendam.


Lagi-lagi Evan mematung, merasa jika pelukan ini begitu mendamaikan hatinya. Ada rasa yang tak bisa dia ungkapkan. Apalagi ketika mendengar tangisan wanita ini, membuat Evan juga ikut bersedih.


Tangan Evan yang awalnya hanya diam, kini langsung terjulur dan membalas pelukan Mommynya.


Tentu saja itu membuat Reynand dan yang lain langsung tersenyum haru.


"Mommy," gumam Evan. Terasa berat, tapi tidak tahu kenapa kata itu terucap begitu saja dari mulutnya.


"Nak, mommy sangat merindukan kamu, rindu sekali sayang," Nara semakin menangis dalam pelukan Evan. Menangis bahagia yang tidak bisa di ungkapkan dengan apapun.


Berbulan-bulan berpisah dan tidak tahu bagaimana kabar putranya membuat hidup Nara benar-benar tidak tentu arah. Dan sekarang putranya telah kembali.


Reynand kembali mengusap wajahnya yang basah. Untuk pertama kalinya dia menangis karena anaknya. Tangis bahagia karena kini mereka sudah bisa berkumpul lagi. Meski dia masih tetap harus berjuang untuk kesembuhan putranya.

__ADS_1


Hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Adiputra.


__ADS_2