Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Senja Di Taman Bunga


__ADS_3

Suasana di taman bunga Ze in Florist senja itu terlihat sangat indah dan begitu sejuk. Apalagi dengan cuaca yang masih terlihat cerah seperti ini. Bahkan sinar senja juga semakin menambah kesan romantis yang ada di sana. Sangat pas untuk momen sepasang kekasih menghabiskan waktu mereka.


Tapi, beda halnya dengan Zura dan Vanno. Sejak tadi Vanno hanya diam dengan wajah dinginnya. Dia hanya diam walau Zura sudah mencoba mengajaknya berbicara atau sekedar menggodanya seperti biasa. Sepertinya lelaki itu masih merasa kesal dan cemburu.


"Tuan Vanno," panggil Zura.


Vanno masih diam, dia berjalan dan terus memandang ke depan. Membuat Zura yang berjalan di sampingnya langsung menghela nafas lelah.


"Tuan Vanno yang tampan menawan dan yang paling manja," panggil Zura lagi. Kali ini dia merangkul lengan Vanno sembari memandang wajah Vanno dari samping.


"Masih ngambek ya," Zura berucap dengan nada bicara yang sedikit dia mainkan. Membuat Vanno langsung mendengus kesal dan langsung memalingkan wajahnya. Mirip sekali seperti anak kecil yang sedang tidak enak hati.


Zura langsung tertawa lucu melihat wajah menyebalkan itu. Wajah Vanno yang terkesan dingin sangat tidak pantas untuk bermanja seperti ini. Tapi dia malah membuat Zura merasa lucu.


"Jelek banget deh kalau ngambek," ucap Zura.


Namun, Vanno tetap terdiam.


"Evan!" seru Zura kembali.


"Ish, dipanggilin dari tadi juga. Aku kayak ngomong sama patung kalau begini. Enak juga kalau ngomong sama bunga sekalian," Zura yang kesal langsung melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Vanno, membuat laki-laki itu langsung menoleh ke arahnya.


"Ngapain coba ajak aku kesini kalau cuma diam begitu, diajakin ngomong diem, dibawa jalan diam, diajakin makan nggak mau, ditawarin minum juga nggak mau. Maunya apa coba?" tanya Zura panjang lebar. Nafasnya sampai tersengal karena dia berbicara tanpa henti.


Vanno menghela nafas, dia langsung memandang ke arah Zura yang sudah kesal sekarang. "Kenapa jadi kamu yang marah sih?" tanya Vanno untuk pertama kalinya.


"Ya, gimana nggak marah kalau kamu diem terus begitu," jawab Zura.


"Ya kan seharusnya aku yang marah," sahut Vanno.


"Kenapa juga kamu yang marah? aku buat salah apa?" tanya Zura.


"Zura ... aku cemburu!" ucap Vanno dengan dada yang nampak naik turun. Bahkan wajahnya juga memerah sekarang. Dia memandang Zura dengan lekat, namun ada rasa kesal dalam pandangan mata itu.


Zura terdiam, namun beberapa detik kemudian dia langsung menyemburkan tawa. Bahkan sampai tertawa geli hingga membuat Vanno semakin kesal.

__ADS_1


"Kenapa malah tertawa, kamu memang keterlaluan," Vanno langsung memalingkan wajah melihat sikap Zura yang seperti itu. Namun, Zura malah semakin tertawa memandang Vanno yang ternyata memang cemburu.Ya ampun, lucu sekali.


"Evan," Zura menahan tawa sembari merangkul lengan Vanno kembali, bahkan karena begitu gemasnya membuat Zura langsung menggigit lengan Vanno hingga membuat lelaki itu langsung meringis kesakitan.


"Kamu ini kenapa gemesin banget sih," ucap Zura.


"Kenapa malah gemesin? Aku ini lagi marah Zura," tegas Vanno. Namun ucapannya itu malah semakin membuat Zura tidak bisa menahan tawa.


"Kan, ketawa lagi. Udah lah, males aku sama kamu. Sana pergi aja sama Mas Aldi kamu itu," ucap Vanno seraya ingin melepaskan tangan Zura dari lengannya.


"Beneran boleh?" goda Zura.


Pandangan mematikan itu langsung menyelis tajam, membuat Zura langsung mengerucutkan bibirnya sekilas.


"Kamu kan tahu siapa Mas Aldi. Dia itu orang pertama yang udah bantu aku dan Kang Akmal ketika pertama kali kami sampai di kota ini. Lagian aku sama dia juga gak ada hubungan apa-apa kok," ungkap Zura. Tangannya masih saja merangkul lengan Vanno.


"Gak ada hubungan apa-apa tapi kalian dekat banget begitu," sahut Vanno.


"Kan masih wajar, Van. Aku juga anggap dia kayak kakak aku sendiri. Gimana kang Akmal, seperti itulah Mas Aldi. Gak ada yang lebih," ungkap Zura.


Zura langsung mendengus senyum mendengar itu. Dia bahkan memandang wajah tampan Vanno yang jika sedang kesal pasti sangat lucu. Apalagi jika sedang cemburu seperti ini.


"Mau aku kasih tahu rahasia gak?" tanya Zura.


"Rahasia apa?" tanya Vanno. Meski kesal, namun tetap saja dia menanggapi perkataan Zura.


"Sini, nunduk sedikit biar aku bisikin," ujar Zura sembari menarik lengan Vanno agar lelaki itu sedikit menunduk ke arahnya.


Vanno mengerjapkan mata ketika Zura mendekatkan wajahnya ke arah telinganya, dia membisikkan sesuatu di sana.


"Jangan cemburu, karena di dalam hatiku gak akan ada orang lain lagi selain kamu, sampai kapanpun," bisik Zura. Dan tentu saja perkataan itu membuat Vanno langsung mengulum senyum. Namun, yang lebih membuat dia terkejut adalah, tiba-tiba Zura mengecup wajahnya dan langsung berlari meninggalkan dia yang masih tertegun dan begitu terkejut.


"Zura! Sudah berani ya kamu!" seru Vanno. Wajahnya benar-benar memerah sekarang, bahkan dia langsung mengusap bekas ciuman Zura itu dengan perasaan yang tidak percaya.


Rasa kesal dan rasa cemburunya tadi kini langsung sirna dan berganti dengan perasaan bahagia yang tiada terkira.

__ADS_1


"Azzura!" Vanno berteriak dan langsung mengejar Zura yang ternyata sudah berlari menjauh.


Gadis itu terlihat tertawa lepas di antara tulip-tulip merah yang sedang bermekaran senja itu. Sangat indah, seindah wajah Zura yang tertawa dan merona.


"Jangan marah lagi, nanti aku Pergi!" seru Zura.


"Kamu udah janji sama aku kalau kamu nggak akan pergi," ucap Vanno.


"Kalau kamu marah terus aku pergi," ancam Zura.


"Nggak, aku nggak akan marah lagi," jawab Vanno.


"Janji," pinta Zura.


"Janji sayang," jawab Vanno. Bahkan dia langsung berlari mendekat kearah Zura, meraih tubuh Zura dan memutar tubuh itu dengan gemas. Membuat Zura langsung terpekik dan tertawa lepas.


"Ahhh Evan!" teriak Zura antara takut dan bahagia.


"Aku mencintai mu Azzura!" teriak Vanno begitu kuat.


"Aku juga cinta kamu," balas Zura.


Vanno tertawa, dia menurunkan Zura dan langsung memeluk tubuh Zura dengan erat.


"Sayang banget sama kamu," ucap Vanno


Zura hanya tertawa saja dalam dekapan Vanno.


"Jangan buat aku cemburu lagi ya, gak enak banget," pinta Vanno.


"Nggak, jangan cemburu sama Mas Aldi. Gak ada lelaki lain yang bisa nyaingin kamu," jawab Zura.


"Bisa banget nyenengin hati aku," jawab Vanno dengan tawa kecilnya.


"Aku memang selalu ingin buat kamu bahagia," jawab Zura.

__ADS_1


Vanno mendengus senyum, senja yang indah untuk mereka berdua.


__ADS_2