
Selama di perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan. Hembusan angin malam terasa menusuk hingga kedalam tulang. Dinginnya malam itu tidak terasa sama sekali, yang terasa hanyalah hati mereka yang merasa gundah dan tidak menentu. Ada rasa bahagia, namun dibalik rasa bahagia itu, terselip rasa sedih yang tidak bisa di jelaskan. Sedih, jika mengingat besok mereka akan berpisah. Dan malam ini adalah malam terakhir mereka bersama.
Apalagi Zura, rasanya dia masih belum rela jika Evan pergi, namun dia juga tidak bisa memaksa Evan untuk tetap tinggal. Siapalah dia, hanya seorang gadis yang entah beruntung atau tidak bisa menyelamatkan Evan dan membuat lelaki ini tetap hidup. Sekarang, Zura harus rela melepaskan Evan. Membiarkan lelaki ini pergi dan kembali ke keluarganya. Meninggalkan Zura dalam kesepian lagi.
Ah ... menyedihkan sekali bukan. Mata Zura langsung berkaca-kaca sekarang. Namun, segera dia tahan agar dia bisa fokus pada jalanan malam yang sudah sepi sekali.
Zura menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia tidak boleh bersedih, tidak boleh menampakkan kesedihannya di depan Evan.
Bukankah selama ini Evan selalu tahu jika dia adalah wanita yang kuat dan ceria? Maka sekarang pun harus begitu.
Setengah jam kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah kecil mereka. Zura membantu Evan turun dari atas motor. Memandang wajah lelaki itu yang tak kalah sendu.
"Dingin ya?" tanya Zura berbasa-basi.
Evan menggeleng pelan.
"Yaudah, kita masuk aja." Zura berucap sembari merangkul lengan Evan untuk membawa dia masuk kedalam. Namun, Evan malah menahan lengan Zura hingga membuat langkah kaki Zura terhenti.
"Kamu sudah mengantuk?" tanya Evan.
"Belum," jawab Zura.
"Kita duduk sebentar disini ya," ajak Evan.
Zura mengangguk pelan, dan tanpa menjawab dia membawa Evan untuk duduk di kursi panjang yang ada didepan rumah.
Suasana malam itu sudah sepi karena hari juga sudah larut malam bahkan hampir tengah malam. Tidak terlalu gelap karena sinar rembulan malam ini terlihat begitu terang.
Zura kembali memandang wajah Evan yang bersinar terkena sinar bulan malam itu. Wajah yang sangat tampan dan begitu indah. Wajah yang entah bisa Zura lihat lagi atau tidak.
"Kamu mau ikut aku pulang?" tawar Evan tiba-tiba. Dan tentu saja ucapan Evan itu membuat Zura sedikit terkesiap.
"Ikut kamu pulang?" tanya Zura kembali.
Evan mengangguk pelan, "ya, kamu dan nenek," jawab Evan.
Zura mendengus senyum dan menggeleng pelan, Evan sungguh tidak masuk akal.
"Mana mungkin aku ikut kamu pulang Van," jawab Zura.
"Kenapa tidak mungkin, kamu dan nenek bisa tinggal di kota," jawab Evan.
"Nggak bisa begitu. Kamu saja belum sembuh, kamu belum tahu bagaimana keluarga kamu. Dan lagi, aku dan nenek sudah betah tinggal disini," ungkap Zura.
Kali ini Evan nampak terdiam sejenak dan menarik nafasnya dalam-dalam. "Tapi disini kamu dan nenek sendirian, Zura," ucap Evan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Kami sudah terbiasa dari dulu. Lagi pula, jika nanti kamu sudah sembuh, kamu kan bisa main kesini lagi," ujar Zura. "Kamu mau kan," pintanya kembali.
Evan menjulurkan tangannya kearah Zura, dan langsung disambut oleh Zura. Kini mereka saling menggenggam dengan erat dan hangat. Mengalahkan dan melupakan rasa dingin yang sebenarnya sudah menusuk ke tulang.
"Aku janji, setelah aku sembuh, aku pasti akan datang lagi kesini. Aku akan datang untukmu, Zura," jawab Evan.
"Untukku?" gumam Zura.
Evan mengangguk pelan, genggaman tangannya semakin terasa erat. Bahkan Zura bisa merasakan kehangatan itu saat ini.
"Sudah berbulan-bulan kita bersama. Kamu selalu ada untuk aku, menjadi mataku, menjadi pelindungku, dan menjadi kaki untukku. Jelas semuanya tidak akan mudah aku lupakan begitu saja," ungkap Evan.
Lagi-lagi mata Zura langsung berkaca-kaca mendengar ungkapan Evan ini. Dia ingin kuat, tapi kenapa Evan selalu bisa meruntuhkan pertahanannya?
"Zura, aku tidak tahu ini perasaan apa, tapi yang pasti di dalam hidupku, aku hanya mau kamu,"
Deg
Zura tertegun, dia memandang Evan dengan lekat.
"Bukan hanya karena kebaikan kamu, tapi karena perasaan ku yang sudah terikat dengan kamu," ucap Evan lagi.
Zura terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Semua perkataan Evan terdengar begitu manis dan menghangatkan hatinya.
"Aku berjanji, aku pasti akan datang lagi untukmu," ucap Evan untuk yang kesekian kali.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Evan. Dia melepaskan genggaman tangan itu dan beralih untuk mengusap wajah Zura yang ternyata sudah basah oleh air mata.
"Zura," panggil Evan.
"Aku menangis bahagia, Van," kilah Zura.
"Kamu jangan berbohong," sahut Evan.
Zura mendengus senyum seriring dengan air mata yang semakin banyak menetes. "Aku bahagia, karena sebentar lagi kamu bisa melihat, bukankah kamu mau melihat wajahku," tanya Zura.
Evan tersenyum dan mengangguk.Tangannya terus meraba wajah Zura dengan lembut. Menyapu setiap pahatan diwajah yang sama sekali tidak bisa dia lihat rupanya.
"Ya, aku sudah sangat ingin melihat wajahmu, ingin sekali," ucap Evan.
"Aku jelek, kamu pasti akan lari jika sudah bisa melihat wajahku nanti," jawab Zura.
Evan menggeleng pelan, "Tidak akan," jawabnya.
"Kamu belum melihatnya Van," ucap Zura dengan sendu.
__ADS_1
"Mau bagaimanapun wajahmu, kamu tetap Zuraku yang baik hati. Zura yang menjadi malaikat dalam hidupku," jawab Evan.
Zura mendengus senyum mendengar itu, dia meraih tangan Evan dari wajahnya dan kembali menggenggamnya dengan lembut.
"Kata-katamu sungguh manis sekali,"
"Bukan kata-kataku yang manis, tapi kamu yang terlalu indah untuk bisa aku kenang," jawab Evan.,
Zura tertawa kecil dan langsung memeluk tubuh Evan, "jangan terus merayuku, aku tidak bisa berhenti menangis jika kamu terus mengucapkan kata-kata manis itu," ujar Zura.
Evan tersenyum, dia mengusap pundak Zura dengan lembut. Mencium pucuk kepala Zura dan menikmati harum aroma vanila yang menguar dari tubuh gadis itu, aroma yang akan selalu dia kenang sepanjang hidupnya.
"Terima kasih untuk semua kebaikan kamu, Zura. Aku berjanji akan datang lagi," ucap Evan.
"Berjanjilah untuk tidak akan melupakan aku, Van," pinta Zura.
"Aku tidak akan melupakan mu, meski aku tidak bisa melihat wajahmu, tapi semua tentang mu sudah aku simpan didalam hatiku," jawab Evan.
"Kamu malaikatku, Zura," ungkap Evan kembali.
Zura tidak bisa menahan haru atas semua perkataan Evan malam itu. Malam terakhir dimana mereka akan bersama. Dan besok hari, mereka sudah harus berpisah.
Rasanya sangat berat untuk Zura. Jika boleh meminta, ingin sekali dia membuat malam ini lebih panjang agar dia bisa menghabiskan waktunya bersama Evan. Menikmati indahnya malam dengan sinar bulan purnama yang menghiasi malam itu.
Malam yang sendu, sesendu hati Zura yang harus rela di tinggal Evan.
Meski Evan sudah berjanji akan kembali lagi, tapi entah kenapa perasaan Zura berkata tidak seperti itu. Rasanya sangat mustahil jika mereka akan bisa seperti ini lagi. Menghabiskan setiap detik waktu bersama-sama. Tertawa bersama, bercanda bersama, bahkan melakukan apapun bersama.
Setelah Evan kembali, semua pasti akan berbeda.
Bisakah janji itu Evan tepati?
Bisakah kebahagiaan yang pernah tercipta itu terulang lagi?
Meski hanya sebentar, tapi Zura yakin, jika perasaannya memang sudah jatuh hati pada lelaki tampan ini. Lelaki yang ternyata berasal dari keluarga terpandang. Dan dari situ saja, sudah mematahkan harapan Zura untuk bsia tetap berada bersama Evan.
..
Kamu seperti rembulan malam yang sangat indah
datang untuk menghiasi hidupku yang gelap
namun semua sudah harus berakhir ketika mentari datang
dan sekarang, waktunya kamu pergi
__ADS_1
*pergi jauh dan meninggalkan aku dalam kegelapan abadi*.