
Zura duduk dengan wajah tegang di sofa mewah yang terasa sangat nyaman ini. Dan baru kali ini dia merasakan duduk di sofa yang begitu mewah, berada di dalam rumah megah yang seperti istana. Sangat besar, sangat indah bahkan sangat memanjakan mata. Tapi sayang, semua itu tidak bisa Zura nikmati dengan nyaman karena saat ini dia sudah berada di hadapan kedua orang tua Vanno dan juga saudaranya.
Zura benar-benar tegang, dia gugup dan tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi ketika melihat Tuan dan Nyonya besar itu memandangnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Nampak sekali jika mereka semua adalah orang besar. Gaya mereka, sikap mereka dan juga pembawaan mereka. Sangat elegan dan tentunya berkelas. Sungguh demi apapun Zura benar-benar tidak nyaman berada di sini, dia sangat merasa rendah.
"Jadi nama kamu Zura?" tanya Nara, Mommy Vanno.
"Benar, Nyonya," jawab Zura.
"Kenapa tidak datang ketika sudah berada di ibukota. Selama ini Vanno selalu mencari kamu, nak," ucap Nara begitu ramah dan hangat.
Zura hanya bisa tersenyum getir dan melirik pada Vanno yang duduk di sebelahnya.
"Ya, dia malu Mom. Padahal Vanno sudah mencarinya seperti orang gila," sahut Vanno.
"Maaf Nyonya, saya merasa tidak enak untuk datang. Saya juga baru tahu kalau Evan, eh maksud saya Tuan muda Vanno adalah pemilik perusahaan itu," ungkap Zura.
"Hei, panggil Vanno saja, atau Evan seperti biasa. Kamu ini," Vanno terlihat tidak suka ketika Zura memanggilnya dengan sebutan Tuan.
"Ya, jangan canggung seperti itu Zura," ujar Nara.
"Dia pasti takut dengan Daddy," sahut Zeze yang duduk di samping Mommy nya.
Zura hanya tersenyum simpul saja. Dan memang benar jika dia takut dengan Tuan besar itu. Apalagi dengan wajah datar dan dinginnya yang selalu membuat setiap orang yang melihat pasti merasa gentar.
"Jangan takut, saya memang seperti ini. Saya dan keluarga sudah mencari kamu ke Kalimantan. Tapi ternyata kamu sudah pindah dari sana. Padahal saya ingin membalas kebaikan kamu dan Nenek kamu karena sudah menyelamatkan putra saya waktu itu," ungkap Reynand.
Tuan besar itu berbicara dengan sangat berwibawa. Namun, suaranya yang tegas dan juga datar tetap saja membuat Zura gugup. Apa mungkin karena dia belum terbiasa? Padahal ibu dan adik Vano cukup ramah dan baik padanya.
"Saya dan Nenek ikhlas membantu Tuan Vanno, Tuan. Lagipula saat itu memang kebetulan saya sedang ada di sekitar sungai. Tapi karena Tuan Vanno lupa ingatan dan tidak memiliki identitas apapun, jadi saya tidak bisa menghubungi keluarga Tuan," ungkap Zura.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya mengerti. Sekarang saya sudah bertemu dengan mu. Mungkin ribuan rasa terimakasih tidak bisa untuk menebus kebaikan kamu, tapi saya pasti akan membalas semuanya," ucap Reynand kembali.
Namun, Zura langsung menggeleng dengan kuat. "Tidak, Tuan, jangan!" serunya. Membuat Reynand dan Nara bingung.
"Saya benar-benar ikhlas dan sudah melupakan itu. Cukup melihat Tuan Vanno sehat dan berkumpul lagi dengan keluarganya sudah membuat saya senang," jawab Zura lagi.
"Zura," lirih Vanno.
Zeze dan Nara memandang Zura dengan rasa haru dan bangga. Mereka tahu jika gadis ini memanglah gadis baik hati. Dia sama sekali tidak ingin mengharapkan imbalan apapun. Karena jika dia mengharapkan imbalan yang besar, sudah jelas dia pasti sudah datang sejak kemarin, sejak dia tahu Vanno adalah orang kaya pemilik perusahaan besar.
"Nak, tolong jangan ditolak, anggap saja ini sebagai rasa terimakasih kami," ucap Nara pula.
Namun, Zura tetap menggeleng. "Tidak, Nyonya. Saya sungguh tidak apa-apa. Jangan begitu," jawab Zura.
"Ya sudah, jika tidak mau menerima dari orang tuaku, maka jangan menolak pemberian dariku," Vanno langsung menyahut dengan cepat membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Ya, biar Vanno yang akan membalas kebaikan kamu. Mungkin kamu lebih bisa menerima," ucap Reynand pula.
"Iya, Nyonya," jawab Zura.
"Setelah ini jangan lagi sungkan, kapanpun kamu butuh bantuan, datang saja pada kami, nak. Kami juga keluargamu sekarang," ujar Nara kembali.
Zura langsung tersenyum haru mendengar itu.
"Ya, kamu juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang bukan," sahut Reynand pula.
Zura hanya mengangguk pelan.
"Maka dari itu, anggap kami sebagai keluargamu. Jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan. Jika tidak enak dengan kami, kamu bisa minta pada Vanno," ujar Tuan besar itu kembali.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Terimakasih," jawab Zura.
"Kamu juga harus sering datang kemari, Zura. Rumah ini terbuka untuk kamu sekarang, benarkan Mom, Dad?" ucap Zeze sembari menoleh pada Mommy dan Daddy nya.
Mereka langsung mengangguk bersamaan, "tentu saja," jawab mereka.
Zura kembali tersenyum haru dan mengangguk pelan. Rasa takut dan canggungnya tadi sudah mulai mereda dan kini berganti dengan rasa haru karena dia diterima dengan baik oleh keluarga Vanno. Ya, meskipun dia tahu dia diterima karena dia yang pernah berjasa dalam kehidupan mereka.
Cukup lama Zura berada di rumah keluarga Vanno, bahkan sampai hari sudah mulai malam. Banyak hal yang mereka ceritakan di sana, mengobrol bersama Zeze, bermain dengan kedua anak kembar yang lucu, dan bahkan Zura sampai makan malam bersama dengan keluarga itu. Dia tidak bisa menolak karena Vanno dan Zeze memaksanya. Akmal tidak jadi menjemput Zura sore tadi karena Zeze menghubunginya dan mengatakan jika Vanno yang akan mengantarkannya nanti.
"Jadi sekarang kamu sudah membuka toko bunga di sini, nak?" tanya Nara. Mereka baru saja selesai makan malam bersama.
"Benar, Tante. Masih baru dan rencana besok baru dibuka, karena saya juga baru beberapa hari ada di sini," jawab Zura. Panggilannya sudah di ubah karena Nyonya besar itu tidak ingin Zura terus memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
"Tempatmu sendiri atau menyewa?" tanya Reynand pula.
"Masih menyewa, Om," jawab Zura dengan canggung.
"Kalau begitu untuk kali ini jangan menolak bantuan saya, besok undur dulu membuka toko bunga itu. Akan ada orang yang datang kesana, jika tempatnya kurang memadai kamu bisa pindah tempat. Saya akan mencarikan tempat yang cocok untuk usaha kamu," ujar Reynand.
"Eh, jangan lah Om. Nggak apa-apa di sana dulu. Saya juga sudah kerja sama dengan orang lain," jawab Zura tidak enak.
"Tidak masalah kamu mau bekerja sama dengan siapa. Saya hanya membantu mencarikan tempat dan menambahi modal untuk kamu. Kerja kamu bagus, dan saya suka. Jadi jangan menolak!" tegas Tuan besar itu.
"Tapi,"
"Sudahlah, Ra. Terima saja, kamu berbakat, sayang kalau tidak dikembangkan dengan serius," sahut Zeze pula.
"Terima saja ya, kan untuk usaha kamu juga," kini Vanno berucap sembari mengusap lengan Zura sekilas.
__ADS_1
Zura yang bingung hanya bisa tersenyum getir saja. Dia benar-benar tidak enak sekarang. Bukan berniat untuk meminta imbalan, padahal jika sudah selalu berada dekat dengan Vanno saja, Zura sudah begitu bahagia. Rasanya semua sudah cukup. Karena yang dia inginkan hanyalah, Evan.