
Pengobatan yang dilakukan Evan alias Vanno terus berjalan. Kedua orangtuanya terus mengupayakan agar putera mereka bisa kembali melihat dan mendapatkan penglihatannya. Bahkan saat ini Evan sudah berada di Singapura untuk melakukan operasi donor mata. Sudah tiga bulan berlalu, dan baru sekarang mereka mendapatkan mata yang sesuai untuk Evan.
Evan sudah sangat tidak sabar untuk bisa melihat, karena menurut dokter jika dia bisa melihat maka kesempatan dan peluang untuk bisa mendapatkan kembali ingatannya yang hilang akan lebih besar. Jelas saja Evan menunggu saat-saat itu tiba. Karena sekarang, tujuannya bukan hanya untuk sembuh. Tapi juga untuk mencari Zura. Gadis baik hati yang hingga hari ini belum juga mereka temukan.
Tidak tahu dimana keberadaan gadis itu, orang-orang Reynand sudah mencari ke seluruh sudut kota Kalimantan, tapi tak juga mereka temukan jejak Zura.
Bahkan, Daffa yang saat ini masih magang di Desa Nateh pun tidak lagi tahu kabar Zura dan Akmal. Kedua orang itu hilang bagai ditelan bumi.
"Sudah siap buka perban?" tanya Dokter Willy, dokter yang menangani operasi mata Evan saat ini.
"Sudah dokter," jawab Evan.
Reynand dan Nara juga ada disana, mereka juga menantikan detik-detik yang menegangkan ini. Berharap jika operasi ini lancar dan Evan bisa melihat kembali.
Reynand merangkul bahu Nara dengan lembut, selama masa pengobatan, istrinya ini tidak pernah jauh sedikitpun dari Evan. Dia selalu ada untuk mengurus Evan seorang diri, bahkan tidak dia biarkan orang lain mengurus putranya. Hanya ketika Evan membersihkan diri saja baru ada perawat lelaki yang menemaninya. Selebihnya, semua Nara yang mengurus.
Zeze tidak bisa ikut, karena saat ini dia sedang hamil muda. Ya, saudara kembar Evan itu tengah hamil 7 Minggu sekarang. Beruntungnya karena besan Nara cukup sayang dengan putrinya, jadi dia bisa mengurus Evan dengan tenang.
"Saya buka ya, katakan jika sakit, Tuan muda," ujar dokter Willy.
Evan hanya mengangguk, dia cukup gugup saat ini. Terlihat dari tubuh dan wajahnya yang sedikit tegang.
"Sudah pasti bisa melihat kan dokter?" tanya Reynand. Dia sangat berharap jika putranya bisa kembali seperti dulu. Putra yang selalu dia banggakan pada semua orang.
"Semoga saja, Tuan. Kita berdoa bersama-sama ya," jawab Dokter Willy.
Dia mulai membuka perban yang melingkari mata dan kepala Evan. Wajah Evan masih pucat meski operasi sudah berjalan lebih dari seminggu yang lalu. Dan hari ini semua harapan dan impiannya baru akan di mulai.
Nara menghela nafas, menantikan setiap balutan demi balutan yang dilepaskan oleh dokter Willy. Hingga akhirnya perban itu terbuka dan menampakkan seluruh wajah putranya.
__ADS_1
"Tuan bisa buka perlahan, jangan di paksakan," ujar dokter Willy.
Evan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia mulai membuka perlahan matanya sesuai dengan instruksi dari Dokter Willy.
Awalnya cukup berat dan lengket, ada rasa sakit dan berdenyut ketika dia menggoyangkan bola mata dan ingin membuka kelopak matanya.
"Apa sakit?" tanya Dokter Willy.
"Sedikit," jawab Evan.
Kedua orangtuanya sudah semakin tegang menantikan mata itu terbuka.
Hingga akhirnya, secara perlahan Evan mulai bisa membuka matanya. Namun hanya sedetik karena setelah itu dia kembali menutup matanya. Ada cahaya silau yang membuat matanya terasa perih.
"Perlahan-lahan, Tuan," ujar Dokter Willy kembali. Dia juga terlihat tegang sekarang. Karena ini adalah pasien yang cukup penting dan sangat berpengaruh untuk kelanjutan karirnya.
Evan kembali mencoba membuka mata, hingga akhirnya samar-samar dia bisa melihat bayangan dua orang yang saling merangkul dan memandang kearahnya.
"Nak, kamu …bisa lihat Mommy?" tanya Nara, begitu ragu. Apalagi ketika Evan memandang dia dengan lekat.
"Mommy," gumam Evan.
Reynand langsung melambaikan tangannya di depan Evan, membuat mata Evan sedikit berkedip. Dan tentu saja itu membuat Reynand dan Nara langsung tersenyum senang. Begitu pula dengan Dokter Willy.
"Anda bisa melihat mereka, Tuan?" tanya Dokter Willy.
Evan mendengus senyum dan langsung mengangguk haru. Dia bisa melihat lagi, dia bisa melihat kedua orangtuanya.
"Apa ini Mommy dan Daddy?" tanya Evan.
__ADS_1
Nara langsung mendekat kearah Evan dan memeluk putranya penuh sayang. "Iya, nak. Ini Mommy sayang, ini Mommy," ucap Nara. Dia bahkan sampai menangis bahagia melihat Evan yang bisa melihat lagi.
Reynand bahkan sampai menepuk bahu putranya dengan lembut. Dia juga ikut bahagia, akhirnya perjuangannya tidak sia-sia.
"Mommy, cantik sekali," puji Evan
Nara tertawa dengan lelehan air mata di wajahnya. Dia menangkup wajah Evan dan mengusapnya dengan lembut.
"Mommy senang kamu sudah bisa melihat, nak. Kamu pasti bisa mengingat lagi setelah ini," ucap Nara.
Evan mengangguk, dia mengusap air mata diwajah ibunya dengan lembut. Benar saja, ketika melihat wajah Nara, Evan merasakan sesuatu yang langsung melintas di kepalanya. Bayangan-bayangan kecil dan memori yang terlupakan seperti benang kusut yang memenuhi kepalanya sekarang.
"Putra Daddy sudah kembali," ucapan Reynand membuat Evan menoleh kearahnya. Dia tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Terima kasih, Dad. Ini berkat Daddy juga," jawab Evan. Dia memandangi Daddy nya yang terlihat gagah dan begitu berwibawa. Evan tidak menyangka jika dia memiliki orang tua yang sempurna seperti ini.
"Apapun akan Daddy dan Mommy lakukan untuk kesembuhan mu nak," jawab Reynand.
Evan mengangguk pelan, dia sangat bahagia saat ini. Dia sudah bisa melihat lagi. Meskipun semua yang dia lihat terasa asing.
Tapi, Evan akan berusaha untuk mengingat semuanya. Sembuh seperti sedia kala dan akan dia cari Zuranya sampai dapat.
'kamu harus bisa sembuh, kamu mau lihat wajahku kan,'
'ya, kamu pasti cantik,'
'aku jelek, kamu pasti terkejut nanti,'
Ucapan Zura langsung terngiang di telinga Evan. Hanya suara, bukan wajah. Dan sekarang, dia ingin sekali melihat wajah itu. Wajah yang dalam bayangan Evan pasti indah, seindah hatinya yang sudah begitu tulus merawatnya selama beberapa bulan.
__ADS_1
Zura … kamu dimana? Aku sudah bisa melihat sekarang. Dan aku ingin sekali melihat wajahmu.
Aku rindu.