
Pagi hari yang terasa menyedihkan. Genangan air mata sudah membendung di pelupuk mata Zura. Rasanya begitu berat dan juga perih ketika dia harus merasakan kehilangan untuk yang kesekian kali. Sungguh tidak nyaman sekali ketika dia sudah menemukan sebuah cahaya didalam kehidupannya, namun sekarang cahaya itu sudah harus pergi.
Sakit? Tentu saja. Tapi untuk menahan juga tidak mungkin. Hingga akhirnya, Zura harus bisa merelakan Evan untuk pergi dari hidupnya. Mengakhiri semua yang telah terjadi diantara mereka.
Zura merangkul lengan Evan menuju kearah mobil Daffa. Dokter muda itu juga ikut berjalan beriringan bersama Nek Sri untuk mengantar kepergian Evan.
Daffa sudah dari pagi berada di rumah Zura. Tentunya untuk berpamitan dan mengucapkan sejuta kata terima kasih untuk Zura dan neneknya. Apalagi Daffa memang belum ada mengabari keluarga Adiputra tentang ini. Jadi dia yang harus mewakilkan keluarga itu dulu sebelum nantinya mereka yang akan datang sendiri ke tempat ini.
"Oh iya, nek." Tiba-tiba Daffa berhenti di ambang pintu dan membuat langkah Nek Sri terhenti. Begitu juga Zura dan Evan yang sudah lebih dulu berjalan.
"Ini untuk pegangan nenek dulu ya, untuk membeli kebutuhan nenek dan Zura disini," Daffa berucap sembari menyerahkan sebuah kartu pada Nek Sri.
"Ini apa, nak?" tanya Nek Sri.
"Ini kartu kredit, di dalamnya ada sedikit uang. Nanti bisa untuk membeli keperluan nenek," ungkap Daffa.
Nek Sri mengernyit bingung. Dia memandang Daffa dengan heran.
"Nenek nggak ngerti makainya gimana, nak. Gak usahlah, kan udah nenek bilang nenek ikhlas bantu nak Evan," ucap Nek Sri. Dia mendorong kembali lengan Daffa dan menolak pemberian lelaki itu.
"Iya, nek. Saya tahu nenek ikhlas, tapi saya juga ikhlas untuk memberikan ini. Anggap saja sebagai hadiah dan kenang-kenangan dari saya dan kak Vanno," ujar Daffa lagi.
"Ambilah, Nek," ujar Evan pula.
"Bukannya nenek menolak, nak. Nenek itu gak ngerti," jawab Nek Sri.
Daffa langsung tertawa kecil mendengar itu, kini dia langsung beralih pada Zura.
"Kamu juga nggak ngerti cara menggunakannya?" tanya Daffa.
Zura langsung mengangguk pelan dan tersenyum getir. " Baru kali ini juga ngelihatnya, dokter," jawab Zura.
"Kamu bawa kartu ini ke bank, atau di desa sebelah sepertinya ada tempat pengambilan uang. Kamu juga bisa ambil disitu. Nanti mereka yang akan membantu, kamu tinggal menyebutkan kodenya saja," ujar Daffa. Dia langsung menyerahkan kartu itu pada Zura.
__ADS_1
"Zura terlihat ragu, namun Evan langsung memintanya untuk mengambil kartu itu.
"Ambilah, jangan di tolak. Kamu bisa gunakan itu untuk berbelanja dan membeli obat nenek," ucap Evan.
Hingga mau tidak mau Zura pun mengambil kartu itu dengan ragu setelah Daffa menyebutkan kode pinnya.
"Jika kamu bingung, kamu bisa minta tolong pada Diyah. Dia pasti mau membantu," kata Daffa lagi.
Zura mengangguk pelan, "terima kasih, Dokter," ucap Zura.
"Saya yang berterima kasih, ini tidak ada apa-apanya dengan kebaikan kalian,"jawab Daffa. "Mungkin nanti, uncle Reynand atau yang mewakili pasti akan datang kesini untuk mengucapkan terima kasih pada Nenek dan Zura," tambah Daffa lagi.
"Udahlah, nak. Nenek nggak apa-apa. Yang penting nak Evan sehat dulu. Nanti kalau udah sembuh, baru main kemari sesekali," ujar Nek Sri.
"Pasti nek, saya pasti akan datang lagi nanti," sahut Evan.
Zura dan Nek Sri langsung tersenyum mendengar itu.
"Hati-hati," jawab Nek Sri. Dan Daffa langsung mengangguk pelan.
Kini Evan beralih pada Zura. Dia meraba tangan Zura dan menggenggamnya dengan lembut, "Aku pergi dulu, kamu harus baik-baik saja disini, nanti aku pasti datang lagi," ujar Evan.
"Iya," jawab Zura. Begitu singkat, dia tidak bisa banyak berkata-kata sekarang, jika menjawab rasanya Zura ingin menangis saja. Percayalah, rasanya di tinggalkan itu begitu sakit. Apalagi Zura merasa jika ini adalah pertemuan mereka yang terakhir.
"Tidak boleh menangis sendirian," ucap Evan.
"Iya," jawab Zura, yang sebisa mungkin menahan isak tangisnya.
"Harus selalu jadi gadis yang kuat," pinta Evan lagi.
"Tentu," jawab Zura. Senyumnya terlihat begitu getir. Apalagi air mata yang sudah mengalir diwajahnya.
"Jangan menangis," pinta Evan.
__ADS_1
"Nggak," jawab Zura yang langsung menghapus air mata itu. Evan memang tidak bisa melihat tapi Daffa dan Nek Sri tahu. Mereka tahu jika sepertinya, Zura begitu bersedih.
"Kamu berbohong kan," Evan berucap sembari menarik tubuh Zura dan memeluknya dengan erat. Dan tentu saja perlakuan Evan ini kembali meruntuhkan pertahanan Zura. Dia menangis dalam dekapan lelaki itu. Menangis sembari menikamati kehangatan terakhir yang bisa dia rasakan.
"Kamu harus cepat sehat dan sembuh ya," pinta Zura.
"Tentu saja," jawab Evan.
"Jangan pernah lupakan aku," pinta Zura kembali.
"Tidak akan, Zura," jawab Evan. Dia melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Zura dengan lembut. Merasakan kembali pahatan dan ciptaan Tuhan yang kini sudah basah dengan air mata.
"Jangan menangis lagi, bagaimana aku bisa pergi jika kamu menangis seperti ini," ucap Evan.
"Aku menangis bahagia, tenang saja," jawab Zura.
"Pergilah, kamu harus hati-hati," tambah Zura kembali. Evan hanya mengangguk pelan dan mengusap pucuk kepala Zura. Rasanya berat sekali untuk pulang, tapi jika tidak pergi dan terus berada disini dia hanya akan menjadi beban untuk Zura dan nek Sri. Evan harus pulang, dia harus sembuh seperti apa yang Daffa katakan. Setelah itu, baru dia akan datang lagi sebagai lelaki yang bisa bergantian untuk menjaga dan melindungi Zura seperti apa yang telah gadis ini lakukan untuknya.
"Jaga diri kamu baik-baik ya," ucap Evan untuk yang terakhir kali.
"Iya," jawab Zura.
Setelah berpamitan, Daffa dan Evan langsung masuk kedalam mobil. Zura melambaikan tangannya kearah Evan. Meski lelaki itu tidak bisa melihat, namun Zura bisa. Biarkan dia yang melihat, jika perpisahan ini begitu sakit. Waktu mereka bersama memang sebentar, tapi percayalah kenangan yang tercipta disetiap detik waktu itu tidak akan bisa Zura lupakan.
Dia melambaikan tangannya disaat mobil yang membawa Evan sudah mulai pergi. Pergi membawa Evannya dan meninggalkan dia sendirian.
Zura terisak, dia tertunduk dan menangis disana. Menangis meluahkan kesedihannya karena perpisahan ini.
"Ikhlaskan hati kamu, nak. Masa kita bersama dia sudah habis," ujar Nek Sri. Zura semakin terisak dan langsung memeluk neneknya dengan erat.
Sekarang, mereka kembali berdua. Berdua dalam kehidupan yang begitu menyedihkan.
'Sampai bertemu lagi Evan, dan jika pun kita tidak bisa bertemu lagi, semoga kamu masih bisa mengingat namaku. Nama yang pernah hadir didalam hidupmu. Aku pasti akan merindukan mu, merindukan semua kenangan yang pernah kita habiskan bersama.' _ Azzura
__ADS_1