Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Penampilan Zura


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur, dan tentunya hari yang sangat paling dinantikan oleh semua orang. Terutama untuk yang sudah lelah bekerja setelah seminggu penuh. Namun, itu berbeda untuk toko bunga Zura, yang semakin hari semakin ramai dan tentunya di hari libur seperti ini pun mereka masih tetap bekerja dan kelihatan sibuk.


Zura masih terlihat duduk berkumpul di aula tempat dia dan para karyawannya yang lain merangkai bunga. Lantunan kecil sesekali keluar dari bibirnya di saat tangannya sibuk bekerja. Hingga suara Akmal yang memanggil membuat Zura langsung menoleh.


"Ra, Mas Aldi nyariin tuh!" serunya.


"Oh, oke," jawab Zura. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan meraih sebuah buket bunga mawar yang sudah dia rangkai dengan indah.


"Kalian lanjutin dulu ya, nanti kalau udah siap, siapa yang mau weekend, pulang aja," ujar Zura pada lima orang karyawannya yang masih sibuk bekerja membuat pesanan pelanggan mereka.


"Oke, mbak," jawab mereka bersama.


Zura tersenyum tipis dan mengangguk pelan, setelah bercengkrama sedikit dengan karyawannya, Zura langsung keluar untuk menemui Aldi. Wajah lelaki itu terlihat bahagia sekali beberapa hari ini. Dan Zura tahu apa alasannya, dia sudah bertemu dengan gadis yang selama ini dia cari. Ya, Aldi sudah menceritakan semuanya pada Zura. Dan Zura juga cukup terkejut saat Aldi berkata jika gadis itu ternyata adalah sekretaris cantik Vanno. Dunia benar-benar sempit. Zura menjalin hubungan dengan bosnya dan Aldi dengan sekretarisnya. Lucu sekali, bukan.


"Yang mau ngedate, rapi banget," goda Zura saat dia sudah berada di dekat Aldi.


Aldi langsung tersenyum simpul dan beranjak dari duduknya. Lelaki itu memang sudah terlihat rapi dan wangi. Penampilannya semakin membuat dia bertambah tampan saja. Tapi tetap, tidak ada yang bisa menyaingi Zevanno Adiputra di mara Zura.


"Jangan godain terus deh, gimana pesenan aku, udah siap kan?" tanya Aldi.


"Udah dong, nih, spesial request," jawab Zura sembari memberikan buket bunga yang diinginkan oleh Aldi.


"Wah, cakep, terima kasih banyak. Nanti bonusnya aku kirim," ucap Aldi.


Zura tertawa kecil dan menggeleng pelan. "Gak perlu, itu spesial untuk yang sedang jatuh cinta," jawab Zura.


Kali ini gantian Aldi yang tertawa, " baik banget emang, aku doain deh semoga hubungan kamu dan Tuan muda lancar jaya," ucap Aldi kembali.


"Aamiin, Mas juga gitu ya. Udah sana pergi, nanti Nona cantiknya nungguin lagi," ujar Zura.


"Oke, terima kasih Zur, aku juga udah telat banget ini, bye!" Aldi berucap sembari melambaikan tangannya pada Zura dan langsung pergi dari sana. Meninggalkan Zura yang hanya tersenyum dan melambaikan tangannya saja.


Setelah kepergian Aldi, Zura langsung melihat jam yang ada di dinding. Sudah pukul lima sore dan sebentar lagi Vanno pasti akan menjemputnya. Mereka sudah janjian untuk dinner malam ini. Seharusnya mereka ingin keluar sejak siang tadi, tapi berhubung Zura banyak sekali pesanan dan Vanno juga ada pekerjaan mendadak, membuat mereka mengundur waktu dan memutuskan untuk menghabiskan malam saja.


Zura langsung pergi ke lantai atas dimana kamarnya berada, ya dia tidak ingin berada di tempat lain, padahal Vanno sudah menawarkan sebuah rumah atau apartemen untuk Zura. Namun Zura lebih memilih untuk tinggal di gedung ini saja. Gedung yang sudah cukup besar dengan fasilitas yang lengkap untuknya dan dia sudah merasa cukup berada di sini.


Zura membersihkan dirinya cukup lama, sesekali terdengar nyanyian kecil di dalam kamar mandi. Sepertinya dia terlihat senang sekali untuk rencana mereka malam nanti. Entahlah setiap apapun yang bersangkutan dengan Vanno, Zura merasa sangat senang, apalagi ketika dia bisa pergi berdua dengan lelaki itu. Rasanya tidak ada lagi masalah dan rasa sedih yang Zura rasakan. Berada bersama Vanno sudah cukup untuk membuat Zura merasa tenang. Apalagi lelaki itu yang sudah memberikan semuanya pada Zura. Cinta, perhatian dan kasih sayang.


Bisa dibilang jika Zura memang sudah sangat mencintai lelaki itu, Bahkan tidak bisa lagi diungkapkan seberapa besar perasaannya pada Vanno.


Terdengar bodoh, tapi begitulah kenyataannya.


Setelah selesai membersihkan diri, Zura langsung memakai pakaian yang di berikan oleh Vanno. Ya, beberapa waktu lalu Vanno memberikan sebuah hadiah untuk Zura. Sebuah gaun malam yang sangat indah bewarna hitam, bahkan sangat indah ketika sudah terpasang di tubuh Zura. Apalagi kilauan mutiara yang ada di beberapa titik gaun membuat penampilan Zura terlihat berbeda.

__ADS_1


"Cantik banget gaunnya," gumam Zura seorang diri. Bahkan dia terus memutar tubuhnya di depan cermin. Memandangi penampilannya sendiri dengan mata yang berbinar.


Tidak tahu akan kemana Vanno membawanya. Yang jelas Zura ingin tampil cantik malam ini.


Zukup lama dia bersiap, merias dirinya semampu yang dia bisa. Rambut panjangnya dia biarkan terurai indah, hanya sedikit di sepit kebelakang dengan sebuah manik yang berkilauan.


Sangat pas dan membuat penampilan Zura terlihat sangat anggun.


Bahkan ketika dia keluar dari kamarnya. Dua karyawan Zura yang masih berada di sana nampak terkejut dan kagum melihat penampilannya kali ini.


"Ya ampun, mbak Zura cantik banget," puji Anton.


"Iya, aku sampai pangling mbak," kata Diko pula.


Zura sampai tersenyum malu mendengar itu. "Aku nggak lucu kan?" tanya Zura.


Kedua lelaki itu langsung menggeleng cepat bahkan mereka langsung mengacungkan kedua ibu jari mereka pada Zura. "Cakep banget mbak," ucap mereka.


Zura tertawa kecil dan menggeleng pelan, dia bahkan merasa aneh dengan penampilannya sendiri sekarang.


"Udah kayak artis mbak, gak kalah cantik," puji Diko lagi.


"Ya harus cantik dong, gebetannya aja Tuan muda Adiputra. Gak lihat gimana mewahnya mereka," sahut Anton.


Zura mengerucutkan bibirnya sekilas. Ah jika mengenangkan status sebenarnya hati Zura gelisah, tapi rasa cinta yang dia punya benar-benar tidak bisa dia tahan.


"Alahmak, cantik sekali adikku ini," pujinya dengan gelengan kepala yang pelan. Dia sangat takjub melihat penampilan Zura. Pasalnya selama mereka kenal Zura tidak pernah memakai ataupun merias dirinya seperti ini. Ini kali pertanya Akmal melihat Zura.


"Apasih, malah menghalangi jalan, Mal?" suara Vanno membuat Akmal terkejut. Dia langsung menyingkir dan membiarkan Vanno masuk.


"Eh tuan muda, tuh lihat si Zura, kenapa bisa cantik begitu ya," jawab Akmal yang kembali memandang Zura yang kini tengah berjalan ke arah mereka.


Vanno juga langsung memandang Zura, dan senyumnya langsung melebar ketika melihat penampilan Zura yang memang sangat cantik. Bahkan seperti yang lain, dia memandang Zura penuh kekaguman, namun disertai dengan pandangan penuh cinta hingga membuat dua karyawan Zura itu tersenyum simpul.


"Kenapa mandangi aku begitu? Lucu ya?" tanya Zura.


Vanno menggeleng pelan, "kamu cantik," ucapnya.


Wajah Zura langsung merona merah mendengar perkataan Vanno.


"Cieee yang mau ngedate," goda Diko dan Anton.


Zura semakin salah tingkah melihat itu, sedangkan Vanno hanya terkekeh kecil saja.

__ADS_1


"Kita pergi?" ajak Vanno. Bahkan dia langsung menjulurkan tangannya pada Zura tanpa malu jika ketiga bodyguard Zura itu kini tengah memandangi mereka.


Zura mengangguk, dia langsung meraih tangan Vanno hingga membuat Diko dan Anton lagi-lagi menggoda mereka.


"Hati-hati ya, Tuan jangan bawa Zura pulang larut malam," ujar Akmal.


"Ya, tentu. Tenang saja," jawab Vanno.


"Kami pergi dulu, kang," pamit Zura.


"Ya, jaga diri baik-baik," ujar Akmal.


"Kamu ini, saya tidak seburuk itu Mal," sahut Vanno yang nampak kesal.


Namun Akmal dan Zura hanya tertawa saja melihat wajah kesal tuan muda itu. "Hanya mengingatkan tuan muda," ucap Akmal.


Vanno mendengus gerah, setelah berpamitan pada Akmal dan yang lainnya Vanno langsung membawa Zura masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi kali ini dia membawa mobil sendiri karena Vanno ingin menikmati waktu berdua bersama Zura.


"Cantik sekali, aku sampai pangling," ucap Vanno ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Ini karena gaun yang kamu berikan," jawab Zura.


"Bukanlah, tapi karena memang kamu sudah cantik sejak dulu," sahut Vanno.


"Kamu menggoda ku ya," ucap Zura.


Vanno tersenyum simpul dan menggeleng pelan, "Aku berbicara jujur, sayang," ucap Vanno.


Lagi-lagi wajah Zura langsung merona mendengar panggilan sayang dari Vanno. Ah, kenapa hatinya selemah ini.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Zura mengalihkan kegugupannya.


"Rahasia, yang jelas aku ingin membuat kamu senang malam ini," jawab Vanno.


"Tapi aku sudah senang setiap hari, apalagi jika melihat kamu baik-baik saja," ucap Zura.


Dan kali ini Vanno yang nampak tersenyum bahkan tertawa kecil, " kamu yang menggoda aku kan," ucapnya.


"Mana ada, aku berbicara jujur," balas Zura.


Vanno mendengus senyum, dia memandang Zura sejenak yang memang sangat cantik dan memanjakan mata malam ini.


"Aku ingin membawa kamu ke suatu tempat, aku ingin membuat kenangan yang indah di sana," ucap Vanno.

__ADS_1


"Kenangan yang indah?" tanya Zura kembali.


Vanno mengangguk pelan dengan senyumnya yang selalu indah di mata Zura.


__ADS_2