Memori Cinta Zevanno

Memori Cinta Zevanno
Kembali Kerumah


__ADS_3

Pesawat mulai mengudara di langit Kalimantan, terbang jauh meninggalkan semua kenangan yang pernah tercipta. Rasa berat untuk pergi jelas ada, namun tidak mungkin selamanya dia akan seperti ini. Didalam ingatan hanya ada Zura dan kehidupannya, tidak ada orang lain yang Evan kenal dan memenuhi pikiran Evan selain gadis itu.


Tapi, dia harus kembali. Kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Ada keluarga yang menunggunya dirumah, ada tanggung jawab yang harus dia selesaikan. Tidak mungkin dia memilih Zura sedangkan banyak orang yang merasa kehilangan atas dirinya selama beberapa bulan ini.


Nanti, ketika semua sudah selesai dan kembali. Evan pasti akan datang lagi ke tempat ini. Tempat dimana dia menemukan seorang gadis berhati malaikat. Meski Evan tidak tahu bagaimana rupanya, namun Evan yakin, jika Zura pasti secantik hatinya. Jika pun tidak, itu juga bukan masalah, karena hati Evan sudah terikat dan jatuh pada gadis itu.


'Selamat tinggal Zura, sampai bertemu lagi. Tunggu aku kembali, aku pasti akan datang untuk menjemputmu,'


..


"Kak, minum dulu," ujar Daffa sembari menyerahkan sebuah botol air di tangan Evan.


Evan mengangguk, dia meraih botol minum itu dan meminum isinya beberapa teguk. Rasa dingin air itu bisa sedikit mengurangi rasa dahaga dan kegundahan hatinya.


"Apa masih lama?" tanya Evan.


"Enggak kak, setengah jam lagi kita mendarat," jawab Daffa sembari meraih botol minum dari tangan Evan.


"Apa kamu benar, jika orang tuaku punya biaya untuk membuat ku sembuh?" tanya Evan. Sejak semalam, itu yang selalu dia pikirkan. Dia takut, jika dia pulang kondisinya akan terus seperti ini.


Daffa langsung mendengus senyum mendengar itu, "kakak jangan khawatir, apapun akan dilakukan oleh uncle Reynand untuk kesembuhan kakak. Jangan khawatirkan soal biaya. Kakak itu penerus perusahaan besar di ibukota. Bahkan uang yang kakak dan keluarga kakak punya tidak akan pernah habis untuk tujuh turunan," jawab Daffa.


"Benarkah itu?" tanya Evan. Dia merasa jika ini seperti sebuah lelucon saja.


"Tentu saja benar. Aku sudah tidak sabar untuk membawa kakak kerumah, aunty Nara pasti sangat senang melihat kakak kembali. Hanya dia yang selalu yakin jika kakak masih hidup, dan sekarang semua keyakinannya itu memang terjawab," ungkap Daffa.


"Apa dia ibuku?" tanya Evan.


"Ya, dia Mommy mu kak, kesehatannya memburuk semenjak kakak pergi. Dia sudah sering sakit-sakitan karena terus memikirkan kakak," jawab Daffa.


"Mommy," gumam Evan, Panggilan itu benar-benar tidak asing, dia sungguh merasa sangat mengenal dan dekat sekali dengan wanita itu. Ya, Daffa pasti benar jika itu adalah ibunya.

__ADS_1


"Kenapa kak?" tanya Daffa ketika melihat raut wajah Evan yang berubah.


"Entahlah, setiap kali mendengar kata-kata yang asing aku merasa ada bayangan-bayangan yang membuat kepalaku pusing," jawab Evan.


Daffa mengerjapkan matanya sekilas, dia langsung mendengus senyum memandang Evan. Sebagai calon dokter, tentu sedikit banyaknya Daffa tahu jika ingatan Evan pasti akan mudah kembali tanpa harus menjalani operasi atau hal medis lainnya. Hanya sedikit terapi dan psikologi yang membantu, Daffa yakin jika ingatannya akan segera pulih.


"Jangan terlalu dipikirkan, kak. Itu hal yang wajar. Untuk saat ini kakak tenang dulu. Nanti jika sudah tiba dirumah, kita akan tahu pengobatan apa yang cocok untuk kakak," ujar Daffa.


Evan mengangguk lemah. "Apa aku juga punya saudara?" tanya Evan kembali.


"Ya, kakak punya saudara kembar. Zevanya, yang biasa kita panggil Zeze," jawab Daffa.


"Zeze," gumam Evan kembali.


Daffa kembali mengangguk pelan, "dia sangat terpukul saat tahu kakak hilang dan tenggelam disungai. Apalagi kejadian itu bertepatan dengan hari pernikahannya. Kak Zeze sampai menangis berhari-hari karena hal itu," ungkap Daffa.


Evan langsung tertegun mendengar itu. " Dia pasti sedih sekali," ucap Evan lagi.


"Tentu saja, semua orang kehilangan kakak. Baru sebulan ini saja uncle Reynand menghentikan pencarian. Jika tidak, sudah seluruh pelosok kota dia datangi, bahkan sepanjang sungai dimana kakak tenggelam juga sudah ditelusuri. Tapi sama sekali mereka tidak bisa menemukan kakak," ungkap Daffa.


Tentu tidak bukan.


Ya, semua memang sudah menjadi takdir Tuhan.


"Sekarang, kita akan membuat kejutan untuk mereka. Mereka pasti senang sekali jika melihat kakak masih hidup," ucapan Daffa membuat Evan sedikit terkesiap. Namun, dia segera mengangguk pelan. Meski tidak tahu dan tidak mengingat apapun, tapi rasanya dia juga sangat ingin bertemu mereka. Ada perasaan rindu dan sedih yang ada didalam hatinya setiap hari. Mungkin karena ikatan batin antara dia dan keluarganya.


Pesawat mendarat dengan sempurna di bandara ibu kota. Mereka di jemput oleh seorang supir yang sudah dihubungi Daffa sejak tadi. Cuaca ibukota yang cukup terik membuat Evan sedikit meringis. Apalagi selama beberapa bulan ini dia tinggal di tempat sejuk dan di perbukitan, dan ketika tiba di tempat ini Evan merasa lain.


"Apa masker ini bisa aku buka? Rasanya panas sekali," pinta Evan disaat mereka berjalan kearah lobi.


"Jangan, kak. Nanti banyak orang yang mengenali wajahmu," sahut Daffa dengan cepat.

__ADS_1


"Apa aku seorang penjahat hingga mereka tidak boleh mengenali aku?" tanya Evan dengan polosnya. Daffa langsung meringis mendengar itu. "Bukanlah, kabar kakak menghilang cukup menghebohkan dunia maya waktu itu, bahkan sampai sekarang keluarga Adiputra juga masih selalu di sorot, jadi kalau mereka tahu kakak ada disini dan sudah kembali, kehidupan kalian pasti tidak tenang," ungkap Daffa. Dia berbicara dengan sedikit berbisik di telinga Evan.


"Aku aku memang sepenting itu?" tanya Evan.


"Lebih penting dari anak presiden," jawab Daffa.


Evan tidak tahu saja bagaimana hebohnya seluruh penduduk ibu kota ketika mendengar beritanya yang menghilang beberapa bulan lalu. Apalagi waktu itu bertepatan dengan pernikahan saudara kembar Evan yang memang di siarkan diseluruh media. Jelas saja semua orang tahu dan heboh. Keluarga Adiputra adalah keluarga terpandang dan keluarga yang cukup berpengaruh disana. Di tambah lagi dengan bantuan keluarga Dewantara yang menjadi besan mereka, sudah jelas berita itu menjadi trending topic diseluruh dunia maya.


Meski bingung, namun Evan tetap mengikuti Daffa. Bahkan sampai mereka naik kedalam mobil yang akan membawa Evan ke kediaman Adiputra. Lelaki itu hanya diam, dia menikmati perjalanan yang entah akan membawanya kemana. Membiarkan Daffa yang kini sibuk dengan ponselnya. Sepertinya dia tengah menghubungi seluruh anggota keluarga. Ya, karena Evan bisa mendengar jika bukan hanya satu orang yang dia hubungi, tapi juga banyak orang.


Satu jam kemudian, mobil terasa berhenti. Daffa turun lebih dulu dari dalam mobil, dan langsung beralih untuk membantu Evan keluar dari mobilnya.


"Ayo, kak. Kita sudah sampai," ajak Daffa.


Evan mengangguk, dia turun dari mobil dan dibantu oleh Daffa. Bisa Daffa lihat jika mobil ayahnya juga sudah tiba disini. Mobil uncle Reynand juga sudah ada. Berarti sekarang, mereka sudah berkumpul semua. Ya, Daffa meminta mereka untuk berkumpul di sini. Karena ini akan menjadi kejutan untuk mereka. Daffa sengaja tidak memberi tahu Reynand sejak awal jika dia telah bertemu dengan Evan alias Vanno yang mereka cari. Daffa tidak ingin Reyannd membuat heboh satu desa Nateh dengan semua orang-orangnya itu.


Lebih baik, dia yang membawa pulang Vanno, maka semua aman. Mungkin nanti tuan besar itu bisa datang dengan tenang menemui Nek Sri untuk mengucapkan terima kasih.


Evan mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah itu. Terasa dingin dan juga nyaman. Dia mengikuti langkah Daffa yang membawanya terus berjalan kedalam rumah. Beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan mereka, namun entah kenapa Daffa malah meminta mereka pergi. Wajah Evan masih ditutupi dengan masker, hingga mereka tidak bisa mengenali tuan muda mereka.


Evan mengernyit saat Daffa berhenti, dan dia juga bisa mendengar suara orang-orang yang berbicara disekitar sini.


"Kakak siap?" tanya Daffa


"Kenapa memangnya?" tanya Evan dengan bingung.


Daffa tidak menjawab, namun Evan bisa merasakan jika Daffa terdengar menghela nafasnya dengan berat. Langkah kaki Daffa kembali melangkah membuat Evan juga ikut melangkah, hingga tidak lama kemudian Evan bisa mendengar suara yang sedikit berisik tadi kini langsung hening seiring dengan berhentinya langkah mereka.


"Daffa, kamu bawa siapa, nak?" tanya Arya, ayah Daffa.


Seorang perempuan muda yang berada tidak jauh dari Arya, langsung mengernyit, matanya melebar sempurna dan dia langsung beranjak dan berlari kearah Daffa.

__ADS_1


Dengan cepat tangannya menyambar masker yang ada di wajah Evan, hingga tiba-tiba ...


"Kak Vanno!"


__ADS_2